
Papa Kelvin menghela napas mengatur emosi. "Papa ngak tahu apa yang membuat kamu jadi seperti ini. " papa Kelvin memejamkan mata dan kembali melihat wajah putranya. "Papa ngak pernah nyangka kamu akan berubah sejauh ini, kamu itu satu satunya penerus di keluarga ini, sudah seharusnya kamu belajar dan berusaha keras, bukannya malah main keroyokan, tawuran ngak jelas !" Papa Kelvin menitikkan air mata melihat putranya.
"Padahal dulu kamu anak yang begitu dibanggakan tapi sekarang kamu bagaikan seorang sampah di keluarga ini !" papa Kelvin terkulai lemas setelah mengatakan itu semua. Mama Kelvin yang melihatnya mengusap punggung suaminya berusaha menenangkan.
"Kenapa harus gue, kenapa bukannya dia aja ?" tanya Kelvin. "Kelvin..." panggil mama Kelvin meminta anaknya untuk diam.
Tapi sepertinya Kelvin tidak mempedulikan seruan mamanya. "Kenapa cuma gue yang harus wujudtin ekspetasi kalian, bukannya dia jauh lebih baik dari gue, bukannya dia yang selalu kalian puji, terus kenapa kalian berdua harus pusing mikirin gue, tinggal suruh dia yang ambil alih, gampang kan ?"
"Kelvin !" bentak papa Kelvin.
"Apa, lo pikir gue takut ?" balas Kelvin tak kalah keras. "Sudah sudah hentikan, Kelvin kakak kamu itu seorang perempuan sedangkan kamu itu seorang laki laki. Sudah seharusnya laki laki lah yang meneruskan perusahaan keluarga kita." ujar mama Kelvin dengan lembut berusaha menjelaskan.
Kelvin memutar bola matanya malas mendengar celotehan mamanya. Dan tanpa pikir panjang Kelvin meninggalkan kedua orang tuanya begitu saja. "Udahlah gue capek debat sama kalian, gue mau istirahat !"
__ADS_1
"Kelvin !" bentak papa Kelvin. Sementara itu mama Kelvin yang melihat tingkah Kelvin berusaha menenangkan suaminya. "Sabar pa, Kelvin itu sebenarnya anak yang baik cuma sekarang mungkin dia lagi labil tapi nanti pasti dia berubah, mama nyakin..." papa Kelvin menghela napas mendengar penuturan istrinya. "Semoga saja benar seperti itu..."
🌸🌸🌸🌸
Kelvin menghentak hentakan kakinya di tangga. Hari ini merupakan hari terburuk baginya. Entah mimpi apa semalam, sepertinya sial terus saja berdatangan tanpa henti. "Udah tangan gue terkilir gara gara si Ketos, eh sekarang sampe rumah gue malah kena ocehan dari dua orang tua itu, akhh...sial !" Kelvin menggerutu mengacak-acak rambutnya frustasi.
Kelvin bernapas lega ketika berhasil memasuki kamar yang bernuansa klasik itu. Dia memeluk guling nya dengan erat.
Sepertinya bukan hanya otaknya yang terkuras habis tapi perutnya juga. Saat Kelvin hendak beranjak bagun tiba tiba saja sesosok menyeramkan tengah berdiri menatapnya. "Ngapain lo disini ?"
Desya berjalan mendekati Kelvin dan ikut berbaring di kasur milik Kelvin. "Ahh.. empuknya, bagus juga kamar lo." ucap Desya sambil memperhatikan dekorasi kamar tersebut.
Kelvin berdiri dan langsung menyuruh Desya keluar dari kamarnya. "Keluar !" ujar Kelvin sambil memukul mukul Desya menggunakan guling nya. "Keluar sekarang juga atau gue seret lo!" Desya tertawa dan berusaha menahan guling yang kini tengah memukulinya. "Oke, oke gue keluar, tapi stop mukulin gue pake guling. " jawab Desya.
__ADS_1
"Ya udah keluar !"
Desya beranjak bangun dari tempat tidur milik Kelvin. Tapi, sepertinya Kelvin tidak sabaran. Dia menyeret paksa Desya keluar dari kamarnya dan menutup pintu.
Kini mereka berdua sedang saling bertatap tatapan. "Ngapain lo dikamar gue ?" tanya Kelvin. Desya tersenyum, sebelum menjawab pertanyaan Kelvin Desya meniup rambut Kelvin.
Wushh...
Kelvin memejamkan matanya sejenak ketika rambutnya ditiup oleh Desya. "Gue cuma mau liat kamar pacar gue." jawab Desya sambil memainkan pelan rambut milik Kelvin. Kelvin menghempaskan tangan Desya dari rambutnya. "Najis !" lalu langsung menarik tangan Desya dengan paksa. "Gue ngak peduli, pokoknya lo harus keluar sekarang juga dari rumah gue !" paksa Kelvin.
Desya menghempaskan cengkraman tangan Kelvin. "Gue ngak bisa pergi, soalnya mulai sekarang gue tinggal disini !"
Bersambung...
__ADS_1