
SEBELUMNYA
Arya berfikiran sejenak mengenai amarah nya dirumah, bagaimana mungkin Ayah Agus tidak memikirkan secara matang dulu.
ARYA
Saat pagi hari Laras mengajak ku untuk pergi ke Rumah Sakit Hewan, sebenarnya aku tidak ingin.
Mengingat kembali wajahnya aku mulai luluh, ntah aku Juga tidak tau apa Yang membuat hati ku gempar melihatnya. Wajah cemberut Laras aku tidak tega melihatnya, akhirnya aku Lebih memilih untuk menemaninya.
Setelah selesai dari Rumah Sakit, aku mengantarnya dulu ke rumah pikir ku, tapi malah saat di perjalanan Ibu menelfon, Ibu menyuruhku ke Rumah.
Aku heran kenapa Ibu menyuruh, Laras kembali mengatakan pada ku bahwa ada yang ingin Ayah bicarakan, aku tebak sendiri dalam pikiran ku pasti Ayah akan membahas itu.
Laras membujuk ku kembali untuk menemaninya membeli Buah tangan ke rumah Ibu menurutku itu ada baik nya juga, selesai akan hal berbelanja ia memberi ku sebuah kotak Tentu saja aku mengambilnya, tanpa mengatakan sesuatu dan melihat kotaknya dulu aku Malah mengambil nya.
Aku berjalan menuju mobil meningalkan Laras yang masih di dalam Minimarket, saat di dalam mobil aku mencoba membuka kotak itu namun Refleknya aku terheran ini permen atau apa pikirku, aku mulai memperhatikan depanya dulu. Antara geli dan terheran-heran aku memikirkanya,
"apa yang di berikanya pada ku", pikir ku.
Tiba-tiba dia datang masuk ke dalam mobil, aku terkejut dan lebih baik aku menyimpan nya di dalam saku celana ku. Aku masih memikirkan yang ia berikan pada ku, dia sadar tidak yang ia berikan pada ku benda apa, dasar wanita ceroboh ini.
Saat sampai di Rumah Ibu menyuruh ku menemui Ayah di ruangan nya, Aku mulai menghelakan nafas ku, masuk ke dalam ruangan itu.
~Tuk,. Tuk~
"Masuk lah", seruan Ayah, "Ayah ingin mengatakan sesuatu".
"Ya Ayah",
"Duduk lah",
"Hmm",
"Ayah ingin kau dan Laras secepatnya mengumumkan pernikahan kalian di Public",
__ADS_1
"Ayah bisa kah di tunda dulu",
"Bagaimana bisa di tunda, coba kau yang menjadi Laras hidupnya pasti bertanya-tanya akan hal itu, menikah tanpa seorang teman mu yang tahu, Begitu juga dengan temanya, coba lah mengerti perasaan nya", sorak Ayah.
"Tapi Ayah,.. Laras masih ke kanakan, aku ragu akan hal itu, nama baik keluarga kita di Taruhkan begitu pula dengan nama baik keluarga mereka, ini bukan lah hal main-main, laras masih belum bisa untuk membina rumah tangga dan tidak mengerti diri ku sama sekali",
"Ayah mengerti, sebagai seorang pria berikan hak mu sebagai suami yang menuntun nya dengan baik",
"Aku belum bisa",
"Arya lupakan masa lalu hidup mu sekarang sudah ada laras",
"Ayah aku sudah melupakan nya jangan bawa masa lalu ku, aku sendiri tidak mengerti sifatnya seperti apa, aku hanya belum bisa menerima laras di dalam hati ku, tidak semudah yang ayah bayangkan",
"Lambat laun kau akan mengetahui sifatnya tapi dengarkan ayah, aku mencoba sebagai posisi ayah nya laras Agung Nasution, bagaimana seorang ayah yang anaknya pun menikah tanpa di ketahui oleh orang lain, pernikahan yang sederhana bagi kalangan kita itu adalah sebuah pencemaran nama, orang lain akan berfikir yang tidak-tidak pada Kita nanti nya",
"Ini pernikahanku ayah, aku sudah menjalani nya, ayah boleh memilihkan jodoh ku siapa?, tapi menyangkut pernikahan ku, rumah tangga ku, aku yang akan mengurusnya. Aku mendirikan begitu banyak cabang di perusahaan, aku tidak ingin semuanya hancur begitu saja karna sebuah kesalahan kecil, laras masih berfikiran remaja, dia sering keluar malam jika semua nya ter ekspos media Public, nama keluarga siapa yang akan hancur",
"Arya,..", tatapan tajam Ayah,
"Arya!!!", sorak Ayah Agus sambil berdiri menghelakan nafas dalam nya.
Arya pergi meningalkan ruangan Ayah Agus dengan ke Amarahan.
Aku Menutup keras pintu Ruangan ayah tanpa memikirkan siapa yang akan melihat, tanpa aku menoleh ke arah Ibu, Adiku maupun Laras, aku hanya bersorak keras kepada Laras, atas perkataan yang Ayah buat, Ayah malah menyakut pautkan masa lalu ku, aku tidak suka akan hak itu, semua itu benar-benar membuat ku kesal.
Aku benar-benar pusing untuk memikir kanya, saat Laras masuk dan kami menuju ke rumah ia malah bercanda mencoba menghiburku, hati ku mulai redup sejenak ku lupakan kejadian siang. Ntah apa aku merasa sepertinya sudah mulai dekat dengan Laras.
Saat sampai di Rumah ku, aku berencana akan mandi meletakan dompet di atas laci namun aku sadar selain ada dompet ku ada kotak itu di saku ku, aku dengan cepat memasukan kotak sial ini ke dalam laci sebelum Laras melihatnya.
Hari sudah mulai malam aku mencoba untuk menyelesaikan perkerjaan ku Yang tertingal, aku duduk di sofa dan memangku sebuah Leptop, aku masih memikirkan kata ayah, kepala ku mulai pusing, aku benci ketika ayah membahas masa lalu ku, aku teringat akan hal itu, tubuh ku tak berdaya mengingatnya kembali.
Terdengar tawa Laras aku merasa heran padanya, ia seperti orang bodoh memegang Hp, dia mengatakan bahwa sebentar lagi dia akan sidang Skripsi, aku hanya membalas seperti biasa, namun ketika ia membahas sebuah kotak itu, aku hanya heran dia yang mengambil kotak nya lalu di berikan pada ku, namun ia tidak juga sadar yang ia berikan itu apa kepada ku.
Ya terpakasa apa boleh buat aku hanya dapat berbohong bahwa yang ia berikan kepada ku itu sudah ku habiskan, pertamanya ia tidak percaya namun akhirnya mulai percaya, saat ia berjalan menuju ranjang aku melihat lirihan matanya menuju laci. Aku tau Yang ia pikirkan dari pada kau menyesal melihatnya lebih baik aku menyelamat kan mu bodoh, pikir ku. Akhirnya dengan sigap Aku meletakan Leptop ku dan berlari menuju depan laci itu, untungnya belum di buka oleh wanita ini.
Dia mulai menaruh curiga pada ku, aku mulai merayu dan membujuknya berbagai alasan di otak ku, aku mulai mendapatkan ide, ku suruh saja dia tidur, dia mengikuti sih, tapi otak nya yang cerdik itu malah mengecoh ku, tanpa ku sadari ia membuka laci itu, apa daya ku, aku menegaskan kepadanya,
__ADS_1
"kau yang mengambilnya", aku menatap mata bulatnya yang melongo itu, Dengan cepat ku rebut benda sial itu dari tanganya.
Dan berkata, "aku saja yang menyimpan".
"Ini sangat berbahaya, pikir ku dalam otak, ku lirih jam di dinding memang sudah bukan Zona aman lagi".
Dia wanita bodoh yang memberikan kotak itu malah bengong dan melongo saja, saat aku mendengar bahwa dia mengatakan,
"untuk apa kau simpan".
Aku malah Reflek mengatakan, "kau ingin aku yang memakainya".
Wajah Laras itu membuat hati ku tertawa, aku hanya berfikir murah sekali mulut ku mengatakan ini tapi untung lah dia membalut dirinya dengan selimut, aku hanya tersenyum saja melihatnya, dan kembali aku mulai berkerja mengambil Leptop ku.
Saat berkerja aku melihatnya tertidur pulas, dia memang begitu imut ketika tidur, lalu aku memalingkan pandangan itu.
"sadar lah,.. sadar lah,..", Pikir ku.
Kami memang suami istri tapi semua itu adalah paksaan bagaimana aku bisa menerimanya dengan cepat, apa yang terjadi di dalam hatiku, hatiku tercampur aduk, antara suka antara tidak, ku pikirkan kembali perkataan ayah. Memang ada betulnya bagaimana perasaan Ayah laras, tapi,.. ini benar,.. benar,.. tidak bisa ku lakukan.
Selesai akan hal perkerjaan aku menutup Leptop dan berjalan menuju ranjang, Laras yang tertidur aku perbaiki selimutnya, dia benar-benar cantik. Diriku jadi tidak terkendali wajah imutnya membawa ku mendekati nya.
"Sadar,.. sadar,.. dia memang istrimu,.. tapi belum saatnya", pikir ku.
Tapi apalah wajah ku dan wajahnya sudah dekat, aku malah menatap dalam nya, aku mulai memberikan kecupan di dahi nya.
"benar,. Benar,. Diri ku ini,.. tidak dapat Terkendali", pikir ku.
Aku mulai mengucap di hati ku, dan berancak dari hadapan nya, kembali aku mulai menepati ranjang ku.
"Sabar,. Sabar,. Ini cobaan", Sambil ku elus-elus dada ini.
Sudah lah aku selimuti saja diri ku, dan tak lama kemudian aku tertidur.
*TBC*
__ADS_1