Fighter System

Fighter System
Ch. 11 : Kirana?


__ADS_3


...*****...


"Bocah sialan!" pekik salah satu dari mereka, "tunggu, kau dari SMA Taran Timur?" lanjutnya bertanya.


Budi sempat kebingungan karena pertanyaan yang dilontarkan. "Iya. Kenapa? Ada masalah?"


"Pfttt ... hahaha! Pantes aja kok tampangnya kaya pecundang begitu," ejeknya sembari berjalan mendekati Budi, "hei, tapi kau hebat juga sih. Sebelumnya, nggak ada anak SMA Taran Timur yang berani ngelawan anak-anak SMA Taran Barat. Aku apresiasi keberanianmu!"


"Tapi, tetep aja, kamu bakal mampussss!" Ia lantas melayangkan tinju menyamping yang menyasar telinga kanan Budi. Beruntungnya, orang yang diserang telah sadar dan segera menghindar sesaat sebelum serangan tersebut tepat mengenai tubuhnya.


SMA Taran Barat? Apaan sih?


Tunggu, aku bisa melihat kemampuannya?!


[Shelen]


Kekuatan : 7/100 (F)


Ketahanan : 13/100 (F)


Kecerdasan : 5/50 (F-)


Kecepatan : 12/100 (F)


Naluri Bertarung : 8/50 (F-)


"Wah, jago juga kamu. Tapi, tadi itu pukulanku cuma meleset aja. Sekarang, pasti maatiiii!" Ia mengulangi pukulan yang sama, namun kali ini targetnya adalah dada.


Budi sudah pernah menerima serangan semacam ini, sehingga dirinya dapat membentuk posisi bertahan. Pukulan tangan kanan yang asal-asalan mendarat tepat di atas pertahanan tangan menyilang Budi.


"Haha, ternyata kalian ini cuma berandal ingusan. Majulah! Aku bisa mengakhiri ini dalam waktu singkat!" pekik Budi penuh keyakinan. Ia menebar senyum miring sembari mengganti posisi. Yang awalnya bertahan berubah menjadi menyerang.


Jab.


Sebuah pukulan jab lurus berhasil melesat sempurna. Budi sukses menciptakan pukulan jab yang tepat mengenai bagian hidung.


Brak!


Membuat musuh kedua tumbang hanya dalam hitungan detik. Darah merah mengalir lepas melalui kedua lubang hidungnya.


"Hah?!" Semua lantas terkejut saat melihat hal itu.

__ADS_1


"Hei, punya sapu tangan nggak?" Sembari memicingkan mata secara tajam, Budi mengucapkan kalimat andalannya sekali lagi. Ia memancarkan aura intimidasi yang sangat pekat, membuat siapapun yang menatapnya akan bergidik ngeri.


Meski tubuhnya kecil layaknya pecundang, tapi ekspresi wajahnya membuat mereka merasakan atmosfer lain.


"Si-Sial!"


Budi tak ingin membuang waktu, ia lantas bergerak maju dengan langkah bak seorang petinju profesional. Anak itu melepaskan pukulan straight, jab dan calf kick pada saat bersamaan.


"A-Akhh!"


Membuat musuh-musuh terkapar tak berdaya hanya dengan beberapa serangan normal. Ia menghabisi mereka cepat, sesuai dengan apa yang dia katakan.


Ding!


[Misi selesai!]


[Selamat! Host mendapatkan kartu perak!]


[Selamat! Host berhasil menyelesaikan ]


[Selamat! Host mendapatkan kartu perak!]


"Eh?"


Misi tersembunyi, ya? Budi berpikir sejenak.


Budi lantas menoleh ke arah sumber suara. Ternyata, yang berterima kasih adalah anak berkacamata yang ditolong olehnya tadi. "Oh! Iya, nggak papa kok haha!" jawabnya disertai tawa kecil.


Ia berhenti tertawa dan melirik sedikit ke arah bet anak pendek itu. Tampak tertulis jelas nama 'SMP Taran Utara'.


"Ah, kamu dari SMP Taran Utara, ya? Bukannya, sekolah itu lumayan jauh dari sini?" tanya Budi yang juga tetap berusaha membuat anak itu tenang. "Anu ... kalo nggak mau jawab juga nggak papa kok! Yang penting, kamu juga udah selamat, kan?" sambungnya.


Si anak SMP ini sepertinya masih merasa trauma. Meski mulutnya tak mengucap, akan tetapi wajahnya menyiratkan seperti itu. Budi yang menyadarinya pun segera bertindak.


"Nggak usah takut. Anak-anak berandal itu nggak bakal ganggu kamu lagi, kok," kata manusia berjakun itu menenangkan, "rumahmu di mana? Ayo, ku antar pulang! Kamu tunjukkin jalannya, ya?"


Senyuman terukir pada bibir kecil anak culun tersebut. "Iya." Dia menerima tawaran Budi. "Aku tinggal di perumahan Tirta," terangnya.


Mereka berdua mulai berjalan. "Oh? Perumahan di Jalan Anggrek itu, ya?"


"He'em!"


Mereka berdua berjalan bersama menuju perumahan teratur itu. Karena sama-sama introvert, kedua anak ini pun langsung akrab. Budi tampak sangat cocok saat mengobrol dengannya saat dalam perjalanan.

__ADS_1


"Aku juga mau beli action figure-nya Hobin!" teriak si anak SMP penuh rasa antusias.


Hal tersebut jelas memantik tawa dari sisi Budi. "Hahaha!"


Tak terasa, akhirnya mereka sampai. Di salah satu rumah dengan nomor 244 yang terpampang di pintu depan.


"Mama! Ayah! Kakak! Aku pulang!" teriak anak itu sambil mengetuk pintu.


Tak perlu waktu lama, pintu depan pun terbuka. Membuat sedikit celah antara pintu kayu dan gawangnya. Budi segera membetulkan posisi, sebab sang pemilik rumah akan segera keluar.


Di luar perkiraan, orang yang keluar bukanlah wanita atau pria dewasa, melainkan seorang gadis berambut panjang coklat dengan baju ketat seperti layaknya anak muda zaman sekarang.


"Hei! Dasar! Kamu kemana aja sih, Yan? Udah jam segini loh!" pekik cewek itu memarahi anak yang baru pulang tersebut.


"Hehe ... tadi ada les tambahan, jadi pulangnya terlambat." Anak yang diketahui bernama Riyan ini mengarang cerita. Ia sengaja berbohong agar kakaknya tidak khawatir nanti.


Gadis tersebut pun menghela napas lega. "Hahh ... syukurlah." Ia mengalihkan fokus pandangannya ke arah seorang laki-laki di belakang yang saat ini sedang berada dalam posisi memunggungi.


Melihat dari sudut pandang Budi, sekarang, laki-laki itu tengah berada dalam posisi yang berat. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa bahwa mungkin dirinya akan melakukan hal bodoh jika terus menatap tubuh perempuan di belakangnya.


Cobaan yang berat untuk seorang cowok yang tak pernah didekati oleh satupun gadis seumur hidupnya.


"Hei ...!" tegur gadis itu sembari melirik Budi dari samping.


Deg!


"A-Ah! Hei hei! Aaahahaa ...." Budi langsung merasa salah tingkah. Wajahnya memerah padam. Meski jarak mereka berdua terpaut cukup jauh, akan tetapi telinga Budi seolah menangkap suara lembut dari distansi dekat. Membuat laki-laki itu sedikit maju menjauh dari titik awal dia berdiri.


"Maaf, kalau kamu mendekat, genrenya akan berubah." Budi menolak halus.


Keheningan tercipta sesaat setelah Budi mengatakan kalimat itu. Tidak ada respons dari sisi si cewek. Menyebabkan segumpal rasa sesal tertimbun di hati Budi. Ia harusnya tidak mengatakan hal itu.


Canggung. Kata yang tepat untuk mendeskripsikan suasana ini. Budi terdiam, cewek itu juga tak bersuara, ditambah Riyan yang masih belum bisa mencerna sepenuhnya.


Namun, kesunyian itu lenyap selang beberapa menit kemudian. Di saat gadis dengan kulit bersih itu memberanikan diri untuk angkat bicara lebih dulu. "Ah, aku kira aku cuma salah orang tadi. Tapi ternyata itu emang kamu, ya?" tegurnya kemudian.


Budi sontak terkejut.


"Apa kabar, Bud?" Cewek tadi mendekat. Suara yang mengalun lembut menerpa kedua daun telinga Budi.


Terlepas dari rasa malunya, Budi pun akhirnya berbalik badan sebab telah termakan oleh rasa penasaran.


Manik mata seorang gadis yang sedang tersenyum adalah pemandangan pertama yang diterima oleh netra. Pada saat itu juga, Budi langsung tersadar akan suatu hal yang nyaris dia lupakan.

__ADS_1


"Kirana?"


~Bersambung~


__ADS_2