
Lalu perlahan aku masuk ke rumah begitu pula dengan Erik yang sudah pergi.
Saat aku masuk dan membuka pintu lalu menuju kamar, perasaan ku tidak enak, saat ku lirih sofa dan ternyata memang benar, aku terkejut saat ku lihat Orang yang punya rumah ternyata pulang menadadak, siapa lagi kalau bukan Arya.
"Hai", sorak ku.
"Hmm", jawab kesalnya.
"Kenapa pulang tidak beri tahu aku", tanya ku menghampiri nya dengan cemas.
"Hmm",
"Hm,.. hari ini aku lulus sidang,.jadi aku merayakan nya dengan teman ku", ku tatap wajah Arya yang datar itu.
"Lalu di antar oleh Erik", balas nya.
"Hm,. Bukan begitu, taxi tidak ada jadi dia yang mengantar ku",
"Kau klap malam lagi?", tanya Arya.
"Tidak!! Aku tidak ke klap malam, aku hanya duduk di caffe",
"Lalu kenapa berbau akohol", tanya Arya yang menatap mata ku, aku benar-benar takut melihatnya.
"A,. A,.aku hanya minum sedikit, itu Ena yang memaksa ku",
"Aku melarang mu ke klap supaya kau tidak minum",
"Tapi kan hanya sedikit",
"Ahhhhh!! Sedikit kau bilang itu sedikit,.. aku tidak suka perempuan yang gaya nya seperti itu, Dan semuanya ini!! aku benar-benar tidak suka berbau akohol, diri mu itu!! kau pikir kau minum itu baik di lihat orang, kau seorang perempuan, dan lihat sekarang sudah pukul berapa, sebagai istri selayak ny kau di rumah", balasnya yang berteriak pada ku.
"Tapi aku sudah memberi tahu mu, aku juga tidak tau kau tidak suka bau akohol, memangnya aku seperti apa, Kau mengangapku wanita malam, ahhh!!! aku sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk dirimu",
"Ntah lah intropeksi diri mu,.. istri yang baik??,. Kau menjalani nya, yah!! Kau istri yang baik, pergi bersama teman dan pulang malam, itu istri yang baik, apa kau tidak mengerti Larass!!, apa pernah kau menyiapkan pakaian ku memakai kan dasi ku, menyiapkan sarapan ku, apa pernah!!!", teriak Arya melihatkan telunjuk tangan nya Ke arah ku, bibir ku benar-benar geram dan hati ku begitu sakit saat ia mengatakan itu,
__ADS_1
"kauu!!! Lalu kenapa kau ingin menikahi ku", air mata ku rasanya ingin keluar, hati ku begitu sakit saat ku tebak sendiri yang ingin ia katakan,
"Itu karna kebodohan ku!!",
"Kau!!!! Laki-laki bejat!! Kau yang tidak mengerti aku, bisakah kau mengerti sedikit perasaan ku, kau pikir dirimu tidak ad salah, apa kau sadar kau sama sekali tidak ada waktu untuk ku, aku sendiri serasa tinggal di hutan dirumah sebesar ini",
"Cukup lah Laras aku sudah lelah",
"Cukup apanya, aku hanya merayakan sidang ku,. Kau!!! Di mata mu aku hanya sebagai wanita murahan", sorak ku yang tanpa ku ketahui air mata ini menetes saat mengatakan itu,
"Hentikan!!",
"Apa!! Aku istri yang tidak bisa di gunakan, kau sudah puas, kau suami yang baik meningalkan aku sendirian, aku juga butuh hiburan, dihari bahagia ku kau menghancurkanya", sambil ku menghapus air mata ku,
"Kau!!! Diamm!! ~ishhhh~",
Aku melihat wajah merah Arya yang begitu kesal, aku tau aku salah akan hal ini, tapi setidaknya bicara lah dengan yang baik, aku benar-benar takut pada orang yang pendiam ternyata jika marah seperti ini,
"Kau kenapa, kesal pada ku, aku juga kesal pada mu",
~brakkkkk~,
Saat Arya yang menyuruh ku diam, ia menendang meja yang ada di hadapan nya, aku terkejut, air mata ku menetes akan ketakutan ku, aku terdiam sipuh dan tidak bicara sama sekali, ku pandangi matanya yang berkaca-kaca, wajah merahnya yang kutakuti, ia mencoba merangkul ku, tapi saat tepat dihadapan ku, dia hanya Berbalik arah dan mengupat saat berjalan menuju ruang kantornya.
~hiks,. Hiks~, suara tangisanku.
Tanpa aku sadari ku jatuhkan bungga dari Erik di tangan ku dan berlari menuju kamar ku, aku mengupat kenapa ia begitu marah pada ku, ku tutup pintu kamar dan aku terduduk diam sambil menangis.
Ia mengangapku wanita murah di matanya, lalu kenapa ia Menikahi ku, aku salah, benar aku salah tapi apa salahnya ia berbicara dari dulu.
~hiks,. Hiks,.~,
Aku terus menangis dan menghapus air mata ku, se umur hidup ku, aku tidak pernah dimarahi malah dibentak dan dikatai seperti itu, aku benar-benar benci dia.
Dan tak lama kemudian, aku melihat gangang pintu itu bergerak, pria yang mengatai ku itu masuk dan melihat ku,
__ADS_1
"Sudah puas kau", pikir ku dan sama sekali tidak ku lihat wajahnya,
Ia mendekati ku, berlutut dihadapan ku, memegang tangan ku, melihat mata ku.
"Maaf kan aku", sahut Arya yang meletakan kepalanya di paha ku, aku hanya terdiam dan melirih ke arah nya.
Air matanya menetes ditanganku yang ia kepal, aku hanya bisa menangis dan tidak berkata sama sekali,
Ia kembali melihat ku, menghapus air mata ku, dan memeluk erat tubuh ku, aku hanya terpaku pasrah, hati ku kembali sedih saat mengigat kejadian itu.
"Kau jahat,. Kau jahat!!!", sahut ku memukul dirinya, dia malah memeluk tubuh ku dengan erat.
"Berhenti lah menangis!!", katanya yang memeluk ku,
~hiks,. Hiks,.~ (menurut Pengalaman membaca author, yah!!! Seperti itu kalo nangis).
"Aku hanya berharap kau bisa berubah, maaf kan aku memarahi mu", sambil mengelus-elus pundak ku,
"Sudah berhenti lah", sambil melepaskan pelukan nya,
Ia menghapus air mata ku yang menetes jatuh, tanpa ku undang Air mata ini terus berjatuhan di pipiku.
"Sudah berhenti lah, aku tidak suka wanita menangis",
"Kau yang membuat ku menangis", sorak ku padanya,
"Ku bilang berhenti lah menangis",
"Bagaimana caranya, air mata ku tidak mau berhenti", sial nya aku, suDah berapa lama aku tidak menangis kenapa air mata ini trus jatuh, pikir ku.
"Sudah lah, berhenti lah,. Ayo tidur lah", Sahut Arya.
Arya yang merangkul badanku dan membaringkan ku di ranjang sambil memeluk erat tubuh ku.
__ADS_1
TBC.