
Aku terbangun disebuah ruangan yang sudah sangat-sangat ku kenal, pertama kali saat aku membuka mata aku melihat fino berada disana. saat itu aku masih dalam keadaan baik, hanya saja fino terlihat sangat cemas.
"sya syukurlah lo udah sadar, lo masih sakit ya sebenarnya lo sakit apa sih? "tanya fino penasaran.
"gua cuman agak pusing tadi pagi mungkin gua anemia kali ya"aku berusaha mencari alasan yang masuk akal.
"anemia masak sampai nafas lo sesak kayak gitu jangan-jangan lo bohingin gua ya?"tanya fino tak percaya.
"nggak fin lo percaya deh sama gua"aku berusaha membuat fino yakin.
beberapa saat setelah perdebatan itu beberapa perawatpun datang membawa beberapa alat medis.
"dek saya pasang infusnya dulu ya, adek harus dirawat disini dulu selama beberapa hari sampai kondisinya benar-benar stabil"
aku menatap fino, fino hanya mengangguk dan memegang tangan ku supaya aku yakin.
"fin gua nggak mau lagi, gua capek gua mau pulang gua nggak mau lagi dipasang alat begituan, ayuk pulang"aku menangis meminta fino menuruti perkataan ku.
"sya lo jangan kayak gini dong, kan ini biar lo sembuh juga, ya mau ya mau dong demi gua"
__ADS_1
"oke kita mulai ya pemasangan infusnya, nggak sakit kok"perawat tersebut juga ikut membujukku.
"fin papa, mama gua kapan kesini? "
"gua udah bilang kok tadi katanya bentar lagi sampai.
"terus kok lo bisa ada disini? lo nggak sekolah? "
"gua sekolah, pak guru yang bawa lo kerumah sakit tadi, terus pulang sekolah gua langsung buru-buru deh kesini"
"lia gimana"?
"lia udah pulang sama temennya tadi"
"tanang ya dek, ini cuman sebentar kok"
"nggak fin gua nggak mau lagi fin gua nggak mau, plisss kali ini aja bawa gua pulang fin, gua mohon deh sama lo"fino hanya memegang tangan ku dan memelukku sehingga mataku tertutup oleh baju fino.
aku terus menangis tanpa henti, fino hanya mengenggam jemariku, benda asing yang tajampun berhasil menembus kulitku akhirnya infuspun terpasang.
__ADS_1
"akhhh fin sakit"rintih ku pedih, fino masih bertahan pada posisinya.
pemasanganpun selesai fino mengusap air mataku, tak lama kemudian mama dan papa pun datang. mama langsung memelukku, fino berpamitan kepada aku, mama, dan papa.
setelah fino pulang aku merasa lebih leluasa untuk meluapkan kata hatiku kepada mama dan papa.
"ma, pa, aku mau pulang, aku mohon, aku capek dengan ini semua aku capek, pliss ma pa aku mau pulang"aku terus menerus merengek minta mama dan papa membawaku pulang.
Akhirnya dokterpun datang keruanganku.
"pak, buk, frisya harus dirawat disini, jika tidak maka kondisinya akan memburuk, pada saat ini frisya sudah memasuki kanker stadium 3 dan jika tidak di tangani dengan baik, maka bisa jadi dia hanya bisa bertahan kurang lebih 6 bulan"
orang tua mana yang tak hancur hatinya mendengar anak Mereka satu-satunya, divonis hanya bisa bertahan selama 6 bulan.
aku yakin papa dan mama akan menuruti kata dokter, tapi tidak kali ini, aku nggak akan biarkan hidupku hanya seperti ini.
"ma, pa aku mau pulang"aku menegaskan ucapanku.
"iya sayang tapi tunggu kamu sembuh ya"papa mengelak
__ADS_1
"pa aku mau pulang sekarang, aku nggak mau lagi disini aku capek aku mau pulang"
akhirnya dengan kekerasan hatiku papa menyetujui kalau aku ingin pulang, aku pun pulang bersama mama dan papa tak peduli seburuk apapun keadaanku.