Finosya

Finosya
tak lagi


__ADS_3

hari ini aku meminta fino membawa amelia kerumah sakit, syukurlah fino pun menyetujuinya.


amelia masuk keruangan ku, aku menyuruh fino dan yang lain meninggalkan aku dan amelia di runganku.


amelia menangis melihat kondisiku, aku bersyukur sekali rasanya bisa mengenal orang sebaik amelia, bahkan di saat fino banyak menghabiskan waktunya untukku pun ia tak pernah marah, ia faham keadaan ku.


"sya, kamu pasti sembuh, aku yakin"ucap amelia sambil terisak. aku menggapai tangan lembutnya.


"kita udah punya takdir masing-masing dan inilah takdir ku, aku ikhlas menerimanya"ucap ku lirih kepada amelia.


aku mengatakan beberapa hal penting mengenai fino kepada amelia.


"lia, makasih ya lo udah baik banget, lo nggak pernah larang fino buat jagain gua disini, lo nggak pernah egois, lo mengerti keadaan gua, makasih ya"ucap ku sambil mengelus tangan lembutnya.


"nggak apa-apa sya, aku ngerti kamu, aku ngerti kamu butuh seseorang yang bisa bikin kamu kuat untuk saat ini, dan orang itu adalah fino"amelia memeluk badan ku.


fino masuk kedalam ruangan.


"woi emak-emak, udah pada siap kan rumpinya"ucap fino.


"enak aja lo!!!"ucap ku membantah ucapannya.


kami bercerita sedikit banyak seputar sekolah, cita-cita, masa lalu, hoby, kebiasaan dll.


tanpa aku sadari.

__ADS_1


"fin, mama sama papa gua mana?"tanya ku sedikit heran.


"mama, papa lo kebawah mau nyari sarapan.


kami terus bercerita banyak hal.


"bentar lagi papa bakalan copot alat ini"ucap ku berbicara kepada amelia. bukannya amelia yang menjawab fino malah memotong gilirannya.


"bohong mah dia bohong"ucap fino sambil ngemil, makanan ditangannya.


"fin, lo ingat nggak dulu lo punya robot mainan yang pake baterai?"


"ehm, gua ingat, emang napa lo mau gua bawakin mainan itu?"tanya fino polos.


"nah gua sama kayak mainan itu, kalau baterai nya dicopot, bakalan langsung mati nggak bisa bergerak, nah kalo alat ini dicopot juga bakalan kayak gitu, sampai kapan kita ngandalin gua sama alat ini, sampai kapan? "


"sampai lo sembuh" fino menjawab dengan santai.


amelia hanya terdiam mendengar perdebatan aku dan fino, seperti saat mama dan papa menyaksikan perdebatan kami.


"gua rindu senja, bahkan buat ngeliat senja aja, gua udah nggak bisa, apakah keadaan kayak gini bisa di sebut sebagai hidup? "


fino berdiri dari kursinya, lalu langsung menuju jendela. dan membuka gorden yang menutupi pemandangan diluar jendela.


"nah itu senja, noh liat noh liat, udah tau masih pagi malah mau ngeliat senja kan aneh, lo hidup itu harus banyak bersyukur sya jangan mengeluh mulu"fino berusaha membuat ku slalu merasa hidup seperti biasanya.

__ADS_1


aku dan amelia tertawa sesaat setelah fino membuka jendela, karena ia mengoceh layaknya emak-emak.


papa dan mama pun masuk kedalam ruangan.


amelia mendatangi mama dan papa lalu salam dengan keduanya.


"loh kok gordennya ke buka?"tanya papa.


"ini om anak om katanya udah nggak bisa liat langit senja, padahal kan masih pagi makanya, gordennya aku buka "ucap fino menjelaskan sambil kesal.


"kalian ini ada-ada aja kapan akurnya sih?"tanya papa yang kelihatannya geram dengan pertengkaran kecil kami.


kami dan mama bercerita banyak hal mengenai amelia, mama sedikit terkejut, mendengar amelia adalah pacar fino.


"wah fino gini-gini udah punya pacar juga ya"


"iya dong tan, kan fino populer disekolah"mama tertawa lepas mendengar fino memuji dirinya sendiri.


aku melanjutkan pujian fino terhadap dirinya sendiri.


"iya ma, memang fino anak populer, ganteng, keren, pinter, tapi ya ma dia itu nggak jago banget dalam urusan dapetin cewek"


"enak aja lo, buktinya nih gua punya cewek, cantik, baik, pinter dan yang paling penting kagak sombong kayak lo"ucap fino membalas ledekanku.


"ya lo ama amelia juga gua yang comblangin huuuuuu"aku membalas lagi ejekannya.

__ADS_1


mama menghentikan perkelahian kami, akhirnya kami menghentikan perdebatan kami, meskipun hati ku belum puas, dan aku yakin fino pun begitu.


__ADS_2