
Desya berucap syukur ketika masalah ini telah berakhir. Dilihat olehnya sepertinya Indri juga merasakan hal yang sama. Desya berjalan menghampiri Indri dan duduk di sebelahnya. "Gue mau ngomong sama lo, ikut gue sekarang juga !"
Dengan cepat Desya menarik tangan Indri membawa nya pergi ke suatu tempat. Sementara itu, Indri hanya pasrah dengan apa yang direncanakan Desya. Desya berhenti ketika mereka berdua telah sampai. Ia melepaskan genggaman tangannya dan kini melirik Indri dengan tajam.
"Elo ngapain natap gue sinis amat !" tanya Indri merasa risih dengan tatapan maut Desya. Desya melipat tangannya di dada. Sambil bersandar di dinding Ia memperhatikan Indri dari atas dan berhenti tepat disana.
Indri yang menyadari nya sontak saja berusaha menyembunyikan nya. "Jangan macem-macem Lo sama gue !" ancam Indri
Desya tersenyum geli mendengar ancaman yang Indri lontarkan. "Bukan itu yang gue maksud." Desya memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas pelan. "Jauhin Kelvin !"
Indri yang mendengarnya tertawa terbahak bahak. "Hah...yang bener, jadi lo bener bener serius suka sama sampah kaya dia ?" Indri menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Sebenarnya apa sih yang menarik dari sampah itu, sampe sampe Lo ngejar dia segitunya ?"
__ADS_1
"Tutup mulut lo! dia bukan sampah seperti apa yang Lo kira !" Bentak Desya tidak terima. Indri terdiam, jika sampai segitunya Desya membela Kelvin itu berarti ada sesuatu yang telah terjadi.
"Oke, oke, santai aja. Gue cuma bercanda aja kali, jangan dianggap serius dong !" Indri menjeda kalimatnya. "Tapi lo tenang aja gue bakal putusin dia sekarang juga." Ujar Indri lalu menelpon seseorang.
"Sayang... kesini sekarang juga, gue lagi ada di lorong deket ruang kepala sekolah." Setelah mengatakan itu Indri langsung menutup telpon tanpa permisi.
Indri melihat Desya, diliriknya wajah Indri yang sedikit terkejut. "Wow, segampang itukah ?"
Indri berjalan menghampiri Desya lalu menatap Desya dengan intens. Tangannya tiba tiba saja terulur untuk menyentuh rambut Desya yang terlihat indah walaupun hanya berwarna hitam.
"Tapi gue penasaran kenapa orang kaya Lo yang bisa segalanya mau sama sampah kaya dia bahkan peduli seperti saat di klub waktu itu..." dan tangan indri berhenti tepat di luka kepala Desya yang telah berselimut perban putih. "Walaupun dia udah bikin lo terluka !"
__ADS_1
Desya menepis tangan Indri dengan kasar. "Udah gue bilang dia bukan sampah dan apapun alasan gue suka sama dia itu bukan urusan lo, paham !" balas Desya tidak terima dengan hinaan Indri tentang Kelvin.
"Elo bener bener gila !" Tapi tiba tiba saja Indri menghadang Desya dan memeluk nya. "Lo apa apaan sih, lepas ngak !"
Desya berusaha mendorong tubuh Indri yang kini telah memeluknya tapi sialnya Indri malah mempererat pelukan tersebut.
Dengan lembut sekaligus penuh penekanan Indri mengelus rambut milik Desya yang terurai panjang. "Gue sakit hati Des, kenapa sih lo malah suka sama cowo itu ?"
Desya terdiam mendengar penuturan aneh Indri. "Apa maksud lo ?" Indri melepaskan pelukan nya dan menatap mata Desya begitu dalam. Lalu memegang tangan Indri dan meletakkannya tepat di dadanya. "Gue suka sama lo..."
Sontak saja Desya menarik tangannya lalu kemudian...
__ADS_1
Bersambung....