
...\=\=\=\=...
Sepulang sekolah, Budi telah bersiap dengan seluruh tekadnya dan berjalan berdampingan bersama dengan Bagus. Ia sengaja meminta laki-laki itu untuk menemaninya karena Bagus adalah penghubung bagi kedua belah pihak.
"Ah, dia udah siap?" Budi bertanya.
Bagus mengangguk, seraya menjawab, "Udah, di tempat yang kau tentuin, Bud."
"Oke. Kalo gitu, ayo pergi sekarang!" Ia berjalan mendahului Bagus sambil mengendurkan sedikit ikatan dasinya.
Hari ini, sesuai apa yang dikatakan oleh Bagus. Hanya wilayah Taran bagian utara yang diguyur hujan. Hal ini jelas memengaruhi rencana awal pria muda itu dalam menyusun kombinasi pertarungan.
Namun, sesuai kata pepatah 'Jika tak ada rotan, akar pun jadi', Budi tidak akan menyerah hanya sampai di sana. Jika dirinya tidak bisa mendapat sebuah arena licin yang diinginkan, maka ia pasti akan melakukan apapun agar tujuan utamanya tetap terealisasi.
Di gang tempat pertarungan. Alvaro terlihat sedang bersandar di tembok bata itu sembari menyulut korek api pada ujung rokok. "Huhh ... mana sih tu anak? Udah janjian, tapi sampai jam segini masih belum datang juga."
Laki-laki itu lalu berdiri tegak sempurna dan mencabut rokoknya dari jepitan mulut. "Haduh ... musti disamperin ke sekolahnya, nih? Nyusahin orang banget–" Belum selesai mengeluh, seseorang tiba-tiba datang dan langsung memangkas dialognya.
Tlak.
"Nggak usah repot-repot nyamperin," ucapnya sembari berdiri tepat lima meter dari posisi Alvaro berpijak. "Maaf membuatmu menunggu."
"Cih! Masa bodoh, Kepar*t! Hari ini aku benar-benar akan mengakhiri SMA Taran Timur!" Alvaro maju dengan rokok yang masih tersemat di antara jari telunjuk dan tengah. "Maju sin–"
"Eits! Tunggu dulu. Apa kau serius mau bertarung dengan rokok yang masih menyala begitu?" Budi lagi-lagi memotong perkataan Alvaro, sebelum laki-laki itu benar-benar menyelesaikannya. "Kalau ada rokok, harus dimatiin dong?"
Byur!
Tanpa diduga, ternyata Budi telah bersiap dengan satu ember penuh air. Ia langsung melemparkan benda merah penampung air itu kepada musuh di depannnya. Membuat tetesan air mulai berceceran dan mengenainya hingga basah kuyup.
"Bangs*t! Beraninya ...."
Ding!
[Misi utama telah dipicu!]
[Misi utama : Menumbangkan Sang Raja Taekwondo wilayah Taran–Alvaro]
[Hadiah : 1 kartu diamond]
[Waktu : -]
[Hukuman : SMA Taran Timur akan diserahkan padanya]
[Catatan : *Ada kemungkinan tersembunyi
Clue : Tak berdaya]
[Apa Host yakin ingin menerima misi ini?]
[Ya/Tidak]
Pastinya, ya!
"Kombinasi untuk meredam taekwondo, halaman satu. Pancing emosi lawan!" ujarnya sambil bersiap mendirikan ancang-ancang. "Oke, dengan ini pertarungan resmi dimulai! Maju sini, Bangs*t!"
[Misi dimulai!]
"Cih!" Alvaro yang telah mencapai ambang batas kemarahannya pun lekas bergerak. Ia bersiap untuk melepaskan balchagi ke arah cowok kurus kerempeng itu.
__ADS_1
Deg!
Namun, ia baru menyadari sesuatu. Ada yang salah di sini. Kakinya tertahan pada sudut 30 derajat serong bawah. Ia terdiam dan tidak bergerak sama sekali. Selang dua detik setelahnya, pemimpin SMA Taran Barat itu menarik kembali kakinya.
Sialan, anak ini!
"Apa? Kau ... nggak bisa gerak, ya?" Budi tersenyum menyeringai. "Maaf, Alvaro! Tapi hari ini, aku yang menang!"
Sejauh apa Anda mengenal taekwondo? Hanya beladiri lemah yang mudah di counter? Martial arts yang hanya cocok untuk seni?
Salah!
Meski orang awam sering memandang sebelah mata martial arts ini, tapi dalam kenyataanya, taekwondo merupakan beladiri terkuat yang menggunakan kaki.
Jika para atlet bertarung ditanya, "Apa taekwondo itu kuat?" Maka mereka pasti akan sepakat menjawab, "Sure!"
Karena, taekwondo ITF memang se-mengerikan itu!
[...]
"Oh, jadi ini alasan kau mengajakku untuk bertarung di sini, huh?" Alvaro mengangkat alis. "Boleh juga rencanamu."
"Oh pasti!"
[...]
Kunci awal untuk memenangkan pertarungan melawan taekwondo adalah !
Pastikan untuk memilih tempat sempit dan licin. Karena, kita harus mencegah balchagi! Dengan cara, penguasaan ruang!
Jika sudah seperti itu, mari kita lanjut ke langkah selanjutnya! Lakukan step awal!
[...]
Budi meneguhkan pilihannya dan mulai mengambil ancang-ancang. Ketika dirasa waktu telah tepat, laki-laki itu langsung melesat maju menerjang musuh.
Bagai truk bermuatan besar yang akan menabrak seekor anak kucing, dia sama sekali tidak ragu!
Bug!
"A-Akh!" Suara rintihan kesakitan terdengar menggema di sana. Tapi, bukan suara Alvaro, tapi justru Budi itu sendiri!
Tanpa disangka-sangka, ternyata Alvaro telah memasang kuda-kuda bertarung. Kedua lengan didekatkan pada hidung, kaki yang rileks dan tatapan lurus.
Tinju!
"Jab!" Alvaro memukul lurus anak di depannya. Meskipun dia seorang taekwondo sekalipun, pukulan tinjunya lebih menyakitkan daripada Reza. Tepat mengenai hidung dan membuat Budi membeku. "Straight!" Ia melanjutkan serangannya dengan pukulan telak yang menyasar pipi kiri.
A-Apa ini? Aku kena pukul? Padahal aku sudah berharap sampai segininya!
Walau tidak bergerak dari posisinya, Alvaro tetap sukses membuat Budi keteteran, tidak! Bahkan lebih buruk daripada itu!
Budi mundur beberapa langkah karena hidungnya semakin berdenyut kesakitan. Ia berniat untuk mengakhiri dominasi Alvaro secepatnya dan melakukan grappling.
Ternyata, dia juga belajar tinju?!
"Hei? Kenapa kau menjauh gitu, Bud? Maju sini!" Keadaan berbalik, kali ini Budi lah yang terdiam dan Alvaro justru memandanginya dengan senyum seringai penuh kepuasan. "Takut? Haha! Kau pikir aku cuma bisa taekwondo, hah? Aku juga bisa bertarung di jalanan, Bangs*t!" Dia menebar tatapan mengintimidasi yang akan membuat siapapun bergidik ngeri.
Ia mendekati Budi. "Kau tadi mau tackle, kan? Haha, kasian tacklenya gagal ...." Langkahnya beriringan, bersaut-sautan dengan suara genangan air yang terinjak. Ia semakin memangkas jarak.
Budi mundur beberapa langkah ke belakang. Dia melepaskan sebuah pukulan acak, tapi sayang pukulannya meleset dan justru membuka celah pertahanan.
__ADS_1
"Aku lagi mau main game hari ini, jadi ...."
Bug!
"... ayoo cepat ..." Alvaro melepaskan sebuah pukulan mulus.
Uoghhh...
"... selesaikan ini ..." Ia mendaratkan punch ke arah berlawanan.
Akhh...
"... maji aja, Sialan!" Cowok itu tak henti-hentinya memberi pukulan frontal yang menyakitkan.
Kheh...
Budi tidak berdaya, tapi dia ingin melawan. Sangat ingin melawan, tapi bagaimana?!
Alvaro telah berada pada jarak dekat, dia hanya bisa bertahan dan bertahan. Mau mengeluarkan straight? Sulit! Karena Alvaro seolah mengurung akses gerak dari tangan Budi dengan cara menekan terus. Sama halnya, dengan jab. Jika kedua pukulan andalan ini dilakukan, maka kemungkinan kalah akan meningkat.
Gi-gimana ini?!
"Oi! Kenapa cuma bertahan terus? Tadi keliatannya kayak semangat banget, tuh ...."
Melihat rekannya dalam situasi sulit, Bagus pun tak akan tinggal diam. Ia maju dengan langkah asal-asalan. Tanpa teknik beladiri, tanpa senjata, ia hanya bermodalkan tekad dan niat kuat untuk membantu.
"Sigh! Mau ngapain, Cecung*k nomor dua? Kau mau babak belur kayak pemimpinmu ini, hah?" ancamnya seraya menahan pergerakan Bagus dengan lengannya. "Udah, nyerah aja. Kasih wilayahmu ke aku dan aku bakal membebaskanmu dan Budi, sepakat?"
"Apa-apaan? Pertama, Budi nggak lemah! Dan yang kedua, aku nggak mau–uoggghhh!" Berbagai kalimat uneg-uneg yang berniat untuk dikeluarkan, kembali tertahan berkat telapak tangan Alvaro yang menutup mulutnya penuh.
"Berisik." Laki-laki itu segera melempar tubuh Bagus ke arah tembok, membuat batu bata yang semulanya tersusun normal, sekarang sudah tampak jejak-jejak retak. "Nggak anak buah, nggak ketua, sama aja. Yah, beruntung sih, buat sekarang nggak usah buang-buang tenaga buat bertarung. Sekarang, SMA Taran Timur adalah milikku."
Budi bersimpuh kesakitan, sementara Bagus telah terkapar tak berdaya di sana.
"Hahaha!" Seraya berbalik memunggungi mereka berdua, Alvaro berjalan menjauh. Berpikir bahwa pertarungan ini telah usai, ia berniat untuk segera menemui Abian dan Theo.
Namun, apa pertarungan ini telah benar-benar berakhir?
Salah!
"Hei, punya ... sapu tangan, nggak?" Budi berbicara dengan suara tertatih-tatih dan bangkit perlahan.
Mendengar suara itu, Alvaro lantas menoleh lagi ke arah belakang.
Budi telah berdiri lagi! Dia belum kalah! Dengan ancang-ancang tackle, dirinya telah siap untuk melaksanakan kembali cara kombinasinya.
"Oh? Masih bisa berdiri, ya?"
"Kau pikir, karena cuma mimisan gini aja aku udah tepar, hah? Maaf, aku cuma lengah tadi." Dia menebar senyuman miring. "Kali ini, aku pasti berhasil. Mau tidak mau!"
Meski badanku akan hancur lagi, tapi tak ada cara lain.
Dia mengingat kembali perkataan Raya, satu bulan lalu.
"Kemungkinan pertama, kau harus ngotot untuk mengeluarkan tackle. Meskipun harus babak belur sekalipun."
"Cara orang biasa melawan taekwondo, halaman satu ...." Dia bersiap dengan ancang-ancang dan akan bergerak kapan saja.
Kali ini, pertarungan sebenarnya akan dimulai!
...~Bersambung~...
__ADS_1