
sudah 3 jam berlalu fino belum juga kembali dari rumah amelia, aku sangat khawatir, aku menghubungi fino tapi tidak di angkat kurasa ada sesuatu yang terjadi padanya.
pintu terbuka, terlihat bi Ayu yang sedang tergesah-gesah keringat bi Ayu bercucuran.
"ada apa bi? "aku penasaran.
"i, i, itu non itu? "bi Ayu terbata-bata.
"itu apa bi? "
"den fino, den fino kecelakaan"
"hah fino kecelakaan, dia sekarang dimana bi? tolong bawa aku kesana bi, aku mohon"aku sangat berharap kepada bi Ayu.
__ADS_1
"den fino di rawat di rumah sakit ini non, tadi pas bibi kebawah nyari makanan, ada ambulan yang bawa den fino, semuanya ditutupi darah non, terus bibi liat den fino di bawa ke UGD"cerita singkat bi Ayu.
aku memohon kepada bi Ayu untuk mengantarku segera ketempat fino, tapi bi Ayu menolak karena takut berbahaya bagi kondisiku, aku terus saja mendesak bi Ayu sampai akhirnya bi Ayu menurutiku.
bi Ayu meminta izin kepada suster.Setelah mendapat izin,bi Ayu membantuku menaiki kursi roda dan mengangkat infus ku, bi Ayu membawaku menuju UGD. sesampainya di UGD ternyata kami terlambat, fino sudah terlebih dahulu di pindahkan ke ruang ICU.
aku dan bi Ayu tidak berhenti sampai di situ, kami mendatangi ruangan ICU tempat Fino berada, aku tak bisa menemui Fino secara langsung, aku hanya bisa melihat fino dari kaca kamarnya, fino, fino dipasangkan banyak sekali alat-alat medis, begitu banyak selang yang menempel di badannya.
aku hanya bisa menangis melihat Fino dari kejauhan, setelah beberapa saat kami menunggu akhirnya dokter mempersilahkan salah seorang di antara kami masuk menggunakan baju khusus berwarna hijau, bi ayu mempersilakan aku masuk duluan, aku masuk seorang suster membantu mendorong kursi roda ku menuju fino.
aku berusaha membuat Fino sadar, aku berbisik kepadanya.
"fin, fin, fino bangun, fino gua butuh lo, gua janji gua nggak bakalan bicara soal kematian lagi, gua janji nggak bikin lo kesal lagi, plis bangun fin, fino bangun gua butuh lo"aku menangis mencium tangan fino.
__ADS_1
terlihat keluar setetes air mata dari mata fino yang masih saja tertutup.Tak lama kemudian akhirnya fino tersadar matanya terbuka secara perlahan.
fino melirikku lalu menggeleng seakan memberi isyarat agar aku tidak menangis.
aku menepis air mataku dengan cepat, lalu memberikan fino senyuman dengan sedikit tawa.
"fin, lo pasti kuat, lo pasti bisa hadapin ini semua, gua ada untuk lo, lo harus bertahan buat gua ya"aku membisikkannya perlahan lahan kepada fino.
"l, l, lo harus bisa semangat walau tanpa gua"fino berbicara dengan sangat sulit, terdengar suara nafas yang sangat kuat mengiringi suaranya.
"nggak gua nggak mau, bukannya lo yang bilang kalau kita hadapi bersama ha? gua nggak bisa sendiri fin gua nggak bisa"
perlahan-lahan mata fino tertutup kembali aku berteriak memanggil dokter, dokterpun datang dengan beberapa suster bersamanya.
__ADS_1
suster membawaku keluar dari ruangan fino. fin lo harus bertahan demi gua, batinku memilu mendoakan keselamatan fino.
apa fino masih bisa terselamatkan?