
...*****...
Selepas menelan kekalahan pahit saat menyambangi markas SMA Timur, Gerry dan pasukannya kembali kepada sang senior dengan kepala tertunduk. Mereka tahu betul apa yang akan mereka dapatkan nanti, saat laki-laki kejam itu mengetahui bahwa mereka kalah.
Di halaman belakang sekolah SMA Taran Barat. Di depan tembok yang didominasi oleh aksara-aksara berbahasa kasar yang ditulis dengan kapur dan cat. Gerry terdiam tanpa mengucap apapun.
Tak berselang lama, seorang laki-laki dengan perawakan berandal tiba di sana.
Alvaro namanya. Siapa yang tak kenal dengan Alvaro? Hampir seluruh anak SMA di kota ini sudah tak asing lagi dengan namanya. Meski tubuhnya tak sebesar Gerry, tapi, Alvaro bukanlah anak lemah yang hanya mengandalkan berat badan dan teknik bertarung asal-asalan.
Taekwondo. Ia memilih taekwondo sebagai martial arts-nya. Bahkan, saat SMP, Alvaro juga pernah mewakili Indonesia dalam turnamen taekwondo. Memiliki kemampuan yang jelas sangat mengerikan, membuat siapapun pasti akan kabur jika melihatnya.
__ADS_1
Alvaro berdiri di depan Gerry. Ia lalu menatap kedua mata bawahannya itu lewat bawah sembari mendongak. "Hei, Gerry. Kau kalah dari SMA Taran Timur?" Ia mulai bertanya.
Gerry tak bisa menjawab. Ia jelas sangat ketakutan, karena mungkin dirinya akan mati sekarang. Tatapan Alvaro yang menyala-nyala semakin membuat mentalnya ciut. Dengan suara ragu-ragu, dia menjawab, "Se-sebenarnya kami udah bisa menjarah masuk ke SMA itu. Tapi, ternyata Budi tidak sendirian. SMA itu punya penjaga lain."
"Sstt ... aku nggak sedang membahas tentang mereka," bisik Alvaro dengan suara lirih, "aku cuma tanya, kalian ini benar-benar kalah dari mereka, huh?"
"Ma-maaf, Bos." Gerry semakin gemetar ketakutan.
Alvaro tertawa secara tiba-tiba. "Hahaha ..., Bangs*t, mau ketawa aja nggak bisa jadinya." Laki-laki itu menarik kerah baju Gerry. "Sialan, memang sekuat apa sih, si Budi itu? Dia atlet, ya? Kok sampe bikin kalian babak belur begitu?"
Alvaro yang merasa sangat keheranan hanya bisa tertawa. Ia berdiri tanpa mengucap kalimat apapun lagi. Gerakan tiba-tiba itu diakhiri oleh sebuah tendangan belakang.
Dwichagi!
__ADS_1
Alvaro melepaskan tendangan belakang yang menyasar tepat ke ulu hati. Gumpalan lemak yang selama ini digunakan sebagai tameng khas oleh Gerry, tak bisa menahan tendangan belakang Alvaro.
Gerry jatuh tersungkur dengan tangan yang memegangi perutnya. Ia meringis kesakitan, akan tetapi, Alvaro tampak tidak menorehkan rasa simpati sedikitpun kepadanya.
Bahkan, pemimpim SMA Taran Barat itu juga menyerang seluruh pasukan Gerry. Ia menumpas habis pasukannya tanpa belas kasihan.
Bak sang pengkhianat dalam cerita fiksi, dia menatap para manusia berjakun yang terkapar itu dengan tatapan kurang mengenakkan.
"Haish, merepotkan. Malu-maluin aja." Alvaro mengeluh kesal sambil mengorek-orek kuping kanannya dengan jari kelingking.
Ia lantas berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. Sembari menyulut ujung batang rokok dengan api kecil dari korek gas, ia bergumam, "Aku harus ketemu sama si Budi itu. Pertemuan seluruh ketua SMA Taran, haruskah aku meminta mereka mengadakan itu sekali lagi?"
"Aissh ... mau nggak mau. Aku harus ngeliat langsung, gimana sosok Budi ini. Dan, aku pasti bakal membunuhnya nanti."
__ADS_1
~Bersambung~
Jangan lupa like dan komen, ya!