
...****...
Sesampainya di dalam tempat latihan. Raya berjalan ke arah saklar lampu dan menyalakannya. Secara bertahap, cahaya dari lampu yang menempel di langit-langit, mulai membantu pandangan mata untuk menangkap objek-objek yang ada di sini. Budi langsung ternganga, ia berdecak kagum. Karena, ia melihat banyak sekali peralatan bertarung yang tertata rapi di sini.
Karpet busa berwarna merah, sarung tangan tinju, dan segalanya!
Ini lebih keren daripada yang Budi bayangkan!
"Gi-Gila, lengkap banget!" Ia tersenyum kagum. "Serius ini padepokan? Gila, ini sih lebih kompleks daripada padepokan sebelah!"
Raya menghela napas panjang. "Kan udah ku bilang. Awalnya, abah sengaja nyediain berbagai fasilitas ini buat nunjukin kalau silat itu yang terkuat. Setiap bulan, nggak, bahkan setiap hari, dia selalu ngajak orang-orang kuat dengan berbagai teknik bertarung buat ngelawan dia. Yah, lambat laun dia mulai berubah sih."
Budi menyimak penjelasan dari Raya dengan seksama. "Ah, jadi gitu. Oh ya, daritadi aku bingung soal ini. Padepokan abahmu kok sepi, ya? Padahal selengkap dan sekeren ini tempatnya! Kenapa pada nggak mau ke sini?!"
"Kau ini ngehina atau memuji, sih?"
"Dua-duanya, hehe ...."
"Hadeh. Harus berapa kali lagi ku ulangi. Tempramen abah itu kadang susah dikendaliin, makanya kadang dia jadi nggak terkendali dan marah-marah nggak jelas," ungkap Raya yang kembali menyinggung mengenai masalah ayahnya.
"Ya, terus?"
"Ya gitulah, murid-murid di Padepokan ini mulai keluar satu per satu. Lama kelamaan, tempat ini pun jadi dijauhin sama khalayak ramai dan nggak ada yang mau ke sini. Kita kalah saing dan berbagai rumor buruk ngebuat abah terpaksa ngerelain impiannya buat nyiptain sebuah padepokan besar."
Seketika, muncul rasa bersalah jauh di dalam benak Budi. Ia tak menyangka, di balik mengerikannya sosok Raya dan abah, ternyata mereka berdua telah menyimpan berbagai penderitaan yang menyesakkan. "Maaf, aku nggak bermaksud buat sampe segitunya." Ia bertingkah kebalakan karena merasa sangat amat bersalah.
Raya menatap kedua manik mata laki-laki itu. "Ya udah sih, lupain. Lagian, kita juga udah baik-baik aja. Dan juga ... aku malah kadang bersyukur karena tempat sebesar ini jadi punyaku. Aku bisa latihan sepuasku!"
"Ah iya, lupa. Kau ini jago bertarung, ya?" Budi berbalik tanya kepada Raya.
Namun, bukannya jawaban lisan yang diutarakan. Raya hanya mengangkat kedua alisnya. "Bisa dibilang begitu. Entah kenapa, aku merasa nyaman dan senang saat belajar bertarung. Rasanya kayak ... kau tahu? Aku ngerasa kalo aku ketemu cahaya hidupku. Dan ... akhirnya aku sadar, kalo bertarung itu emang passion-ku."
"Fashion?"
"Passion, Bodoh!"
"Hahahaha! Bercanda, Ray."
Raya tertawa kecil. "Apa sih? Dasar, haha!" Dia lalu mengubah ekspresi wajahnya secara berangsur-angsur. "Oh ya, aku dengar, kau mau ngelawan pemimpin SMA Taran Barat, ya? Siapa namanya? Aldebaran?"
"Alvaro."
"Ah, iya. Itu maksudku."
Budi mengubah mimik wajahnya. "Kok kamu tau? Perasaan, aku belum ngomong ke kamu?"
"Ya taulah, orang kamu aja jadi bahan gosip di sekolah akhir-akhir ini." Gadis itu melipat tangannya di depan dada. "Mereka selalu membahasmu berkali-kali. Bahkan, anak di kelas kerap menyebutmu sebagai perusuh. Ya, aku nggak bisa nggak setuju sih. Soalnya, bener juga."
"He-Hei! Kamu kok gitu? Kita kan berada di pihak yang sama?!"
Raya memicingkan mata pada Budi. "Apaan? Gara-gara kamu, identitas misteriusku terbongkar tau."
__ADS_1
"Ahhh ... padahal aku nggak berniat juga loh? Cuma entah kenapa kesialan selalu mengikutiku. Aku ngerasa kayak dibenci Tuhan."
"Haha! Sadar juga akhirnya."
"Apaan?!"
Enggan membuang waktu lebih lama, Raya pun langsung mengganti topik. "Yah, tapi masalahnya sekarang, adalah kamu, Bud."
"Aku lagi?!"
"Iya, kamu! Gila, ya? Padahal lawanmu itu taekwondo, kenapa kamu malah pake silat?" Raya memulai sesi marah-marahnya. Ia mendekati Budi dengan reaksi yang siap untuk menerkam kapan saja. "Ya, emang sih, Silat punya teknik bantingan yang bakal berguna banget buat ngalahin taekwondo. Tapi, sadar diri sedikit dong, Bud!"
"Liat badanmu! Badan kurus begini mana bisa nangkep kaki badan si Aldebaran yang atletis itu!" Ia memegang keningnya. "Nggak habis thinking ...."
Namun, respons Budi tidak sesuai apa yang dibayangkan oleh Raya. "Aku nggak bilang mau pake teknik bantingan, tuh." Ia masih memertahankan wajah polos melongonya. "Aku minta diajari tangkisan, kan?"
"Hah? Tangkisan? Serius deh, mana bisa tangkisan buat ngelawan Taekwondo?"
"Yaa ...."
Nggak tau! Ini adalah instruksi dari sistem, mau nggak mau harus percaya!
Ia teringat kembali kepada materi bertarung rahasia yang ditampilkan oleh sistem tempo hari.
Yap, cara orang biasa untuk melawan taekwondo yang sebenarnya adalah...
Kombinasi silat, yo!
Mungkin, bagi segelintir orang, silat merupakan martial arts yang hanya digunakan sebagai pertahanan diri. Tapi, sebenarnya, silat memiliki teknik yang lebih daripada itu.
Ada beberapa kombinasi yang dapat digunakan untuk membuat lawan benar-benar KO.
Tapi, kunci awal untuk bisa melaksanakan kombinasi ini adalah menguasai teknik tangkisan!
"Yaa ... pokoknya, aku minta diajarin teknik itu aja deh."
Raya menggelengkan kepala sebagai wujud penolakan. "Nggak, kau bakal babak belur cepet kalo cuma belajar tangkisan."
"Tapi, cuma itu caranya!"
"Nggak! Satu-satunya cara buat ngelawan taekwondo ya kamu harus menjelma jadi seorang grappler! Kamu harus bisa ngejatuhin musuhmu pake jiu-jitsu."
Jiu-jitsu?!
Ia mengingat kembali tentang tulisan sistem yang menyebut tentang Jiu-jitsu. "Ah, aku belum pernah belajar Jiu-jitsu sih. Emang gimana sih jiu-jitsu itu?"
"Huhhh! Dasar aneh." Raya memegangi keningnya. "Aku nggak tau cara anehmu itu gimana, cuma kayaknya muka kamu keukeuh banget? Gini aja, gimana kalo kamu nyerang aku pakai taekwondo dan aku bakal counter dengan cara yang sebenernya."
"Hum ... oke deh, siapa takut!" Budi menjawab dengan penuh keyakinan.
Ini juga berkat jaket hitam yang dia kenakan! Serta teknik yang dikenalkan oleh sistem!
"Tapi, tunggu. Buka jaketmu dulu!" Raya kembali merusak moment terbaiknya!
__ADS_1
Terlebih lagi, ia meminta Budi untuk melepaskan jaketnya.
"Hah? Emang kenapa?!" Ia yang jelas merasa keberatan pun menolak.
"Ikuti–apa–yang–aku–perintahkan!" Tapi, lagi-lagi Raya dengan tatapan matanya yang creepy berhasil membuat Budi menyerah.
Mau tidak mau, ia harus rela melepas jaket kesayangannya itu.
Ding!
[Jaket hitam dilepaskan!]
[Kekuatan kembali menurun pada status normal!]
"Ngg ... nggak usah diingetin juga ...." Budi meletakkan jaketnya di lantai dengan perasaan kecewa yang menyelimuti hatinya.
"Nah, gitu dong! Oke, kalo gitu kita mulai latihan hari ini." Raya membuka jaket merahnya dan berlari ke tengah-tengah ruangan. "Maju sini, Bud!" Ia mulai menyulut gairah bertarung Budi dan memancingnya untuk maju.
Kali ini, tanggapannya berbeda. Ia terlihat sedikit ragu saat menatap Raya yang telah bersiap dengan kuda-kuda bertarung.
Ini juga adalah efek dari jaket hitam yang dilepas!
Gi-gimana, nih? Masa bodoh ah!
Budi menuju ke tempat Raya berpijak. Sekarang, dua sejoli ini tampak sedang berdiri berhadapan. Namun, bukannya untuk belajar silat, mereka justru akan bertarung.
Budi meneguk ludahnya sembari menegakkan kaki sebagai wujud awal taekwondo. Ia menatap lekat gadis di depannya yang tampak telah bersiap untuk melukainya kapan saja.
"Oke, kamu mulai nyerang!" perintah Raya memecah keheningan.
Mau tidak mau!
"Balchagi!" Budi menyerang maju dengan kaki yang menjulur.
Tapi di luar dugaan!
Raya justru menangkap kaki Budi!
"A-Apa?!"
Raya lalu bergerak dengan kaki kirinya yang menempel di tanah dan bergerak menyapu kaki kiri Budi yang digunakan sebagai penopang berat badan.
"Bantingan!"
Brak!
Terdengar suara benturan keras antara badan Budi dan lantai. Serangan mendadak itu berhasil membuatnya membeku sejenak. "A-Ah!" Ia hanya bisa merintih kesakitan.
"Bantingan, teknik ini yang bakal berguna banget buat ngelawan taekwondo. Tapi, syaratnya, kamu harus punya berat badan yang setara atau kalau nggak, hampir menyamai berat badan lawan." Raya memutar bola matanya ke arah lain. "Tapi, kayaknya kamu nggak bakal bisa ngelakuin itu ke Aldebaran, deh."
A-Akh!
"Bangun, Bud. Sekarang, aku bakal tunjukin cara lain yang mungkin bakal berguna buat kamu nantinya," tutur Raya sembari mengulurkan tangan.
__ADS_1
~Bersambung~