
Ragil yang baru masuk ke ruang tunggu, melihat Hoshi yang tampak sedang sibuk dengan ponselnya. Dia tidak berniat menyapa asisten dari sang istri. Ia justru bertanya pada produser acara itu, alih alih menanyakan langsung pada yang bersangkutan.
"pria yang sedang menunggu di ruang tunggu, bukankah asisten Presdir Paradewa" tanyanya pura pura tidak tahu.
"iya, lagi dimakeup sama Puan" jawab Tomi.
"oke" ujar Ragil tidak peduli.
Tapi keinginannya untuk melihat Hanum sangat kuat. Sejak semalam ia tidak bisa tidur, malah sibuk memikirkan Hanum. Setelah bangun kesiangan tadi pagi, dia berharap ada keajaiban. Yang bisa membuatnya melihat Hanum.
Nyatanya Tuhan mengabulkan keinginannya. Setelah kesal karena masalah di kantor, rasanya hatinya langsung ringan karena mendengar kedatangan wanita cantik itu. Masalahnya sepertinya menguap begitu saja.
Dengan berhati hati ia memutar kenop pintu ruangan makeup. Lalu melihat Puan, wanita yang tadi meriasnya juga. Setelah memberi isyarat pada Puan, kemudian dia duduk di sofa dalam diam.
Matanya tidak lepas dari wajah cantik itu. Sikapnya kali ini membuat Puan sedikit heran. Pasalnya Ragil tidak pernah mau menunggu giliran.
"apa ada yang datang" tanya Hanum dengan mata yang masih terpejam. Karena Puan sedang mengaplikasikan makeup di matanya.
"ah, iya. sepertinya dia ingin memperbaiki makeup nya" jawab wanita itu dengan tergagap.
"oh, apa saya sudah selesai. mungkin dia harus melakukan nya dengan cepat" katanya membuat Ragil menahan tawanya.
Puan melirik ke arah Ragil, yang sedang mengarahkan ponsel miliknya ke tempatnya bekerja. Dengan berhati hati ia mengabadikan momen itu. Wajah cantik Hanum yang tampak sangatlah cantik. Ragil kembali menyimpan ponselnya saat Hanum sudah selesai dengan riasan wajah nya.
"ah, sebentar lagi Presdir. Anda tidak perlu khawatir dengan keadaan orang itu" Puan melirik Ragil dari ujung matanya.
"baiklah, saya mengerti" ujar Hanum polos. Dia tidak menyadari ketika ia membuka matanya, ada sosok yang sedang menatapnya dengan tatapan hangat. Hanum berdiri lalu memutar tubuhnya, saat ia baru sadar Ragil ada di sana. Dia tidak tahu harus berbuat apa, karena ada orang lain di ruangan itu.
Ragil ikut berdiri, ia melihat Hanum yang tampak sangat cantik. Dengan perlahan ia mendekati Hanum. Lalu tersenyum dengan lembut.
"apa"
"awas kau menghalangi jalan ku" ucap Ragil tak peduli. Dengan cepat Hanum menghindari laki laki itu. Setelah meraih tas miliknya, ia keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Ragil yang tersenyum puas.
"ada apa" pertanyaan dari wanita itu menyadarkan tujuannya datang ke ruangan itu.
"tidak jadi"
*
Acara talk show berjalan lancar. Hanum yang masuk ke ke dalam set acara itu, cukup menarik perhatian banyak orang. Penampilannya yang elegan juga cantik. Dress berwarna salem, dengan lengan pendek. Namun gips di lengannya seperti tidak terlihat. Karena tidak ada satupun orang yang menanyakan hal itu. Termasuk aktris cantik yang ada di ruang makeup tadi, yang ternyata adalah pembawa acara tersebut.
"selamat malam, apa kabar" sapa aktris cantik bernama Yasmine itu.
"selamat malam juga. kabar saya baik. bagaimana dengan anda" sapanya balik.
"saya baik juga, silahkan duduk" ujar Yasmine.
Setelah ia duduk, mulai lah Yasmine menanyakan pertanyaan yang sudah ia pelajari tadi. Semua berjalan dengan lancar. Hingga Yasmine memberitahukan ada seorang lagi bintang tamu mereka.
Hanum menyembunyikan ekspresi terkejut nya saat Ragil muncul. Dia tetap memasang wajah ramah ketika Ragil menyapanya. Lalu sesuatu yang tidak bisa ia bayangkan sebelumnya terjadi.
Ragil melepaskan jas yang ia kenakan, kemudian meletakkan jas itu di pundak Hanum. Semua mata menatap ke arah mereka dengan terkejut. Bahkan Yasmine juga sampai lupa untuk menutup mulutnya.
Seolah tak terjadi apa-apa, Ragil mendudukkan dirinya di sisi Hanum. Setelah itu Yasmine mulai kembali membawakan acaranya.
"Ragil Mahendaru, wah sangat gantleman ya" puji Yasmine atas perbuatannya itu yang cukup mengundang banyak spekulasi.
"tubuhnya bisa membeku" ucap Ragil meyakinkan.
Yasmine mengerti akan sikap manis yang ditunjukkan Ragil tadi. Nyatanya sejak tadi dia juga sudah sangat kedinginan. Tapi siapa sangka Ragil akan memberikan perhatian manis pada wanita lain.
Sementara Hanum kembali menunjukkan senyum ramahnya, tidak ingin orang melihatnya dengan pipi merona.
"bagaimana pendapat nona Hanum dengan sikap manis dari idol satu ini" tanya Yasmine tiba tiba.
"ah, bukankah lelaki baik mengerti bagaimana caranya menghargai seorang wanita. Sepertinya ia sedang menunjukkannya, yah saya terkesan" jawab Hanum.
Ucapnya terdengar biasa saja, tapi tidak untuk Ragil. Ia mengerti jika Hanum sedang menyindirnya secara halus.
Acara itu berakhir dengan baik. Mereka semua merasa puas dengan hasil akhirnya. Setelah berpamitan dengan produser acara itu, Hanum langsung menuju ke baseman bersama Hoshi.
Saat ia sudah berdiri di sisi mobil Hoshi, sebuah mobil berhenti di depan mobil Hoshi. Lalu kaca mobil terbuka.
"ikut denganku" pinta Ragil pada Hanum.
Hoshi melihat ke arah Hanum, setelah Hanum mengedipkan kedua matanya. Hoshi menutup kembali pintu mobil yang sudah ia buka. Kemudian ia berpindah membukakan pintu mobil Ragil.
Setelah mobil itu meninggalkan baseman, mobil Hoshi pun ikut pergi meninggalkan gedung stasiun televisi itu. Tanpa mereka sadari, seseorang mengabadikan momen langka itu.
*
"bagaimana jika orang menganggap hubungan diantara kita tidak biasa" ujar Hanum memecah kesunyian mobil itu.
"hmm"
"kau tidak takut karirmu akan hancur" tanya Hanum penasaran.
__ADS_1
"apa yang akan mereka lakukan, mereka tidak bisa menjatuhkan diriku hanya karena berbuat baik pada seorang wanita" ucap Ragil santai.
" bagaimana jika seseorang memberitahu dunia. Kalau hubungan antara Ragil dan Presdir Paradewa adalah hubungan yang tidak biasa"
"ada apa, kau takut orang akan tahu" pancing Ragil sembari menyeringai.
Hanum mengalihkan pandangannya, "bukankah kamu tidak ingin orang yang tahu tentang status kita"
"kau takut orang akan bergunjing tentang mu, karena menikah dengan seorang idol. oh iya, bukankah kamu cukup berkuasa" sindir Ragil dengan senyum menyeringai.
Hanum kembali dibuat kesal karena ucapan Ragil. Yang seakan menuduhnya akan membuat status hubungan diantara mereka diketahui publik. Selama sisa perjalanan, ia memilih diam. Akhir pekan lalu lintas semakin padat, membuat mobil Ragil beberapa kali terjebak kemacetan.
Beruntung tidak lama mereka sudah sampai di rumah. Dengan kesal Hanum masuk ke dalam rumah terlebih dulu. Dia bahkan membanting pintu mobil Ragil dengan kuat. Jas Ragil yang masih melekat di tubuhnya, membuatnya semakin marah. Dengan kasar ia menarik jas yang beberapa waktu lalu terus menghangatkan tubuhnya.
Setelah itu dia melempar jas itu sembarang. Lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia berpikir sejenak di depan cermin.
"laki laki itu harus menderita sepertiku kan. Dia juga harus merasa dibuang dan dicampakkan" ucapnya pada dirinya sendiri.
Dengan cepat ia kembali ke kamar tidur. Meraih ponselnya, kemudian mengotak atik benda persegi itu.
bagaimana cara membuat laki laki itu bertekuk lutut, dia mencari semua kesukaan Ragil di internet. Termasuk tipe ideal laki laki itu.
*
Ragil yang tidak terbiasa tidur dalam keadaan lapar, memutuskan untuk ke dapur. Tapi seseorang di sana justru membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ia tidak pernah melihat wanita itu terlihat jauh lebih cantik dari biasanya. Hanya karena ia berdiri di depan kompor, dengan tangan yang sedang mengaduk sesuatu di atas panci kecil.
Tubuhnya bergerak sendiri hingga ia berdiri persis di belakang Hanum. Ia bisa menghirup aroma sampo yang menguar dari rambut setengah basah yang dibiarkan tergerai itu. Sepertinya Hanum kesulitan mengeringkan rambutnya dengan satu tangan dibalut gips.
Ketika tiba tiba Hanum berbalik, tubuh mereka berdua saling membentur. Terkejut, sudah pasti. Dengan sigap Ragil mengunci pergerakan Hanum. Satu tangannya berada di tepi meja, sedangkan tangannya yang lain berada di pinggang ramping Hanum. Saat tubuh Hanum sedikit kehilangan keseimbangan.
Untuk beberapa detik, mata mereka saling bertemu. Ragil mengalihkan pandangannya ke arah bibir Hanum, lalu kembali lagi menatap mata indah itu. Nafasnya menyapu seluruh wajah cantik itu. Hingga membuat rona merah di pipi Hanum tidak lagi bisa ditutupi.
Dengan sedikit cepat Hanum melepaskan dirinya. Lalu kembali berbalik menghadap kompor yang menyala.
"mau apa" tanya Hanum polos.
"hm, apa yang kau masak" ia dengan penasaran melihat ke dalam panci dari balik tubuh Hanum. Hingga tubuhnya semakin dekat dengan tubuh Hanum.
"hanya mie instan" jawab Hanum sedikit canggung karena deru nafas Ragil yang bisa ia rasakan di belakang telinganya.
Setelah itu ia mematikan api, kemudian memindahkan mie instan itu ke dalam mangkuk yang sudah ia sediakan sejak tadi.
Mencium aroma mie yang sangat enak, membuat perut Ragil kembali berontak. Hanum bisa mendengar suara dari dalam perut Ragil dengan jelas. Ia menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.
"mau" tawarnya sembari menyodorkan sendok ditangannya.
Melihat Hanum membawa mangkuk ke meja makan, ia pun ikut menyusul ke meja makan. Hanum mendudukkan dirinya, lalu menyendok mie dalam porsi banyak. Meniupnya beberapa kali, kemudian memasukkan mie itu ke dalam mulutnya.
Ragil tertegun dengan jumlah mie yang bisa masuk ke dalam mulut Hanum. Dia ikut duduk di depan Hanum. Sambil menelan ludah, dengan sabar menantikan gilirannya memakan mie itu.
Siapa sangka mie dalam jumlah besar disodorkan Hanum ke depan mulut Ragil. Sempat ragu tapi kemudian ia langsung memasukkan mie itu dengan cepat. Mengunyahnya lalu menelan dengan cepat juga.
"enak" tanya Hanum sembari kembali memasukkan mie ke dalam mulutnya.
"hm, enak"
Ragil membulatkan kedua matanya, ia sedikit terkejut Hanum masih menggunakan sendok bekasnya untuk ia sendiri.
"itu sendok bekasku kan" ujar Ragil.
"iya, kenapa" tanya Hanum sembari menyodorkan sesendok penuh mie terakhir dari mangkuknya.
"kamu tidak masalah menggunakan bekasku" Kata Ragil dengan penasaran.
Tapi bukannya menjawab, Hanum malah membawa mangkuk dan sendok itu ke tempat cuci piring. Meninggalkan Ragil dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Padahal wanita itu tadi bersikap sangat dingin padanya. Tapi kenapa sekarang bersikap begitu manis.
Dia terus memperhatikan Hanum yang sedang berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk sembari berjalan menaiki anak tangga. Ragil yang sudah kenyang dengan dua sendok mie, memutuskan ikut naik. Setelah mematikan lampu dapur, ia bergegas menaiki anak tangga.
Langkahnya terhenti saat melihat Hanum yang kesusahan dengan rambut basahnya. Dia dengan perlahan meraih handuk di tangan kanannya. Kemudian menuntun Hanum untuk duduk di sofa di depan kamar mereka berdua. Hanum duduk menyamping dan memunggunginya.
"apa yang kau lakukan" tanya Hanum curiga.
"diamlah, aku mau menggantikan mie yang baru saja kumakan" jawab Ragil sembari membenarkan posisi kepala Hanum dengan hati hati.
Dengan lembut, ia mengeringkan rambut basah Hanum yang sebenarnya sudah mendekati kering. Tapi Ragil terus melakukannya, dia sepertinya tidak bisa lepas dari Hanum. Ia begitu nyaman berada di sisi wanita yang selalu bersikap dingin padanya.
"apa masih lama" ucap Hanum tak sabar.
"sebentar lagi, bersabarlah"
"oh, oke" Hanum menyandarkan lengannya ke sofa. ketika tiba tiba rasa kantuknya menyerang. Dia tidak lagi bisa menahan, dan tertidur dengan cepat.
*
Ragil menyudahi acara mengeringkan rambut Hanum. Dia tidak melihat Hanum bergerak sejak tadi. Firasatnya mengatakan wanita itu pasti tertidur. Dugaannya benar, ketika ia dengan sangat pelan membalikkan tubu Hanum.
Wajah damai saat sedang tidur, terlihat jauh lebih manis dan cantik. Ragil memandang wajah itu dengan tersenyum senang. Bagaimana bisa ia melukai wanita itu dulu.
__ADS_1
Dengan hati hati ia merapikan anak rambut Hanum ke belakang telinga. Kemudian ia kembali sibuk menatap wajah cantik yang sangat menggodanya akhir akhir ini.
"apa kau akan marah kalau aku masuk ke dalam kamarmu" tanya lirih.
Setelah mengatakan itu, ia berjalan ke depan pintu kamar Hanum. Membukanya lebar-lebar, lalu berbalik ke sofa. Dengan hati hati mengangkat tubuh ramping Hanum. Merasa tidurnya sedikit terusik. Hanum memeluk Ragil, mencari kenyamanannya sendiri.
Sementara itu, Ragil hampir saja meledak. Gara gara Hanum yang terus menggerakkan kepalanya di dadanya. Dia membawa Hanum ke dalam kamarnya. Lalu meletakkan tubuh Hanum dengan sangat perlahan. Seolah takut membangunkan Hanum. Menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.
Sekali lagi ia merapikan anak rambut yang menutupi wajah Hanum. Ketika matanya tidak bisa lepas dari bibir merah muda itu. Ia tidak lagi bisa menahan gejolak di dalam dirinya. Dengan sangat pelan, Ragil mendaratkan kecupan singkat di bibir Hanum.
Setelah itu ia kembali ke dalam kamarnya sendiri. Lalu terlelap begitu ia menyentuh ranjang empuk nya.
*
Keesokan paginya, Hanum terbangun dengan perut yang terasa sangat sakit. Dia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Lalu mendapati jika pagi itu ia baru saja datang bulan.
Karena terlalu lelah, siklus menstruasinya tidak pernah teratur. Kali ini datang lebih awal dari bulan lalu. Juga sakitnya yang terasa lebih sakit dari sebelumnya.
Dia bergegas membersihkan dirinya. Setelah itu bersiap ke kantor. Ketika rasa laparnya kembali menyerang. Hanum memutuskan untuk ke dapur. Tapi sekali lagi, ia tidak tahan dengan nyeri kram perut yang sedang dia rasakan.
"agggh, kenapa sakit sekali" ujarnya sembari mendudukkan dirinya.
Setelah beberapa saat tidak ada perubahan. Dia memutuskan untuk menghubungi seseorang.
"hari ini kau urus pekerjaan sendiri. Aku tidak bisa pergi ke kantor. Jika ada yang perlu kutanda tangani datanglah ke rumah" katanya pada seseorang di seberang sana.
"apa ada masalah" sahut Hoshi.
"tidak, hanya sedang tidak enak badan" katanya sembari meletakkan kembali roti ke dalam tempatnya semula.
"apa anda perlu dokter"
"tidak, aku hanya butuh istirahat. Datanglah jika kau butuh tanda tanganku. Sekarang aku ingin beristirahat" pintanya.
"baik nona, selamat beristirahat"
Setelah menghubungi Hoshi, ia kembali ke dalam kamarnya. Merebahkan tubuhnya untuk mengurangi rasa sakit yang sudah menjalar sampai ke kaki. Dia juga tidak lupa mengonsumsi obat pereda nyeri sebelum berbaring.
Tanpa ia sadari seseorang mendengar ucapan nya di dapur tadi. Dia yang baru saja selesai lari pagi, malah mendengar suara Hanum yang sedang menelepon seseorang.
Saat ini ia sedang gelisah, antara pergi ke acara musik atau tetap di rumah. Tapi kontrak dengan acara musik itu tidak mudah dibatalkan. Jadi ia memutuskan segera pergi ke acara itu. Lalu dengan cepat pulang kembali ke rumah.
Ragil tidak mengira semua akan selalu sejalan dengan perkiraannya. Nyatanya dia harus menunggu terlalu lama di acara musik itu. Dengan gelisah ia terus menatap ke arah jam di tangannya.
Usai melakukan pengambilan gambar untuk bagiannya, Ragil langsung bergegas menuju parkiran dengan mengenakan masker juga Hoodie. Yang nyatanya para penggemarnya bisa tahu itu adalah dia.
"Ragil boleh minta tanda tangannya"
"Ragil boleh foto bareng nggak"
"Ragil..."
Dia hampir meledak meladeni orang orang yang menyebut diri mereka penggemar. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti kemauan mereka.
Setelah beberapa menit yang menegangkan, ia akhirnya bisa duduk nyaman di balik kemudi. Kemudian dengan cepat ia mengendarai mobilnya kembali ke rumah. Tapi sayangnya jalanan terlalu padat. Dia sekali lagi harus mengumpat karena harus terjebak di kondisi yang tidak menguntungkan.
"sial, sial, sial" gerutunya.
*
Hanum dan Hoshi sedang mendiskusikan tentang dokumen yang baru dibawa oleh Hoshi. Ketika tiba tiba ia mendengar suara mobil datang. Kemudian Ragil masuk dengan terburu-buru.
Ia hanya menatapnya dengan kening berkerut. Lalu kembali fokus dengan penjelasan dari Hoshi. Sementara Ragil malah duduk di sofa seberang mereka berdua.
"ada apa" tanya Hanum disela penjelasan dari Hoshi.
"jangan pedulikan aku, lanjutkan saja pekerjaan kalian" ujar Ragil.
Mereka berdua kembali sibuk dengan pembicaraan yang tidak kunjung selesai. Padahal Ragil sudah berkali kali mencari cara, agar Hanum kembali melihatnya. Tapi sepertinya wanita itu terlalu fokus pada pekerjaannya.
"maaf kau harus bekerja keras hari ini" ucap Hanum setelah selesai membubuhkan tanda tangan nya.
"anda tidak perlu sungkan, nona. semoga anda lekas sembuh. saya permisi" pamit Hoshi sembari berdiri.
"hm, hati hati di jalan" Hoshi menunduk untuk memberi hormat. Lalu berpindah ke arah Ragil, ia pun memberi hormat. Setelah lak laki yang menjadi asistennya pergi, Hanum bangkit dari duduknya. Lalu berjalan dengan lemas sembari menahan rasa nyeri di perutnya.
Ragil ikut bangkit, ia melihat perubahan Hanum yang memang seperti sedang kesakitan.
"apa kau sakit" Hanum berhenti mendengar pertanyaan dari Ragil.
"hmm, tidak masalah" jawab Hanum.
Dengan kesal ia menyusul Hanum, lalu dengan tiba-tiba memotong jalan Hanum. Hingga membuat wanita itu terkejut dengan sikap Ragil.
"bisakah kamu tidak mengundang laki laki lain ke rumah kita"
Siang itu Hanum benar benar dibuat heran dengan sikap Ragil. Dia tidak bisa menebak kemana arah pemikiran laki laki itu.
__ADS_1