Finosya

Finosya
selamat tinggal


__ADS_3

semua orang punya mimpi tak terkecuali diriku.


amelia telah pulang kerumahnya, fino yang mengantarnya pulang. hari pun mulai senja, langit senja terlihat jelas dari jendela yang gordennya dibuka oleh fino.


terima kasih kepada tuhan yang masih memberiku kekuatan sore ini hingga aku masih bisa menikmati indahnya langit sore.


fino berdiri tepat dibelakang jendela. kami saling menikmati langit senja dikala itu, memang hal yang biasa buat ku dan fino menikmati langit senja bersama, namun hal itu tak lagi kami nikmati didanau.


fino pergi menuju ranjang ku, mama dan papa sedang asyik mengobrol di sofa ujung ruangan, fino hanya berdiri di sisi kanan ranjang ku, tersenyum padaku lalu kembali memandang indahnya langit senja.


"oh iya dulu lo jago banget buat puisi kan sya waktu sd, gua masih ingat itu "fino memandangku sambil tersenyum.


"buat puisi tentang senja dong "ucap fino merengek.


aku menuruti permintaannya, fino bukanlah tipe cowok yang tertarik dengan hal, yang seperti ini, namun ntah kenapa kali ini dia mamintanya.


aku langsung melantun kan puisi singkat ku mengenai senja sembari memandangi langit senja dikala itu.


**senja**

__ADS_1


indah bak lentera di ambang terang dan gelap.


membuat damai hati yang memandang


mataku terjerat keindahan mu, namun sayang


kau hanya mampir sesaat


dikala langit malam mulai menghapus keindahan mu, tidakkah engkau marah dengannya? tidak kah ada rasa kesal padanya?


senja, pendamai indah, tentram kalbu, indah batin ini memandangmu.


fino bertepuk tangan.


"bagus"fino mengucapkannya sambil tersenyum damai.


mama dan papa tersenyum melihat kami, yang kini sedikit akur.


malam harinya, mama menyuapi ku makan malam, aku benar-benar tidak nafsu makan kali ini, fino menawari ku makanan luar, tapi aku tetap menolak segala hal yang berbau makanan.

__ADS_1


akhirnya fino meminta izin kepada mama untuk menyuapi ku.


mama memberikan, piring dan sendok yang ia pegang, lalu membiarkan fino membujukku makan, mama dan papa keluar dari ruangan.


fino membujuk ku untuk makan, namun tak sedikitpun aku hiraukan, semuanya terasa hambar, aku merasa lemas tak berdaya.


namun bujukan demi bujukan telah fino lontarkan dan sesendok nasi pun berhasil memasuki mulut ku, aku berusaha menelan makanan, akhirnya aku dapat menelannya.


fino berniat memberi ku suapan kedua, namun aku batuk, batuk yang sangat keras fino mengambil kan air, tapi terlambat mulut ku sudah di penuhi dengan darah, nafas ku, nafas ku serasa hilang sangat sesak rasanya.


fino panik dengan segera ia memanggil dokter.


"sya lo kuat lo harus bertahan, lo pasti kuat, gua nggak mau kehilangan lo sya, gua nggak mau, lo harus tahan ya"ucap fino lirih.


akhirnya dokter pun datang memeriksaku fino masih berada disampingku, hingga akhirnya salah seorang suster menyuruhnya pergi, fino tak mendengarkan.


beberapa suster memaksanya pergi, nafasku benar serasa tidak lagi ada, sakit ini hal yang tersakit yang pernah kurasakan.


"nggak lepasin gua, frisya butuh gua, gua harus ada untuk dia, lepasin gua, syaaa lo harus kuat sya lo nggak boleh tinggalin gua"aku masih mendengar ucapan fino.

__ADS_1


walaupun mataku tertutup aku masih bisa merasakan dokter yang berbicara,dan fino yang berteriak, hingga akhirnya, hilang.


siapapun dirimu, kamu tak akan bisa menolak kematian yang menghampirimu...


__ADS_2