Forever With You My Idol

Forever With You My Idol
bab 7


__ADS_3

Kesuksesan film menjadi hadiah terindah untuk para kru juga pemain. Bonus sedang menunggu mereka semua. Hanum yang kini menjadi penanggung jawab berjanji akan memberikan bonus pada semua yang terlibat.


Elma masih menjadi sekretarisnya. Namun kali ini perkejaan yang semakin banyak, membuatnya tetap membutuhkan asisten sang ayah. Dia benar-benar beruntung bertemu lelaki yang sudah bekerja untuk ayahnya itu. Karena jika tidak ia akan kewalahan menghadapi pekerjaan yang sangat banyak.


"ini jumlah keuntungan dari film kita yang sukses besar" ujar asisten sang ayah. "terimakasih, kak" ucap Hanum sopan.


"anda tidak perlu menggunakan bahasa formal pada saya. Panggil saya seperti Presdir memanggil saya. Hoshi" Hanum tertegun mendengar permintaan dari asisten sang ayah. Dia menatap wajah asisten sang ayah dengan datar.


"tapi aku tidak mungkin memanggilmu dengan nama. Sedangkan ayah sangat menyayangimu melebihi aku" Hoshi menggeleng. "itu tidak benar. Anda adalah segalanya untuk Presdir" sela Hoshi.


"ya, baiklah. kak, Hoshi" kata Hanum dengan kekanakan sembari menekankan kata terakhir. "cukup Hoshi" protes dari Hoshi tidak membuat Hanum kembali menyela. Dia hanya mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah.


*


Pesta yang diadakan untuk keberhasilan film di adakan di sebuah hotel berbintang lima. Semua kru dan pemain datang mengenakan pakaian terbaik mereka. Selayaknya acara penghargaan, karpet merah terbentang sepanjang lobby sampai ballroom. Tidak lupa orang orang penting juga hadir. Mereka yang menaruh begitu banyak perhatian mereka terhadap film itu. Termasuk Rama Prambudi. Dia datang bersama dengan sang istri.


Kehadiran Hanum kali ini mencuri begitu banyak perhatian dari semua orang. Selain karena sekarang dia adalah presiden direktur Paradewa. Wajahnya yang cantik juga gaun yang indah sungguh perpaduan yang tepat. Dia mengalahkan kecantikan para artis yang datang. Saat dia turun dari mobil, hingga berada di tengah-tengah ballroom. Semua orang terang terangan menoleh ke arahnya. Atau sekedar memuji kecantikannya.


Hoshi tampak setia berdiri di sampingnya. Menjelaskan siapa saja orang yang datang di acara itu. Karena interaksi keduanya, yang terlihat mencolok. Membuat seseorang merasakan perasaan aneh. Ragil tidak mengerti kenapa ia benci melihat Hanum bersama lelaki itu.


Dia berjalan ke arah panggung. Lalu meminta mikrofon pada panitia. Membisikan sesuatu pada pemain piano. Kemudian berdiri di atas panggung. "tes tes, selamat malam semuanya" seketika semua orang mengalihkan perhatian mereka ke arah panggung. Termasuk Hanum yang menatapnya dengan tatapan benci. Ragil sedikit menciut, tapi ia harus menyelesaikan apa yang dia mulai.


"malam ini secara khusus saya persembahkan sebuah lagu untuk kalian semua yang sudah bekerja keras untuk film ini" sontak saja orang orang berteriak memanggil namanya.


Ketika lampu lampu mulai di redupkan. Kemudian Sebuah lampu sorot langsung mengenai tubuh Ragil. Suasana berubah menjadi romantis. Dimulai oleh pemain piano yang memainkan jarinya dengan lincah di atas tuts pianonya. Ragil mulai bernyanyi.


Here we are under the moonlight


I'm the one without a dry eye


'Cause you look amazing


Hanum melihat ke arah lelaki itu. Wajahnya yang dingin, menyimpan kebencian terhadap lelaki itu.


I'm sorry for whatever I've caused


Before today I knew I felt lost


But now you're my lady


So take my hand now, see me


'Cause you've made me into this man


I promise I'll treasure you, girl


You're all that I've needed


Completing my world


Ragil melihat tepat ke arah seseorang yang juga sedang melihat ke arahnya di bawah lampu redup. Mereka tidak tahu dua orang itu sedang saling menatap.


You


You're my love, my life, my beginning


And I'm just so stoked I got you


Girl, you are the piece I've been missing


Ragil seperti sedang mengungkapkan isi hatinya lewat sebuah lagu. Dia begitu menghayati lagu itu. Pantaslah dia disebut idol yang sukses besar. Bahkan kemampuan aktingnya tidak diragukan lagi. Ragil kembali bernyanyi membuat setiap wanita yang berada di sana semakin tergila-gila pada Ragil.


Remembering now


All the times I've been alone, showed me the way


Led me here, led me home


Right through that door straight to you


You're my love, my life, my beginning


It's you

__ADS_1


Ia kembali menghayati lagu itu. Ketika matanya tidak sengaja bertemu tatap dengan mata indah itu. Dia menguncinya.


Someone needs to come and pinch me now


I just can't believe what I have found


Standing here by me


Giving me the greatest gift you can


Saying yes and now our life begin


Choosing you daily


So take my hand now, see me


'Cause you've made me into this man


I promise I'll treasure you, girl


You're all that I've needed (all that I need)


Completing my world


You


You're my love, my life, my beginning


And I'm just so stoked I got you


Girl, you are the piece I've been missing


...


it's you by . Seizari Sezali


"Apa kita membayar untuk penampilan dia barusan" tanya Hanum. "iya nona, tapi masalahnya bukan lagu tadi yang seharusnya dia nyanyikan" jawab Hoshi.


Hanum melihat ke sekeliling, orang orang tampak ikut bernyanyi. "hmm, tidak masalah" kata Hanum.


*


Hanum tersenyum tipis "terimakasih atas kehadiran rekan sekalian. Juga terima kasih atas kehadiran para sponsor utama untuk film ini yang saya hormati. Terimakasih atas kerja keras kalian semua. Saya mewakili alm ayah saya August Paradewa, Mengucapkan selamat atas kesuksesan kita bersama. Selamat malam" usai mengatakannya Hanum turun dari panggung.


Setelah acara berakhir, semua orang sudah kembali. Hanya beberapa orang yang masih tinggal. Untuk sekedar berbincang bersama. Hanum terjebak pembicaraan serius antara beberapa rekan bisnis ayahnya yang mulai menawarkan anak laki laki mereka padanya. Dia seperti perawan tua yang tak laku.


"sepertinya anda semua terlambat. Nona Hanum sudah memiliki seorang tunangan" sela Rama yang baru saja bergabung. "ah benar kah, sayang sekali" ujar seorang lelaki paruh baya yang kehilangan banyak rambutnya.


Hanum ingin menyela pembicaraan itu. Tapi dia tidak memiliki keberanian. Ketika tatapan mata mereka tertuju padanya, ia hanya bisa mengangguk. Mengiyakan perkataan Rama. "kalau begitu saya permisi, Nona. Terimakasih atas kerja samanya" pamit lelaki botak itu. Disusul yang lainnya.


"terimakasih untuk kepercayaan bapak bapak sekalian pada rumah produksi kami" ucap Hanum dengan tulus. "sama sama, nona" jawab yang lainnya dengan tersenyum pada nya.


Kini tinggal ia dan Rama yang tinggal. "Hanum" panggil Rama dengan lembut. Saat ini dia sangat merindukan ayahnya. Karena terlalu banyak pembicaraan tentang ayahnya tadi. ia hanya menatap Rama dengan wajah datarnya.


"aku berencana melamarmu untuk putraku, Ndaru" Rama mengatakannya dengan pelan. Seolah takut orang yang tersisa di tempat itu akan mendengarnya. Hanum tak bergeming. Dia sudah bisa menebak kemana masalah tadi akhirnya.


"tapi maaf, sayangnya saya menolak" ucap Hanum dengan sopan. Rama mengangguk angguk tanda mengerti. "tapi maaf juga, kami ingin menjalankan wasiat kedua orang tuamu. Jika Dewa yang memintanya aku tidak akan peduli. Tapi kali ini aku tidak bisa menolak permintaan Deasy" jelas Rama.


"bukankah tidak baik membawa nama orang yang sudah meninggal dalam pembicaraan ini. Dari mana anda tahu ibu saya mengharapkan saya menikah dengan putra anda"


"Dia mengatakannya padaku sesaat setelah kami sama sama pulih dari prosedur operasi. Kamu tidak mengenal baik ibumu sepertiku. Dia adalah cinta pertamaku" tambah Rama. Kali ini Hanum seperti tercubit hatinya. Benar dia tidak mengenal baik ibunya.


"bukankah karena istri anda, akhirnya ayah dan ibu saya bertemu. apa kali ini anda sedang mengarang sebuah cerita" tanya nya.


Rama tersenyum melihat perubahan wajah Hanum. Juga bagaimana sifat Dewa dan juga Deasy menurun padanya. "aku dan ibumu adalah teman sejak kecil. kami berdua tumbuh besar bersama. Aku tidak sedang mengarang sebuah cerita. Luangkan waktumu untuk melihat sisi lain ibumu" Rama berjalan ke arahnya, kemudian menepuk pucuk kepalanya pelan. Lalu beranjak pergi.


"bagaimana" Rama menghentikan langkahnya. "bagaimana caraku mengenal sisi lain ibuku" tambahnya. Rama tersenyum lalu berbalik menghadap Hanum yang sedang menatapnya penuh harap.


"kamu akan tahu suatu saat nanti" Rama kembali tersenyum. Kali ini dia benar benar pergi. Meninggalkan Hanum yang masih ingin mengetahui cerita sebenarnya.


"nona, mobil anda sudah siap" Hoshi membuatnya kembali tersadar. "kakak, apa yang tidak aku ketahui dari ibu" Hoshi menatap Hanum. Dia tidak memiliki jawaban yang ingin didengar oleh nonanya itu. Jadi dia hanya diam.


"aku akan pulang sendiri" Hoshi menyerahkan kunci mobilnya. Dia menunduk hormat saat Hanum berlalu dari hadapannya. Sementara Hoshi menatap kepergiannya dengan iba.

__ADS_1


*


Saat sampai di apartemennya. Hanum tidak langsung mandi atau mengganti gaunnya. Dia mencari sesuatu di laci meja kerjanya. Map biru beludru itu dia letakan di atas meja. Kemudian membukanya dengan sedikit tergesa. Lalu menemukan apa yang sedang dia cari. Sebuah amplop putih panjang yang dia yakini berisikan sebuah surat.


Ia membukanya secara perlahan. Ternyata dugaannya benar, itu adalah sebuah surat. Hanum membuka lipatan kertas itu. Kemudian membaca dengan perlahan.


...Anakku, Hanum Paradewi...


...Terimakasih karena kamu sudah memberikan warna untuk ibu, kamu tumbuh dengan sangat baik dan sehat. Ibu sangat bersyukur karena hal itu. Kamu adalah segalanya untuk ibu. Kamu memberikan ibu kebahagiaan yang berbeda....


...Anakku, Hanum Paradewi...


...Terimakasih sudah mendengar permintaan ibu, untuk berhenti bermain ice skating. Ibu tidak bisa melihatmu terjatuh berkali-kali. Jangan marah pada ayahmu, ya. Karena dialah kamu memiliki kehidupan yang dulu ibu impikan....


...Dokter sudah mengatakannya sejak ibu kecil, jika hidup ibu tidak lah lama. Saat pada akhirnya rasa sakit itu kembali datang. Ibu tidak ingin melepasmu. Ibu memperjuangkanmu. Ibu ingin kamu hidup. Tapi saat ibu melihatmu tubuh semakin besar dan cantik. Ibu ingin mengatakan pada dokter itu. Bahkan narasi tuhan lebih baik daripada prediksi seorang dokter....


...Hingga suatu hari saat umurmu 2 tahun. Kanker ibu memasuki stasiun akhir. Ibu bersikeras menolak pengobatan apapun. Karena itu berarti ibu harus meninggalkan mu untuk beberapa hari. Dokter menyarankan untuk mencari seorang pendonor sumsum tulang belakang. Ayah hampir menyerah. Tapi tuhan menjawab semua doa doa ayahmu....


...Bantuan justru datang dari sahabat sendiri. Ketika kami terlalu sibuk dengan pengobatan ibu. Sampai tak memberitahu kepada siapapun. Beruntung sum sum tulang belakang sahabat ibu cocok. Dia adalah seorang kakak dan juga sahabat yang baik. Dia menjaga ibu sejak kami sama sama berada di rumah panti. Yang ibu tahu dia amat sangat bahagia saat akhirnya ibu menikah dengan ayahmu....


Hanum menangis dengan keras. Sampai sesenggukan. Dia berhenti membaca surat itu untuk beberapa saat. Kemudian membacanya kembali.


...Anakku Hanum Paradewi,...


...Bisakah kamu kabulkan keinginan ibu selama ini. Ibu hanya menginginkan agar kamu bahagia. Hidup ibu tidak lah lama, ibu hanya ingin kamu menemukan tempat lain selain ayahmu. Seseorang yang bisa menjadi, teman juga kakak yang akan melindungi mu. Tempat untuk berlindung selain rumah. Tempat untuk berbagi keluh kesahmu....


...Maaf karena pada akhirnya ibu tidak bisa menemanimu selamanya. Maaf karena akhirnya ibu ingkari janji ibu. Tapi tolong balaskan budi ibu pada sahabat ibu. Dia yang sudah memberikan pertolongan kepada ayah dan ibu. Menikahlah dengan Ragil Mahendaru. Dia laki laki yang baik, seperti kedua orangtuanya....


...Untuk yang terakhir kalinya, ibu meminta maaf padamu. Ibu sangat menyayangimu....


Hanum meletakkan selembar surat itu di atas map biru beludru. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia sangat sedih mengetahui kenyataan pahit tentang penyakit ibunya. Tapi juga bingung dengan permintaan terakhir sang ibu. Cukup lama dia termenung. Hingga suara bel berbunyi membuyarkan lamunannya. Ia melirik jam di dindingnya. Sudah pukul 11 malam. Bertanya tanya siapakah yang bertemu di waktu sekarang.


*


Ragil berdiri dengan canggung. Dia menggaruk tengkuknya karena pemandangan yang sangat menggemaskan. "eh, bisa kita bicara sebentar" katanya tergagap. Sementara Hanum memandangi lelaki itu dengan mata sembab. Mata sembabnya yang susah terbuka lebar. Membuatnya terlihat semakin lucu.


"bicaralah, tapi tetap di tempatmu" Hanum menggunakan jari telunjuknya untuk menunjuk tempat berdiri Ragil. "ah baiklah" ujar Ragil sembari mendudukkan dirinya di lantai depan pintu. Membuat Hanum mengernyitkan dahinya. "kau bilang di sini kan" Hanum memutar bola matanya jengah, melihat tingkah Ragil.


"kau tidak mau memberiku segelas air minum" Hanum hendak menutup pintu apartemennya. "eh tunggu, baik aku bicara sekarang" Kata Ragil sembari menahan pintu yang hampir tertutup.


"menikahlah denganku" Ragil mengatakannya dengan cepat. "apa" Seolah Hanum salah dengar. "Menikah denganku cukup 5 bulan. Hanya sebuah status yang aku butuhkan" ujar Ragil menambahkan.


"apa kamu sedang mabuk. Atau kepalamu terbentur sesuatu. Apa kamu kupa. Kamu bahkan menolakku saat pertemuan kita pertama kali" tanya Hanum.


Ragil menggeleng cepat, "Tapi papaku diam diam memboikotku. Karirku lebih penting dari apapun. Tolonglah aku" Dia hampir mengamuk saat mengetahui satu persatu kontrak dibatalkan. Padahal skandal itu sudah menghilang. Saat tahu penyebabnya adalah sang papa. Dia tidak menolak saat orang tuanya memintanya menikahi Hanum.


"apa yang akan saya dapatkan dari pernikahan itu" Kedua tangan Hanum terlipat di depan dadanya.


"bukankah ayahmu ingin membalas budi baik kedua orangtuaku. Seharusnya alasan itu yang membuat impas" sela Ragil dengan cepat. Dia seperti telah mengenai titik terlemah wanita itu. Seketika raut wajah cantik Hanum berubah.


"kenapa, kamu pasti tahu kan. Hutang nyawa harus di bayar nyawa. Jika bukan karena papaku, ibumu tidak akan hidup lama" Ragil menyeringai, dia merasa sudah menang.


"pikirkan baik-baik" lalu dia meninggalkan Hanum seorang diri kembali masuk ke dalam apartemennya sendiri. Sementara Hanum mengepalkan kedua tangannya erat. Dia berbalik dan membantingnya pintu apartemennya dengan kuat. Menyebabkan bunyi yang cukup keras.


Sedangkan Ragil yang mendengarnya, tersenyum semakin lebar. Dia merasa sudah menemukan cara untuk membuat wanita dingin itu mengalah.


*


Keesokan harinya Hanum yang tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam, dan baru terlelap saat menjelang pagi. Kini terlambat bangun. Dia buru-buru menyiapkan diri untuk ke kantor. Semua gerakannya sangat tergesa-gesa. Hingga ia lupa untuk sarapan.


Saat akan masuk ke dalam lift, seseorang di sana membuatnya membeku di tempatnya untuk beberapa saat. "apa kau tidak masuk. aku sudah hampir terlambat" ujar Ragil yang akan menekan tombol.


Hanum menghela nafasnya. Kemudian masuk ke dalam lift. Dia berdiri tepat di depan pintu lift. Sedangkan Ragil bersandar di dinding lift. Kedua tidak ada yang bersuara. Ketika keluar pun mereka pergi tanpa menyapa.


Tapi sebuah insiden kecil membuat Hanum harus berjalan ke dekat jalan raya untuk menghentikan taksi. Ragil melihat adegan itu semua. Dia tidak berniat membantu Hanum. Dia pergi begitu saja saat melewati wanita itu yang sedang menunggu di tepi jalan.


Siapa yang mengira di kawasan apartemen itu akan susah mendapatkan taksi di jam sibuk. Sepanjang jalan Ragil tidak menemukan taksi yang lewat jalan itu. Jadi tanpa berpikir panjang dia memutar balikan mobilnya kembali ke arah apartemennya.


Dari jauh dia masih melihat Hanum yang masih berdiri di tepi jalan menunggu taksi lewat. Dia berhenti tepat di depan Hanum. Kemudian menurunkan kaca mobilnya.


"naik" Pintanya. "tidak perlu, saya akan menunggu taksi" Hanum menggeleng. "kau naik sendiri, atau kuseret" ancam Ragil. Hanum bergidik ngeri, dia mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam. Dia sudah sangat terlambat. Jika harus menunggu taksi yang belum tentu lewat di jalan ini. Dia akan semakin terlambat.


Jadi di sinilah dia sekarang, duduk dalam diam di sebelah seorang idol. Dia terakhir kali duduk di sana saat Ragil meninggalkannya di tengah jalan yang gelap dan sepi. Mengingatnya saja membuat dia ketakutan.

__ADS_1


Setelah mobil berhenti di tepi jalan, Hanum langsung melompat keluar dan berlari masuk ke dalam gedung.


Meninggalkan Ragil yang menahan senyum tipisnya. Dia merasa lucu melihat wanita tadi terburu-buru keluar dan berlari masuk ke dalam gedung. Kemudian ia menginjak pedal gasnya. Melaju dengan kecepatan sedang menuju ke lokasi syuting. Sementara itu Hanum yang bersembunyi di balik dinding. Mengintip ke luar, saat tidak melihat mobil Ragil lagi. Dia bergegas ke lantai 25. Dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Beruntung dia sudah memberitahukan keterlambatannya kepada Hoshi dan Elma.


__ADS_2