
Kelvin menghela napas panjang sejenak, kini pikirannya melayang entah kemana. Ia memegang sebuah liontin yang berisikan foto seorang perempuan. Perempuan yang sangat dicintai oleh Kelvin bahkan hingga saat ini.
Ketika Kelvin hendak memasuki rumahnya tiba tiba terdengar suara pecahan barang yang dibanting dengan keras dari dalam sana. Sontak saja Kelvin langsung berlari tergesa-gesa dan memeriksa keadaan. Betapa terkejutnya Kelvin, Lalu pandangan terfokus menatap sepasang dua orang perempuan yang saling bersitegang.
"Gue ingetin lo sekali lagi, kalo lo berani masuk ke kamar gue tanpa seijin gue, abis Lo!"
Tania tertawa geli. "Lo pikir Lo siapa? disini Lo itu cuma num-pang!"
"Lo jangan kurang ajar sama gue!"
"Lo yang ngak tau diri!"
"Lo pikir gue takut sama Lo!"
Baik Tania ataupun Desya tidak ada yang mengalah. Mereka berdua saling menjambak rambut satu sama lain. Lebih mementingkan ego masing-masing hingga puncaknya...
Plak!
Desya yang sudah tidak bisa membendung rasa kesalnya menampar wajah Tania hingga membuat Tania tertoreh ke samping.
Tania yang ditampar mengusap pipinya dan berbalik menatap Desya dengan tajam hendak membalasnya. Tapi, Tania menyadari keberadaan Kelvin dan memanfaatkan keadaan.
Ia terdiam dan menangis seolah merasa paling disakiti.
"Hiks...hiks... kenapa sih Lo selalu nyakitin gue, emang salah gue apa ?" Tania menangis tersedu sedu.
Kelvin yang melihat itu semua tentu saja tidak tinggal diam. Ia mengepalkan tangannya menahan rasa geram dan melihat Desya. Di tatapnya perempuan itu dengan intens. Lalu...
__ADS_1
Plak!
Kelvin menampar Desya dengan keras hingga suaranya menggema.
Desya tersenyum kecut memandang Kelvin yang yang kini adalah pacarnya sendiri. Dapat Desya rasakan kemarahan Kelvin terhadap dirinya dari balik kilatan mata itu. Sementara Tania malah bersembunyi dibalik punggung Kelvin sambil tersenyum puas.
"Untuk kamu dateng, kalo ngak Desya pasti udah nyiksa kakak, hiks...hiks..." ucap Tania dengan tangisan yang dibuat buat olehnya.
Desya yang melihat akting Tania memalingkan muka. Rasanya ia ingin memuntahkan makanan yang tadi pagi dimakan nya ketika melihat sandiwara Tania yang menjijikkan. Tapi yang membuat Desya semakin Kesal adalah Kelvin yang dengan bodohnya malah percaya begitu saja.
"Lo ngak usah sandiwara, dasar ******!" Bentak Desya.
"Lo diem!" balas Kelvin tidak terima.
"Elo yang diem Kel! Lo ngak tau inti permasalahan ini!" nyolot Desya.
Kelvin mengusap kasar wajahnya. Seolah masalah selalu saja silih berganti mendatangi hidupnya. "Lo apain kakak gue ?" tanya Kelvin berusaha untuk tetap tenang. "Kenapa Lo tampar dia?" tanya Kelvin kembali.
Telinga Desya rasanya semakin terbakar mendengar hasutan demi hasutan tentang dirinya. "Lo ngak usah ngadi ngadi jadi orang, brengsek!" umpat Desya.
"Desyana!" bentak Kelvin.
"Apa! Lo pikir gue bakal diem aja gitu ngedenger dia fitnah gue, asal Lo tau ya, gue ngak bakal nyari masalah kalo bukan dia yang duluan nyari masalah sama gue!"
Kelvin menarik tangan Desya dengan paksa membawanya pergi dari sana. Tapi dengan kasar Desya menepisnya. "Ngak usah Lo pegang pegang tangan gue!" dan dengan cepat Desya menaiki tangga sambil menyumpahi wanita sialan itu.
Kelvin yang melihatnya sontak saja langsung mengejar Desya. Ia harus meminta penjelasan atas apa yang terjadi.
__ADS_1
"Desya!" panggil Kelvin berusaha mengejar perempuan itu.
Kelvin menggenggam erat tangan Desya ketika berhasil mendapatkan nya. "Jelasin sama gue apa yang terjadi!" Kelvin menatap dengan lekat mata Desya. Dan kini berbagai pertanyaan terus menerus muncul dalam benaknya mengenai Desya.
"Kalo gue cerita emangnya Lo bakal memihak gue ?"
Kelvin terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkannya oleh Desya. "Emang apa yang dia lakuin ke Lo ?"
Desya menghela napas. "Dia masuk ke kamar gue tanpa seijin gue dan ngambil barang berharga punya gue!" jawab Desya dengan napas yang memburu.
"Cuma itu ?" tanya Kelvin.
Desya membelalakkan matanya tidak percaya. "Cuma itu, dia bilang ?" apa Kelvin tidak mengerti dengan kata berharga yang Desya ucapkan.
Desya memegang kepalanya yang kembali berdenyut nyeri. "Ternyata emang bener ya, ngomong sama Lo itu ngak guna!" lalu dengar kasar Desya membanting pintu dengan keras.
Brak!
Kelvin yang melihat tingkah laku Desya dengan kesal membanting pintu kamar Desya dengan kesal. Ia masih tidak menyangka Desya memiliki tingkah menyebalkan seperti ini.
Brak!
"Keluar Lo sekarang juga, Des!" panggil Kelvin dengan amarah yang sudah memuncak. "Gue bilang keluar!"
"Ahk!" Kelvin mengacak rambutnya frustasi. Apa yang sebenarnya di inginkan oleh perempuan itu. Kelvin menatap pintu kamar Desya. "Oke, kalo lo ngak mau keluar mending gue yang keluar dari rumah ini!"
Mendengar tidak ada jawaban apapun dengan kesal Kelvin pergi. Dilihatnya kembali pintu itu berharap Desya akan keluar. Tapi nihil, tidak ada balasan sama sekali. Dan pada akhirnya Kelvin meninggalkan tempat itu dengan perasaan amarah dan kecewa yang begitu mendalam.
__ADS_1
"Gue kecewa sama Lo, Des..."
Bersambung...