
Kelvin terdiam mendengar penuturan Desya. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis ini tapi semua kata kata yang diucapkan terdengar bagaikan kenyataan. Walaupun begitu tapi tetap saja Kelvin tidak bisa mempercayainya karena cinta sejati tidak pernah ada.
"Masuk !" ucapan Desya seketika membuyarkan lamunannya. Kelvin kini ia hanya bisa menghela napas. Gadis disampingnya benar benar kukuh dengan prinsipnya. "Oke...!" balas Kelvin dengan pasrah.
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam. Suasana begitu hening dan sunyi. Kelvin menghela napas, situasi saat ini benar-benar terasa begitu canggung. Ia berbalik melihat kepala Desya yang kini telah berselimut perban putih. Sepertinya ada rasa penyesalan menyerang dirinya.
Setelah sampai tanpa basa-basi dan tanpa permisi Kelvin langsung meninggalkan Desya begitu saja. Desya tersenyum kecut. "Situasi tadi benar benar ngak enak ya ?" batin Desya. Desya memejamkan matanya sejenak ia menghela napas panjang hingga akhirnya memutuskan keluar dari mobil.
Tapi sepertinya Ia keluar di saat yang salah. Terlihat dengan jelas Ryan menatapnya dari seberang sana. Dengan tatapan tajamnya dia berjalan ke arahnya. "Bagus ya, kemaren lo nembak dia dan sekarang...lo berangkat bareng dia, bagus sekali...!" Ryan menepuk nepuk tangannya seolah menghina Desya. "Lo bener bener seorang ****** ya ?"
Desya terdiam, Ia tidak ingin ribut di pagi hari. "Terserah, gue males ngeladenin lo !" dengan sengaja Desya menyenggol bahu Ryan dengan keras.
Desya menggelengkan kepalanya tidak percaya. Entah apa yang ada dipikiran Ryan. Hanya karena ia mengejar cintanya Ryan mulai berubah. Dari seorang sahabat menjadi seorang musuh. "Lo bener bener nyebelin sekarang, Ryan..."
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
Desya tertunduk frustasi tak kala melihat tumpukan kertas yang menggunung di mejanya. "Ini dia sejumlah data tentang masalah di sekolah ini dan pastinya lo tahu siapa dalangnya !" jelas seorang anggota osis kepada Desya.
Desya meregangkan tangannya sejenak, ia mulai melihat lembaran demi lembaran. " Oke mari kita lihat, barang barang yang hancur oleh Kelvin, kerusakan yang ditimbulkan karena tawuran, lalu ada percobaan bunuh diri akibat diputusin sepihak oleh Kelvin dan bla bla bla..."
Hampir 99% data masalah didepannya adalah ulah Kelvin seorang. Dan kini " Itu dibelakang gengnya si Kelvin ngak mau masuk ke kelas." ujar anggota osis lainnya. Desya mengacak acak rambutnya dengan sangat frustasi. "Lo bener bener harus berubah secepatnya biar ngak nyusahin gue lagi !" batin Desya mengebu ngebu dan dengan semangat ia mengepalkan tangannya dengan sangat tinggi. Saat ini dirinya semakin nyakin untuk tidak menyerah.
Sementara itu, " Dia kenapa ?" tanya seorang anggota osis melihat tingkah laku Desya yang aneh. "Entahlah, mungkin dia lagi dapet ilham saking setres ya ngurusin masalah itu anak satu " Jawab anggota osis lainnya dengan wajah datar. "Oh... kasihan juga ya ?" ucap mereka berdua berbisik-bisik.
🌸🌸🌸🌸
Desya menendang kursi dengan sangat keras. Dan spontan saja para anggota gengnya Kelvin melihat ke arahnya. "Bagus ya, yang lain pada belajar dan elo !" Desya menunjuk mereka semua. "Malah males malesan nongki di kantin !" ujar Desya menepuk-nepuk tangannya. Desya menatap tajam ke arah Kelvin yang kini sedang merangkul seorang gadis yang semalam di klub. "Dan lo lebih ngak tau malu !" Bentak Desya mengebu ngebu.
__ADS_1
Kelvin melepaskan tangannya dari gadis di sebelahnya. "Terus, gue harus peduli gitu ?" tantang Kelvin. Desya maju dan kini tangannya dengan pelan terulur menyentuh bibir Kelvin. "Tapi lo tau ngak, meskipun begitu gue tetep suka sama lo !" dengan lembut Desya mengusap bibir Kelvin dengan jarinya.
Sontak saja karena aksinya seluruh orang yang berada di sana dan menyaksikan semua itu menatap tidak percaya. Pemandangan yang benar benar langka.
Desya mengerakkan tangannya dan meraba rambut milik Kelvin lalu kemudian...
"Aww...!" rintih Kelvin tak kala Desya menjambak rambutnya dengan kuat. "Tapi gue tetep benci sama lo !" Dengan tanpa ampun Desya semakin kuat menjambak rambut Kelvin.
"Sakit anjing !" umpat Kelvin menatap tajam Desya. Selang beberapa menit kemudian akhirnya Desya mau melepaskan jambakan tangannya. "Udahlah, mending elo pada masuk ke kelas !"
Walaupun sempat beradu bacot tapi untung pada akhirnya mereka semua masuk ke kelas masing-masing.
Tapi lo !" tunjuk Desya kepada gadis yang dirangkul oleh Kelvin tadi. "Ikut gue keruang kepala sekolah !" perintah Desya. "Kenapa harus gue ?" tanyanya. "Lo liat aja nanti...!"
__ADS_1
Bersambung....