
"Hanum"
"e, itu itu" Elma menggaruk kepalanya dengan cemas.
Ia lalu menghampiri Hanum, dan berusaha untuk menjelaskan sesuatu. Tapi sepertinya Hanum tidak mengharapkan penjelasan apapun. Terbukti wanita itu memilih bungkam. Dan langsung duduk di meja makan.
"kamu mau lauk apa, maaf ya cuma seadanya" Mendengar itu Hanum melihat ke arah ibu Elma yang tampak lesu. Padahal saat ia datang tadi, wanita paruh baya itu sangat gembira.
"tidak apa-apa bu, biar Hanum yang ambil sendiri" ucapnya dengan sopan sembari meraih sendok lauk dari tangan ibu Elma.
Sementara Elma memperhatikan kedua orang itu secara bergantian. Mereka berdua memiliki masalah yang sama-sama rumit, karena seorang laki-laki. Ia ikut duduk di kursi, lalu mengisi piringnya dengan nasi dalam diam. Elma merasa aura kedua wanita beda usia itu sangat menakutkan.
Tiba-tiba Hanum menyentuh lengannya, ia dengan cepat menoleh ke arah Hanum.
"ibumu kenapa" bisiknya. Lalu mereka berdua melihat ibu Elma yang tampak kesal.
"e nggak kenapa kenapa kok. cuma agak begitu doang" jelas Elma dengan sesekali melirik ke arah sang ibu.
Hanum mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud ucapan Elma.
"sama kayak lu, lagi pms hehe" imbuhnya.
"Ema jangan ngajak ngobrol Hanum terus. Biarin dia makan dulu" gertak sang ibu. Yang langsung membuat Elma mendorong tubuh Hanum dengan pelan. "iya bu"
"nak Hanum, tahu nggak"
"apa ya bu?"
"Ragil Mahendaru ternyata pacaran sama Maura Kasih. Padahal tadinya ibu kira dia beneran dekat sama kamu"
Sontak saja perkataan ibu Elma membuat Hanum dan Elma terdiam, lalu saling tatap. Mereka tidak berani mengatakan apapun setelah ibu Elma kembali duduk di depan televisi.
*
Malam itu setelah membaca berita tentang kencannya. Ragil dengan cepat berlari menuruni anak tangga. Dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga membuat dua orang bodyguard di sana keheranan. Hanya butuh beberapa menit Ia sampai di gedung managementnya. Ragil langsung menuju lantai 5, tempat Gio berada.
Ada beberapa orang yang sempat menyapanya, tapi ia memilih mengabaikan mereka.
"apa maksud anda dengan klarifikasi yang perusahaan lakukan" katanya dengan nada keras begitu ia membuka pintu ruangan Gio.
Kedatangan Ragil yang sudah bisa diprediksi oleh Gio. Membuat pria itu hanya tersenyum masam pada Ragil. Ia berdiri, lalu memberi isyarat agar Ragil duduk di sofa.
Dengan emosi yang masih meluap luap, akan sangat menyulitkan bagi mereka berdua untuk saling berbicara. Ragil menuruti perintah Gio, dia duduk dengan tegap di hadapan sang bos.
"tolong cepat katakan"
"Maura menawarkan diri untuk membantumu" jelas Gio.
Ragil mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti kenapa nama teman lamanya disebut sebut.
"sudah lama dia menyukaimu, bukankah dulu kalian pernah dekat. Dan lagi, saat ini dia nyaris tidak memiliki haters. Cantik, berbakat. Pasti orang orang akan langsung mendukung hubungan kalian. Setelah masalah ini berlalu, kau bisa memutuskan untuk tetap menjalani hubungan dengan dia, atau mengakhirinya"
"dia tidak mungkin meminta mu untuk membuat drama konyol seperti ini"
"aku tidak memiliki pilihan, membiarkan mu mengakui hubungan mu dengan putri mendiang Dewa, justru akan membuat karir juga perusahaan dalam keadaan gawat"
"apa kau yakin"
"tentu, lihat saja pengaruh positif yang dibawa Maura. Mereka beralih pada berita kekasih Ragil yang ternyata adalah Maura Kasih. Respon mereka juga bagus, yang paling penting penggemarmu juga tidak menyerang Maura" tegas Gio.
"tapi aku tidak setuju, kau mengambil keputusan sepihak sebelum membicarakannya dengan ku" keluhnya.
"coba apa yang akan kau lakukan untuk menyelesaikan masalahmu ini" tantang Gio.
"tentu aku akan mengakuinya, dia wanita baik dan juga cantik. Tidak ada yang salah jika kami berdua berkencan" tegas Ragil.
"Ragil"
"aku sudah bilang padamu, jangan coba campuri urusan pribadiku. Dan jangan coba mengatur hidupku" Setelah mengatakan itu ia langsung keluar. Membanting pintu dengan keras, dan kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ia terus mengendarai mobilnya, hingga berhenti di sebuah club malam. Ragil memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus. Lalu dengan lift khusus ia menuju lantai 3.
Setelah bertemu dengan seorang pemilik club itu, yang ternyata salah seorang temannya. Ragil memesan beberapa botol minum. Lalu meminumnya hingga tidak ada yang tersisa. Entah bagaimana ia akan pulang, yang pasti ia mulai mabuk.
*
"nginep aja ya, ini kan udah malam. ibu jadi khawatir"
"ibu tidak perlu khawatir, ada asisten saya yang akan mengantarkan saya pulang" ucap Hanum berusaha menenangkan ibu Elma yang sedang mencegahnya untuk pulang.
"lu nginep aja, mumpung Hoshi belum datang. Lu tinggal hubungi dia kan"
Kali ini Hanum menggeleng, ia mengerti kekhawatiran dari Elma. Tapi ia ingin pulang dan menyendiri dulu. Jadi setelah mendengar bunyi klakson mobil Hoshi, ia kembali berpamitan pada keluarga itu.
Lalu masuk ke dalam mobil Hoshi. Hanum melihat ke arah Hoshi yang masih mengenakan pakaian yang sama. Ia mengira Hoshi belum pulang, dan sengaja menunggu dirinya.
"apa kau tidak sedang membohongi ku"
"maksud anda"
"itu, kau masih mengenakan pakaian yang tadi" tunjuk nya pada jas yang dikenakan Hoshi.
"saya belum sempat membersihkan diri. Karena anda adalah prioritas utama saya"
"apa? kau tahu kan aku sudah memiliki suami. jangan pernah mengatakan hal itu lagi"
"maafkan saya nona"
__ADS_1
"hm, cepat antarkan aku pulang"
"baik, nona"
Selama dalam perjalanan pulang, Hanum memilih memejamkan matanya. Ia tidak tidur, ia sedang sibuk memikirkan kenapa ia mengatakan 'memiliki suami' dengan sangat bangga tadi. Juga mengapa pria yang sudah memiliki kekasih itu mau menikah dengannya.
Ketika turun dari mobil Hoshi, ia memperhatikan tidak ada mobil Ragil yang terparkir di halaman rumah. Hanya mobilnya yang sudah beberapa hari terakhir terparkir di garasi bagian dalam.
Matanya menangkap sosok pria dengan tubuh besar berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu Hoshi mengikuti kemana mata Hanum melihat.
"mereka orang orang kita, anda bisa meminta mereka melakukan apapun. Mereka di sini untuk melindungi anda" jelas Hoshi yang mengerti kegundahan di mata Hanum.
"bukankah ini terlalu berlebihan" singgungnya.
"saya harus tetap memastikan Anda dalam keadaan aman" imbuh Hoshi sebelum ia dengan sopan pamit pulang.
Hanum melanjutkan langkahnya, ia ingin segera sampai di kamar. Lalu merebahkan tubuhnya. Tapi nyatanya setelah berada di atas tempat tidur, ia tidak bisa tidur. Pikirannya selalu memikirkan kenyataan bahwa Ragil sudah memiliki kekasih.
"tolong sadarlah, jangan terlalu terbawa perasaan. Bahkan pernikahan kontrak kalian tinggal 2 bulan lagi" Hanum terus memaksa matanya untuk terpejam. Namun ia tetap tidak bisa tertidur.
Ia memutuskan untuk melihat langit malam dari atas balkon kamarnya. Ketika tiba tiba mobil milik Ragil berbelok dengan keras dan berhenti di halaman depan rumah mereka.
Hanum terkejut mendapati laki-laki itu berjalan dengan tubuh yang bergerak tidak stabil. Ragil sepertinya sedang mabuk. Ini kali pertamanya melihat laki-laki itu mabuk.
Setelah tubuh Ragil tidak terlihat lagi, ia dengan sendirinya tanpa sadar sudah berdiri di dekat tangga. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Ragil yang masih kesulitan saat berjalan.
Bahkan terdengar gelak tawa dari Ragil. Ia terus memperhatikan laki-laki itu yang dengan bodohnya merangkak menaiki anak tangga. Setelah beberapa anak tangga, Ragil berhenti. Kemudian terduduk, dan menyandarkan punggungnya di pegangan tangga.
Untuk beberapa saat ia hanya terdiam. Lalu Ragil bangkit dan melanjutkan langkahnya dengan berjalan kaki. Hanum buru buru kembali ke dalam kamarnya. Ia bersandar di pintu kamar.
Ketika tiba tiba ia merasakan sesuatu menabrak pintu itu dengan keras. Sepertinya Ragil yang menabrak pintu. Tubuhnya membeku, karena suara Ragil yang begitu keras bisa ia dengar. Nyatanya Ragil justru berdiri di depan pintu kamarnya, dan menempelkan keningnya di benda itu. Laki laki itu terdengar meracau tidak jelas.
"hei freezer..." katanya dengan suara nyaring.
"ah, kau bahkan lebih dingin dan beku dari sebuah kotak berukuran kecil itu hahaha"
"seharusnya kamu senang, bisa menikahi aku kan"
"hahaha, tapi kenapa kamu selalu bersikap dingin padaku" tiba-tiba ia mendengar Ragil menangis.
"tentang malam itu, aku benar-benar minta maaf"
"kau berhak membenciku" Lalu Ragil membenturkan kepalanya,
"kotak freezer, ha ha ha... Ragil kembali membenturkan kepalanya di pintu. Dan membuat Hanum yang tidak sempat mengunci pintu terdorong.
Tubuh Ragil mendarat di lantai dengan cukup keras, kemudian ia kehilangan kesadarannya. Sementara itu Hanum langsung menghampiri tubuh Ragil. Pada awalnya ia hanya ingin memeriksa apakah laki laki itu benar-benar tidak sadarkan diri atau hanya tertidur.
Tapi sebuah tangan menjulur, lalu mencengkram lengannya yang tidak digips. Hanum terkejut ketika keduanya sudah berbagi nafas. Ragil bahkan terlihat baik-baik saja, tidak seperti orang yang sedang mabuk.
"lepas, tolong" kata Hanum dengan canggung.
Dengan kesal ia mendorong tubuh Ragil, hingga terjerembab ke samping. Tapi entah bagaimana caranya, Ragil kembali meletakkan kepalanya di bahu Hanum.
Dua sampai tiga kali, ia semakin kesal. Pada akhirnya ia membiarkan laki-laki itu tertidur di sana. Untuk pertama kalinya, Hanum tersenyum melihat Ragil tidur dengan bersandar padanya.
"kau melanggar perjanjian kita"
"hmm" gumam Ragil.
"lain kali aku akan menghukummu"
*
Saat terbangun, ia sudah berada di atas tempat tidur. Sedangkan ia tidak menemukan keberadaan Ragil. Hanum memutuskan untuk bersiap ke rumah sakit. karena ia berniat melepaskan gips di lengannya. Ketika Hanum menyibakkan tirai, ia bisa melihat mobil milik Ragil yang sudah tidak terparkir di sana.
Lalu ia memeriksa ponselnya, baru pukul enam pagi. Ia kemudian memeriksa berita terbaru pagi ini. Dan tidak menemukan satupun berita tentang dirinya lagi. Mungkin benar Ragil dan seseorang telah berpacaran. Sehingga membuatnya tidak lagi jadi bahan berita. Syukurlah.
Namun hal itu berbanding terbalik dengan perasaan Ragil saat ini. Ia sedang berusaha membuat orang orang percaya jika dirinya dan Maura tidak menjalin hubungan apapun. Tapi orang orang sepertinya sudah terlalu percaya dengan bukti foto yang tersebar di media sosial.
Satu satunya cara adalah Maura, membuat wanita itu mengaku apa yang membuatnya ingin menolong Ragil. Padahal karir wanita itu sedang berada di puncak karir.
Ragil mencari kontak nama Maura di ponselnya. Setelah mendapatkan nama Maura, ia langsung menghubungi nomor itu. Sayang, ternyata nomor yang ia miliki sudah tidak aktif lagi.
Lalu ia membuka sosial media, untuk mengirimi Maura pesan. Beruntung kali ini ia bisa menemukan sosial media Maura yang sudah bercentang biru. Ragil mengiriminya pesan.
Hai Maura, bisa ketemu
Tidak lama pesannya langsung dibalas oleh Maura.
Hai Kak Agil,
Kapan kakak ada waktu, aku pasti bisa.
Ragil kembali mengetikkan pesan untuk Maura, setelah itu ia meletakkan ponselnya.
Siang nanti, tempatnya kau yang tentukan
*
Ragil memasuki sebuah kafe yang menjadi tempatnya dan Maura bertemu. Sebuah kafe yang bernuansa vintage. Ia disambut seseorang yang bisa ditebak adalah manager kafe tersebut, karena nametag di bajunya.
"selamat siang"
"selamat siang, reservasi atas nama Maura Kasih"
"baik, mari saya antar" Ragil mengikuti wanita itu naik ke lantai dua, lalu masuk ke dalam sebuah ruangan. Sepertinya ruangan itu disiapkan khusus untuk VIP, atau untuk ruangan rapat.
__ADS_1
Wanita itu mempersilakan Ragil untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. Sementara wanita tadi langsung pamit, lalu menutup kembali pintu ruangan itu.
Tak lama wanita tadi kembali, dan seseorang ikut masuk. Dia adalah Maura, dari pakaian yang dia pakai sudah terlihat mewah. Apalagi rambut panjang yang ia biarkan tergerai. Juga makeup yang membuat wanita itu sangat cantik dan juga elegan.
Maura tersenyum melihat Ragil tampak terpesona olehnya. Nyatanya laki laki itu melihat Maura dengan semirk yang aneh.
"hai, kak. lama nggak ketemu ya" Maura menyodorkan tangan kanannya.
Tapi sayang, Ragil tidak menyambut uluran tangannya. Jadilah, wanita itu berdehem untuk menghilangkan perasaan canggung dan malunya. Ia melihat manager kafe masih di sana, sembari berusaha menutupi senyum di wajahnya.
"tolong menu" ujar Maura sinis.
"silakan nona" manager tadi meletakkan buku menu kehadapan Maura, lalu pada Ragil. Ia dengan canggung berdiri di belakang Maura, yang langsung mendapat pemandangan indah. Yang sangat jarang ia lihat, yaitu Ragil Mahendaru.
Dari sudut matanya Maura bisa melihat jika manager kafe itu sedang melihat ke arah Ragil. Karena kesal ia buru-buru memesan makanan.
"tolong salad dan juga jus jeruk" Maura beralih memandang Ragil. "kakak mau pesan apa" tanyanya.
"e h, steak saja" ucap Ragil sembari meletakkan kembali buku menu kehadapan sang manager.
Setelah manager itu pergi, Ragil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Lalu memandangi Maura dengan semirk. Tapi wanita itu beranggapan jika Ragil sedang menaruh hati padanya.
"ehem, ada apa kakak mengajak ku bertemu" Dengan perlahan Maura menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Ia berusaha bersikap sangat manis dan lembut untuk menarik perhatian Ragil.
"apa kau tidak ingin menjelaskan maksud mu itu" tanya Ragil.
"maksudnya apa, kak" Maura tersenyum dengan lembut. Ia tetap tenang, meski sebenarnya hatinya sangat cemas.
Ragil sedikit memajukan badannya ke depan. Ia menatap tajam ke arah Maura.
"kenapa kau mengaku sebagai kekasihku" Maura tidak kehilangan akalnya, ia tetap tersenyum meski sebenarnya ia sudah menyiapkan dirinya. Tapi saat berhadapan dengan orang yang kamu cintai, semua yang sudah ia siapkan seolah menguap.
"aku hanya ingin membantumu keluar dari masalah ini" ucap Maura dengan lembut.
"hah kau membantuku, kau hanya membuat masalah baru"
"tapi kak, bagaimana pun aku benar-benar tulus membantumu. Dan aku sangat mencintaimu, aku tidak masalah dengan isu apapun asalkan itu dengan mu"
"kau bilang cinta, tapi kau memaksakan dirimu. Kau tahu ini bukanlah cinta"
"kakak, aku mohon hanya untuk beberapa hari. Sampai namamu kembali membaik. Lalu aku akan mengatakan bahwa aku meninggalkan mu. Setelah itu, aku juga akan benar benar merelakan mu"
"Maura, kau tahu apa yang akan terjadi padamu setelah ini semua" Kata Ragil dengan kesal.
"karirku tidak penting, asal aku bisa membalas semua kebaikan kakak padaku. Aku rela menerima apapun kak" ucap Maura lagi.
"Tapi Maura" Ragil seolah kehabisan kata-kata untuk membantah setiap ucapan wanita itu, beruntung seseorang mengetuk pintu.
tok tok
Sang manager kafe datang lagi dengan seorang pelayan. Setelah meletakkan makanan di atas meja, mereka kembali keluar dari sana.
Melihat Ragil berdiri, Maura dengan sedih mencegahnya.
"kakak, makanlah dulu. Aku sungguh minta maaf karena tidak memberitahu mu terlebih dahulu" ucap Maura sembari terisak.
Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat Ragil dengan cepat mencegah tubuh kecil Maura terjatuh. Wanita itu memang terlihat sangat lemah, dan meskipun wajahnya penuh polesan makeup ia terlihat tidak baik baik saja.
"apa kau sakit"
"aku baik baik saja, kak. jangan khawatir" Maura berusaha melepaskan pegangan Ragil pada lengannya. Tapi kemudian ia hampir terjatuh lagi, jika saja Ragil tidak menangkapnya.
"aku akan mengantarkan mu ke rumah sakit"
*
Hanum keluar dari ruangan pemeriksaan dengan sedikit kecewa. Karena ia belum boleh melepaskan gips di lengannya. Padahal ia sudah sangat kesusahan dengan gips itu. Hanum harus rela kembali ke kantor dengan sedikit kecewa.
Sebelum kembali Hoshi memberitahu dirinya untuk bertemu salah seorang klien dari perusahaan besar. Ia dan Hoshi datang sebelum jam makan siang dimulai. Karena orang orang dari perusahaan besar selalu memiliki jam kerja yang sangat disiplin.
"mereka datang, nona" Hoshi menunjuk dua orang laki-laki dengan setelan jas mahal berjalan ke arah mereka.
Hanum bangkit, ia merapikan gaun selutut yang dia kenakan. Ketika orang orang itu mulai mendekat, ia mulai merasa tidak asing dengan orang yang berjalan paling belakang.
"selamat siang, nona Hanum Paradewi. Saya Brian, asisten Tuan Juna Pandawa Lima"
Hanum menjabat orang yang bernama Brian itu, lalu bergantian dengan orang di belakang Brian. Yang membuatnya mengernyitkan keningnya, sebab orang itu hanya berdiam diri. Tidak menyambut uluran tangannya. Dan hanya menatapnya datar.
Ia menarik kembali tangannya. Lalu dengan cepat ia meminta Hoshi untuk menyiapkan jamuan makan siang. Selama makan siang berlangsung ia dan pria di sebelah Brian hanya diam. Sementara Hoshi dan Brian banyak membicarakan tentang film yang akan mereka kerjakan bersama.
Setelah kedua laki laki itu pergi, Hanum memutuskan untuk ke kamar mandi sebentar. Saat ia tiba-tiba tidak sengaja bertemu Ragil dan Maura di depan pintu sebuah ruang VIP.
Meski Ragil dan wanita yang bersamanya mengenakan masker, ia bisa mengenali jika pria itu adalah Ragil.
Hanum melihat tangan Ragil yang sedang berada di pundak Maura. Ragil seperti sedang memeluk Maura, nyatanya ia sedang membantu Maura agar tidak terjatuh. Hanum merasa dadanya nyeri, hanya karena melihat Ragil sedang memeluk seseorang. Padahal ia tidak pernah memiliki perasaan pada laki-laki itu.
Seolah tak terjadi apapun, mereka melanjutkan langkah mereka masing-masing. Pada saat ini lu mereka berdua seolah tak saling kenal. Meski Ragil ingin sekali kembali pada Hanum. Lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun ia juga khawatir melihat Maura yang sepertinya sangat lemah. Jadi dengan berhati hati ia membantu Maura berjalan. Ia juga memastikan tidak ada satupun orang yang mengambil gambar mereka berdua.
Setelah membantu Maura duduk di dalam mobil, Ragil kembali melihat ke belakang. Ia merasa ada seseorang yang melihat ke arahnya. Tapi tidak menemukan siapapun di sana.
Ia buru-buru masuk ke dalam mobilnya, kemudian meninggalkan tempat parkir kafe itu. Sepeninggal mobil Ragil, Hanum keluar dari tempat persembunyiannya. Ia heran kenapa harus membuntuti dua orang tersebut. Tapi yang jelas, ia seperti sedang menangkap basah pasangannya yang sedang selingkuh.
"nona, apa yang anda lakukan di sini"
"tidak ada" Hanum menoleh sebentar ke arah Hoshi, "kita kembali ke kantor"
__ADS_1
"baik nona"