
...\=\=\=\=...
"Raya, tolong ajari aku cara melakukan gerakan tangkisan silat!" Budi berdiri di depan gadis itu sembari menunjukkan semangat penuh keseriusan.
"Hah?" Raya terngaga kaget. Tentu saja, manusia mana yang tak terkejut apabila seseorang tak dikenal tiba-tiba datang dan meminta tolong seperti itu.
Namun, Budi tidak memiliki pilihan lain! Sebenarnya ....
Tiga hari sebelumnya.
Di dalam keheningan kamar, Budi tampak sedang duduk sembari menatap sekilas layar panel sistem di depannya. Yap, seperti yang telah dijanjikan. Dirinya akan menghadapi Alvaro sang taekwondo.
Maka dari itu, ia tidak ingin bersantai lebih lama. Sebab, lawannya memiliki batas kemampuan yang tak terduga. Bahkan, hingga membuat kemampuan menerawang Budi tak kuasa untuk menunjukkan kapasitasnya.
Cara bertarung melawan taekwondo.
Budi tengah menyimak dengan seksama materi yang disajikan oleh sistem. Ini yang dia butuhkan sekarang ini, meskipun dirinya sendiri menyadari bahwa teori saja tidak akan cukup, tapi Budi tetap ingin setidaknya berusaha.
Ia menggunakan fitur fokus sebagai pendukung dan lalu memposisikan tubuhnya senyaman mungkin agar dapat mencerna setiap baris kata yang tertulis.
Ini?
Cara bertarung melawan taekwondo?
Gampang! Kau hanya perlu menangkap kakinya dan takedown dengan teknik jiu-jitsu!
Cepat akhiri pertarungan dalam waktu yang secepat mungkin!
Tapi, cara itu hanya bisa dilakukan jika kau adalah petarung yang sudah mahir.
Lalu, apa yang akan terjadi kalau kau hanyalah orang biasa?
Hum...
Tidak bisa apa-apa, yo!
"Hah?" Budi terkejut saat membaca kalimat itu.
Bekal kuat untuk melawan taekwondo adalah berat badan dan jiu-jitsu!
Lalu, mari kembali kepada masalah awal! Apa yang terjadi jika kau hanya orang biasa?
Nyaris mustahil, taekwondo adalah martial arts terkuat dalam menggunakan kaki. Tidak ada orang biasa yang mampu menandingi mereka, apalagi jika mereka sudah mencapai sabuk hitam.
Mati, kemungkinan besar yang akan dihadapi oleh orang-orang bodoh yang berani menantang taekwondo.
Ekspresi sedih dan kecewa seketika mendominasi raut wajah laki-laki muda itu. Ia cemberut, nyaris menangis, karena tulisan materi ini seolah terdengar seperti sedang meramal masa depan. "Pada akhirnya, aku akan mati begini. Sialan, mati pun tetap jadi pecundang."
Ia lanjut menggeser layar ke bawah. Budi masih berharap bahwa ada sedikit keajaiban yang mungkin bisa membawanya memenangi pertarungan.
__ADS_1
Tapi, cara ini bisa dicoba. Apa Anda akan percaya?
"Oh!" Budi segera bangkit ketika membaca kalimat itu. "Ini, pasti ini!"
Yap, cara orang biasa untuk melawan taekwondo yang sebenarnya adalah...
\=\=\=\=
"Hah?" Raya ternganga kaget. "Wait, kamu siapa sih? Tiba-tiba dateng sama muka yang kelabakan gitu? Dan ... kau tahu namaku?" Gadis itu berbalik tanya.
Ia lantas melirik sejenak cowok di depannya sembari tetap menghisap kadar gula dalam permen manisnya. "Oh?" Tiba saat di mana ia berhasil menyadari. Gadis itu mencabut permen loli dari mulutnya dan mulai berbicara. "Kau ... si cowok yang ngalahin Taran Barat itu, kan? Siapa namamu? Asep?"
"Budi." Tak terima namanya disalahkan, ia segera mengoreksi.
"Oh, iya maksudku itu." Raya mengalihkan pandangan. "Jadi, kenapa kau ke sini? Dan, apa maksudnya minta diajarin silat?"
Budi terdiam. Dia memaku pandangan pada kedua netra gadis mungil yang saat ini duduk depannya. "Aku akan katakan alasannya, tapi tolong terima dulu permintaanku. Karena ini penting banget."
Raya kembali melirik Budi. Tiba-tiba, sebuah ide terpikir di benaknya. "Oh? Penting banget? Apa mukaku tampak peduli, hah?" Ia menunjukkan muka aneh.
"Hei! Serius!"
"Hahahaha! Nggak mau ah, lagian buat apa juga aku ngajarin kamu silat? Nggak ada bayaran ini." Raya beranjak dari kursinya. "Ya udah deh. Aku mau ke kantin dulu, nggak enak juga dari tadi diliatin mulu sama anak-anak kelas. Kamu juga balik ke kelasmu sana!" Perempuan dengan rambut pendek tersebut memasukkan tangannya ke dalam saku jaket sembari melangkah menjauh dari Budi.
"Hei, tunggu dulu, Ray! Ini bener-bener darurat!" Budi berteriak berulang kali. Akan tetapi, Raya tampak tidak menggubrisnya.
"Cih!" Amarahnya tak dapat dibendung lagi. Rasa sabar yang telah usai semakin membuat kobaran api dalam hatinya semakin bergejolak.
Budi maju dua langkah ke depan dan lalu melepaskan sebuah pukulan straight ke arah Raya.
Tlak.
"Hadeh, dasar nggak sabaran." Raya bergumam lirih dan secara tiba-tiba mengelak. Ia mengelak lebih cepat dari kedipan mata. Bagai seekor belut, dirinya sangat sulit dikenai.
"Hah?" Budi yang menyaksikan langsung kecepatan itu pun ternganga kagum. Ia terdiam sejenak dan bahkan tidak menyadari bahwa bahaya yang sebenarnya sedang terjadi sekarang.
Raya berbalik menyerang! Gadis itu sekarang telah berada di samping Budi dengan ancang-ancang pukulan. Tentu, posisi seperti ini adalah posisi sempurna bagi siapapun yang mengenal tinju. Momentum yang tepat untuk melepaskan...
Full Counter!
"Uoghhh!" Budi terpaku sesaat ketika pukulan mengerikan itu menghujam deras di kepalanya. Ia merasa sangat pusing dan kehilangan pikiran untuk beberapa saat. Raya benar-benar telah memberikan pelajaran yang berharga baginya.
Budi berdiri sembari memegangi bagian pipinya yang telah mengukir bekas pukulan jari-jemari Raya. Dia menatap gadis mungil itu dengan alis mata mengernyit, sama halnya dengan murid lain yang juga terkejut sekaligus bergidik ngeri. "I-itu?!"
"Full counter. Kalau kau kena pukulan telak kayak gitu tepat di hidung, bisa-bisa langsung tepar." Raya membenarkan kembali posisinya. Dia berjalan menghampiri laki-laki dari kelas sebelah itu. "Tapi kau beruntung karena aku mengenainya di pipimu. Ya, aku juga lagi nggak mood bertarung sih."
Cewek ini, bener-bener nyeremin!
"Aku suka semangat bertarungmu yang gigih. Nggak banyak orang lemah yang berani nyerang aku secara langsung kayak tadi. Bagus!"
Orang lemah, hah ....?
__ADS_1
"Oke. Aku terima tawaranmu, Tuan Budi," ucap Raya sembari mendongak menatap kedua manik mata laki-laki itu. "Kalau gitu, pulang sekolah? Kau bisa menentukan tempatnya di mana."
Seketika, senyuman Budi yang awalnya memancarkan wujud kesakitan, berubah menjadi ungkapan penuh kegembiraan. Ia senang karena Raya bersedia untuk mengajarinya.
Akan tetapi, sesuatu mengganggunya. "Eh? Jangan pulang sekolah! Aku ada urusan soalnya."
"Oh? Kenapa emangnya?"
"Ya, pokoknya begitu deh! Anu, gimana kalo sore aja? Jam tiga gitu?" Budi memberi saran. Ia tersenyum demi membangkitkan rasa setuju yang mungkin sulit terucap dari sisi Raya.
Gadis yang dimintai tolong terdiam, berpikir sejenak sambil tetap menatap fokus Budi. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya keluar juga jawaban yang ditunggu-tunggu. "Hum ... oke."
"Yes!"
"Tapi, cuma orang bodoh yang ngasih jasa ke orang secara cuma-cuma, kan?" Tapi, Raya belum selesai mengucap segalanya. Ia masih menyertakan beberapa kalimat imbuhan di akhir. "Jadi, Bud. Kamu mau ngasih bayaran apa? Jasaku nggak gratis, lho, ya!"
Waduh, mati aku!
"Ta-tadi katanya mau kamu? Kok tiba-tiba berubah, sih?" Budi berupaya membantah meski sedikit ketakutan. Rasa sakit dari pukulan sebelumnya masih membekas dalam benak.
"Ya nggak tau, tiba-tiba pengen aja." Raya mengulik-ulik telinga kanannya. "Ya, terserah kalo kamu nggak mau. Aku nggak keberatan juga kok."
Cih! Aku nggak punya uang!
"Oke kalo gitu, aku nggak jad–"
Ding!
[Misi sampingan telah dipicu!]
[Misi sampingan : Latihan bersama Raya!]
[Hadiah : 2 kartu emas]
[Waktu : -]
[Hukuman : Host akan merasakan sensasi dipukuli oleh para pelacur!]
Wait, what?
Budi menatap kosong panel sistem di depannya. Ia sangat merasa keheranan bahkan hingga membuatnya tak lagi bisa berbicara. "Hukuman macam apa itu?!"
"Jadi, kamu mau nggak?" Raya kembali mengulangi pertanyaanya.
[Apa Host mau menerima misi ini?]
[Ya/Tidak]
Hadeh, mau gimana lagi...
"Ya!"
__ADS_1
~Bersambung~