Finosya

Finosya
bakso bang ujang


__ADS_3

hari ini sabtu dan nanti malam adalah malam minggu, syukurlah hari ini tidak ada jadwal kemoterapi, dan lagi bukuku juga sudah kukirim kepenerbit, pasti malam ini bakalan bosan.


tringgg suara hp ku yang berdering.


aku berjalan menujunya, ternyata fino yang menghubingiku.


"ya fin"


"sya ntar malam, malam minggu gua nggak mau dengar banyak alasan pokoknya lo harus ikut malam mingguan, rencananya gua sama lia mau pergi makan bakso tempat bang ujang, lo pasti mau ikut kan"celotehan panjang fino.


"wah bakso bang ujang ya, ya udah deh aku ikut"kebetulan aku nggak ada kegiatan kurasa gak papa aku pergi malam mingguan sama mereka.


"oke ketemu ntar malam"fino menutup telfonnya.


malamnya.


aku bersiap menuju bakso bang ujang.


aku memutuskan untuk pergi manggunakan taksi malam ini.


sesampainya di bakso bang ujang.


aku melihat fino dan amelia sedang berada dimeja yang sama.

__ADS_1


"woi sya sini"panggil fino.


aku menuju meja mereka.


"oke kita langsung pesan aja sekarang"ajak fino. fino memesan makanan kami.


"bang kita pesan baksonya 3 ya satu pedas, satu bening gak pake cabe, gak pake kecap dan yang satu lagi, yank kamu mau apa? " tanya fino kepada amelia.


"aku biasa aja deh"


"oke biasa satu ya bang"fino melanjutkan pesanannya.


"nggak bang yang pedas tadi nggak jadi, jadi biasa 2 bening satu"aku mengubah pesanannya.


"oke mbak tunggu sebentar ya"


"gua udah berapa kali bilang, lo nggak boleh makan yang pedas-pedas lo dengar nggak sih, atau lo budeg kali ya"aku mengomeli fino didepan amelia.


"iya-iya"fino memanyunkan bibirnya.


tak lama kemudian pesanan kami pun datang, akhirnya kami mulai makan, tak lama setelahnya.


"uhuk, uhuk, huh, uhuk, uhuk"oh plisss jangan lagi, nggak buat kali ini.

__ADS_1


fino dengan cekapan mengambil minum dan memberinya untukku, fino dan amelia terlihat khawatir, amelia mengambilkan tisu untukku.


aku menutup mulutku dengan menggunakan tisu beralas tangan itu, lalu aku pergi menjauhi fino dan amelia, ohhh tidak mereka mengikutiku.


aku berhenti dan melihat tisu penutup tanganku telah berubah warna menjadi merah, ohh tidak darah lagi, jangan sampai fino lihat ini, aku dengan cepat membuang tisu itu, fino dan amelia pun akhirnya berhasil menyusul ku.


"sya lo kenapa ha?lo pucat, terus ini kenapa bibir lo ada merah banget kayak gitu?" tangan fino beranjak ingin menepis darah dibibirku, dengan cekapan aku langsung mengahapu darah itu menggunakan sikuku , akhirnya darah itu menempel di lengan bajuku.


"ahhh gapapa itu tadi lipstik gua agak belepotan habis makan"aku memberikan fake smile ku kepadanya.


"alah nggak usah bohong deh, sejak kapan lo pake lipstik? lo kan paling anti ama make up"


fino tak percaya.


tamatlah aku fino sangat mengenal karakter ku.


"sotoy lu sejak kapan gua anti ama make up, udah ah ayuk kita lanjut makan lagi."


"nggak lo bohong, terus kenapa lo lari tadi dari meja kita?"


aku sepertinya akan ketahuan sekarang, untungnya amelia menolongku agar tidak ketahuan.


"yank frisya lari karena dia mau buang dahak"

__ADS_1


"nah tu dengerin kata lia, lo si suuzon mulu ama gua"


"ya udah kalo gitu yuk kita makan lagi"ajak fino, syukurlah fino percaya, makasih lia.


__ADS_2