Finosya

Finosya
aku takut


__ADS_3

tidak tau apa yang terjadi kembali aku terbangun di sebuah ruangan asing, kali ini tidak seperti dulu, kali ini dengan nuansa yang lebih menyeramkan, hanya ada aku disini bersama beberapa alat yang mencengkam, aku butuh orang untuk menemani ku, aku takut, tapi tetap tidak ada yang datang kepadaku.


hingga akhirnya ada seorang suster yang mendatangi ku melihat kondisi ku lalu pergi begitu saja. aku ingin mengadu kepada fino, aku ingin merengek kepada papa, aku ingin bercerita kepada mama bahwa aku menderita.


salahnya mereka semua tidak ada bersama ku disini, ingin rasanya aku berteriak, semua ini terlalu menyiksa.


setelah lama aku di ruangan, papa pun datang memasuki ruangan ku, papa menangis lalu membelai halus kepala ku yang sekarang sudah ditutupi hijab.


papa berbisik.


"sabar ya sayang, papa yakin kamu anak yang kuat"papa mencium kepala ku, aku membalas papa dengan air mata, lalu mengangguk sambil tersenyum tabah.


papa keluar, sekarang giliran mama yang masuk, mama melakukan hal yang sama dengan papa.

__ADS_1


"sakit ya? sayang mama pasti kuat kok, mama yakin itu, kamu harus semangat!!!"mama mencium ku, memberi ku semangat lalu pergi seperti hal nya papa.


dan akhirnya giliran fino masuk.


fino masuk terlihat matanya sedikit sembab ia menyapu air matanya menggunakan siku.


fino berdiri tepat di samping ranjang ku.


air mataku tak dapat lagi ku sembunyikan, air mata yang dulu ku simpan dalam kini mengalir bagai arus air sungai yang tak berujung. fino menghapus air mataku, lalu menggelengkan kepalanya, seakan memberi ku isyarat agar tak lagi mengeluarkan air mata.


untuk mengucapkan satu kata saja sangat sulit.


"ffiiin... "

__ADS_1


"udah gak papa, kalau belum bisa jangan dipaksakan dulu, lo harus kuat, lo sahabat gua yang terkuat lo pasti kuat"fino hanya terus berdiri sambil memberi ku semangat.


oh tuhan, keadaan seperti apa ini, aku sungguh tak berdaya sama sekali, semua nya tak bisa merasakan apa yang aku rasakan, semuanya tak lagi bisa mendengar derita ku, batin ku berteriak keras didalam sana.


aku hanya meminta salah seorang, menolong ku melepas ku dari alat-alat ini, alat-alat ini sangat menyiksa ku, bebaskan aku dari ruangan ini rungan ini sangat sunyi, aku takut, tapi tidak, tidak akan ada yang mendengarnya, tidak ada yang akan menurutinya.


tak lama kemudian, seorang suster pun datang, dan menyuruh fino keluar karena waktu besuk sudah habis, fino pun menuruti suster.


untungnya tangan ku masih dapat berfungsi baik, aku memegang lengan fino.


fino tersenyum.


"gua ada didepan kok lo harus semangat, lo pokoknya harus kuat ya"fino melepaskan genggaman ku lalu pergi seperti yang lain.

__ADS_1


aku tidak ingin lagi menderita, aku capek adakah yang ingin mendengar jeritan anak malang ini? adakah? aku bertanya sendiri didalam hatiku, lalu tersenyum layaknya orang gila, dan lagi-lagi menangis.


aku capek, aku ingin pulang, semua ini menyakiti ku semua ini menyiksa ku, apakah tidak ada lagi yang peduli pada ku? apakah tidak ada lagi yang menginginkan ku bahagia? apalah tidak ada lagi yang sayang padaku, semua pertanyaan itu ku ulangi sambil menangis hingga aku tidur lelap.


__ADS_2