Finosya

Finosya
awal dari semuanya


__ADS_3

"hari ini aku dan fino berjalan-jalan menunju danau, danau itu adalah tempat baru yang kami berdua sama sekali nggak pernah kesana, hanya saja teman sekelas bilang itu tempat yang susananya bikin tenang.


Akhirnya aku dan finopun pergi ketempat itu kami penasaran, gimana sih danau yang viral dikelas kami itu.


sesampainya didanau yang kami tuju, fino meletakkan helmnya dimotor,aku yang tak sabar ingin melihat keindahan danaupun, langsung berlari seketika helm ku buka.


"wah indah ya fin, aku jadi tenang rasanya"aku tersenyum menoleh kearah belakang, dan melihat fino yang sedang menghirup udara danau.


"aku dan finopun duduk ditepi danau sembari melihat keindahan langit sore.


"langit sore itu indah ya, bikin hati tenang, bikin damai rasanya, tapi sayang dia cuman mampir sejenak"fino menoleh kearah ku dan melemparkan senyumnya.


Mendengar ucapan fino, aku mulai teringat tentang Amelia mungkin ini saat yang tepat aku menjodohkan Amelia dengan Fino.


"fin, gua mau nanya, tapi lo janji jangan marah"tanya ku ragu.


"iya-iya tanya aja gua nggak bakalan marah kok"jawab fino meyakinkanku.


"fin, menurut lo Amelia itu orangnya gimana"?

__ADS_1


"ya, baik, sopan, cantik, pintar"


"lo nggak mau punya pacar kayak dia, apa? "


"ya dia itusih memang tipe gua, tapi ya gua kan udah bilang alasan kenapa gua nggak mau pacaran"fino menatap mataku.


"ya gua juga mau lo bahagia fin, gua mau lo ngerasain gimana rasanya jatuh cinta"fino diam sejenak lalu kembali memandang langit senja, aku ingin memecah keheningan tapi takut dengan, keadaan.


"sahabatan dengan lo aja udah buat gua bahagia kok"jawab fino sembari memandangi langit.


"gua juga fin, tapi gua mohon lo pikirin lagi apa yang gua bilang tadi deh"aku berusaha meyakinkan fino.


"udah sore banget, pulang yuk!"ajakku.


"yuk"patuh fino.


Dirumah malam ini aku, mama dan papa makan malam bersama sangat jarang papa dan mama bisa makan malam bersama ku seperti ini. Mama makan dengan sangat lahap sekali begitupun dengan papa, pemandangan yang sangat jarang kudapati dirumah ini.


Bi ayu menyiapkan banyak sekali makanan pada malam itu, aku juga tak ingin kala dengan mama, dan papa, aku juga melahap habis makananku.

__ADS_1


sampai. "uhuk, uhuk, uhuk, uhuk"aku mengambil gelas yang berada didepanku tangan ku kembali lemas seperti saat aku dan fino sedang bersama dulu, aku tidak bisa melihat apapun semuanya gelap, hanya ada warna hitam dipandanganku, dan aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya.


tiba-tiba aku terbangun disebuah ruangan yang tak asing bagiku, mama menghampiriku, dan mengelus-elus kepalaku.


"ma aku kenapa, apa ini karena kanker ku ma"?


mama bungkam seribu bahasa, dan hanya terus mengelus kepalaku.


"papa masuk kedalam kamarku bersama seorang dokter, aku tau bahwa keadaanku memburuk, namun aku tetap berusaha bersikap tenang.


"ibu dan bapak tenang saja kita bisa melakukan kemotrapi untuk membunuh sel-sel kanker yang ada ditubuh frisya"ucap dokter sontak membuatku terkejut.


"hah kemo, ma, pa sudahlah jangan mempersulit kepergianku, aku tidak ingin pergi dengan mempersulit orang-orang disekitar ku"


"frisya apa yang kamu bilang, kamu nggak boleh bicara seperti itu, papa yakin kamu pasti sembuh"papa berusaha terlihat tegar.


"baiklah dok saya akan menuruti apa yang menurut dokter, terbaik buat anak saya bagaimanapun itu".


papa menuruti permintaan dokter, dan aku, aku letih dengan semua jarum-jarum ini.

__ADS_1


__ADS_2