
Hanum Paradewi (28) seorang putri pemilik perusahaan rumah produksi terbesar di negara ini. Seorang workaholic, introvert juga single. Sejak tiga tahun lalu dia menjadi workaholic. Melepaskan semua kegemarannya, demi wasiat mendiang sang ibu. Yang berharap dia bisa membantu ayahnya.
Maka di sinilah dia sekarang. Kantor departemen keuangan. Menjabat sebagai direktur keuangan. Hanum menghabiskan hari-harinya di kantornya. Seperti akhir pekan yang selalu dia lewatkan di kantornya. Semua karyawan di departemen keuangan selalu menyebutnya membosankan. meski kecantikannya selalu mencuri hati setiap lelaki di kantor itu. Tapi tak ada yang berani mendekatinya. Mereka selalu takut jika berdekatan dengan Hanum. Itulah sebabnya sang ayah gencar mencarikan calon suami untuk nya
Jari jemari cantik Hanum menari dengan lincah di atas keyboard laptop. Tak berhenti mengetikkan satu persatu angka dan juga huruf. Kedua mata indah itu tampak bergerak antara layar laptop dan selembar kertas di atas meja. sesekali jemari cantik itu berhenti untuk mengganti kertas itu dengan kertas yang lain di sebelahnya. Hanum memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya kembali. Masalah perjodohan yang sudah dia dengar, membuatnya hilang konsentrasi.
Setelah menghentikan ketikan di keyboard, tangannya menyambar gagang telepon. Lalu menekan tombol interkom. "bisa tolong ke sini, oke saya tunggu" langsung memutus sambungan telepon. Tak lama suara seseorang mengetuk pintu.
"masuklah" suaranya terdengar dingin. Seorang wanita cantik dengan balutan setelan jas mahal berwarna hitam muncul. Tersenyum ramah lalu menunduk sekilas. "kamu ingat acara penghargaan tahunan" ujarnya tanpa mengalihkan perhatiannya pada orang itu.
"lu buang-buang waktu gue aja, bukan langsung ngomong tadi. kenapa nyuruh gue ke sini?" kali ini kedua mata indah itu melirik sekilas lalu kembali ke layar laptop lagi. "apa gunanya jabatan kalau tidak dimanfaatkan dengan baik" ada nada bangga disetiap kata yang dia ucapkan.
Wanita itu memutar bola matanya jenuh
"Hanum" panggil wanita berjas hitam itu nyaris berteriak, tapi dia merasa tak berhasil. "yang mulia Direktur Hanum Paradewi, perkataan anda adalah mutlak" kali ini wanita itu membungkuk sempurna dengan suara lembut.
Sebelum dia kembali ke posisi berdiri, bolpoin melayang tepat di atas kepala wanita itu.
"aduh, sialan." gerutunya sembari mengelus tepat bolpoin mendarat tadi. "seperti tahun lalu, kamu harus menggantikan saya lagi di acara penghargaan itu" buru buru wanita tadi menggeleng. "no, kali ini gue nggak mau" sergahnya.
Hanum mengernyitkan dahinya, menatap sahabat merangkap sekretarisnya itu dengan heran. Jelas sekali wajah cantik itu menunjukkan satu pertanyaan. "gue ada kencan buta, kali ini sorry" "gaun mahal, high heels merk terkenal, satu tas bermerek plus 25 juta" Hanum melipat kedua tangannya di depan dada, memandang sang sahabat yang nampak sedang memikirkan tawarannya.
"sorry, tapi kali ini enggak. Sejujurnya ini langsung perintah Presdir. Dia mau kali ini lu yang datang sendiri" Hanum menghela nafasnya panjang mendengar penjelasan sang sahabat.
dia memberi isyarat tangan agar sekretaris nya keluar dari kantornya.
Hanum tidak lagi bisa menghindar, jika tahun sebelumnya sang ayah tidak keberatan. Sekarang ada alasan yang susah dia tolak. Berkali kali sang ayah mengingatkan akan hal itu. Meski dia tahu tujuan utamanya. Ting!!! Ada pemberitahuan pesan masuk di ponselnya.
Presdir Paradewa : jangan lupa malam ini, ayah akan menjemputmu pukul 7 malam.
__ADS_1
Hanum melihat jam di ponselnya sudah pukul 3 sore, jika dia pulang sekarang bisa bersiap siap lebih lama. Jadi setelah membalas pesan ayahnya, Hanum merapihkan berkas juga laptop di meja nya. kemudian melangkah menuju pintu. menitipkan pesan pada sekretarisnya, lalu berjalan cepat menuju lift.
***
Tepat pukul 7 malam, mobil mewah berhenti di depan lobby apartemen Hanum. Kemudian melaju memecah jalanan kota yang masih padat kendaraan setelah menjemput Hanum. Di dalam mobil itu, seorang pria berusia di atas 50 tahunan mengenakan toxedo. Wajahnya masih terlihat berkarisma, meski rambut putih telah banyak tumbuh. Namun wajahnya awet muda.
Sedangkan Hanum mengenakan gaun berwarna hitam, dengan model sabrina di bagian atas bajunya. Menampilkan bahu putih mulus miliknya. Makeup tipis yang membuatnya terlihat semakin cantik. Jelas sekali gen sang ayah mendominasi. Dua orang yang duduk di bangku penumpang belakang tak ada yang bersuara. membuat sang sopir menggeleng pelan, tak ada yang aneh. Dia sudah terlalu sering melihat keadaan seperti ini. Tuan besarnya tak banyak bicara, sedang sang nona muda selalu menjadi putri es. Dingin juga kaku, itu terjadi setelah kepergian nyonya besar.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat acara. Banyak kamera dari wartawan yang langsung mengabadikan momen kedatangan para tamu. Ballroom hotel bintang lima sudah disulap menjadi tempat diselenggarakannya acara penghargaan. Kursi dan meja disusun rapih, panggung yang megah, audio dan visual yang menakjubkan. Semuanya benar benar dibuat semegah mungkin. Juga karpet merah membentang sepanjang pintu masuk. Menyambut kedatangan para tamu yang sudah datang mengenakan pakaian mewah. Mereka sebagai menduduki bangku yang sudah bertuliskan nama mereka masing-masing. Atau ada yang sekedar berbincang bincang.
"tetap bersamaku" begitu perintah sang ayah saat mereka berdua masuk. Hanum hanya mengangguk lalu berjalan disisi ayahnya. ikut menyapa setiap tamu penting yang dikenal ayahnya. Ini adalah penghargaan tertinggi di dunia entertainment. Makanya banyak artis dan orang penting ada di sana. Apalagi ayah Hanum adalah pemilik rumah produksi terbesar di negara ini. Semua orang mengenalnya, tapi tidak ada yang tahu tentang Hanum. Karena dia tidak pernah ikut serta ayahnya, jika ada acara yang melibatkan banyak kamera.
Selama acara berlangsung, Hanum duduk diam mendengarkan juga melihat jalannya acara. sesekali menjawab pertanyaan orang orang di samping nya. Setelah acara sudah berlangsung setengah jalan, dia pamit ke kamar mandi.
Berjalan melewati beberapa orang yang terlibat dengan acara penghargaan itu. Atau berpapasan dengan artis di kamar mandi. Hanum hanya tersenyum ramah membalas sapaan mereka. Karena datang bersama pemilik Paradewa, sebagian orang sudah tahu dengan statusnya. Setelah selesai, dia kembali dalam ruang ballroom.
Ragil memejamkan matanya, membiarkan seorang makeup artist memoleskan makeup di wajahnya. Dia datang terlambat, jadi persiapan pun sedikit terburu-buru. Terbukti setelah makeup, produser acara memintanya naik ke panggung. Karena terlalu terburu-buru.
**
"terimakasih" ucapnya tulus. Tapi orang yang membantunya sudah hilang. Entah pergi kemana dia tak tahu. Saat di memasuki ballroom, banyak para tamu yang berdiri mendekati panggung. bergerak dan bernyanyi mengikuti alunan musik dari seorang penyanyi. Hanum tidak bisa melihat wajah pria itu. Hanya suara yang merdu juga penampilan yang sempurna. pantas saja semua yang ada di depan sana menyukainya. Pasti pria itu tampan pikir Hanum.
"Hanum, ke sini" dia memutar tubuhnya, bergerak ke arah sang ayah yang sedang berbincang dengan seseorang. Menyapa orang di sebelah ayahnya dengan sopan. "ini Rama Prambudi, sahabat ayah yang pernah ayah ceritakan sama kamu" perkenalan dari sang ayah yang membuatnya membeku di tempat. "Ram, anak gadisku yang sama cantiknya kaya almh ibunya" sambung sang ayah. Senyum di bibir indah Hanum perlahan memudar. Berganti garis lurus.
"haha iya bener banget, Wa. Hanum, kamu ingat om kan. Dulu kamu sama Ndaru suka main bareng. sekarang kamu makin cantik. Ndaru pasti gak sabar pengen ketemu kamu lagi" Ujar sahabat ayah nya. Hanum tidak bisa mendengar jelas kata kata sahabat ayahnya itu. Karena suara teriakan para tamu yang memanggil satu nama. Membuat seluruh perhatiannya beralih pada panggung megah itu. Ragil...
Usai acara penghargaan, para tamu dijamu dengan makan malam mewah. Sudah bisa ditebak, Hanum dan sang ayah akan duduk dengan Rama Prambudi sahabat ayahnya. Tangan Rama bergerak memanggil sang asisten yang berdiri tak jauh dari meja mereka. Lalu membisikan sesuatu. Setelah itu sang asisten pergi.
"sorry ya Wa, Ndaru pasti lagi ganti baju makanya lama" wajah Rama tampak penuh penyesalan. "iya nggak masalah kok" Dari percakapan dua orang itu, Hanum menarik kesimpulan berarti lelaki bernama Ndaru ada di tempat itu. Tanpa sadar dia meremas kedua tangannya di bawah meja. Menunggu dengan gugup, atau hanya karena dia lapar jadi seperti itu.
__ADS_1
"papa" suara seseorang yang familiar ditelinga Hanum terdengar di belakangnya. dua orang di depannya tampak tersenyum lebar. lalu Rama melambaikan tangannya, memberi isyarat untuk menyapa ayah Hanum. Tanpa sadar mata indah milik Hanum mengikuti gerakan dari samping tubuhnya, lalu berpindah ke sisi ayahnya. Menyambut tangan ayahnya lalu mencium punggung tangan itu. Sungguh sangat sopan.
Selama memperhatikan gerakan orang itu, wajah Hanum terlihat sangat serius. Tak ada senyum di wajahnya. Terkesan dingin juga kaku. Tapi sangat elegan. "Wah kamu benar-benar tinggi dan juga tampan, lain kali kamu harus jadi pemeran utama di teater milik Hanum" ucapan Dewa mengembalikan fokus Hanum. Dia buru-buru membuang muka. "hahaha" mereka bertiga tertawa bersama. Seakan melupakan wanita cantik yang duduk memandang mereka bertiga. "nah, yang duduk di sana itu anak Dewa. Hanum, kamu masih ingat Ndaru kan? ini Ndaru" Ucap Rama sembari tersenyum lebar. Karena tidak siap dengan pertanyaan yang diajukan. Hanum hanya bisa menggelengkan kepalanya.
*
Sepertinya wanita cantik bernama Hanum itu spesies langka. Bagi Ragil tidak ada wanita di negara ini yang tidak tahu dia. Bagaimana bisa wanita itu bilang tidak ingat. Sedangkan dia sekali melihat wajah menyebalkan yang terus mencuri pandang padanya saja langsung mengingatnya.
Tapi itu tak sama bagi Hanum. Hanum berpikir keras, mengingat bocah bernama Ndaru di ingatannya. Tapi sialnya, tak ada ingatan tentang bocah itu. Sedangkan lelaki yang dipanggil Ndaru menatapnya dengan serius. Seakan akan matanya bisa memotong motongnya karena terlalu tajam. "duduk nak Ndaru" perintah Dewa dengan sopan. "iya om" Ndaru duduk di seberang Hanum. Melihat sekilas wanita cantik bergaun hitam yang sangat cantik.
Makan malam yang didominasi oleh suara dua lelaki setengah abad. Sedangkan Hanum menikmati makanan lezat itu tanpa bersuara. Dia mulai bosan dengan pembicaraan antara ayah dan sahabatnya itu. Apalagi seluruh gerakannya seperti diperhatikan oleh seseorang. Padahal saat dia dengan sengaja melihat lelaki yang duduk di seberangnya. Dia tidak mendapati hal yang mencurigakan. Lelaki itu sendiri sibuk dengan makanan di piringnya sama seperti dia.
"jadi kapan kita resmikan ke jenjang pertunangan" sela Rama membuat dua anak muda di sana tersedak. "uhuk uhuk" Hanum buru buru meraih tissue, menyeka air yang tak sengaja keluar. Bahkan pertanyaan ini tidak dia antisipasi sejak tadi.
"bahkan tersedak saja kalian bisa sama-sama, wah kalau begitu biar papa yang menentukan" Jelas dua anak muda di depannya menolak. Tapi dia tidak akan pernah membiarkan mereka menolak.
"bagaimana kalau minggu depan" Rama menatap Hanum lalu beralih ke Ragil. Keduanya terlihat sangat terkejut, apalagi wajah anaknya jelas sekali menunjukkan tidak setuju "Pa, minggu depan Ndaru ada konser di luar kota. bukankah ini terlalu cepat. Bahkan kami berdua belum saling kenal" tolak Ragil dengan sopan. Dia tidak mungkin menggunakan suara yang keras. Karena di ruangan itu masih banyak para tamu yang sedang makan. Untung saja meja mereka jauh dari meja lainnya."iya Ram, biarkan mereka mengenal satu sama lain dulu. Setelah itu baru kita bicarakan soal lamaran" Kali ini Rama menyetujui usulan Dewa. Tak ada lagi yang berbicara, mereka tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing.
***
Dua lelaki beda usia itu masih duduk di meja tadi. Ruangan besar itu hanya menyisakan Rama, Ragil dan juga asisten Rama. Ruangan besar itu semakin terasa dingin, juga mencekam. Itu semua karena tatapan mereka yang lebih banyak berbicara. Setelah lebih dari 15 menit tanpa suara Rama mulai merapihkan jasnya. Lalu bersuara yang semakin membuat kepala Ragil semakin panas. "bukankah kamu sudah setuju, kenapa harus mengatakan hal semacam itu. Kamu masih ingat syarat yang papa ajukan padamu kan. Papa tidak main-main Ndaru" Rama berdiri, mengeraskan rahangnya lalu beranjak dari tempat itu di susul sang asisten. Meninggalkan Ragil yang sangat kesal. Dia harus merelakan semua yang dia bangun dari nol, atau menikah dengan wanita yang baru ditemui. Jangan harap papanya bisa memaksa nya lagi.
***
Di kediaman Prambudi
Sinta Prambudi menyambut kepulangan sang suami dengan ramah. Meski waktu sudah malam dia masih setia menunggu suaminya kembali. Melihat sekilas wajah lelah sang suami, Sinta tak banyak bicara. Setelah membantu melepaskan jas dan menyiapkan air panas untuk mandi. Sinta menunggu di atas tempat tidur dengan membaca sebuah buku. kepalanya mendongak saat mendengar pintu kamar mandi dibuka.
Rama duduk di sebelah Sinta, menyerahkan handuk kecil di tangannya tanpa bersuara. "mau makan malam lagi" tanya Sinta sembari meraih handuk kecil di tangan suaminya. Kemudian mengeringkan rambut Rama dengan hati hati. Rama hanya menggeleng. "acaranya berjalan lancar kan" Sinta menghentikan tangannya, lalu merapihkan rambut yang berantakan itu. "hmm, semoga nya berjalan sesuai rencanaku" jawab Rama singkat.
__ADS_1
"Tapi kenapa wajahmu terlihat sangat kesal" Rama membawa kepalanya di atas pangkuan sang istri. Lalu meminta tangan istrinya untuk membelai rambut setengah kering miliknya. "Ndaru menolak perjodohan dengan anak sahabatku itu yang membuatku kesal" Sinta menganggukkan kepalanya mengerti. "gimana kalau aku yang urus masalah perjodohan ini. kamu ingat tidak, dulu aku pernah jadi mak comblang temanku'" kedua mata Sinta berbinar. Rama tersenyum puas, itulah tujuan nya tadi. Jika Sinta yang meminta, Ragil akan menuruti semua keinginan mamanya.