
"Akh!" Kelvin meringis sakit saat sebuah batu mengenai kepalanya.
Ia melihat dan mengambil batu tersebut. "Siapa yang berani berani ngelemparin batu ke kepala gue! " teriak Kelvin ke sekitar, tapi sialnya suasana saat ini terlalu minim cahaya sehingga sulit untuk Kelvin mencari pelaku nya.
"Ahk! " Lagi lagi seseorang kembali melempar batu ke arahnya. Tapi kemudian kini terdengar suara.
"***, Woi!" terdengar sebuah panggilan, Kelvin mendongak ke atas mencari asal suara tersebut. Dan kini terlihat seorang anak perempuan dari atas sana sedang memanggil dirinya.
Sontak saja Kelvin menghindar saat menyadari apa yang kini akan dilempar oleh anak itu.
Brak!
Kelvin mengusap rambutnya merasa jengkel dengan tingkah aneh anak itu. Kelvin mengganggap nya gila, apa anak itu tidak memikirkan konsekuensi dari perbuatannya?
Tapi kini fokus Kelvin teralihkan saat menyadari sebuah kertas yang melapisi batu tersebut.
Ia membukanya. " Lantai 7, kamar nomor 13, brangkar 4?" Kelvin mengerut alisnya tidak mengerti.
"Maksud Lo, gue kesana?" teriak Kelvin kepada gadis tersebut.
"Iya!" balasnya.
Kelvin meremas kertas tersebut lalu membuangnya tidak peduli. Ia lebih memilih kembali duduk di bangkunya dan menunggu taksi tiba dibandingkan dengan meladeni anak aneh itu.
"Woi!"
"Hello?"
__ADS_1
"Woi, tuli!" panggil anak tersebut seolah tidak menyerah dan kembali melempar batu ke arah Kelvin.
"Woi, kesini cepetan atau ngak gue lempar ni batu ke kepala Lo!" ancam anak tersebut.
Kelvin menatap tajam ke arahnya. "Iya!" jawab sinis Kelvin.
"Yaudah sini!" jawab anak tersebut tak kalah sinis.
Ia menyerah, dan memilih menuruti anak itu. Kelvin berjalan melewati koridor yang sepi.
Kelvin mengatur napasnya yang kini terengah-engah. "Sial!" gerutu Kelvin saat mendapati liftnya sedang mengalami perbaikan sehingga membuat dirinya harus menaiki anak tangga yang begitu banyak.
Kelvin membuka pintu tersebut. Kini terasa sapuan angin berhembus mengenai wajahnya. Ruangan yang gelap hanya bermandikan cahaya rembulan. Udara dingin terasa menusuk tulang dan kini, tepat dihadapannya seorang anak perempuan menatap dirinya dengan rambut panjang miliknya yang terurai.
"Eh?" Kelvin terdiam saat menyadari bahwa anak perempuan tersebut sedang mengarahkan sebuah ketapel kearahnya.
"Lo apa apaan sih!" belum selesai rasa sakitnya kini tahu tahu anak itu sudah berdiri tepat dihadapannya dan....
Pletak!
Lalu anak perempuan itu menjitak kepala Kelvin dengan kuat. "Lama banget sih Lo!" omel anak perempuan tersebut.
Dan tanpa permisi ia mengambil tas Kelvin dan mengobrak-abrik isi tas tersebut. Lalu mengambil sebuah buku ser- cover hitam tersebut.
Sementara Kelvin, Ia hanya terdiam menyaksikan apa yang tengah terjadi.
Kelvin langsung merebut tas miliknya saat ia menyadari apa yang terjadi. "Balikin tas gue!" dan langsung merapikan isi tas miliknya yang sudah berhamburan.
__ADS_1
Anak perempuan itu menghela napas dan ikut membantu Kelvin merapikan isi tas miliknya. "Santai aja kali, lagian gue cuma mau ambil barang milik gue yang ada di tas Lo!"
Kelvin melirik anak perempuan itu. "Itu buku serius punya Lo?" tanya Kelvin merasa penasaran.
"Iya, emang kenapa?" tanya balik anak perempuan itu.
"Enggak, lupain aja" Kelvin langsung memalingkan muka. Tapi Ia kembali teringat isi dari buku tersebut.
Ia memandang wajah anak perempuan tersebut.
"Seenggaknya sebelum gue mati..."
Ia masih mengingat dengan jelas isi tas tersebut.
"Apa artinya anak perempuan yang ada didepan gue sebentar lagi bakal mati?" batin Kelvin.
Kelvin menepis pikiran tersebut dan memilih untuk pergi. Lagipula seperti ia sudah tidak memiliki urusan dengan anak ini.
"Lo udah baca buku gue kan?" tanya anak itu tiba tiba.
Kelvin menghentikan langkah kakinya dan berbalik. "Iya" balas Kelvin.
Tapi anehnya, anak perempuan itu malah tersenyum. "Kalo gitu, Lo mau ngak bantuin gue ngelakuin apa yang ada didalam buku ini, sebagai gantinya, gue bakal ngelakuin apa yang Lo mau" ujar anak perempuan tersebut.
Kelvin terdiam. "Eh?"
Bersambung....
__ADS_1