Forever With You My Idol

Forever With You My Idol
bab 2


__ADS_3

Waktu berjalan terlalu cepat bagi pekerja kantoran seperti Hanum. Sudah 2 minggu semenjak acara penghargaan itu. Ayahnya tidak lagi membahas soal perjodohannya. Itu yang paling penting. Setelah pulang dari kantor Hanum biasanya langsung pulang ke apartemen nya. Seperti saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam. Satu tangannya memegang tas laptop, satunya lagi menekan tombol lift. Cukup lama menunggu lift terbuka. mungkin sedang menuju lantai atas. Setelah terbuka dia buru-buru masuk. Saat lift hendak tertutup, Hanum mendengar suara seseorang. "tunggu, tolong tunggu"


Reflek tangan Hanum menghentikan pintu lift seorang wanita paruh baya yang sangat cantik dengan banyak kantong belanjaan dikedua tangannya ikut naik lift bersama dengan dia. "terimakasih" ujar wanita itu dengan tersenyum ramah.


"iya, bu" jawab Hanum sedikit kaku.


"ibu mau ke lantai berapa" "lantai 20 nak" Hanum sedikit bingung. Pasalnya ini adalah apartemen yang setiap lantainya berisi 2 unit. Dan dia salah satu pemilik unit di lantai 20. Melihat Hanum yang nampak sedikit bingung, wanita itu buru-buru menjelaskan "anak tante yang tinggal di sini, kebetulan tante mau lihat keadaan dia"


Hanum hanya mengangguk canggung. mereka berdua tidak bersuara sampai pintu lift terbuka.


"biar saya bantu, bu" kata Hanum sembari meraih sebagian banyak kantong belanjaan wanita tadi. "jangan. Tante bisa sendiri" tolak wanita itu hendak meraih kantong belanjaan dari tangan Hanum. "kebetulan saya tinggal di lantai ini juga bu, biar saya bantu" Hanum berjalan keluar dari lift terlebih dulu, lalu menunggu wanita tadi keluar dari lift.


Hanum tidak menyadari wanita tadi tersenyum dengan senang di belakangnya. "nah ini apartemen anak saya" wanita itu meraih kantong belanjaan dari tangan Hanum. "mampir dulu ya, kita makan malam bersama. Nanti biar tante kenalkan dengan anak Tante" lalu wanita tadi menekan bell apartemen. Hanum menggeleng, "terimakasih, bu. Kalau begitu saya permisi" usai mengatakannya Hanum berjalan ke pintu apartemennya sendiri.


"dia benar benar cantik, persis ibunya" Sinta masih berdiri memandang pintu apartemen Hanum, tak menyadari seseorang sudah membuka pintu untuk dia. "persis siapa" Ragil mendongak, melihat ke arah pintu apartemen di seberangnya. "tolong bawa ya, mama mau masak makanan spesial untuk seseorang" Ragil terdiam beberapa saat sebelum membawa masuk semua kantong belanjaan itu masuk. Mengikuti mamanya menuju dapur, lalu meletakkan semua kantong di atas meja.


"buat apa sebanyak ini, ma" Ragil menunjuk kantong belanjaan itu. "untuk makan malam lah" jawab Sinta tak perduli, dia langsung sibuk dengan alat masak di dapur anaknya. "dari pada cuma berdiri di sana, cuma jadi tukang komentar mending bantuin. Tangan mama terlalu sibuk" pinta Sinta. Meski enggan tapi akhirnya dia membantu Sinta. Sinta memandang punggung anaknya yang sedang mencuci buah. Dia selalu teringat masa kecil Ragil. Anak itu akan berlari ke dapur dan berebut untuk membantunya. Tapi setelah karirnya sebagai Idol semakin naik, Ragil jarang pulang ke rumah. Apalagi hubungan antara Ragil dan Rama sempat merenggang. Sinta membelai surai Ragil dengan lembut. Tatapan penuh rindu jelas terlihat di matanya.


"mama masih kurang puas lihat wajah gantengku ya" kata Ragil menggoda sang mama. Yang langsung mendapat pukulan di punggungnya. "ternyata papa kamu juga mewariskan sifat narsis nya ke kamu" "mama baru tahu" kedua ibu dan anak itu tertawa bersama setelah sekian lama tak bertemu.


Setelah setengah jam berkutat dengan peralatan masak. Sinta menyuruh Ragil mandi untuk bersiap. Tanpa menaruh rasa curiga, Ragil mengikuti perintah ibunya. Mandi lalu mengenakan kaos polo berwarna putih, dan mengenakan celana pendek selutut. rambutnya yang masih setengah basar, membuatnya terlihat segar. Hanya wangi dari sabun yang menguar dari tubuhnya saja bisa membuat seseorang betah berlama-lama dengan nya.


Saat keluar dari kamar nya, Ragil dibuat terkejut karena termos tempat makanan sudah tersusun di dalam kantong bekas belanjaan tadi. "ini, kenapa ada ini di sini, mana makanannya" Ragil dibuat semakin bingung karena Sinta telah bersiap juga. "mama, kenapa dandan juga" "jangan banyak tanya, seseorang mungkin sedang kelaparan sekarang" Sinta merapihkan termos makanan terakhirnya. Lalu meletakkan 2 kantong berisi termos makan pada tangan Ragil.


"apa? siapa yang kelaparan ma. bukannya kita mau makan malam berdua" Ragil semakin dibuat kesal karena Sinta yang berusaha menjebak anaknya sendiri.


"mama nggak berusaha jebak kamu, tolong buang pikiran buruk dari kepala kamu itu. jadi sekarang tugas kamu cuma diam, jangan banyak protes. Tetap pasang senyum, oke" usai mengatakannya Sinta berjalan terlebih dahulu. Lalu membuka pintu "Ragil, buruan" Sinta berdiri di depan pintu apartemen Hanum lalu menekan tombol. Berdiri dengan semangat, sembari meminta anaknya untuk tetap diam.

__ADS_1


***


Rasa lelah seketika hilang setelah berendam di bathtub beberapa menit. Sekarang yang menjadi masalah adalah cacing di perutnya mulai berontak. Hanum menekan perutnya pelan, lalu berkata pada perutnya "lapar ya, tolong tunggu sebentar lagi". Tapi setelah pergi ke dapur, dia tidak menemukan stok bahan makanan di kulkas. Hanya beberapa buah apel yang sepertinya sudah terlalu lama di simpan.


Dia baru ingat terakhir mengisi kulkasnya bulan lalu. Dan akhir akhir ini selalu beli makanan di luar. Hanum menghela nafas panjang. Dia menyambar botol air mineral lalu meminumnya. Sekarang dia menyesal menolak ajakan makan malam orang tadi. Dengan gontai di berjalan kembali ke kamar, berniat ingin memesan makanan. Tapi baru meraih ponselnya, bell apartemen berbunyi. Hanum melepas lilitan handuk di rambutnya. membiarkan rambut panjangnyay yang masih basah tergerai sembarangan. Yang malah membuatnya semakin cantik dan juga seksi. Apalagi Hanum mengenakan piyama dengan celana pendek. Yang mengekspose paha putih mulusnya.


"Haiii, maaf ya ganggu kamu" sapaan seorang wanita yang dia temui tadi membuatnya mengerutkan keningnya. Tapi tak lama dia menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. "hm, sebenarnya tante mau ngajak makan malam kamu. Tapi alat makan di apartemen anak tante semuanya nggak ada" Hanum dengan sabar mendengarkan Sinta berbicara. "apa boleh pinjam piring sama sendoknya. sebagai gantinya kita makan malam bareng di apartemen kamu. kamu tenang aja, makanan semuanya sudah siap" sambung Sinta dengan wajah tanpa dosa sambil mengangkat sebuah kantong belanjaan. Mendengar makan malam cacing di perut Hanum seketika bersorak. 'kruuuukkk kruuuuk' Yang langsung membuat pipinya memerah seperti buah tomat. Hanum buru buru menutupi kedua pipinya.


Sinta tersenyum mendengar suara perut Hanum.


Sedangkan Ragil yang berdiri membelakangi Sinta tampak menekan pelipis nya. Dia tidak pernah berpikir Sinta akan membuatnya bertemu dengan orang itu. Tapi sepertinya sekarang dia benar benar malu untuk sekedar protes. "mah, jangan bikin malu deh" bisik Ragil. Tapi sepertinya tidak bagi Sinta. wanita paruh baya itu justru sedang tersenyum sangat senang.


Untuk mengalihkan perhatian Hanum mempersilahkan mereka untuk masuk.


"e, silahkan masuk" ujar Hanum dengan terbata, kemudian bergeser untuk memberi jalan. Mendapat persetujuan dari Hanum, buru buru Sinta menarik lengan Ragil untuk masuk. Tapi karena kurang hati hati hampir saja Ragil berbalik dan menabrak Hanum. Adegan yang seperti di perlambat itu, membuat dua orang itu menatap mata masing masing sebentar. Hanum terkejut bukan main, pasalnya anak wanita tadi adalah Ragil Mahendaru.


Begitu juga dengan Ragil, dia sampai tak berani melihat ke arah Hanum yang terlihat sangat cantik dan menggoda. Dia baru tahu wanita kaku yang dia temui 2 minggu lalu tinggal di seberang pintu apartemennya. Dan lagi cara Sinta yang membawanya ke sini, benar benar diluar nalar.


"ah, saya Hanum. bu" Hanum menyentuh hidungnya karena canggung. "jangan panggil ibu dong, berasa jadi ibu pejabat. Panggil aja Tante. atau mama juga boleh" Sela Sinta. Ragil menarik dress yang dikenakan Sinta, berharap bisa menghentikan kelakuan tidak tahu malunya itu. Karena tidak ada respon yang diharapkan, satu satunya jalan adalah "ehem, ma Ragil sudah lapar" tapi berkat idenya itu suasana semakin menjadi canggung. Satu satunya orang yang tidak canggung hanya Sinta. Lebih tepatnya orang yang urat malunya sudah putus.


"eh iya silahkan di sebelah sini" Hanum memimpin dua orang itu menuju meja makan. Kemudian mengambil piring juga sendok. "kamu duduk aja ya, ini biar tante yang nyiapin" Tubuh Hanum didorong dengan pelan, lalu mendudukkannya di kursi. Lalu memberi isyarat pada Ragil untuk ikut duduk. Sayangnya kepekaan kaum lelaki sangat kurang. Ragil justru membuat Sinta kesal dengan sengaja tidak menuruti perintahnya.


Makanan rumahan yang memang lezat, sangat familiar di lidah Hanum. Dia jadi teringat masakan ibunya. Ragil tidak sengaja melihat ke arah Hanum yang sedang terdiam, wanita itu tanpa sengaja menitikan air matanya. Atau hanya pura pura untuk menarik rasa simpati dari Ragil dan Sinta.


"Hanum, ada apa. Kenapa menangis" Pertanyaan itu datang dari Sinta. Yang ternyata juga menyadarinya "oh maaf, sepertinya karena makanan ini sangat lezat. Jadi tanpa sengaja jadi terharu" Hanum buru buru menyeka air yang sudah menggenang di pelupuk matanya. "begitu ya, kapan kapan tante pasti akan ajak kamu makan malam lagi" hibur sinta. Tapi bagi Ragil, Hanum hanya ingin mendapat perhatian dari mereka. Makanya pura pura menangis.


"mam, jangan terlalu percaya omongan orang yang baru kita temui. apalagi dengan alasan masakan enak aja bikin nangis. jelas dia mau makan malam kaya gini lagi sama kita. orang kaya dia banyak di luaran sana. air mata jadi bahan buat narik simpati orang" Ragil menyeringai, menatap Hanum dengan semirik.

__ADS_1


"Ragil, jaga omongan kamu. cepat minta maaf" Sinta semakin merasa tidak nyaman. Pasalnya wajah cantik Hanum semakin terasa dingin juga suram. Wajah yang memang tidak banyak mengeluarkan ekspresi itu semakin gelap. Hanum bahkan tidak tersenyum selama mereka bertemu tadi. Sekarang benar benar seperti siap menelan siapapun. "minta maaf, untuk orang yang sedang berusaha panjat sosial. Mimpi" Ragil meletakkan sendok di atas piring dengan keras. Kemudian berdiri dengan kasar. Dan pergi meninggalkan Sinta yang berusaha menahannya.


"Ragil, mama minta kamu minta maaf. Ragil, berhenti. cepat kembali" teriakan Sinta tak membuat Ragil menghentikan langkahnya. Hanum hanya menatap kepergian Ragil tanpa ekspresi. "Hanum, tante minta maaf mewakili anak tante Ragil ya. Tante pastikan dia akan minta maaf langsung sama kamu" Sinta kemudian menyusul Ragil keluar. Meninggalkan Hanum seorang diri.


Bagi Hanum yang sudah biasa sendiri, dan ditinggal dalam keadaan yang menyedihkan. Awalnya biasa saja, tapi di bagian lain hatinya terasa sakit. Bukan karena perlakuan tak enak dari Ragil yang membuatnya sakit. Tapi rasa rindu teramat sangat yang membuatnya serapuh ini.


***


"kamu kan nggak harus ngomong begitu. sekarang kamu harus minta maaf sama Hanum" pinta Sinta setengah memaksa. "mama yang maksa Ragil buat ikutin semua rencana memalukan mama. yang aku tahu ini adalah rencana mama buat deketin aku sama wanita setengah siluman itu. Untuk apa aku minta maaf. di sini aku tidak bersalah, aku adalah korban nya"


"Ragil, kenapa kamu jadi keras kepala begini. oke, mama memang berencana membuatmu menerima Hanum. Tapi dia tidak pernah seperti yang kamu bilang. Ini murni rencana mama. dan soal panjat sosial yang kamu bilang itu tidak benar, Ragil" Suara Sinta perlahan mulai melemah. Dia tidak tahu lagi harus meyakinkan anak keras kepala itu dari mana. "kalau kamu belum minta maaf sama dia, jangan harap mama masih mau bertemu kamu lagi. mana pulang" tanpa menunggu jawaban dari Ragil. buru buru Sinta menyambar tas di meja dapur, lalu berlalu dengan cepat. Meninggalkan Ragil yang termenung. Dia tidak berusaha mengejar mamanya. Karena sifat keras kepala nya semua dari sang mama. Namun, jika dua anak muda tadi tampak kacau, Sinta pulang dengan sangat senang. Seakan akan semua rencananya berhasil. Dia menghubungi seseorang "selanjutnya rencana B, oke"


**


Esok paginya media online dihebohkan dengan adanya berita seorang Idol yang terlibat skandal dengan seorang putri pengusaha ternama. Televisi juga sosial media memberitakan satu nama yang sangat mencuri perhatian dunia beberapa tahun belakangan ini. Idol yang debut dengan boygroup. Tapi akhirnya memutuskan solo karir. Dan lagu juga nam'anya selalu berada di tranding pertama. Meski hanya inisial nama 'RM' semua orang sudah tahu dengan jelas siapa idol ini.


Ponsel milik Ragil tak hentinya berdering. Semua orang sedang berusaha menghubungi dirinya. menanyakan kejelasan skandal tentang kencannya. "brengsek, siapa yang berusaha buat hancurin karir gue"


"tok tok tok"-


"Ragil, buka pintunya. Ragil buka" suara seorang wanita yang dia kenal adalah milik manager nya Chelsea. Ceklek, Ragil membuka pintu sedikit. Memastikan tidak ada orang lainnya, dia dengan cepat menarik tangan Chelsea untuk masuk ke dalam apartemennya. Hal itu membuat Chelsea merasa hubungan antara Ragil dan dia lebih dari sekedar teman atau manager dan artis nya.


Tanpa mereka sadari, seseorang melihat semua kejadian di depan pintu apartemen Ragil. orang itu adalah Hanum. Dia sudah melihat berita di mana mana. Dia berniat ingin menanyakan secara langsung pada Ragil karena berita itu menyangkut namanya juga. Tapi sepertinya ada orang yang perlu penjelasan lebih dari pada dirinya. Hanum tidak ingin ikut campur lagi. Merasa tidak lagi perlu melakukan apa apa. Dia bergegas turun ke tempat parkir. meninggalkan gedung apartemen nya menuju ke kantor.


*


"siapa yang pertama kali menyebar berita itu" Ragil berdiri di depan jendela apartemen nya. Melihat ke bawah ke jalan yang sudah mulai penuh kendaraan bermotor. "tidak diketahui, semua berita muncul hampir bersamaan. Tapi aku perlu kejelasan, apa hubungan kamu dengan putri pemilik Paradewa" Chelsea menunjukkan foto dirinya dan Hanum. Meski pun wajah Hanum diblur. Tapi kemunculannya di acara penghargaan 2 minggu lalu sempat mencuri perhatian. membalikkan badannya, berjalan dengan cepat melihat foto itu. Lalu mengeraskan rahangnya. Bahkan Chelsea sempat ketakutan karena Ragil jika sedang dalam mode marah memang menakutkan.

__ADS_1


"untuk sementara waktu kamu tetap di apartemen. Semua kontrak yang baru ditandatangani di batalkan. Projek film dan Iklan juga di stop. Presdir benar benar sangat marah. Dia minta kamu yang membayar semua pinalti. semua kebutuhan kamu nanti aku akan antar. kalau ada perlu apa apa kamu tinggal bilang sama aku. Jangan terlalu khawatir, management akan cari solusi untuk masalah ini" Chelsea berusaha menenangkan Ragil yang tampak sangat marah.


"hm, kembalilah ke kantor" ucap Ragil singkat, kemudian meninggalkan Chelsea seorang diri di ruang tamu. sedangkan dia mengunci kamar, lalu duduk di meja kerjanya. matanya terpejam, tapi otaknya terus berputar. Berusaha mencari solusi. Tapi sayangnya masalah yang diselesaikan dengan amarah pasti akan gagal. Dia ingat kata-kata itu. Jadi menenangkan dirinya lebih penting sekarang.


__ADS_2