Finosya

Finosya
wanita yang kehilangan mahkota


__ADS_3

fino terus mendorong kursi roda ku tanpa henti, hingga akhirnya langit senja yang kami tunggu pun muncul, kami memandangi langit senja itu, terasa damai dan nyaman, aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


betapa romantisnya suasana itu, hanya ada kami berdua menikmati indahnya langit senja.


aku senang setidaknya bisa melihat hal ini, walaupun mungkin ini untuk yang terakhir kalinya.


para burung sudah mulai terbang hilir mudik pulang kesarangnya, namun aku dan fino masih melanjutkan lamunan kami.


fino membelai rambutku, sembari memandangi indahnya langit sore.


"sya gua tenang banget dengan semua ini"ucap fino sambilan membelai rambutku.


"gua juga"aku membalas ucapan fino.


hingga akhirnya, fino memandangi telapak tangannya yang sudah tertutupi rambut, ya itu rambutku, rambutku rontok parah dampak dari kemoterapi.


"sya, rambut lo sya rambut lo rontok "ucap fino terkejut.

__ADS_1


"lo tau, ada yang bilang kalau rambut adalah mahkota wanita, tapi gua, gua udah kehilangan mahkota, hahah gua juga udah kehilangan banyak hal, tapi gua masih bersyukur sama tuhan, karena tuhan ngasih gua orang-orang kayak lo, mama, papa, dan bi Ayu"jelas ku panjang.


fino hanya mengangguk, lalu kembali memandangi langit sore, sore ini terasa sangat spesial, biasanya kami pulang sebelum matahari terbenam tapi kali ini kami pulang setelah mata hari tak lagi terlihat oleh mata.


sesampainya dirumah.


seperti biasa papa belum pulang, namun mama pulang lebih awal hari ini, aku bercerita banyak hal dengan mama, aku harus memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin sangat jarang mama memiliki waktu senggang buat ku.


setelah bercerita, mama pulang kekamarnya lalu aku? aku menemukan hal yang tak terduga di kepalaku, aku mendapat ide membuat surat untuk mama, papa dan juga fino.


setelah surat itu kutulis, aku memanggil bi Ayu, bi Ayu datang ke kamar ku, aku menceritakan segalanya kepada bi Ayu, bi Ayu menangis bisu.


bi Ayu memeluk ku, lalu mencium dahi


ku.


"non, kok non nulis surat yang kayak gitu? nggak boleh kayak gitu, bibi yakin non pasti sembuh bibi yakin itu non bibi yakin"ucap bi Ayu sendu.

__ADS_1


"udah bi, pokoknya bibi kasih aja surat ini buat mama, papa, dan fino, nah khusus buat fino kasih suratnya sekalian dengan buku novelnya ya bi, cuman bibi yang bisa aku percaya, aku mohon banget ya bi"aku memohon kepada bi Ayu.


"iya non bibi akan sampaikan pesan non, kok "


aku membalas bi Ayu dengan senyuman lalu memeluk erat bi Ayu.


"bibi juga jaga diri ya, jangan lupa bibi jangan terlalu capek, nanti bibi sakit, maaf ya bi aku nyusahin bibi terus, dari kecil bibi udah jagain aku makasih ya bi, aku sayang bibi"


kami berdua terhanyut dalam suasana yang sama malam itu.


keesokan paginya.


hari ini bi ayu membantu ku membersihakan badan, bi Ayu dengan lembutnya menyisir rambutku hingga, rambutku rontok tak lagi seperti dulu, rambutku benar-benar rontok sangat banyak. bi Ayu terkejut melihat itu.


melihat rambutku yang makin hari rontoknya makin banyak, aku memutuskan untuk membotak rambutku, sebenarnya berat sekali, sudah lama aku merawat rambut ini, namun sayang berakhir dengan cara seperti ini.


fin, jangan panggil gua tuan putri, gua bukan tuan putri, bagaimana jadinya seorang tuan putri tanpa mahkota?

__ADS_1


__ADS_2