
Kelvin yang merasa terpojok berusaha mengakhiri pembicaraan ini. "Udahlah gue capek, mau tidur, ngantuk! " Kelvin berjalan pergi tapi Desya mencegahnya. "Lo harus ceritain masa lalu Lo sekarang juga! "Paksa Desya dengan membentak Kelvin.
Kelvin merasa heran dan melihat Desya tapi kemudian.
Desya tiba tiba saja merasa tubuhnya terasa lesu, matanya mulai tampak sayu. "Lo harus berubah..." Desya memegang kepalanya yang terasa nyeri. Lalu...
Brak!
Desya jatuh pingsan tidak sadarkan diri. "Lo kenapa ?" tanya Kelvin dengan panik sambil menepuk-nepuk pipi Desya. Diangkatnya tubuh gadis itu yang telah terbujur kaku. Dengan cepat semua berubah seketika. "Semoga lo ngak kenapa kenapa Des..."
🌸🌸🌸🌸
Flashback...
"Woi cupu, udah selesai belum tugas gue! " Dapat dilihat segerombolan pembully tengah merundung seorang siswa. "U-u-dah..." jawab siswa itu dengan gugup. "Bagus, sekarang mana duit Lo, gue laper! "
Siswa itu menatap sekitar, tanda meminta pertolongan. Walaupun banyak orang di sekitar mereka tapi tidak ada satupun yang peduli. Semua seolah tutup mata dan bersikap masa bodoh. Sementara siswa itu kini mulai menangis. Tangannya terlihat gemetar ketakutan. "Tapi nanti kalo gue kasih, gue ngak bisa makan..." sanggah nya.
Ketua pembully itu tertawa tapi selang beberapa detik kemudian Ia mengebrak meja dengan keras dan memukuli siswa itu dengan membabi buta kemudian disusul anggota gengnya ikut terlibat.
Brak!
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
"A-a-ampun..." ucap siswa tersebut dengan lirih. Dapat dia rasakan tubuhnya kaku dan sakit yang luar biasa. Air matanya bercucuran menahan rasa sakit dan pedih. "Apa salah gue ?" batin siswa itu merasa nasibnya begitu malang. Walau darah dan tubuhnya sudah babak belur tapi mereka semua seolah tidak memiliki hati. Terus saja memukulinya tanpa henti.
Lalu dengan kasar ketua pembully itu menjambak rambut siswa tersebut. "Lo denger gue baik baik, kalo lo sekali lagi ngelawan gue, abis Lo! " lalu dengan kasar menghempaskan nya.
Ketua pembully itu melihat orang orang yang menatap mereka. "Kalo ada yang nolongin dia, abis orang itu di tangan gue! " dan tanpa belas kasihan meninggalkan siswa itu yang sudah terbujur kaku di lantai.
Siswa itu berusaha bangun dan bangkit. Ia menatap orang orang disekelilingnya yang menatap dengan kasihan. Miris, mereka hanya melihat tanpa bertindak. Seolah hal ini sudah biasa baginya, siswa itu beranjak membawa tubuhnya dengan tertatih-tatih. Sakit tapi apalah daya, ia hanya seorang jerami dibalik tumpukan jarum.
Ia mengusap air matanya dan memandang ke arah langit yang cerah. "Gue harus kuat! "
🌸🌸🌸🌸
Desya membuka mata dan melihat sekelilingnya. Kini ia berada di sebuah ruangan putih dengan selang infus menancap di tangannya.
Ia memegang kepalanya yang masih terasa pusing. "Aww! " rintih Desya merasa kesakitan. Tapi, tidak lama kemudian pandangan nya teralihkan menatap sesuatu.
"Apa ini mimpi ?" Desya memandang seseorang yang sedang menunggunya walaupun dia sedang tertidur.
"Bagaimana keadaan nona ?" tanya seorang dokter yang seketika membuyarkan lamunan Desya. Desya menoleh dan tersenyum ramah. "Saya baik baik saja, terima kasih." jawab Desya lalu kembali menatap Kelvin.
__ADS_1
Dokter tersenyum. "Tuan muda benar benar mencemaskan nona..." Desya tertawa renyah mendengar nya.
Karena tawa Desya membuat Kelvin terbangun dari tidurnya. Lalu Kelvin menghampiri Desya dan menanyakan keadaannya. "Bagaimana keadaan nya dok ?"
Dokter itu tersenyum ramah. "Tuan muda tidak perlu khawatir, nona hanya mengalami dehidrasi karena kelelahan." jelas kata pak dokter Alan dokter keluarga Adirya.
Kelvin bernapas lega. Jantungnya benar benar terasa akan copot tadi malam ketika mendapati Desya yang tiba tiba jatuh pingsan. Lalu...
Pletak!
Kelvin menjitak kepala Desya mengungkapkan rasa kesalnya. "Dasar beban Lo! "
"Anjir sakit! " balas Desya tidak terima.
"Lo itu biasanya nyusahin gue aja! "
"Udahlah, mendingan Lo siap siap pergi sekolah sana, jangan bolos aja anak! " titah Desya.
Kelvin menggelengkan kepalanya tidak percaya. Disaat seperti ini sekalipun gadis itu masih memikirkan tentang sekolah. "Udah sana! " Desya masih terus memaksa Kelvin untuk berangkat sekolah.
Kelvin hanya bisa menghela napas pasrah. "Iya! " jawab Kelvin dengan malas. Setidaknya hitung hitung sedekah sama orang sakit pikir Kelvin.
Tapi sebelum benar benar pergi Desya mengungkapkan sesuatu yang membuat Kelvin salting. "Hati hati di jalan, boyfriend..."
__ADS_1
Bersambung....