
Malam itu berlangsung sangat cepat. Orang orang dari kantor urusan agama langsung pulang setelah mengurus persyaratan pernikahan Hanum dan Ragil. Rama langsung menyobek perjanjian antara dirinya dengan almarhum Dewa. Sementara Sinta tidak melepaskan genggamannya pada tangan Hanum. Sedangkan Hanum sendiri tidak merasa keberatan dengan perlakuan manis Sinta.
"Terimakasih" ujar Sinta dengan lirih. Ia melihat wanita yang sebentar lagi menjadi ibu mertuanya sedang menitikan air matanya.
Dengan menggunakan satu tangannya yang bebas, ia membawa Sinta ke dalam pelukannya. Semoga kalian melihatnya, aku sudah mengabulkan permintaan kalian, batinnya ketika memeluk tubuh Sinta dengan erat.
Hanum merasakan tubuh Sinta bergetar, sepertinya kembali menangis lagi. Ia semakin mengeratkan pelukannya. "tolong jangan menangis, seharusnya anda bahagia" ujar Hanum lirih. Sinta melepaskan pelukannya, menyusut hidungnya juga menghapus air matanya.
Kemudian ia melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya. Lalu meletakkan cincin dengan berlian tunggal yang cantik itu di atas tangan Hanum yang sudah dia pegang juga.
"simpan ini, ini untukmu, dari mama" Kedua tangan Sinta menggenggam tangan Hanum, yang di dalamnya ada cincinnya.
Tanpa mengatakan apapun, hanya tersenyum untuk menjawabnya. Interaksi keduanya membuat Ragil menyembunyikan senyum yang muncul di wajahnya.
Satu persatu orang yang ada di sana undur diri. Menyisakan dua orang yang sebentar lagi terdaftar sebagai suami istri. Ragil meletakkan selembar kertas yang berisi perjanjian.
"ini adalah perjanjian yang harus kamu tanda tangani" katanya sembari menyerahkan kertas itu. Keduanya kini sedang duduk di meja makan, dan berseberangan.
"aku juga punya surat yang harus kamu tanda tangani" kata Hanum sambil mengeluarkan lipatan kertas dari saku jasnya. Ragil menyambar kertas itu, kemudian membacanya dengan cepat.
Keningnya yang mengernyit, menandakan ketidakpuasan pada surat perjanjian itu.
"sebaiknya kita bicarakan beberapa pasal di sini yang tidak sesuai" usul Ragil. "oke" Hanum mengangguk menyetujui usulan dari Ragil.
Mereka berdua berdebat untuk beberapa waktu, lalu kembali akur untuk beberapa perjanjian yang mereka rasa sesuai. Sampai tak sadar waktu sudah semakin malam. Keduanya menandatangani perjanjian itu secara bersamaan. Lalu menukar kertas yang sudah mereka tandatangani, untuk membubuhkan tandatangan di surat perjanjian milik mereka masing-masing.
"pasal 1, pernikahan ini akan berlangsung selama 3 bulan. dan menurut pasal 2, kita tidak tinggal satu kamar, sekarang sebaiknya kamu pulang" usir Ragil. "tidak perlu mengusirku, siapa juga yang mau tinggal denganmu" Kata Hanum sembari berjalan meninggalkan Ragil.
"baguslah, sana pergi" Ragil melipat kedua tangannya di depan dada. Dia tersenyum puas saat melihat punggung Hanum yang semakin menghilang.
*
Keesokan paginya mereka sudah resmi menikah secara hukum. Tidak ada pesta yang digelar. Itu semua karena Ragil yang memintanya. Buku nikah mereka langsung diantarkan oleh Holden, yang pagi pagi sekali sudah datang ke apartemen Hanum.
"simpanlah, kalau ada masalah apapun jangan sungkan untuk meminta bantuan pada paman ya. Paman pergi dulu" pamit Holden sebelum masuk ke dalam lift.
"Hm, hati hati paman" Hanum melambai sampai pintu lift tertutup. Kemudian dia kembali ke dalam apartemennya, untuk bersiap ke kantor.
Hari ini cuaca cukup cerah di pagi hari, meskipun tidak bisa diprediksi kapan akan turun hujan. Ia sampai di kantor bersamaan dengan kedatangan Hoshi.
"selamat atas pernikahan anda nona" ucap Hoshi saat bertemu dengan dia.
Hanum melihat ke sekeliling, tidak ada orang lain selain mereka. "bisakah kamu tidak mengatakan apapun tentang pernikahanku, ini rahasia" pintanya. "maaf nona"
Hanum kembali melangkah ke dalam gedung kantornya. Tidak ada yang beda dari hari hari yang biasanya. Dia tetap bekerja di perusahaan miliknya. Walaupun statusnya sebagai istri seorang idol. Pesan kembali masuk ke ponselnya, dari orang yang sama. Atala memintanya untuk bertemu lagi. Kali ini Hanum menyetujuinya. Setelah membalas pesan, dia kembali fokus pada pekerjaan yang sudah menunggu.
*
Di tempat lain, Ragil pun sedang di sibukkan dengan lagu baru yang baru dia garap. Latihan tari bersama para penari latarnya di studio. Dia akan menyiapkan comeback yang luar biasa untuk para fansnya. Setelah film terakhirnya sebelum diboikot oleh papanya sendiri.
"untuk hari cukup sampai di sini ya guys, kalian boleh pulang" kata Ragil saat menyelesaikan beberapa tarian bersama dengan para penari latarnya. Wajahnya penuh peluh, juga kaos hitam yang dia kenakan basah oleh keringat.
"balik dulu, Gil" pamit beberapa orang yang sudah berjalan ke arah pintu sembari melambai pada nya.
"oke, thank you guys, hati hati di jalan" Ragil melambai pada mereka.
Dia kembali menyeka keringat yang membasahi wajah dan lehernya, saat seseorang datang mendekatinya. Ragil tidak memperdulikan kedatangan Chelsea. Dia malah sibuk merapikan barang-barang miliknya. Kemudian keluar dari ruangan latihan. membuat wanita cantik yang memakai high heels itu terseok-seok saat mengejarnya .
"Ragil, tunggu dulu" Chelsea berdiri menghalangi jalannya. Ragil menghentikan langkahnya dengan enggan. Dia menatap Chelsea dengan smirk di bibirnya.
"maaf untuk waktu itu" ujar Chelsea. Dia kembali mengatur nafasnya.
"aku hanya mengikuti arahan management, aku nggak punya wewenang apapun" imbuhnya.
__ADS_1
Ragil menggenggam erat tali tasnya, dia berjalan melewati Chelsea dengan kesal. Membuat wanita itu berbalik menatap punggung Ragil yang terus menjauh. Lalu berbelok dan menghilang. Chelsea pergi dengan menghentak hak tingginya, karena terlalu marah.
Sampai di baseman gedung management nya, ia melempar tas itu sembarang ke bangku penumpang. Lalu duduk diam di balik kemudi. Untuk beberapa saat Ragil menatap lurus ke depan. Setelah itu dia menyalakan mesin mobilnya. Kemudian dengan cepat meninggalkan gedung managementnya.
Sepanjang perjalanan Ragil tampak tidak fokus, dia bahkan tidak menyadari berada di jalan menuju ke kantor Hanum bukan ke apartemennya. Ia baru sadar saat tiba tiba suara klakson mobil lain mengejutkannya.
Ragil menepikan mobilnya saat terdengar ponselnya berdering. Dia meraih benda persegi itu, lalu menggeser tombol angkat.
"ada di mana" tanya Rama langsung.
"di jalan" jawabnya singkat. "datanglah ke kantor, ada yang ingin papa berikan pada mu" perintah Rama.
"hmm, aku ke sana" Dia memutus sambungan teleponnya. Setelah itu menyalakan mobilnya. Kemudian putar balik menuju jalan sebaliknya, menuju perusahaan Rama. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana, karena memang tidak terlalu jauh dari tempatnya tadi berhenti.
Dia langsung menuju ke lantai teratas, menuju ke kantor papanya. Saat bertemu dengan karyawan sang papa, biasanya dia akan bersikap tak acuh. Karena mereka selalu diam diam bahkan terang terangan mengagumi dia, terutama untuk para karyawan wanita.
"Presdir sudah menunggu anda" ujar sekretaris papanya. "terimakasih" katanya sebelum masuk ke dalam ruang kerja Rama. Sementara sekretaris wanita itu langsung kegirangan saat Ragil mengucapkan terimakasih padanya.
Ketika dia masuk tubuhnya membeku tak kala mendapati dua orang lainnya juga ada di dalam ruangan Rama. "duduk sini" Rama menepuk sofa di sebelahnya yang kosong. Patuh dia mengikuti perintah papanya. Duduk di samping Rama. Dan secara langsung dia berhadapan dengan wanita yang berstatus istrinya itu.
"kalau begitu kami undur diri dulu, Tuan Rama. Mengenai kontrak berikutnya saya akan langsung menghubungi anda" Hoshi berdiri dan menundukkan kepalanya sebentar.
"tunggu, bisakah menantu saya tetap di sini" Hoshi menoleh ke arah Hanum yang menggerakkan kedua matanya, sebagai tanda ia setuju untuk tetap tinggal "tentu, kalau begitu saya undur diri dulu" Hoshi sekali lagi menunduk, kemudian dia keluar dari ruangan itu.
Setelah kepergian Hoshi, wajah Hanum sedikit lebih melembut. Ragil memperhatikan perubahan wajah itu. Tapi dia tidak mengerti apa sebabnya.
"kalian berdua makan sianglah di sini" Rama melepaskan kacamata yang sempat dia pakai untuk membaca tadi. "maaf, tapi saya tidak bisa. makan siang nanti saya sudah memiliki janji dengan teman lama" ujar Hanum dengan sopan. Rama menatap menantunya itu dengan sayang.
"baiklah, akhir pekan nanti datanglah bersama Ragil ke rumah. Aku akan minta mama kalian menyiapkan makanan untuk kalian" Hanum mengangguk sambil tersenyum ramah. "saya pergi dulu" Hanum bangkit kemudian menoleh ke arah Ragil yang tampak tidak peduli dengan nya. Lalu kembali menatap ke arah Rama yang ikut berdiri untuk mengantarnya keluar ruangan.
"ayo papa antar" kata Rama sembari berjalan mendahuluinya. Dia tahu apa yang baru saja Hanum lihat. Tapi dia tetap berpura pura tidak tahu.
Sekembalinya Rama dari mengantarkan Hanum. Pria itu langsung menyerahkan sebuah kunci ke meja di depan Ragil.
Sementara sang anak melihatnya dengan bingung. Dia mengangkat kunci yang dia yakini adalah kunci rumah. "hadiah pernikahan kalian berdua, papa pilihkan tempat yang punya pemandangan bagus. Juga privasi yang dijamin aman" terang Rama.
"itu bukan untuk mu, papa berikan rumah itu untuk Hanum juga cucu papa" Ragil tertawa mengejek sang papa. "apa papa tidak terlalu berlebihan" ejeknya.
"jangan kamu kira papa tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan malam itu" ucapan Rama membuat Ragil membulatkan matanya, dengan cepat dia menatap ayahnya yang sedang menatapnya juga.
"kenapa, orang yang papa kira akan melukai Hanum adalah Alex. Tapi nyatanya dia adalah kamu. Apa yang kamu lakukan setelah malam itu, pergi tanpa bertanggung jawab itu yang kamu lakukan" gertakan dari papanya menjadi satu tamparan keras untuk dia.
"jangan sampai kamu menyakiti Hanum, atau papa benar benar akan membuat karirmu hancur" ancam Rama. Sementara Ragil tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya diam, tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana bisa papanya mengetahui kejadian itu. Dia benar-benar sangat takut dengan ancaman. Apalagi yang sudah menyangkut dengan hidup nya.
*
Di tempat lain, Hanum sedang duduk bersama dengan Atala. Makan dalam diam. Sesekali hanya akan menjawab pertanyaan Atala dengan singkat. Ketika tiba tiba seseorang menyiramkan air ke wajahnya dengan kasar. Dia melihat Atala memarahi Tania dengan keras.
"Tania, apa yang kamu lakukan. cepat minta maaf" teriak Atala karena Tania bersikeras tidak ingin meminta maaf.
"bukan aku yang salah, dia yang kegatelan. Udah punya tunangan artis masih mau sama tunangan orang" Tania balik berteriak. Wanita itu terus menunjuk ke arah Hanum.
Hanum melihat keduanya yang sedang bertengkar seperti adegan yang diputar secara cepat. Hanya dia yang normal, sementara yang lainnya bergerak dengan kecepatan yang sama cepatnya.
Dia tersadar saat seseorang menjambak rambutnya dengan kuat. Dia tidak berteriak, hanya rasa perih yang sia rasakan. "Tania, cukup" gertak Atala "Tania, kami hanya bertemu sebagai teman lama. jangan terlalu berlebihan. Minta maaflah" Kini Atala menggunakan nada yang lembut. Dan sepertinya berhasil meredam emosi Tania.
Tania menghempaskan tangan Atala yang mencengkramnya dengan kuat. Kemudian pergi meninggalkan mereka. "maaf atas sikap Tania ya, aku pergi dulu" pamit Atala yang langsung mengejar calon istrinya itu.
Kini rambut yang selalu dia gelung rapi itu, terurai berantakan. Yang justru semakin membuat aura kecantikannya keluar. Semua orang yang melihat kecantikannya tampak terpana. Beberapa ada yang mengambil fotonya tanpa permisi. Lalu mempostingnya di sosial media, dengan caption yang sangat beragam. Kebanyakan mengatakan dia adalah seorang dewi.
Hanum meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, kemudian berjalan ke arah pintu keluar. Mengabaikan tatapan iri juga kagum orang orang di sana. Hanum mengendarai mobilnya kembali ke kantor. Setelah masuk ke gedung kantornya, para karyawan diam diam membicarakan nya.
Dia yang tidak pernah menggerai rambut panjangnya, kini tampak semakin cantik dengan rambut tergerai. Tapi satu yang membuat mereka heran, adalah bekas noda air yang mengenai wajah dan setelan jas berwarna pastel itu tampak jelas meninggalkan jejak.
__ADS_1
"selamat siang Presdir" seorang karyawan di bagian resepsionis menyapanya dengan ramah.
"selamat siang juga" jawabnya singkat. Ia terus berjalan hingga masuk ke dalam lift. Ketika ri dalam lift, saat tidak ada siapapun Hanum mengepalkan kedua tangannya. Saat sendirian dia selalu marah pada dirinya sendiri.
Begitu berada di dalam kamar mandi di ruangan kerjanya sendiri. Dia langsung membasuh wajahnya. Cukup lama memandang wajah yang basah itu di cermin. Setelah membersihkan wajahnya, Hanum kembali ke meja kerjanya. Ketika seseorang mengetuk pintu.
Hoshi muncul di ambang pintu, laki laki itu bahkan terpukau oleh penampilannya "masuklah" ujar Hanum yang melihat Hoshi tak kunjung bergerak.
"oh, Hm, maaf..." Hoshi menggaruk tengkuknya, dia seperti sedang tertangkap basah oleh bosnya itu.
"tolong cari tahu apa pekerjaan Tania Ruslan sekarang" pinta Hanum ketika Hoshi baru saja sampai di hadapannya.
"bukankah dia teman anda dulu" Hanum mengangkat wajahnya dengan enggan. "haruskah aku mengulanginya" tanya Hanum dengan dingin.
Hoshi tiba tiba merasakan aura yang sangat menyeramkan dari bos nya itu. Aura yang sama dengan sang ayah. Tidak ingin membuat Hanum kembali menjadi sangat dingin. Dia buru-buru keluar dari ruangan itu, melupakan laporan yang ingin dia sampaikan. Hingga membuat Elma melihatnya dengan heran.
Setelah kepergian Hoshi, dia menyandarkan punggungnya. Lalu meminjat pelipis dengan satu tangannya. Kedua matanya terpejam. Masalah pernikahan yang mendadak juga tiba-tiba disebut sebagai selingkuhan Atala. Benar benar membuatnya semakin marah.
tok tok
Hoshi kembali dengan selembar kertas di tangannya. Dia meletakkan kertas itu di depan Hanum. "Tania Ruslan yang anda minta" Hanum membuka matanya yang tidak benar benar terpejam itu, lalu dengan cepat meraih kertas di depannya.
"kenapa harus di ketik sebanyak ini" dia bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari kertas itu.
"saya mendapat informasi jika wanita itu pernah melakukan beberapa hal yang melanggar hukum" terang Hoshi secara singkat.
"aaah, buat dia tahu bagaimana konsekuensinya telah menyentuh Hanum Paradewi" Wajah cantik itu mengeluarkan seringai yang menakutkan bagi Hoshi. "baik, nona" jawab Hoshi.
"satu lagi, tolong carikan sim card baru" mengerti permintaan yang tak wajar darinya. Hanum kembali berkata " aku ingin nomor pribadi terpisah dengan nomor bisnis"
"apa anda perlu ponsel baru juga" Hanum seakan teringat sesuatu, dia menatap Hoshi dengan seringai yang sama. "apa perlu kuperjelas juga"
Bulu kuduk Hoshi meremang saat dia di tatap oleh Hanum seperti itu. Dia dengan cepat menggeleng. "saya akan siapkan yang anda minta" katanya dengan cepat, lalu keluar dengan ruangan itu tanpa menunggu Hanum mengusirnya.
"lu kenapa sih kak" Elma yang heran bertanya pada Hoshi yang tampak sangat ketakutan.
"tidak ada, lanjutkan pekerjaanmu" jawab laki laki itu dengan cepat.
Seolah tak ingin mengetahuinya lagi, Elma mengangkat kedua bahunya tanda tak peduli. Kemudian kembali mengerjakan pekerjaan miliknya sendiri.
*
Tania berada di ruang latihan. Dia yang sudah bersiap dengan sepatu seluncur miliknya. Beberapa kali melakukan gerakan kecil di pinggir arena. Mendengar musik yang dimainkan tidak sesuai dengan permintaannya. Dia menatap sang asisten dengan geram.
"lu bisa kerja nggak sih" teriaknya dengan kesal.
"sorry, ini nada dering" ujar asisten nya yang langsung mengangkat ponselnya yang tersambung ke pengeras suara. Wajah asisten Tania tiba tiba menggelap. Dia buru-buru mendekati Tania sembari mencari artikel tentang Tania.
"Nia, gawat" katanya sembari menyerahkan ponselnya. "apa sih" Tania menarik ponsel milik asistennya dengan cepat.
Video dirinya saat sedang menyiram Hanum dan bertengkar dengan Atala. Meski hanya wajahnya yang terlihat jelas. "atlet ice skating, cemburu kemudian menyerang seseorang. Marah dan bertengkar dengan pasangan di sebuah restoran" ucapnya saat membaca caption itu.
"citramu selama ini adalah gadis polos, cantik dan baik hati. Orang orang mulai membicarakan kamu. Mereka juga mengungkapkan beberapa kejelekan kamu di sosial media" tambah sang asisten yang baru mendapat berita itu tadi.
Tania mengeraskan rahangnya, dia meremas ponsel sang asisten dengan kuat. Bahkan sang asisten hanya meringis saat melihatnya.
"Tania" teriakan seorang wanita datang dari pintu. Tania juga asistennya tiba tiba ketakutan. Mereka berdua menunduk ketika wanita itu mendekati mereka.
plaakk
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Tania. "mama" ucapnya lirih. "siapa yang sudah kamu singgung, kenapa banyak berita yang selama ini sudah mama tutupi muncul ke media" tanya wanita itu yang ternyata adalah ibu Tania.
"aku tidak menyinggung siapapun ma" jawab Tania dengan takut. Mama Tania menata putrinya dengan tajam. "lalu siapa yang kamu siram dan juga jambak itu. Kau tidak tahu siapa orang itu"
__ADS_1
"dia cuma orang biasa ma. dia cuma mantan atlet ice skating. Tapi dia berusaha merebut Atala dariku" jelas Tania dengan cepat.
"kau yakin dia cuma orang biasa, jangan sampai masalah ini mempengaruhi posisi mama di pemerintahan" ancam sang mama yang merupakan seorang pejabat itu.