
maafin gua yang berbohong.
"fin sebenarnya, sebenarnya gua kanker fin"aku berbicara terbata-bata.
"ulululu lu kira gua bodoh? gini-gini gua lumayan pintar, lo ngeprank gua kan? yakan? halah mana kameranya? mana? "tolak fino tak mempercayainya.
"fin gua serius, gua serius fin"aku berteriak kepadanya. Seketika fino menghentikan ocehannya.
"lo, lo serius sya? lo gak bohong? lo nggak ngeprank?"tanya fino tak percaya padaku.
"iya fin gua nggak ngeprank, gua nggak bohong"dengan kepala tertunduk aku menangis hebat mangakuinya.
"sya, kenapa lo nggak pernah bilang ama gua ha? maksud lo apa? lo udah ngelanggar janji persahabatan kita sya! "fino meluapkan kemarahannnya.
"maafin gua fin, gua cuman nggak mau kalo lo kepikiran"aku masih menunduk.
"apa lo bilang lo nggak mau gua kepikiran ha?malahan sekarang lo bikin gua tambah khawatir lo tau nggak? akhhhhhhhh " fino berteriak, lalu berdiri melepar batu kedanau.
"fin maafin gua"aku merendahkan nada bicara ku, seketika fino memelukku dengan erat.
"lo tau nggak sya? lo itu berharga buat gua, lo itu sahabat gua dari kecil sya, gua takut kehilangan lo, faham lo? "aku hanya mengangguk di pelukan fino.
__ADS_1
kami melepas pelukan, aku menangis menguapkan apa yang aku simpan selama ini.
"fin lo tau nggak? gua capek fin, gua capek, gua capek harus ngerasain sakit setiap gua kemo, dan yang lebih sakitnya lagi lo nggak ada di samping gua, gua capek hadapin ini semua fin, gua capek harus pura-pura sehat dihadapan semua orang" aku mengatakan semuanya.
"dan gua capek harus bohongin lo"
"sya"fino menyandarkan kepalaku kebahunya.
"fin gua butuh lo fin, gua butuh fino sahabat gua"
"iya sya gua bakal slalu ada buat lo, gua janji mulai sekarang gua bakalan lebih banyak waktu buat lo"
"sekarang gua udah kanker stadium 3 fin, hidup gua udah nggak bakalan..."fino menutup mulutku menggunakan jari telunjuknya.
"itu kenyataannya fin, itu kebenarannya, mau nggak mau lo harus terima! gua putus asa fin, gua cepek harus kayak gini terus" aku malantangkan nada suaraku.
"udah celotehannya? ha? apa lo masih belum puas ha? lo sekali-kali jangan egois bisa nggak? lo jangan mikirin diri lo sendiri sya!
lo pikirin perasaan gua, lo pikirin! dengan hebatnya lo bicara soal kematian, lo pikir lo siapa ha? "fino benar-benar marah.
"udah fin, gua nggak mau lo kayak gini, lo harus terima ini fin"
__ADS_1
"apa yang lebih buruk dari kematian sya? apa? lo nggak mikirin gua yang masih butuh lo, kalau lo masih nganggap gua sahabat lo, lo nggak bakal seegois ini"
"oke kalau gua mati sekarang lo bisa apa? "
"gua ikut"jawab fino spontan.
"fin, ini takdir gua, takdir persahabatan kita, kita harus terima"
"nggak gua nggak terima, kita ubah takdirnya"
fino sudah mulai tak terkendali, aku yang harus mengala dalam percakapan ini.
aku memeluk fino erat, dan finopun membalas pelukanku.
"oke fin gua janji nggak bakalan ngomongin hal ini lagi dan kita bisa lalui ini sama-sama"
aku berusaha membuat fino tenang.
"iya sya, gua janji bakalan selalu ada buat lo, kita lalui ini bersama, gua yakin lo pasti sembuh, kita bakalan bisa kayak dulu lagi"
fino percaya dengan apa yang dia fikirkan, sedangkan aku, aku percaya dengan kondisi ku.
__ADS_1
seberharga itukah aku dikehidupan fino?