
"Semua terasa aneh...
"Hampa ....
"Dan Gelap...
"Hah!"
Kelvin terbangun dan memijit pelipisnya yang pusing. Ia memandang Desya yang kini sudah sadarkan diri.
Ia berjalan menuju brangkar milik Desya. "Nanti, waktu Lo udah mendingan kita bakal pergi langsung ke psikiater" jelas Kevin.
Desya tertawa. "Lo nganggep gue ngak waras?" tanya Desya.
Kelvin menatap lekat wajah Desya. "Iya, Lo ngak waras" balas Kelvin.
Mereka berdua terdiam. "Kalo gitu sekarang aja, Lo ngak perlu nungguin gue sembuh" ujar Desya beranjak bangun dari tempat tidurnya.
Tapi dengan tegas, Kelvin tidak membiarkannya begitu saja. "Lo belum sembuh, seenggaknya sebelum gue dapet surat dari dokter tentang kesehatan Lo, Lo ngak boleh pergi!" ujar Kelvin.
Desya tertawa sinis. "Lo ngak bakal tau apa pun tentang gue, Kel!"
__ADS_1
"Apa maksud Lo?" tanya Kelvin.
"Nanti Lo juga bakal tau.." jawab Desya.
Kelvin menghela napas. "Terserah apa kata Lo, tapi yang pasti sekarang gue bakal temui dokter Alan buat tanyain tentang kesehatan Lo!"
Brak!
Desya terkejut melihat Kelvin yang membanting pintu dengan keras. Ia meremas selimut. "Gimana caranya gue mau sembuh kalo perlakuan Lo aja kaya gini Kel..." ucap Desya lirih.
Ia memegang kepalanya yang terasa sakit, sepertinya tumor di otaknya sudah menyebar luas dan itu membuat tubuhnya semakin melemah setiap harinya.
Desya mengusap air matanya yang sudah bercucuran. "Gue harus kuat!" ujar Desya menyemangati dirinya.
Karena ia tahu orang itu akan mengerti apa maksud darinya tanpa diberi tahu.
Desya memandang tangannya yang kini terpasang tali infus. "Dulu gue selalu berharap supaya Lo ngak pernah terpasang di tangan gue tapi kini semua terbalik, sekarang gue terlalu takut kalo suatu hari nanti Lo ngak bakal ada ditangan gue lagi. Karena itu artinya, gue udah mati!"
Desya memandang keadaan sekitar dengan tatapan kosong. "Tapi kayanya Lo gue lepas bakal seru juga..."
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Kelvin meremas kertas yang ada ditangannya. Penjelasan dokter Alan dan surat darinya tidak ada yang berguna. Hanya berisikan penjelasan sampah.
Tapi entah kenapa Kelvin merasa ada yang janggal. Tapi ia menepis pikiran tersebut, dokter Alan adalah dokter yang sudah mengabdikan diri bahkan sebelum dirinya lahir jadi bagaimana mungkin Ia berbohong padanya.
Fokus Kelvin teralihkan saat dering telepon terdengar. Terlihat di layar, Indri yang telah menelpon dirinya.
Kelvin mengangkat nya. "Sekarang apa mau Lo?" tanya Kelvin.
Kelvin berdiri. "Jangan macem macem Lo sama gue, Indriani!"Bentak Kelvin.
Tapi dengan seenaknya Indri memutus panggilan secara sepihak. "Dasar bajingan Lo Indri!"
Tapi kini ia tidak bisa berdiam. Dengan cepat Kelvin meninggalkan rumah sakit.
Hingga tanpa sadar seseorang telah menguping seluruh pembicaraannya.
Ia menatap tuannya dengan tajam. Orang itu tersenyum kecut. "Sekarang tuan kecil benar benar telah berubah menjadi seperti monster itu!"
Ia terlihat sedang menelpon seseorang. "Ikuti tuan Kelvin dan beritahu saya apapun yang telah terjadi!"
Ia membuka pintu dan mengambil surat hasil pemeriksaan kesehatan milik Desya. "Tuan tidak akan pernah tau hasil yang sebenarnya dari surat ini selama saya ada. Setidaknya ini yang bisa saya lakukan untuk mengubah anda tuan. Karena saya tidak akan membiarkan anda berubah menjadi monster seperti orang itu. Itulah janji saya kepada ayah kandung anda, tuan Kelvin Argantara..."
__ADS_1
Bersambung....