
Desya tersenyum mendengar pertanyaan Kelvin dan menunjuk dirinya. "Gue, ngak punya malu ?"
Kelvin mundur beberapa langkah saat tiba tiba saja Desya menghempaskan tubuhnya dengan kasar. "Lo bera-"
"Kalo iya emang kenapa ?" potong Desya dengan tersenyum. Tapi, kemudian tiba tiba Desya maju dan "Cup" mencium pipi Kelvin. "Gue emang ngak punya malu karena..." Desya berbisik. "Gue suka sama Lo !"
Kelvin sontak saja tertawa mendengar pernyataan Desya. "Lo suka sama gue ?" Kelvin melangkah maju mendekati Desya. "Kalo gitu lo harus siap siap gue bikin sakit hati."
Desya menghela nafas dan kemudian menarik tangan Kelvin. "Ikut gue !" tapi tiba tiba hp Kelvin berbunyi, Desya yang mendengarnya memutar bola mata malas. "Siapa sih, ganggu aj-"
"Halo sayang..." Seketika Desya membulatkan mata apalagi. " Halo juga sayang..." ketika Kelvin membalas panggilan sayang tersebut. Sontak saja tanpa pikir panjang Desya mengambil paksa hp Kelvin dan langsung membanting nya.
Kelvin yang melihatnya tentu saja merasa kesal. "Woy, itu hp gue, apa apaan sih lo !" bentak Kelvin. "Gue ngak peduli !" jawab Desya. "Karena mulai sekarang gue ngak akan biarin lo deket deket lagi sama cewe manapun termasuk ****** tadi !" tegas Desya sembari mengibaskan rambutnya.
__ADS_1
Kelvin mengusap kasar wajahnya. "Lo ngak ada hak untuk ngatur ngatur hidup gue !" dan kemudian Kelvin langsung mencengkeram tangan Desya dengan kuat. Desya yang dicengkeram tangannya tentu saja merintih kesakitan. "Aww sakit, lepasin ngak !" berontak Desya.
"Lo mau gue lepasin atau gue pukul ?" tanya Kelvin. "Apa maksud lo nanya kaya gitu ?" tanya balik Desya dengan kesakitan. Kelvin yang mendengar rintihan desya seakan tidak peduli. "Jawab !"
"Lepasin tangan gue dasar sialan !" umpat Desya tak kalah keras. "Oke kalo kaya gitu " jawab Kelvin melepaskan cengkraman tangannya. Tapi kemudian...
Hap !...
Kini gantian Kelvin yang merintih kesakitan. "Lepasin gue dasar ****** sialan !" tapi sepertinya Desya belum puas membalas perlakuan Kelvin "Gue ngak mau !" Kelvin semakin tampak terlihat kesakitan saat bunyi tangannya terdengar kembali. "Lo emang-"
Wushh...
Dengan kasar Desya mendorong Kelvin hingga terjatuh. "Anjing, dasar sialan lo brengsek !" umpat Kelvin memegang tangannya yang sepertinya terkilir.
__ADS_1
Desya terlihat tidak peduli. "Gue ingetin lo sekali lagi, kalo sampai lo masih berani ngelawan gue, gue ngak akan segan segan berbuat lebih jauh dari ini !" ancam Desya. Kelvin berdiri dan memilih pergi meninggalkan Desya. "Gue ngak peduli !" jawab Kelvin pergi meninggalkan Desya.
Setelah kepergian Kelvin, Desya langsung duduk terkulai lemas di lantai. Jujur saja sebenarnya Desya merasa takut dengan Kelvin apalagi saat dia mencengkram tangannya. Tapi sebisa mungkin Desya menutupinya.
Desya memegang tangannya yang kini terlihat membiru akibat ulah Kelvin. "Aww, sakit..." rintih Desya. Tapi tiba-tiba saja entah datang dari mana Ryan dengan senang menepuk nepuk tangannya. "Wow, pertunjukan yang bagus." ucap Ryan dengan nada yang mengejek.
Desya bangun dan langsung pergi meninggalkan Ryan. Dia yang terlalu malas meladeni anak satu ini. Tapi, sayangnya dengan cepat Ryan menangkap tangan Desya yang membiru dengan paksa.
"Aww sakit !" rintih Desya ketika Ryan menarik tangannya dan kemudian dengan sengaja Ryan melepaskan tangan Desya begitu saja.
"Upss, sorry..."
Bersambung
__ADS_1