Fighter System

Fighter System
Ch. 13 : Ran, Teman Masa Kecil (Part 2)


__ADS_3


...****...


Selang beberapa menit, Ran kembali dengan nampan berisikan segelas teh di tangannya. Gadis itu menaruh teh tersebut di atas permukaan meja kayu seraya tersenyum. "Minum dulu, Bud," tutur Ran mempersilahkan laki-laki itu untuk menyeruput teh buatannya.


Budi mengangguk pelan sambil menjawab sungkan, "I-Iya." Dia lalu menempatkan jari-jemarinya di sela pegangan gelas dan mulai mencicipi minuman beraroma melati itu. Ekspresi wajahnya seketika berubah saat air dalam gelas menyentuh bibirnya. "Uhh ... panas. Tapi enak! Ini teh terenak yang pernah ku coba selama ini!" ungkapnya seketika berlagak menjadi chef. Dia sengaja mengucap kalimat-kalimat pujian itu agar Kirana merasa senang.


Namun, reaksi yang ditunjukkan berbeda dengan apa yang dia pikirkan. "Apa sih~? Itu cuma teh sari harum loh!"


Bfrrfff!


"Uhuk! Uhuk!" Mengetahui fakta bahwa teh ini hanya teh seduh, Budi langsung tersedak. Ia bahkan terbatuk-batuk saking malunya.


"Hei, hati-hati, Bud!" Ran mendekat dengan wajah sedikit cemasnya. "Kamu ini, masih sama kaya dulu aja. Hahaha!" Ia tertawa kecil.


Budi yang tengah menikmati teh pun terdiam saat mendengar kalimat yang terucap. Ia menghentikan sejenak kegiatan minumnya. "Sama? Sama kaya gimana?" tanya Budi kemudian.


Ran meredakan tawanya dan menatap kedua manik mata Budi. Dengan suara yang terdengar sedikit berubah, ia menanggapi pertanyaan, "Lucu." Kirana menunjuk Budi dengan jari telunjuknya. "Kamu masih keliatan lucu, Anak Mobil!"


Kedua netra Budi memekak sempurna. Pada waktu bersamaan, sebuah ingatan kembali menyatu bagai puzzle dan melintas.


Sebuah ingatan klise tentang dia dan seorang gadis 14 tahun lalu.

__ADS_1


"Kamu kok suka mobil-mobilan? Kata ayahku, anak perempuan nggak boleh main mobil-mobilan." Seorang anak perempuan dengan penampilan rapi menghampiri Budi yang tengah sibuk berimajinasi dengan beberapa mobil mainannya. "Tanganmu juga kotor banget," ucapnya kemudian.


Gadis kecil itu tak lain adalah Kirana. Ran dulunya adalah seorang anak perempuan yang sering dimanja oleh kedua orang tuanya. Ia selalu bermain di rumah hanya bersama orang tuanya. Hal itu menimbulkan dampak yang sangat jelas terjadi.


Kirana kecil bahkan tidak bisa membedakan mana yang laki-laki dan perempuan!


Budi mendongak menatap kehadiran gadis itu. Ia lantas celingak-celinguk ke segala arah dan kembali menatap orang di depannya saat merasa bahwa tidak ada orang lain selain dirinya di sana. "Kamu ngomong sama aku?" tanya Budi polos.


Kirana mengangguk. "Iya. Kamu." Dia berjongkok di samping Budi. "Kamu harus cuci tangan sekarang! Kata ayahku, nanti bisa sakit."


Ran menarik-narik tangan Budi sekuat tenaga, berniat mengajaknya pergi ke kamar mandi dan mencuci tangan.


Budi menatap keheranan anak perempuan itu. "Hei, tunggu sebentar!" cegahnya tegas, "kamu siapa? Kok tiba-tiba narik aku. Dan juga, aku bukan cewek tahu!"


"Bukan! Aku bukan cewek!" Budi membantah kesal. "Kamu liat, rambutku pendek. Mataku juga tajam. Beda banget sama kamu."


"Ah, cewek itu apa?"


Budi langsung menepuk jidat ketika mendengar pertanyaan konyol itu. "Haduh ... lupakan! Namamu siapa?"


Kirana berhenti sejenak. "Oh!" Ia langsung teringat akan penjelasan ayahnya saat itu. "Namaku Kirana Permatasari. Kalo kamu, siapa?"


Budi menanggapi, "Oh, namamu bagus! Ummm ... namaku Anak Mobil! Soalnya aku suka mobil-mobilan!"

__ADS_1


Ran memiringkan kepala. "Anak perempuan kan nggak boleh main mobil-mobilan ...."


"Aaaaaarghhhhhhhhh! Terseraaah deh!" Budi berteriak untuk melampiaskan segala amarahnya. "Intinya, mulai hari ini kita bakal temenan. Kalo kamu mau main, mampir aja ke rumahku. Tanya aja rumahnya Pak Rohmat! Itu nama bapakku, semua orang di kampung ini pasti tau."


Kirana mengangguk sambil tersenyum. Sejak saat itu, hubungan mereka pun mulai terjalin.


Pertemuan yang tak terduga, berubah menjadi hubungan erat hingga dewasa kelak.


"Hahaha! Waktu itu aku nganggep kamu cewek!" Tawa Ran pecah di tengah-tengah kesunyian. "Aku selalu ngerasa malu banget waktu inget kejadian itu! Abisnya, kocak banget sih! Hahaha!"


Ran tertawa, sedangkan Budi hanya tersenyum canggung. Karena sejujurnya, ia juga merasa sedikit malu. Sebab, saat itu ia tidak menunjukkan rasa hormat sedikitpun pada Kirana.


Itu moment paling memalukan untukku juga, Ran. Sungguh ..., batin Budi.


"Tapi, jujur deh. Hari ini aku seneng banget," ucap Ran.


"Eh?"


"Aku seneng banget, bisa ketemu teman masa kecilku lagi setelah lima tahun lamanya. Rasanya, kaya mimpi deh ...." Ran tersenyum sumringah di depan Budi.


Teman, ya?


Namun, topik pembicaraan langsung berubah saat Ran tiba-tiba bertanya, "Oh iya, Bud. Gimana kabar keluargamu?"

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2