
...\=\=\=\=...
Pria gila yang tidak jelas asal-usulnya itu semakin menguatkan cengkraman tangan. Membuat Ran semakin tidak dapat berkutik. "Le-lepaskan!" Tapi, mendapati dirinya sedang berada dalam bahaya, Ran pun tidak akan menyerah sampai di sana. Dia masih terus memberontak.
Dan beruntungnya, saat itu Budi baru saja keluar dari dapur sambil membawa nampan berisikan pesanan para pelanggan. Namun, atensinya langsung teralihkan saat mendengar kericuhan kecil dari jarak dekat.
Matanya pun membola tatkala melihat pemandangan pria tua yang sedang memegangi tangan temannya itu. Dengan cekatan, laki-laki itu segera berlari menghampiri mereka berdua. Bahkan, anak itu tidak mempedulikam fakta bahwa dirinya baru saja melempar pesanan pelanggan meja nomor tiga.
Ia hendak mencegah upaya menjijikan yang mungkin akan dilakukan oleh pria tua itu. Akan tetapi, sebelum Budi sampai di sana, seorang pemuda kekar yang entah datang dari mana telah lebih dulu melakukan aksi heroik tersebut. "Maaf, apa yang Anda lakukan?" tanya laki-laki itu sembari menebar tatapan mata mengerikan.
Deg!
Mental pria itu langsung menciut. Dengan air liur yang masih menetes melalui sudut bibir, laki-laki paruh baya tadi bergegas membalik arah badan dan berjalan menjauh.
Sementara Budi, masih tertahan di sana. Dibandingkan dengan pria tadi, ia justru lebih penasaran dengan orang ini.
Siapa cowok kekar ini?
"Ah, ma-makasih, ya, Ndra. Aku nggak apa yang bakal terjadi nanti kalo nggak ada kamu." Ran mengucap rasa terima kasihnya sembari memegangi tangan. Ia masih trauma dengan kejadian barusan.
Cowok yang diketahui bernama Andra itupun tersenyum hangat. "Iya, tenang aja. Kamu nggak papa, kan?"
"Aku ... baik-baik aja kok, hahaha!" Ia menggaruk-garuk bagian belakang kepala dan tertawa canggung. "Oh ya, kamu kok bisa ada di sini? Katanya mau latihan lagi?"
"Yah, lagi istirahat sih. Lagian, tempat latihannya juga nggak jauh dari sini. Jadi, sekalian mampir ke sini aja," terangnya.
"Oh? Kenapa kamu ke sini? Pasti karena mau ngeliat aku yang manis ini, ya kan? Haha!" Ran lagi-lagi menyisipkan candaan di antara ucapannya.
"Iya." Namun, siapa sangka Andra malah menanggapi candaan itu dengan jawaban yang sangat mengejutkan?
Pipi Kirana berubah menjadi merah padam dan berbanding terbalik dengan Budi. Ia memandangi dua sejoli itu dengan tatapan kurang mengenakkan.
Tap.
Pada saat bersamaan, seseorang menepuk bahunya. "Hei." Suara berat seorang pria merasuki gendang telinganya. "Bud, apa yang kau lakukan?"
Orang yang disebut pun berbalik badan. Matanya langsung membelalak saat seniornya itu tiba-tiba datang kepadanya dengan ekspresi yang jelas menggambarkan kemarahan. Tapi, untuk saat-saat seperti ini, bertindak bagai orang bodoh adalah pilihan yang tepat.
Mungkin?
"Yah, aku lagi melayani pelanggan. Apa ada yang bisa kubantu, Senior?" Ia tersenyum aneh. Sejujurnya, dia sendiri juga tidak begitu tahu alasan kenapa pria ini terlihat sangat marah.
"Otak udang! Omong kosong apa itu? Kau, melayani pelanggan?" Ia mengarahkan jari telunjuknya ke belakang. "Apa maksudnya kekacauan ini? Melayani pelanggan katamu?"
__ADS_1
Budi melirik kepada objek yang ditunjuk oleh seniornya ini. Ekspresi wajahnya pun seketika berubah. Dia tidak tahu kapan dia melakukan itu. "A-Apa saya yang melemparnya?"
"Iyalah! Siapa lagi? Kau yang mendapat tugas mengantarkan pesanan meja nomor tiga!" pekiknya. Ia berteriak terus menerus, bahkan hingga membuat air liurnya melayang-layang bebas di udara. "Pokoknya, segera bereskan ini! Ambilkan lagi pesanan pelanggan dan ... kekacauan ini akan diganti dengan gajimu!"
"Gaji saya? Ta-tapi–"
"Diam! Cepat lakukan pekerjaanmu!" Senior itu mengakhiri sesi marah-marahnya dengan teriakan yang semakin menyakiti indra pendengaran. Pria itu lalu berjalan melewatinya dan kembali kepada pekerjaannya lagi.
Budi tidak bisa mengucap apa-apa. Ia juga tidak berada dalam sisi yang benar untuk membantah. Hanya helaan napas penuh rasa lelah yang dapat mengutarakan perasaannya saat ini. Dia lalu berjalan pelan menuju dapur demi mempertanggung jawabkan kesalahannya ini.
Tak terasa, hari telah semakin sore. Langit luar tampak telah berubah warna dan menjingga. Para pelanggan di restoran ini pun perlahan mulai keluar satu per satu. Saat ini, yang tersisa hanyalah beberapa pelanggan yang ingin membawa pulang makanannya.
Pelanggan pertama, seorang ibu dengan anak dalam gendongannya. "Ini pesanannya, Bu." Ran tersenyum sembari menyerahkan makanan yang dipesan oleh wanita itu.
"Yah, terima kasih, ya, Mbak!" Ibu itu meraih paper bag berisi makanan dan mulai mengulik-ulik dompet kecil untuk mencari-cari uang yang dapat melunasi pesanannya. "Ini, pas, ya?" Ia menyerahkan satu kertas uang dengan nominal dua puluh ribu rupiah.
Ran menerima uang itu dan tersenyum. "Baik, terima kasih~ Jangan lupa datang lagi, ya? Semoga harimu menyenangkan~"
Pelanggan wanita tadi berjalan keluar dari restoran.
"Pelanggan selanjutnya!"
Sekarang, pelanggan kedua. Seorang gadis dengan hoodie merah cerah datang menemui Ran.
"Selamat datang~ Anda ingin memesan apa, Nona?" Ran melontarkan senyum padanya.
"Baik! Dua nasi goreng spesial akan segera datang! Tunggu sebentar, ya~!"
Selang beberapa menit kemudian, Budi datang seraya menenteng dua paperbag di tangannya. Ia lalu menyerahkan kemasan berisi makanan itu kepada Kirana.
Mengetahui bahwa pekerjaannya telah usai, Budi lantas ingin bergeas pulang. Namun, pandangannya justru terpaku kepada sang pelanggan gadis ini. Matanya langsung mengenali orang itu!
"Raya?!" Budi terkejut bukan kepalang. Gadis kuat yang mengajarinya bertarung sekarang ada di sini dan memesan makanan!
Terlebih lagi, ia mengetahui bahwa Budi bekerja menjadi pelayan!
Sesuai dugaan, setelah menyingkirkan sedikit poni rambutnya, wajah asli gadis ini pun terlihat. Dia adalah si gadis yang memiliki kemampuan bertarung tingkat tinggi!
"Oh? Kau kerja di sini, Bud? Wah~ kebetulan banget?" Raya tersenyum.
Budi menatap mata manik gadis itu. "Hei! Kenapa kau ada di sini?"
Raya mengangkat alis. "Ya beli makanan lah! Emang nggak boleh, ya?"
"Hmm ... kau nggak lagi mengikutiku, kan? Ini bukan candid camera atau semacamnya, iya kan?" Budi masih tetus bertanya. Tampak jelas bahwa ia masih menganggap Raya ini kurang waras.
__ADS_1
"Kau itu ngomong apa sih? Emang aneh, ya kalo orang kayak aku beli makanan di restoran?"
Iya, aneh banget...
"Iya, nggak juga sih." Budi memilih untuk memendam jawaban itu agar tinju Raya tak dilayangkan.
"Ya udah sih, repot banget!"
Sedangkan di sisi lain, Kirana masih memerhatikan mereka berdua. Ia tidak bisa masuk dalam alur pembicaraan karena tidak tahu apa yang Budi dan Raya sedang bahas saat ini.
"Eh? Kalian saling kenal, ya?" Ia hanya bisa menengahinya dengan pertanyaan itu. "Apa kalian ini temenan?"
Raya dan Budi kompak menoleh ke arah Kirana.
"Iy–"
"Nggak. Dia bukan temenku, kita cuma nggak sengaja kenal aja."
Tuh kan!
"Ini alasan kenapa aku nggak mau menganggapmu normal ...," gumam Budi pelan.
"Apa katamu tadi?"
"Nggak. Bukan apa-apa."
Mereka bersenda gurau di senja ini. Sementara itu, di sisi lain, seorang gadis yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam dan memerhatikan mereka berdua.
Pada saat bersamaan, cowok kekar yang tadi menolong Kirana datang kembali. Ia langsung menghampiri kerumunan itu, lebih tepatnya menemui Kirana.
"Eh? Kamu datang lagi, Ndra?" Akhirnya ada kesempatan untuk Kirana angkat bicara. Berkat kedatangan Andra.
"Iya, udah selesai latihannya."
Sekarang, topik pembicaraan telah berganti. Ran dan Andra mendominasi obrolan, membuat Budi dan Raya mau tidak mau harus menjadi seperti Kirana.
Tapi, entah kenapa Budi merasa tidak nyaman. Laki-laki itu akan merasa kesal setiap kali melihat Andra yang bersama Ran. Ia memicingkan matanya.
Raya menyadari hal itu. Dengan cepat, gadis mungil ini segera mendekat demi mempermudah suasana. Ia menahan tengkuk kepala Budi dan sedikit mencekiknya.
"Hei!"
"Ayo kita pulang, Pelayanku~" Tanpa mengucap apapun lagi, Raya langsung menyeret Budi keluar dari sana. "Makasih buat pelayanan cepatnya! Aku kasih bintang lima di aplikasi nanti," ucap Raya kemudian sembari melambaikan tangan.
"Kau pikir Ok-jak?"
__ADS_1
~Bersambung~