
Terdengar suara keran air yang mengalir dengan deras. Desya berdiri di depan wastafel menatap pantulan wajahnya. Ia baru saja mengobati luka di kepalanya. Walaupun rasa sakit dan pusing menghantam dirinya tapi tidak mampu untuk membuatnya menyerah. Karena ini baru saja permulaannya.
🌸🌸🌸🌸
Kelvin terus saja mondar mandir kesana kemari. Bayangan kejadian semalam begitu mengganggu nya. Masih teringat dengan jelas darah Desya yang mengalir akibat ulahnya. "Ahkk... kenapa sih dia harus nyusul gue, kan gini jadinya !" tapi kemudian untuk sesaat Kelvin terdiam.
Kini ada pertanyaan yang memenuhi benaknya. Kenapa Desya begitu kukuh untuk peduli padanya. Tapi, kemudian suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
Tok...Tok...Tok...
"Cepetan turun, sarapan udah siap !" ujar Tania kakak perempuan Kelvin. Kelvin tertegun sejenak. "Sejak kapan ada sarapan ?" batin Kelvin. Kelvin kemudian membukakan pintu. "Siapa yang nyiapin ?" tanya Kelvin pada kakaknya. "Lo liat aja sendiri." jawab Tania dengan padat dan jelas.
Kelvin menuruni tangga. Tercium aroma yang lezat dari arah dapur. Sudah lama Ia tidak mencium aroma masakan rumahan. Jujur saja mamanya tidak pernah memasak karena sibuk bekerja dan lagipula dia dan kakaknya juga tidak pernah makan di rumah. Jadi sangat jarang tercium aroma masakan.
__ADS_1
Kelvin terdiam melihat berbagai hidangan penggugah selera tersedia diatas meja. Bukan hanya lezat tapi juga empat sehat lima sempurna. Tapi sesaat kemudian Kelvin kembali terdiam ketika melihat siapa yang memasak.
"Selamat menikmati..." dengan telaten Desya menaruh masakan terakhirnya. Ia tersenyum dan kemudian menatap mereka berdua. Kelvin membuang muka. Ia masih belum sanggup berhadapan dengan Desya.
"Itu kepala lo kenapa ?" tanya Tania. Sebenarnya sedari tadi Tania terus memperhatikan gerak gerik mereka berdua. Desya yang kepalanya terluka dan Kelvin yang sikapnya yang tidak seperti biasanya. "Ngak papa cuma cedera waktu lagi kerja." jawab Desya sambil terus memperhatikan Kelvin.
"Eh lo ngapain ikut duduk di sini ?" tanya Tania ketika melihat Desya ikut makan dimeja bersama mereka. Desya memutar bola mata malas. Ia tahu apa maksud perkataan Tania. "Ya makanlah !" jawab Desya seadanya.
"Ngak, lo ngak boleh-"Ucapan Tania terpotong tak kala Kelvin mengizinkan Desya untuk makan bersama. "Udahlah biarin aja dia makan disini, lagian dia juga kan yang masak." bela Kelvin.
Desya yang ditatap tajam lebih memilih untuk mengabaikan. Sepertinya tatapan tajam milik Tania masih kalah menarik dengan masakan lezat miliknya. " Eh dijawab kalo ditanya !" bentak Tania.
Desya berdiri dan pergi setelah selesai sarapan. Ia memilih untuk tidak menjawab dan memilih pergi ke halaman belakang. "Gue cabut." ujar Desya cuek.
__ADS_1
Sementara itu Tania yang melihatnya hanya menghentak hentakan kakinya ke lantai. "Dasar ngak tau diri !" gerutu Tania kemudian pergi menuju kamarnya.
🌸🌸🌸🌸
Desya duduk termenung, kejadian semalam masih teringat dengan jelas. Bukan karena luka yang ia dapatkan. Melainkan tentang Kelvin. "Apa gue masih bisa buat lo berubah, apa gue masih sanggup kedepannya. Gue takut kalo gue gagal, gue takut..." Desya tertunduk sedih. "Apa gue bisa ?" batin Desya memikirkan Kelvin.
Desya menghapus air matanya. "Sekarang bukan saatnya menangis !" Desya menghela napas. "Gue pasti bisa !" ujar Desya menyemangati dirinya sendiri. "Kalo bukan lo siapa lagi, Des...?"
Selang tidak lama kemudian Desya melihat Kelvin akan berangkat ke sekolah. Desya berdiri dan berlari mengejar Kelvin. Dan kemudian...
Hap...!
Desya berhasil merebut kunci mobil dari Kelvin. "Lo apa apaan sih, balikin ngak ?" Desya tersenyum. "Ngak, mulai sekarang gue yang bakal anterin lo pergi ke sekolah !"
__ADS_1
Kelvin menghela napas. "Ternyata selain jadi guru privat sama jadi koki gue lo juga ngelamar jadi supir gue gitu ?" Desya tertawa mendengar penuturan Kelvin. "Gue ngak peduli lo mau ngomong apa, tapi pastinya gue bakal lakuin apapun yang terbaik demi orang yang gue cintai..."
Bersambung...