
setangah jam sudah fino beranjak mencari makanan, aku hanya menunggu sambil menonton televisi.
"trekkkkk"suara pintu terbuka. Fino mesuk membawa dua bungkus makanan.
"hay beb, udah lama ya nunggu nya, sory tadi macet"
"emang lo beli apaan? "
"gua beliiiiii bubur bang ujangggg hahahahhah"fino tertawa sejadi-jadinya
"hah sejak kapan bang ujang jualan bubur? "
"semenjak gua suruh wahahhahah"fino kembali mengulangi tawanya.
"lo gila kalik, ya? "aku hanya memandangi fino tertawa.
"udah-udah kuy makan"
"nggak gua nggak selera"aku menolak ajakan Fino.
"apa lo bilang nggak selera? gua udah jauh-jauh beliin lo bubur sampe kenak macet, lo bilang kagak selera? "tanya fino balik.
"iya-iya gua makan"
"tunggu-tunggu sakit kanker boleh makan yang manis-manis nggak ya?"
"kata dokter sih disarankan nggak jangan dulu"
"ya elah berarti lo harus makan sendiri dong!"
__ADS_1
ucap fino sambil memajukan bibirnya.
"lah kok gitu? "
"soalnya kalo nanti gua yang nyupin lo kan bahaya jadinya, kan gua manis "ucap fino dengan pdnya.
Fino memang sedikit gila, selalu ada aja bahannya yang bisa membuatku tertawa.
akhirnya fino mengambil nasi yang diberikan perawat, lalu memasukkan kuah bakso yang ia beli, ke nasi itu, aku heran apa yang fino lakukan tapi ya sudah lah liatin aja dulu.
"nah bubur bang ujang sudah siap"
"lah fin jadi baksonya buat siapa? "tanya ku heran.
"buat gua"ucap fino sambil menuangkan baksoku ketempat baksonya.
"nggakkk mau pokoknya gua mau baksonya"aku merengek kepada fino supaya fino mau mengembalikan bakso milikku.
"ukkkkk"suara Fino sendawa.
"ahhhh kenyang"ucap fino sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.
"oh iya sampai lupa tuan putri belum makan kan, sini pangeran suapin"ucap fino sembari mengambil mangkok nasi yang berkuahkan kuah bakso.
"pangeran apaan kayak lo pangeran kodok, auah gua udah nggak mau makan"
"ohhh tidak bisa perintah pangeran adalah peraturan"ucap fino.
fino menyuapiku, namun aku yang marah membuang muka.
__ADS_1
"trutttttt trutttttt pesawat datang laluuuuu mandarat menujuuuuu ngenggggh mulut frisya"fino mengarahkan sendok kemulut ku ntah kenapa secara spontan aku langsung membuka mulut ku.
"dan gollllll"ucap fino seperti sedang menyuapi anak umur 3 tahun makan.
"lo kira gua balita umur 3 tahun apa?"
aku melanjutkan makan.
"ya kurang lebih sih gitu"ucap fino meledekku
aku dan fino tertawa lepas, fino menyuapi ku dengan penuh perhatian lalu menyuguhkan minuman.
setelah makan, fino kembali duduk disampingku, lalu menceritakan dongeng untukku, agar aku tertidur, tapi bodohnya hal yang terjadi malah yang sebaliknya. Fino yang tertidur sebelum menyelesaikan ceritanya.
fino tertidur pulas disamping ku, aku mengusap kepalanya, Fino tampan sekali saat tidur, aku bersyukur punya sahabat seperti fino yang slalu ada untukku apapun keadaanku.
"fin, lo ganteng juga ya kalau tidur, makasih buat semuanya, lo sahabat gua yang terbaik"aku mengucapkan hal itu sambil mengusap rambut Fino.
"hahhhhh, azekkk ketahuankan, lo naksir ya sama gua? lo bilang apa gua ganten? "tiba-tiba fino terbangun, aku terkejut tak tahu apa yang mau ku bilang, aku salting.
"hah apaan sih lo gr banget, ogah ma gua bilang lo ganteng, lo nya aja kali yang salah denger kan lo budeg"
fino tak mempercayainya, dan terus saja menanyai hal itu.
"udah ah udah malam tidur sana, kan udah ada kasur buat yang nunggu noh sana tidur lo"aku mengusir fino.
"ogah ah gua mau tidur disini aja biar kepala gua lo elus kayak tadi"
fino kembali keposisi tidurnya tadi lalu meletakkan tangan ku diatas kepalanya.
__ADS_1
fino, fino, aku sampai nggak tau bagaimana mendeskripsikannya.