Fighter System

Fighter System
Tolong dijawab!


__ADS_3

Suara hati author, chapter : 1


Spesial eps, yah sesuai dengan judulnya. Untuk kali ini, author mau nanya buat temen-temen pembaca. Kalian itu lebih suka tipe MC yang OP apa Zero to Hero?


Karena kami sendiri juga sebenernya terinspirasi dari How to Fight dan Questism. Tapi, ya gimana ya. Aku sedih sih waktu liat ada novel sebelah yang sebenernya ngambil konsep sama cuma disana MC nya OP.


Dia rame pembaca dan kami tuh sempet mikir juga, cerita ini mau kami bawa ke mana. Soalnya, kalo nggak ada komen dari kalian, kami sendiri juga gak bakal ada semangat gitu.


Tolong kasih tau sejujur-jujurnya, kalian lebih suka MC Op? Atau zero to hero?


Karena, aku juga sebenernya udah ngerencanain buat zero to hero sampe akhir. Cuma kalo performa novel turun begini, lama-lama juga males gitu loh. (Terutama aku sebagai editornya)


*Menangis.


Aku bisa bikin Budi OP, cuma pelan-pelan ya. Nggak langsung dapet sistem terus tiba-tiba jago gelud dan sifatnya berubah drastis.


Sekali lagi, Zero to hero atau Over power?


Sekian.


Q. Author cewek apa cowok?


Terserah anggapan kalian~


Q. Kenapa ikut lomba ini?


Aku tuh pengen menang lomba ini, biar bisa beli HP baru :') Tolong bantu ya, semua


Q. Ide cerita terinspirasi dari mana?


Sudah kubilang, aku ini suka how to fight. (Terutama sung taehoon :v), Sebagai peminat zero to hero, tentu saja.


...----------------...


Btw, ini ada konsep cerita Fighter System yang dulu. (Beda banget sama sekarang, setelah melalui berbagai macam riset tentunya). Cerita itu akhirnya ku ubah soalnya Budi di sini keliatan naif banget *Menangis


"W-Wah Kakak hebat banget! Aku sampe nggak bisa berkata-kata," ucap Budi dengan senyuman polosnya. Hal sederhana itu malah membuat wanita yang tadi menjelma menjadi seekor serigala luluh dalam waktu singkat.


Ia tersenyum tipis sebagai balasan dan apresiasi. "Ternyata, atasanku memang tidak salah memilihmu, ya, Budi!" Wanita berparas rupawan tadi memegang ujung kepala Budi dan mengusap rambutnya pelan.


"Heh? Atasan?" Pernyataan rumit yang dilontarkan oleh kakak perempuan ini membuat Budi berpikir sesaat. Pada saat bersamaan, dia baru menyadari bahwa orang misterius ini telah menyebut namanya dua kali.


Karena rasa penasarannya tak dapat lagi dibendung, Budi pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada perempuan rambut pendek ini. "Oh iya, Kak. Kakak kok bisa tahu namaku–"

__ADS_1


"Bukannya kamu harus melakukan sesuatu, ya?" pangkas insan yang hendak diberi pertanyaan. Ia tiba-tiba berhenti saat melihat Budi menutup mulutnya lagi. "Eh? Maaf, tadi kamu bilang apa?"


"Ah." Seketika seluruh pertanyaan yang hendak dilontarkan lenyap. Pikiran Budi menjadi kosong dan bingung mau menjawab apa. Pada akhirnya, laki-laki penyandang gelar 'Si babi kurus' itu hanya mampu menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa canggung. "Ngg ... nggak jadi deh, Kak. Hehehe ...."


Duh, aku kelihatan payah banget, batin Budi dengan muka memerah karena merasa malu.


Saat itu, dia nyaris lupa apa tujuan dia berlari ke 'Kandang Harimau'. Tidak, sampai wanita yang tadi menyelamatkannya angkat bicara. "Budi, rumah sakit ... kau harus ke rumah sakit!"


Awalnya si manusia berjakun tidak memberi tanggapan sama sekali. Sebab, otaknya masih berusaha memahami apa yang diucapkan oleh wanita di depannya itu. "Rumah sakit? Hahaha ... kenapa saya harus ke rumah sak–HAH?!" Beruntung, dia mampu memulihkan kembali ingatannya dengan segera.


"Ibu! Aku hampir lupa ...!" gerutunya sedikit merasa bersalah. Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, dia pun segera melaju kencang dengan kaki pendeknya. Budi melewati si wanita dengan terburu-buru.


Samar-samar terdengar suara nyaring tak karuan mengalun di udara. Budi menoleh ke belakang sembari melambaikan tangan, "Makasih banyak buat semuanya, Kak!"


Tatapan dan kalimat yang berusaha menjangkaunya melayang di udara. Wanita sangar tadi langsung menarik garis lengkung di bibirnya saat menatap Budi.


Ia membuka mulut dan berbisik, "Yah, aku sudah menemuinya, Tuan."


\=\=\=


Sesampainya di rumah sakit, Budi segera berlari menuju tempat yang telah sering didatangi olehnya. Namun, ketika dia sedang berlari, tanpa sadar bahunya menabrak seseorang.


"Awhh ... eh! Ma-maaf!" Budi yang merasa bersalah memutuskan untuk menghentikan langkah dan berhenti senjenak. Ia berulang kali melontarkan ucapan permintaan maaf.


Namanya Linda–salah satu perawat rumah sakit yang telah menjaga ibu Budi selama ini. Linda memang dikenal cantik rupawan, tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam. Jadi, tidak heran jika kaum adam tertarik padanya.


Tak terkecuali Budi sendiri.


Budi menjadi gugup saat menatap wajah Linda yang tampak sangat berseri. Tubuhnya panas, wajahnya berubah menjadi merah padam. Dengan wajah malu-malu, dia menjawab, "A-Ah, iya, Kak ... ahahaha!" Laki-laki itu lalu sedikit memberanikan diri mendongak agar dapat melontarkan pertanyaan. "Ah, iya, katanya ... hari ini ada pengecekan dari dokter, kan, Kak?" lanjutnya bertanya.


"Hum?" Wanita perawat itu terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Sebab, Linda tahu bahwa pengecekan lanjut harus membutuhkan dana tambahan. Ia merasa tidak tega kepada Budi.


Linda memang hanya berstatus sebagai 'Perawat Ibu Budi' dan tidak lebih dari itu. Namun, nyatanya Linda lebih tahu kehidupan Budi dibandingkan orang-orang terdekatnya.


Budi si murid kurus krempeng selalu menjadi target perundungan teman-teman sekelasnya. Akan tetapi, anak ini tak selemah yang dilihat dari kacamata teman-temannya. Budi bekerja paruh waktu siang dan malam setiap hari.


Dia si culun yang selalu giat dalam pekerjaannya. Tekun dan ulet, dia selalu berusaha sekuat tenaga agar asap dapur tetap terjaga. Peluh-peluh yang keluar dari sekujur tubuhnya, itulah yang membuat Linda kekeh ingin merawat ibunya sampai sekarang. Dia tidak tega melihat Budi menangis atau kecewa, apalagi karena perbuatannya.


"Kak Linda?" Teguran Budi merambat ke daun telinga sang pemilik nama. Linda pun tersadar dari pemikirannya.


"Ah? A-Ah, apa kau memanggilku, Budi?" Linda tersadar bahwa baru saja dia reflek menyebut nama Budi tanpa imbuhan 'Nak'. Ia merasa seperti seorang gadis yang sedang berbicara pada pacarnya.


Linda menutup pipi merahnya dengan papan data pasien.

__ADS_1


Bodoh, bodoh, aku bodoh, batin wanita yang saat ini telah menginjak usia 23 tahun tersebut.


"Kak? Anu, maaf, aku lagi buru-buru mau ketemu ibu. Jadi, maaf, ya!" Budi mengesampingkan seluruh perasaan ini. Yang utama baginya sekarang adalah sang ibu, dia harus bertemu ibunya dan menemaninya saat pengecekan oleh para dokter.


Ia berbalik dan berlari meneruskan arah yang tadi terpotong karena sempat menabrak Linda. Jarak semakin terukir, Budi semakin memperjauh distansi antara dia dan Linda. Membuat si wanita perawat ragu-ragu untuk mengingatkan.


"Tunggu, Bud–EH?!" Namun, ketika dia berniat menyusul lari si cowok lugu tadi, tiba-tiba saja seseorang menahan tangan Linda.


Linda berbalik badan dan menengok sekilas siapa yang berani memegang tangannya sekuat ini. Lalu, ketika dia sudah tahu siapa yang ada di belakangnya, wanita itu terkejut.


Kembali lagi berfokus kepada Budi. Ia berlari masuk ke kamar ibunya, berpikir bahwa para dokter mungkin telah bersiap menunggu di dalam ruangan putih ini.


Pintu dibuka secara tergesa-gesa. "Ibu!" teriak Budi diiringi napas yang tersenggal.


Pemandangan ini tidak sesuai apa yang dipikirkan. Ruangan sunyi senyap, gelap, dan kurang nyaman. Tidak ada siapapun di sini, sejak Linda beranjak keluar barusan.


Saat ini, hanya ada seorang wanita yang sedang terbaring lemas di atas ranjang berselimut biru. Budi ingin meledak marah kepada para dokter yang dia pikir telah berbohong, tapi seluruh emosinya langsung lenyap begitu saja saat kedua netranya menatap wajah wanita berkeriput itu.


"Ibu ...."


Yah, wanita itu adalah ibunya. Sudah sekitar 1 tahun ini dia terbaring tak berdaya di ruangan sempit ini. Entah apa penyakit yang dideritanya, yang pasti para dokter sedang melakukan riset agar dapat menemukan jawabannya.


Budi berjalan lunglai mendekati ranjang rumah sakit. Ia menarik bangku kecil yang tersedia di sana dan mendudukinya. Cowok itu meraih tangan kurus ibunya yang sekarang tampak semakin memburuk. Dia membelainya, mengusapnya, dan menciumnya.


Beginilah, setiap kali Budi bertemu dengan ibunya, dia pasti akan selalu merasa bersalah. Walau dia telah mencoba melupakan kejadian itu sekalipun, tetapi rasa bersalah dan sesal memang sulit menghilang.


Hari itu, Budi menitihkan air mata yang telah dia tahan seharian ini. Akhirnya, tangisnya pecah pada saat itu juga. Apalagi, dia mengingat kembali tentang para preman kelas yang mengungkit tentang ibunya.


Bulir-bulir air mata mengalir licin di atas pipinya. Bibir yang tadi dia gunakan sebagai alat pengumpat, sekarang hanya bisa bergetar seiringan dengan perasaan hatinya. Ia tak akan bisa memungkiri perasaan, terlebih lagi di depan orang yang amat sangat dia sayangi.


Maaf, maafkan aku, Ibu. Aku gagal melindungimu lagi ..., batin Budi sembari masih terus menangis.


Dari arah luar, terlihat Linda sedang memegang gagang pintu dan berniat masuk ke kamar Budi untuk memberikan kabar. Namun, langkahnya terhenti seketika saat mendengar suara isak tangis. Karena penasaran, dia pun melirik sedikit melalui celah sisi jendela kamar yang tak tertutup gorden.


"Hah?!"


Sebuah kebenaran yang harusnya tidak perlu diungkap.


Tatkala dia menyadari bahwa Budi sedang menangis, tanpa sadar, kedua mata Linda pun mulai berkaca-kaca. Akhirnya, dia tidak lagi bisa membendung perasannya.


Air mata mengalir secara sopan dari sudut matanya. Linda menutupi wajah sedihnya dengan cara sama agar orang-orang di sekitar tidak curiga. Namun, keduanya tetap sama.


Budi maupun Linda, mereka sama-sama sedang menangis karena merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2