
Happy reading 🥰....
Desya kini duduk termenung. Dengan sebuah surat ditangannya membuat nya menghela napas. "Kayaknya bentar lagi gue bakal gila deh."
"Dasar penyakit sialan!" umpat Desya pada dirinya sendiri. Desya menangis tidak tahu harus berbuat apa. Semakin lama waktunya semakin sedikit. Dan disisi lain Kelvin tidak mengalami perubahan. Tapi ada satu hal yang membuat Desya senang.
Bahwa selama ini Kelvin mencintai Adinda, yang tidak lain adalah dirinya sendiri. "Thanks, karena selama ini Lo ngak pernah lupain gue." Desya terdiam dan kini air matanya pun mengalir dari pelupuk matanya.
"Gue tau kok, gue jahat. Mungkin Lo bakal benci sama gue tapi justru ini yang gue harapkan dari Lo. Gue pingin Lo sedih atas kematian gue. Kematian yang sebenarnya ulah dari keluarga Lo sendiri Kel..."
Desya memejamkan mata. Masih teringat dengan jelas hari dimana dia datang. Saat itu Desya yang masih kecil, masih sangatlah terlalu polos. Dia pikir orang itu adalah orang baik tapi ternyata dugaannya salah.
Desya pun memeluk tubuhnya. Dapat dia rasakan tubuhnya yang bergetar dengan hebat. "Akan gue pastiin Lo bakal sangat menderita atas apa yang telah kalian perbuat kepada keluarga gue!"
Desya menghapus air matanya dan langsung beranjak pergi keluar dari kamar. Dan tepat saat pintu terbuka Desya tertawa senang. Bukankah mengasikkan melihat orang yang dibenci kini tengah sedang menderita.
Teriakan dan jeritan terus terdengar. Semua orang berlarian memastikan apa yang sedang terjadi. Dan dari atas sini Desya hanya terdiam. Menikmati pemandangan yang indah dan suasana yang seru. "Astaga, sepertinya akan ada yang mati hari ini."
"Apa maksud kamu!"
__ADS_1
Desya berbalik dan menatap nyonya nya dengan seksama. "Apa lagi, bukankah anda sudah mendengar nya tadi?"
Dan tanpa ragu Desya mendekati nyonya nya itu. Dengan pelan tapi pasti kini tangannya bergerak melilit lehernya. "APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN!"
Sontak saja wanita tua itu langsung memberontak. Berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Desya. Tapi sayangnya kekuatannya tidak sebanding dengan Desya.
Melihat wanita tua itu berteriak kesakitan Desya pun semakin tertawa senang.
Hingga tanpa ia sadari sesuatu sedang mengarah ke arahnya.
Prang!
"Lo gila ya! berani-beraninya Lo berusaha bunuh nyokap gue. Dasar cewe gila!" umpat Tania.
Tania yang melihat Desya sedang mencekik leher mama nya pun tanpa berpikir panjang langsung memukul kepala Desya dengan kuat. Dan kini, akibat nya kepala Desya terluka parah.
Darah langsung mengucur deras dari kepalanya. Desya menghela napas dan melihat kedua wanita gila itu. Tanpa rasa takut sedikit pun Desya bangun.
Dia menatap kedua wanita itu dengan tatapan jijik. "Kamu mirip sekali dengan nya..."
__ADS_1
"Diem Lo dasar gila!"
Mendengarnya lagi membuat Desya kembali tertawa. Desya pun melangkahkan kakinya. Desya berjalan maju mendekati Tania. Lalu Desya pun membisik kan sesuatu. "Menurut Lo, gimana kalo ternyata Lo bukan anak kandung dari bokap lu sekarang?"
Mendengar hal langsung membuat Tania diam tidak berkutik. Desya pun menggenggam erat tangan Tania dan mulai berjalan mundur. Tania yang menyadari niat licik Desya pun berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Desya. Tapi Desya semakin mencengkram kuat tangan Tania.
Dan kini tubuh Desya sudah berada di pembatas antara lantai atas dan bawah. Tania yang sudah tahu akal bulus Desya pun berteriak panik. "Lo jangan macem-macem!" ancam Tania.
Tapi Desya tidak mempedulikan omongan Tania.
Dan...
Wushh!
Semua orang terkejut dengan apa yang telah mereka lihat. Dengan gilanya Desya menjatuhkan diri dari lantai atas. Seketika Tania bergetar hebat.
Dan melihat ekspresi panik Tania membuat Desya semakin merasa senang. "Kalian harus membayar atas apa yang telah kalian lakukan padaku."
Desya melihat mereka berdua. "Karena kematian harus dibalas kematian!"
__ADS_1
Bersambung...