Finosya

Finosya
gelap


__ADS_3

hanya kegelapan lah teman setia ku saat ini.


aku hanya terbaring di ruangan sunyi dan jika pun ada suara, itu hanya lah suara alat yang mencengkam.


"aku ingin pulang" kata itu terus terucap bata, demi bata dibibir ku, mata ku slalu saja menangis. aku tak tahu dimana fino, aku tak tahu dimana papa, mama, aku tak tahu dimana aku, yang aku tahu aku hanyalah penikmat rasa sakit untuk saat ini.


setiap jam hanyalah ada dokter dan para suster yang datang keruangan ku untuk memeriksa kondisiku, tak jarang mereka menyuntikku, tak jarang mereka memberiku rasa sakit.


aku benci keadaan ini, bagaimana bisa aku memperpanjang hidup dengan cara seperti ini, ini justru mempercepat kematian ku, gumamku didalam hati.


tak lama kemudian aku kembali tertidur pulas.


aku terbangun, ada mama, papa, dan juga fino, aku berusaha memperjelas lagi, apakah ini hanyalah mimpi? tapi ternyata bukan, ini bukan mimpi, ini kenyataan, mereka ada disini.


aku memberikan senyuman lebarku dengan kecil yang mengiringinya. mereka menyambutku dengan senyuman, tapi ada hal yang membuat ku sedikit risih, alat-alat yang menyakitkan itu masih menempel disekitar tubuhku.


"sya, akhirnya lo udah bisa dipindahin keruang rawat"ucap fino sambil tersenyum.

__ADS_1


papa memegang tangan ku.


"kan papa sudah bilang anak papa pasti kuat, papa memberikan senyuman manisnya kepada ku.


aku menangis di gadapan papa.


"pa, papa tolongin aku ya, papa tolong, tolong lepas semua alat ini, sakit banget pa sakit banget rasanya, aku ingin sisa hidup ku bahagia pa bukan dengan kayak gini"ucap ku rintih kepada papa.


papa menangis, lalu dengan cepat mengusap air matanya.


"iya pa, aku faham kok, aku faham, tapi pa, udah saat nya kita semua terima kenyataan, ini kenyataannya pa, kita udah ngelakuin segala cara untuk kesembuhan ku pa, tapi jika takdir ku..."


"nggakkkkkkkkk lo diam, gua mohon diam sya udah cukup udah diam lo"mama papa sedikit tertegun dengan teriakan fino yang begitu lantang.


"fin gua udah bilang berapa kali sama lo? "


aku mengencangkan nada suara.

__ADS_1


"gua juga udah bilang berapa kali sama lo ha? kita ubah takdirnya, kita ubah takdirnya lo nggak faham juga ha? "fino berteriak sambil mondar-mandir di tembok, tak peduli mama dan papa yang sedang memperhatikan perdebatan kami.


aku tersenyum melihat fino yang begitu kelihatan takut sekali kehilang aku.


"fin, sini, dekat gua sini"aku memanggil fino yang sedang emosi dan mondar-mandir diruangan rawat ku.


fino mendekat, lalu berdiri dengan tegapnya di sisi kanan ranjang ku.


"fino, gua tau lo sedih gua tau kok, tapi lo nggak boleh jadi kayak gini juga dong, gua faham dari kecil kita udah sama-sama, dari kecil kita udah jalani suka duka bareng, kita ngerjain pr bareng, main bareng, gua faham rasa sakitnya" aku menangis tersedu hingga perkataan ku juga ikut tersendat, memikirkan ada banyak hal yang akan aku tinggal pergi.


"gua, gua, gua nggak bisa sya, kita udah biasa bareng, sekolah bareng, main bareng, semuanya bareng, dan tiba-tiba gua harus ngelakuin semuanya tanpa lo, gua harus kehilangan lo, gua kagak bisa sya"


belum selesai fino mengeluarkan seluruh argumennya mama sudah terlebih dahulu memeluk fino, fino menangis hebat dipelukan mama.


"tan, tolong fino tan, tolong bilang sama frisya, fino butuh frisya tan"


mama hanya terdiam dan terus saja mengusap lembut punggung fino agar ia tenang.

__ADS_1


__ADS_2