
Langkah Kelvin terhenti ketika segerombolan anggota osis mendatanginya. Kelvin berdecak Kesal. "Mau apa lagi kalian ganggu gue ?" tanya Kelvin tanpa basa-basi. "Dimana Desya, kenapa hari ini dia ngak masuk ?" Ryan bertanya sambil menatap Kelvin dengan jijik.
"Di rumah sakit." jawab Kelvin datar. Mendengar hal itu Ryan menarik kerah baju Kelvin. Sorot matanya dengan tajam menusuk. Sedangkan Kelvin hanya tertawa geli merasa kasihan melihatnya. Ia sudah tahu bahwa Ryan menyukai Desya sejak lama tapi sayangnya ditolak. Kata apa yang tepat untuk menggambarkannya, tentu saja "Miris..."
"Lepas! " perintah Kelvin.
"Dasar sialan! " umpat Ryan.
Bugh!
"Ini pasti ulah Lo kan Desya sampe sakit! " Ryan terus memukul Kelvin. "Dasar ngak tau di untung jadi orang! "
Bugh!
Kelvin mengusap darah yang mengalir dari mulutnya. "Terserah Lo mau ngatain gue kaya gimana, gue ngak takut sama cowo yang nasibnya miris kaya Lo!" Kelvin menyeringai licik melihat Ryan. Ia mengepalkan tangannya. "Dasar munafik!"
Bugh!
Lalu membalas meninju Ryan hingga orang itu tersungkur ke belakang.
Brak!
__ADS_1
"Lo yang harusnya sadar diri!" Kelvin berjalan mendekati tubuh Ryan yang terbujur kaku di lantai dan mengangkat nya ke atas hingga membuat Ryan tidak bisa bernapas. "Karena Lo itu udah ditolak mentah-mentah sama dia!" lalu dengan kuat menghempaskan tubuh Ryan dengan kuat ke lantai.
Bugh!
Ryan berteriak menahan rasa sakit. Dan kini Kelvin menatap tajam segerombolan anggota osis lainnya yang malah hanya terdiam di tempat tanpa bertindak. "Cih, dasar ngak guna!" lalu meninggalkan tempat itu.
Ryan yang melihatnya berteriak kesetanan dengan kesal. "Ahkk... kenapa gue selalu kalah dari dia, Sial! "
Kelvin melambaikan tangannya pergi meninggalkan tempat itu. Ia tertawa, suara teriakan Ryan terdengar seperti musik yang merdu di telinganya dan tentu saja Kelvin menikmatinya. "Dasar pengecut!" batin Kelvin.
🌸🌸🌸🌸
Desya menghirup udara segar tepat ketika dirinya sudah keluar dari rumah sakit. Sejujurnya saja dokter belum memperbolehkan nya untuk pulang karena kondisi yang belum sembuh total. Tapi dengan paksaan dan sedikit rengekan akhirnya ia diperbolehkan pulang. Desya tertawa kecil jika mengingat tingkah konyolnya.
Tidak lama kemudian sebuah mobil taksi menghampiri Desya. Dan Desya langsung masuk ke dalam mobil begitu saja. Desya tersenyum ketika rencananya berhasil. Tepat seperti dugaan nya dia memang sedang di awasi.
"Tolong antarkan saya ke rumah sakit ini." Desya menyodorkan sebuah kartu alamat tapi sebelum sopir itu mengambilnya...
Bugh!
Desya menyerang titik syaraf tubuh sopir itu yang membuatnya pingsan tidak sadarkan diri. Dengan cepat dan teliti Desya memeriksa pakaian sopir itu. Ia tidak akan melewatkan setitik kecil pun. "Kartu Farmasi perusahaan Adirya..." Desya tertawa geli tidak percaya ketika mendapati kartu tersebut. Bagaimana bisa perusahaan besar seperti itu memiliki seorang pemimpin yang begitu bodoh.
__ADS_1
Desya mengambil alih mobil dan menancap gas mengemudikan nya memecah jalanan. Ia berhenti di jalan yang sepi lalu membuang tubuh sopir itu ke jalanan. "Urus dia segera! " titah Desya kepada seseorang dibalik telpon.
Desya tidak bodoh, ia sadar sedari awal dirinya sudah di awasi tapi itu bukan masalah. Ia memiliki orang orang yang hebat di belakangnya. Orang orang yang rela mati tentunya untuk melindungi dirinya. "Tuan Ahmad Adirya, anda harus merasakan apa yang saya rasakan dulu!" janji Desya kepada dirinya sendiri dan mengusap air matanya yang terjatuh mengingat masa lalu.
Tapi sebelum itu, ada teman lama yang harus Desya kunjungi. Seorang teman lama yang sudah menunggu kedatangannya. Desya melambaikan tangannya keluar jendela ketika sudah sampai di tempat tujuan.
Desya turun dari mobil dan menghampiri orang itu. Ia tersenyum ramah. "Bagaimana kabar anda, nyonya...?"
🌸🌸🌸🌸
Kelvin tersenyum kecut ketika melihat sebuah pemandangan yang tidak mengenakkan hati terpampang dengan jelas di depan matanya. Ia membuang muka, berusaha untuk tidak melihat sesuatu yang menusuk hatinya.
Tapi, sialnya orang itu malah menghampirinya. Dengan manja Indri duduk dipangkuan Kelvin lalu mencium bibir Kelvin dengan lembut.
Sedangkan Kelvin, ia hanya diam tidak membalas ciuman tersebut tapi tidak juga menolaknya. Sejujurnya Ia masih merasakan dilema. Bukan artinya Kelvin berusaha mengkhianati cinta tulus Desya tapi Ia juga tidak bisa menolak perlakuan Indri.
Baik Desya ataupun Indri bukanlah orang yang benar benar dicintai oleh Kelvin. Hatinya merasa sakit jika mengingat nya. Karena cinta pertama Kelvin, seseorang yang dulu pernah Kelvin perjuangkan mati matian telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama lamanya.
Dan tanpa sadar Kelvin mulai terbuai dengan ciuman Indri yang memabukkan. Indri menghentikan ciuman panas ini sejenak. Ia mengusap bibirnya dan melihat Kelvin yang menatap dirinya dengan sayu.
Indri tersenyum puas. "I love you..."
__ADS_1
Bersambung....