
Ia menutup telinganya berusaha untuk tidak mendengar suara apapun. "Ahkk!" Desya berteriak kesakitan karena rasa sakit di kepalanya seolah belum cukup membuatnya menderita.
"Keluar Lo Des!" teriakan Kelvin dan suara menggelegar menyakiti Indra pendengaran miliknya. Desya terduduk pasrah, Ia memegang lututnya yang terasa lemas.
Desya berjalan ke arah jendela. Dilihat olehnya Kelvin yang telah pergi. "Apa lo ngak pernah sedikitpun berusaha ngertiin perasaan gue, kenapa Lo bohongin gue, kenapa Kel, kenapa ?" Desya meremas jarinya yang bergetar. Ia menghapus air mata dan keringat yang bercucuran dari tubuhnya. "Gue cuma pingin Lo berubah supaya Lo bisa bahagia Kel."
Desya menutup telinganya saat bayangan kelam itu kembali. Ia berusaha sangat keras menahan rasa sakit sekaligus pedih. Desya melempar semua barang yang ada. Berusaha meluapkan rasa frustasinya.
Hingga pada akhirnya...
Ting!
Desya mengambil teleponnya yang berbunyi dan membuka room chat nya. Terlihat seseorang mengirimkan sebuah foto. Desya mengkliknya.
Klik!
Desya tersenyum kecut ketika melihat isi dari foto itu. Ia memperhatikan sebuah foto yang memperlihatkan Kelvin yang sedang berciuman mesra dengan Indri. Ia memukul dadanya yang terasa sesak. "Lo jahat sama gue, Kel!"
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
"Rasain Lo!" Tania tertawa puas membayangkan kejadian tadi. Hatinya terasa puas dan berbunga bunga. Tapi kemudian Tania terdiam memikirkan sesuatu. Ia merasa heran. "Kenapa itu anak kok marah, padahal gue cuma ngambil liontin doang ?" tanya Tania merasa sikap Desya yang dianggap nya berlebihan.
Ia masih mengingat bagaimana bentuk liontin itu. Berwarna perak dengan sentuhan kilauan mutiara, dengan hiasan inti berbentuk bintang sabit. Jika dipikir mungkin harganya hanya sekitar 50 ribuan saja. Tapi kenapa Desya begitu peduli.
Tapi entahlah, Tania memilih untuk bersikap masa bodoh dan membuang pikiran itu untuk saat ini. Ia mengambil ponselnya dan mengirim chat kepada seseorang. "Thanks fotonya, udah gue kirim bayarannya."
Tania memeluk guling nya dan membayangkan bagaimana reaksi Desya. "Gue ngak akan biarin lo hidup tenang di rumah ini dan mungkin selamanya..."
Ia tersenyum puas dan mulai terbuai ke alam mimpi hingga akhirnya tanpa disadari...
Klik!
🌸🌸🌸🌸
Desya berlari ke berbagai tempat yang ada di sekolah. Tapi sayangnya nihil, tidak dapat Ia temukan. Sudah 2 hari berlalu dan Kelvin masih menghilang tanpa kabar setelah kejadian di hari itu. Ada sedikit rasa penyesalan walaupun sejujurnya lebih didominasi rasa jengkel. "Lo kekanak kanakan Kel, dan gue ngak suka!"
__ADS_1
Desya terus melanjutkan perjalanan walau napasnya terengah-engah dan rasa sesak telah memenuhi paru paru nya. Karena tidak ada jalan lain, anak itu tidak mungkin akan pulang dengan sendirinya sebelum ada yang membujuk nya. "Sungguh menjengkelkan sekali!"
Tanpa diduga sosok yang dibencinya muncul dihadapannya. Ingin sekali Ia meninju wajah wanita murahan itu tapi logikanya berhasil menghentikan dirinya untuk berbuat lebih jauh.
Sementara wanita ular itu tersenyum dengan ramah. Dengan jarak yang tidak terlalu dekat Desya mengintrogasi Indri. Barangkali Ia mengetahui keberadaan Kelvin karena jujur saja mereka sudah berhubungan sangat lama bahkan mungkin hingga saat ini...
"Dimana Kelvin ?" tanya Desya.
Indri terdiam memperhatikan Desya dengan seksama. Mulai dari atas hingga bawah. Setiap lekukan tubuh Desya tidak ada yang terlewat dari pandangan nya. Ia menjilat bibirnya.
"Di rumah gue, lagi kecapean abis begadang semalaman sama gue. " jawab Indri dengan blak-blakan. Tapi Desya malah tidak berekspresi sama sekali dan memilih pergi melanjutkan kegiatannya mencari Kelvin.
Wanita itu tertawa geli melihat ekspresi Desya. "Lo ngak percaya sama gue ?" tanya Indri melangkah maju mendekati Desya. Aneh tapi nyata Indri merasakan sesuatu terhadap Desya yang membuat dirinya tergoda untuk berlama-lama bersama gadis itu.
Desya tidak menggubris pertanyaan Indri. Ia lebih memilih menganggap nya sebagai angin lalu. Yang hanya datang sebentar lalu pergi entah kemana.
Indri menggenggam erat tangan Desya. Ditatapnya mata manik yang indah itu dengan lekat. Dengan jantung yang berdebar. "Gue ngak bohong kok!"
__ADS_1
Bersambung....