Fighter System

Fighter System
Ch. 35 : Pria Aneh


__ADS_3


...\=\=\=\=...


Alvaro, sang Raja Taekwondo, begitulah mereka menyebutnya. Laki-laki yang pernah menjadi primadona pada saat awal pendaftaran sekolah. Rupa yang tampan dan tubuh atletis adalah faktor utama yang membuat dirinya begitu populer di kalangan para gadis.


Namun, singgasana pangeran sekolah yang diberikan padanya, tak bertahan lama. Seiring berjalannya waktu, Alvaro mulai menunjukkan sifat aslinya satu per satu. Yang awalnya humble dan boyfriend-able, berubah menjadi seorang berandalan keji yang tak akan pernah larut oleh rasa belas kasihan.


Hari-harinya hanya dipenuhi oleh pikiran untuk bertarung dan bertarung. Memalak para murid lemah, melawan para guru, dan membantah peraturan sekolah. Dia juga lah orang yang sukses mengubah citra SMA Taran Barat menjadi SMA tempatnya para berandal.


Atlet taekwondo dengan kemampuan berputar tingkat tinggi ini, mengukir rekor dengan tanpa terkalahkan sekalipun dalam pertarungan jalanan. Namun, rekor itu dipecahkan oleh anak pengecut ini.


Dengan cara yang sama, seperti yang terjadi padanya dua tahun lalu. Untuk pertama kalinya, ia tertunduk tak berdaya di atas ring, sebagai seorang atlet muda.


Selang beberapa menit, akhirnya kesadaran Alvaro mulai berangsur-angsur kembali. Indranya mulai berfungsi lagi, samar-samar telinganya mendengar suara kedua orang yang sedang berbicara di dekatnya.


Menyadari bahwa ada manusia di dekatnya, Alvaro pun membuka mata secara perlahan.


"Kita tinggal aja, Bud!" Seorang laki-laki gendut dengan tindik penuh di telinga, tampak sedang membujuk halus rekannya untuk segera meninggalkan tempat ini.


Bagus dengan pelipisnya yang penuh darah terlihat sudah tidak larat lagi untuk dihajar lebih lama.


"Ditinggal gimana? Kalo nanti dia nelepon polisi gimana?" Budi membalas dengan raut wajah bingung. "Aku nggak mau jadi kriminal muda weh! Masa depanku masih panjang!"


"Hei, kalian ini ngapain?"


Deg!


Dua kepala di dekatnya kompak menoleh ke arah sumber suara. Seketika, rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuh mereka berdua. Budi dan Bagus kelabakan dan salah tingkah.


"Oh! Ka-Kau udah bangun, Ro? Hahahaha! Mau ngopi?" Budi tertawa canggung sembari menggaruk-garuk bagian belakanh kepalanya. Kedua netra cowok itu tampak memandangi objek lain. "Katanya warkop sebelah juga jualan wiski–"


Sret!


Tanpa disangka, Alvaro justru menarik kerah baju Budi dan mendekatkan wajahnya. Ia memasang ekspresi wajah mengerikan yang jelas membuat Budi gemetar.


Budi meneguk ludah dan mulai berdo'a dalam hati agar tidak terjadi hal-hal buruk lagi.


"Kau pikir, apa yang kau lakukan, Kepar*t?" Ia bahkan menekan leher laki-laki itu dengan sangat keji.


"Aku cuma mau ngembaliin ini." Budi menunjukkan sebuah gelang yang dirajut oleh benang dengan huruf 'L' di sana. "Tadi kayaknya jatuh pas kamu lagi balchagi, jadi ku pungut lagi."


Ekspresi wajah Alvaro seketika berubah. Ia merunduk dan memegangi separuh wajahnya dengan tangan kiri.


Bruk!


Ia menjatuhkan tubuh Budi dan meraih gelangnya secara paksa. "Jangan pernah muncul di hadapanku, lagi, Bangs*t!" Ia kemudian berjalan melewati Budi dan Bagus.


Kedua anak SMA Taran Timur tadi menatap Alvaro dengan tatapan kurang mengenakkan. Akan tetapi, tatapan itu cepat berlalu dan berganti menjadi senyuman lega ketika Alvaro benar-benar telah lenyap dari pandangan.

__ADS_1


"Ini semua udah berakhir, kan?" tanya Budi dengan suara lirih.


Bagus menanggapi pertanyaan rekannya itu dengan anggukan kepala. "Yah, dengan begini, Alvaro udah mengaku kalah dan wilayah SMA Taran Barat jadi milik kita."


"Bukan." Budi menggeleng. "Bukan itu. Maksudku, kalau Alvaro udah kalah, artinya pertanggung jawabanku udah tuntas, kan?"


"Eh?"


"Aku nggak mau terlibat dalam masalah sekolah ini lagi." Budi memamerkan mimik wajah sendu. "Sampai sini aja, udah. Aku cuma mau belajar normal kayak murid-murid biasa, aku ... menyerah. Kau cari aja ketua SMA Taran Timur yang lebih baik daripada aku."


Mengikuti jejak Alvaro, Budi pun berjalan perlahan menjauh dari Bagus. "Tapi, Bud–anak Tarantim cuma berharap padamu. Kalau kau nggak mau, lalu siapa yang bisa jadi pemimpin?"


Budi menghentikan langkah sejenak tatkala mendengar ucapan itu. "Bukannya aku udah bilang tadi, cari aja pemimpin yang baru. Maaf, aku bener-bener nggak suka berantem." Selepas mengatakan hal tersebut, Budi kembali melanjutkan langkahnya.


Untuk hari ini, mendadak ia merasa sangat lelah dengan kebiasaan bertarung ini. Budi ingin beristirahat sejenak dari segala hiruk-pikuk kehidupannya.


Bagus memandangi Budi dengan sorot mata penuh rasa kecewa.


Drtt ... drtt ...


Pada saat bersamaan, terdengar suara ponsel berdering. Setelah dicek beberapa saat, akhirnya Budi pun menyadari bahwa suara itu berasal dari sakunya. Ia segera menelisik tempat itu dan mengangkat benda yang menjadi sumber suara.


Ran (sekarang)


Bud.. hari ini kamu nggak masuk lagi, ya? Anu...


Tampak dari bar notifikasi aplikasi chat, Kirana sedang menghubunginya. Hanya dilihat dari pintasan pesan saja, Budi sudah dapat mengetahui bahwa Ran menanyakan alasan mengapa ia tidak masuk kerja hari ini.


Maaf, hari ini aku lagi capek banget. Jadi nggak bisa masuk. Bilangin, bos, ya?


Awalnya ia menuliskan itu. Namun, dalam waktu singkat pikirannya langsung berubah. Ia teringat kembali tentang keluarganya.


Ibunya masih perlu biaya pengobatan.


Dan juga, Arin. Budi teringat akan adik perempuannya itu. Kadang, laki-laki itu merasa iba tatkala melihat adiknya berbaur dengan teman-teman sekelasnya.


Bukan tanpa alasan.


Sering kali, ia mendapati Arin yang kebingungan saat jam istirahat. Gadis itu sibuk celingak-celinguk ke sana ke mari agar dapat mencari jajan yang sesuai dengan kantongnya.


Budi ingin mengakhiri itu.


Maaf, aku lagi ada urusan sebentar tadi. Aku dateng sebentar lagi, bilangin bos, ya?


Tuk!


Dia mematikan ponselnya. Pantulan bayangan dirinya yang sedang menghela napas tampak terukir jelas di atas layar. Dia sangat lelah, ia ingin istirahat setelah melalui pertarungan kemarin.


Tapi, tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau, meski badannya telah lelah sekalipun, dia harus memaksakan diri. Demi keluarganya.

__ADS_1


Sore itu, laki-laki cungkring dengan luka lecet yang menghiasi sekujur tubuh ini berlari secepatnya. Dia tidak ingin membuat bos restoran marah besar.


Tling.


Tak perlu memakan waktu lama, sampailah ia di restoran sederhana itu. Ia tampak sangat kelelahan, air keringat mengucur deras dari dahinya.


Kebetulan, saat itu rekan pelayannya juga sedang berada di sana. Tanpa menunggu lama, dia pun segera menghampiri Budi. "Bud, kamu ini gimana sih? Kenapa jam segini baru dateng coba?"


Budi menyatukan kedua tangan di depan dada. "Maaf! Ada beberapa urusan yang harus saya lakukan tadi."


"Aissh ... sepenting apa urusanmu itu sampai-sampai kau berani meninggalkan jam kerja?" Pria yang diketahui sebagai 'Senior' itu mulai memaki karyawan paruh waktu tersebut. "Lupakan, sekarang cepat pakai seragam-mu dan dan mulailah bekerja!"


"Ba-Baik!" Budi bergegas pergi ke ruang karyawan dan mengenakan baju khas milik restoran ini.


Sementara itu, Kirana tampak memandangi teman masa kecilnya itu dengan tatapan sarat akan rasa kekhawatiran.


Setelah memakai bajunya, Budi bergegas pergi menemui Ran dan mulai melakukan pekerjaannya. "Ah, Ran!"


"Bud? Ah, anu ... aku mau tanya–" Ran hendak bertanya, tapi Budi justru memotongnya.


"Pesanan hari ini apa aja?" Laki-laki itu menyela untuk melontarkan pertanyaan yang berkaitan dengan pekerjaan. "Oh? Maaf, kamu tadi bilang apa?"


Ran langsung menggelengkan kepala. "Ngg ... nggak, enggak ada apa-apa kok. Ah, buat hari ini ada pesanan mie goreng aceh di meja tiga, sama minumannya es jeruk."


"Oalah, siap siap! Aku akan melayaninya dengan cepat!" Budi bergegas meninggalkan posisi awalnya dan mulai bergerak ke arah dapur untuk mengambil pesanan.


Dan, lagi-lagi, Kirana merasa terganggu dengan sosok Budi hari ini. Biasanya, laki-laki itu selalu tersenyum lebar bagai anak kecil yang diberi permen oleh orang tuanya.


Tapi, hari ini, kelopak mata Budi menurun, senyuman lebarnya pun memudar. Terlebih lagi, luka-luka gores yang ada di sebagian tubuhnya membuat Kirana semakin cemas.


Budi kecapekan banget keliatannya.


"Hei." Pada saat bersamaan seorang pria dengan tubuh tinggi datang ke arah Kirana.


Melihat ada pelanggan baru, gadis itu pun segera menyiapkan diri. "Ah! Selamat datang, Anda mau pesan apa?"


"Ah, imutnya." Pria itu tersenyum. Tapi, senyuman itu terasa sangat menyeramkan di mata Ran.


Imut?


"Ah, maaf? Anda bilang apa tadi?"


"Imut. Aku suka gadis imut. Hei, apa aku boleh memesanmu untuk ku makan?"


Deg!


Sesuai dugaan pria ini benar-benar tidak waras. "Ja-Jangan mendekat! Atau aku akan menghubungi polisi!"


Bukannya berhenti, pria itu malah makin menjadi. Dia mencengkram kuat pergelangan tangan Kirana dan mulai membisikkan sesuatu. "Jangan gitu dong, om cuma mau main kok~"

__ADS_1


"Ka-Kau?!"


~Bersambung~


__ADS_2