
...\=\=\=\=...
Beberapa hari setelahnya.
"Haha! Iya, kemarin Ssaumdokak seru banget." Pagi itu, Budi terlihat sedang bersenda gurau bersama teman sebangkunya. Semua terlihat baik-baik saja, mereka membahas berbagai topik-topik sepemikiran yang juga disisipkan oleh candaan.
Namun, tawanya terhenti tatkala seorang gadis tiba-tiba datang menghampirinya. "Oh? Jadi ini kakaknya si Jal*ng dari kelas satu, ya?"
Budi dan temannya pun langsung menengok ke arah sumber suara. Laki-laki itu menyadari bahwa ada pihak yang direndahkan di sini. Budi lantas mengernyitkan kening dan berbalik tanya, "Apa ... maksudmu?"
"Kheh, jangan pura-pura bodoh, Bud! Aku tau, kau pengen menutupi tingkah laku adikmu itu!" Cewek itu masih terus saja memertahankan suara memekik. "Arin punya hubungan sama om-om, kan?!"
Awalnya, Budi hanya merasa heran. Tapi, saat perempuan ini menyinggung tentang adiknya, ia langsung mengubah ekspresi. Terlebih lagi, ia mengatakan hal-hal aneh. "Omong kosong apa itu? Jaga mulutmu! Arin jarang keluar rumah, mana mungkin dia bisa kayak gitu, hah?!"
"Masih ngelak ni anak. Hei, aku punya fotonya loh!"
Deg!
Melihat mimik wajah cewek itu yang terlihat keukeuh, keyakinan Budi pun perlahan mulai terkikis.
Cewek tadi mengambil ponselnya dan membuka kembali galeri foto untuk menunjukkan jawaban dari keraguan Budi. "Nih, liat aja sendiri!" Terlihat, di sana terdapat dua orang manusia yang duduk berhadapan.
Satunya gadis sekolah dan yang lainnya adalah seorang pria dewasa bertubuh gemuk. Namun, sayangnya, foto ini diambil dari belakang. Membuat wajah gadis sekolah ini tidak terlihat.
Budi tersenyum tipis. "Foto ini dipotret dari belakang, wajah gadis ini nggak keliatan. Jadi, mana mungkin kalian bisa tahu kalau dia Arin?"
"Oh, masih belum percaya? Oke, kalo gitu." Ia kembali mengulik-ulik ponselnya sekali lagi. "Coba lihat ini!" Dia menunjukkan objek sekali lagi, tapi kali ini bukan foto, melainkan sebuah video berdurasi 5 detik dengan angle camera yang sama.
Perempuan cantik itu menekan tombol di tengah dan mulai menjalankan video.
"Arin, kamu mau ikut Om, nggak? Nanti Om beliin hp baru deh."
Terdengar suara pria yang merayu gadis muda di depannya.
"I-Iya." Sembari mengangguk pelan, gadis itu pun menjawab. Suaranya terdengar samar-samar, tapi memang, penampilan gadis ini sangat mirip dengan Arin.
Deg!
"Nah, sekarang kau udah percaya, kan, Tuan Kakak Jal*ng?!"
Budi semakin merasa bingung. "Nggak ...." Tapi, ia masih tetap berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang dilihat adalah palsu. "Arin nggak mungkin ngelakuin itu. Mau kau tunjukkin berapa kalipun, aku nggak bakal percaya."
"Kheh, ikatanmu boleh juga?" Gadis itu lalu tersenyum. "Tapi, sayangnya, seluruh siswa SMA ini udah percaya, loh!"
"Hah?!"
"Coba liat, ini. Aku dapat tangkapan layar dari chat anak kelas satu."
Dengan tergesa-gesa, Budi langsung meraih ponsel gadis itu dan menatap tangkapan layar pesannya. Di sana, sebuah fakta mengejutkan berhasil membuat mata Budi membelalak.
Unknown number ~ Chikky chikky
(Membagikan foto)
__ADS_1
Eh eh, liat tuh! Bukannya dia Arin, adiknya Kak Budi itu, ya? Kok sama om-om sih?
Unknown number ~Yuuu
Eh masa sih? Nggak keliatan mukanya, tuh.
Unknown number ~ Chikky chikky
Ya, tapi coba liat, kalo dari belakang, keliatan mirip banget, nggak sih?
Unknown number ~ Chikky chikky
(Membagikan video)
Tuh, om itu juga nyebut nama Arin.
Unknown number ~Narin
Hei, jangan membicarakan masalah pribadi di sini. Kau tau, privasi?
Unknown number ~Chikky chikky
Hehe... Maaf, tapi aku cuma penasaran. Apa dia bener Arin?
Serangkaian pesan yang berderet mulai terbaca. Budi membaca satu per satu pesan dengan wajah yang semakin tersulut emosi.
Ia yakin, bahwa Arin terus berada di rumah akhir-akhir ini.
"Haha, Bangs*t! Apa yang membuat kalian mempercayai hal semacam ini?" tanya Budi dengan senyuman lebar yang tercipta. "Nggak ... aku nggak percaya. Arin nggak sebodoh itu!"
"Aaaarghhh!" Dari arah luar, terdengar suara teriakan seorang gadis yang mengggema. Budi dan manusia-manusia lain yang berada di kelas pun sontak menengok ke arah sumber suara.
Suara ini ... tidak asing?
Pada saat bersamaan, siluet seorang gadis berlari tampak terlihat dari balik jendela. "Hah?!" Hanya dalam sekali penglihatan, Budi langsung dapat mengetahui siapa dia. "Arin!" Dengan cepat, ia langsung beranjak dari kursinya dan berlari keluar dari kelas.
"Arin!" Ia memanggil nama adiknya sekali lagi.
Namun, Arin tidak berbalik atau setidaknya menoleh. Gadis itu masih terus memperlaju langkah dan semakin menjauh.
Tidak punya pilihan lain, Budi segera mempercepat langkah dan berlari mengejar adiknya.
Namun, ketika hendak berlari, suara seorang gadis terdengar memanggil namanya. "Kak Budi!" teriak cewek itu.
Budi terhenti dan berbalik badan. Ternyata, orang yang memanggilnya adalah Winda.
"Kak! Hahh ... hah ... apa ... hah ... apa Kakak udah denger tentang kabar Arin?"
Ekspresi Budi berubah seketika. Ia terlalu sedih untuk menjawab pertanyaan itu. Laki-laki itu mengalihkan pandangan sembari menginggit bagian bawah bibirnya.
"Kak, Kakak juga pasti mikirin apa yang kupikirin. Arin sekarang lagi difitnah, dan yang udah pasti di sini, orang yang ngirim pesan bohong itu adalah si pelaku. Cuma masalahnya, aku nggak tau siapa orang itu."
"Ya, aku juga tau itu, tapi makasih." Budi segera berbalik dan meninggalkan Winda di sana sendirian.
Sementara itu, di sisi lain. Arin memutuskan untuk mengurung dirinya di dalam kamar mandi dengan tujuan untuk menghilangkan depresi yang muncul karena tekanan teman-temannya. Ia juga sama sekali tidak tahu apa yang membuat mereka seperti itu. Tapi, yang jelas, dirinya kah yang paling dirugikan untuk saat ini.
__ADS_1
Jal*ng, rendahan.
Kalimat itu bak menjadi puji-pujian untuknya hari ini. Setiap langkah, Arin akan selalu menerima cacian itu.
Ia sendiri juga tidak tahu kenapa mereka melakukan hal itu padanya.
Apa salahku? batin Arin seraya menutup kedua telinganya dan berharap agar kejadian yang barusan dia alami tidak akan berubah menjadi memori lekat.
Brak!
Pada saat bersamaan, pintu kamar mandi perempuan dibanting. Terdengar beberapa suara langkah kaki yang masuk. Arin sempat terkejut, tapi ia memilih untuk mengacuhkannya.
Tidak, sampai orang di luar mulai berbicara.
"Hei, apa kau sedang sedih, wahai Jal*ng?" Suara seorang gadis dari balik pintu kamar mandi terdengar jelas. "Hahaha ... ternyata mentalmu nggak sekuat kakakmu, ya? Baru disebut gitu aja udah mau mati rasanya."
"Aih ... kalo gini, aku jadi nggak tega buat mukul kamu loh? Gimana dong?" Gadis yang ternyata adalah Chika itu semakin menakut-nakuti Arin.
Arin tidak menjawab itu. Ia semakin menguatkan tangannya dan membuat akses masuk suara semakin sempit. "Nggak ... nggak ...," gumamnya.
"Keluar sekarang, Rin~! Atau kalo nggak, aku pastiin, namamu bener-bener bakal kotor selamanya, loh~" Gadis itu masih saja menghaturkan ancaman-ancaman kepada gadis yang berada di balik pintu. "Hitung sampai tiga."
"Satu ...."
"Dua ...."
Arin semakin bingung. Tanpa sadar air matanya mulai mengalir pelan, dirinya sangat ketakutan saat ini. Ia tidak tahu siapa gadis yang mengancamnya, tapi hatinya merasa bahwa orang di luar adalah seorang pembunuh.
"Tiga!" Ia berteriak. "Tergantung pilihanmu, siap atau nggak, pesawat air akan datang!" Gadis yang berdiri di sebelah Chika tampak telah bersiap dengan air bekas pel dan siap menumpahkannya sekarang juga.
Namun, sebelum ia berhasil melakukan itu, seseorang berhasil mencegahnya. "Merundung seseorang dengan cara melempar air, wah ... caramu modern banget?" Gadis dengan hoodie merah menyela suasana menegangkan ini. "Pagi, Perundung kelas bawah!"
Arin dan para gadis perundung pun terkejut.
"Si-siapa, Kau?!"
Raya tersenyum menyeringai. "Kau? Hei, aku ini kakak kelasmu, seenggaknya sopan santun sedikit, dong?"
"Ba. Cot!" Chika maju dan hendak menjambak rambut Raya.
Namun, Raya berhasil menghindarinya.
"Hei. Serius, sebenarnya tujuanmu membully-nya itu untuk apa?"
"Kau pikir kau siapa, hah? Nggak usah ikut campur!" Chika tak mempedulikan peringatan yang diberikan.
Itu artinya, ia mau mati lebih cepat!
Raya segera menangkap tangan Chika dan mencengkramnya kuat-kuat.
"A-Aaaakhh!"
"Cepat katakan siapa yang menyuruhmu atau ... aku bakal membuatmu tidur di bawah tanah selama-lamanya."
~Bersambung~
__ADS_1