
Minggu sore aku dan fino datang ke danau tempat biasa kami mampir sepulangnya dari sekolah.
hari ini langit begitu cerah entah mengapa susana danau sedikit berbeda disana.
"fin gimana malam mingguan lo kemarin sama lia?"tanya ku penasaran
"ya biasa aja sih, tapi dia orangnya lumayan romantis"
"fin gua ada saran, gimana kalau mulai besok lo, pergi, pulang sekolah bereng amelia aja"
"lah jadi lo gimana dong?"tanya fino.
"ya elah fin gua udah gede, lagipun kan ada supir yang bisa antar jemput gua"
"hmm gitu ya, tapi gua nggak mau jarak persahabatan kita menjauh cuman karena gua pacaran sya"
"gak bakalan kok, percaya deh sama gua"
"tapi sya..."
"fin dengarin gua, nggak ada tu ya sejarahnya cewek bakalan rela cowoknya dekat sama cewek lain apa lagi sampe anterin kesekolah bareng"
"iya deh mulai besok gua kesekolahnya bareng amelia"fino selalu saja menuruti perkataan ku
__ADS_1
"gitu dong itu baru namanya fino sahabat gua"aku montarkan senyuman ku kepada fino,
fin andaikan lo tau, kalau setiap senyuman gua berarti adalah tangisan gua, andaikan lo tau setiap ngeliat lo senyum gua selalu senang fin, salahnya sekarang senyum itu nggak lagi milik gua.
setelah lama berbicara aku dan fino melihat bunga yang kami tanam bersama udah mulai tumbuh, aku mengambil air danau lalu menyiramkannya kebunga matahari kecil itu.
setelah bersenang-senang didanau, entah kenapa kurasa hari ini adalah hari yang sangat berkesan buatku.
fino mengantarku pulang kerumah, mama dan papa sepertinya pulang larut seperti biasanya, aku menuju kamar dan tak sengaja melintasi cermin besar dikamar ku, ku lihat dengan jelas wajahku, semuanya terlihat putih, ya putih pucat seperti mayat yang sedang berdiri didepan cermin.
kelihatannya mulai sekarang aku harus membeli make up agar pucat wajahku tak terlihat. aku bergegas ke toko penjual make up terdekat, aku hanya membeli "lip blam"dan "fundation".
keesokan harinya.
sesampainya disekolah ku letakkan tasku dimeja, fino dan amelia kelihatannya belum datang kesekolah.
aku menunggu mereka di bangku panjang yang berada didepan kelas, tak berselang lama aku duduk menunggu akhirnya fino dan amelia sampai disekolah, mereka terlihat sangat bergembira.
fin, gua senang liat lo bahagia senang banget, akhirnya lo udah ngarasain gimana rasanya cinta, akhirnya lo udah bisa senyum dan ketawa bebas tapi bukan karena gua, akhirnya lo mau dekat sama cewek selain gua, gua senang banget fin.
tanpa kusadari rintihan kalbu itu telah membuat matakupun ikut kedalamnya, air mataku menetes majatuhi pipiku, dan lagi aku tak tahu jika seandainya fino melirik kearahku tadi, aku langsung pergi dari bangku itu, menuju ketoilet, aku menyapu wajahku yang telah dipenuhi air mata, untung saja tangisan itu tak menginggalkan bekas.
aku keluar dari toilet dan betapa terkejutnya aku melihat fino yang berada tepat di depan pintu toilet.
__ADS_1
"fin ngapain lo disini? "
"udah lo nggak usah pura-pura"ucap fino marah.
"maksud lo apa fin?"aku mendadak kebingungan.
" bilang aja kalau lo nggak suka liat gua kesekolah bareng lia"
"nggak fin, gua malahan seneng liat lo pergi sekolah bareng lia"
"bohong"fino memplototiku.
"nggak fin, nggak"aku kembali menangis kukira fino benar benar sangat marah saat itu.
"gua udah bilangkan sama lo kalau gua nggak mau liat lo nangis, apalagi cuman karena beginian"
aku tak kuasa menahan tangisan ku, kupeluk fino erat dan finopun membalasnya.
"kalau lo nggak suka bilang jangan lo pendam sendiri"banyak mata yang memperhatikan kami tapi fino tidak peduli dengan itu.
"uhuk, uhuk, uhuk, huhhhh fin" rintih ku.
fino melepaskan pelukannya, fin nafas gua, gua nggak bisa nafas fin. badanku terkulai lemas dan yang terakhir kulihat hanyalah wajah fino yang terlihat cemas.
__ADS_1