
Hari ini aku kembali masuk kesekolah seperti hari-hari biasanya.
aku menoleh kearah fino terlihat fino sedang fokus dengan penjelasan buk guru didepan, sedangkan aku, aku hanya mencoret-coret buku tulisku dan mulai membayangkan bagaimana nasib ku kedepannya.
tanpa kusadari lonceng istirahatpun berhasil memecahkan lamunanku.
"woi, lo kenapa sih dari tadi ngelamun mulu, ntar lo kemasukan setan tau"!
"ah gak papa yuk kita kekantin"ajakku kepada fino
aku dan fino sampai dikantin, fino memesan dua buah mi instan seperti biasanya lalu, kami mencari bangku kosong dikantin.
aku dan fino duduk berhadapan, amelia tak sengaja lewat didepan ku, melihat amelia sontak membuat ku merasa, bahwa tuhan udah ngasih aku jalan keluar, ya amelia, amelia pasti bisa gantiin aku, buat nemanin fino besok kalau aku udah nggak ada, aku kembali melamun.
buk kantin memanggil fino, fino mengambil mi instan, lalu menyuguhkannya kepadaku.
"woi lo kenapa si, kalau ada masalah itu cerita ama gua jangan diam-diam gini dong"
fino memarahi ku karena dari tadi aku hanya melamun dan tak berbicara sepata-katapun dengannya.
"ahh nggak papa, gua baik-baik aja kok"
"ya udah, cepat makan tuh mi lo ntar keburu ngembang lagi!"
lagi-lagi aku tak dapat membayangkan bagaimana fino, besok saat aku udah pergi dan nggak lagi bisa temanin dia kayak sekarang.
__ADS_1
"fin gua mau nanya nih? "
"hmm"fino hanya asik menyeruput mi instannya
"lo gak berniat apa buat punya pacar"?
fino terhenti menyeruput mi nya.
"kan gua udah bilang gua nggak mau ada orang yang buat waktu gua ama lu terbagi, lu ngerti nggak sih sya"fino mengeraskan nada suaranya.
"iya gua faham tapi ,seandainya suatu saat gua nggak bisa lagi nemanin lo gimana"?aku sedikit berhati-hati dengan pertanyaanku itu.
"maksud lo, lo mau ninggalin gua ha, lu kalau gak mau jadi sahabat gua lagi bilang aja dong, nggak usah kayak gini"ungkap fino kesal.
"bukan gitu fin, maksud gua kalau seandainya kita udah beda alam gimana"?aku sedikit menyengir kepada fino.
"ya maksud gua kalau seandainya gua meninggal gimana? "aku menaikkan alis ku.
fino seketika berdiri dan mantap tajam kearahku.
"lo gak jelas sumpah, gua udah nggak selera makan, gua duluan kekelas"fino dengan raut wajah kesalnya meninggalkan aku sendirian di meja kantin.
kelihatannya fino memang benar-benar menganggapku berharga, tapi mau nggak mau aku harus buat fino dan amelia pacaran.
suara bel masukpun bergema ditelingaku, aku langsung menuju kelas ku dan duduk disebelah fino, fino membuang muka, aku berusaha membujuknya.
__ADS_1
"fin jangan marah dong, gua kan tadi cuman becanda, sensi amet"aku berusaha membujuk fino.
"candaan lo kali ini nggak lucu sya, kematian bukan candaan, sory gua belum bisa maafin lo"
aku hanya menunduk pasrah melihat fino yang kelihatannya kali ini benar-benar marah kepadaku.
tak lama buk silvi memasuki kelas pelajaran dimulai hari ini adalah pelajaran MTK, pelajaran kesukaan aku, aku paling nggak suka diganggu kalau lagi belajar MTK, buk silvi membuka pelajaran, kami pun mulai belajar.
tak lama kemudian.
"uhuk, uhuk, uhuk, uhuk "aku kembali batuk tanpa henti seperti saat dimana aku dan fino sedang menikmati bakso bang ujang.
fino yang semulanya marah langsung menyuguhkan air minumnya kepadaku akhirnya aku mulai tenang.
finopun kelihatan lega mendengar batukku berhenti.
"lo gak papa kan sya?kalau lo masih sakit lo gak usah masuk sekolah aja dulu ntar lo tambah sakit"ucap fino khawatir
"gua nggak papa kok"aku tersenyum kepada fino.
"fin maafin aku ya soal yang tadi, aku janji nggak bakalan bicarain soal itu lagi"aku memasang wajah memelasku.
"iya-iya janji besok nggak bilang itu lagi? "
"iya janji"aku sangat senang fino memaafkan ku.
__ADS_1
akhirnya aku dan fino baikan, tapi aku tetap harus mencari cara supaya fino bisa pacaran sama amelia.