
Sore di akhir pekan ini langit berubah kelabu. Hujan rintik rintik membuat para pejalan kaki melindungi kepala mereka dari air hujan. Hanum baru saja melepas kepergian Elma dan Hoshi untuk mengurus pekerjaan di luar kota. Ia duduk sendiri di ruangannya, memandang ke arah langit kelabu itu.
Ingatannya kembali ke siang tadi. Pada laki-laki yang sudah mencuri ciumannya tempo hari. Rasanya ia jadi gelisah, bagaimana jika berita yang beredar itu benar. Tapi ia juga tidak memiliki hak untuk marah pada laki-laki itu.
Setelah menunggu beberapa saat, ia pun memutuskan untuk pulang. Hanum berada di dalam lift sendirian. Ia memilih pulang lebih lama, karena tidak ingin mendapat pandangan aneh dari para karyawannya.
Ia bersandar di dinding lift, kemudian menggerak gerakan kakinya untuk mengusir rasa bosan. Sedangkan tangannya yang lain menenteng tasnya. Saat pintu lift terbuka, ia dibuat terkejut karena kehadiran seseorang di sana. Pria yang mengenakan hoodie itu, bersandar dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku hoodienya.
Meski memakai masker, juga topi yang menutupi seluruh wajahnya ia tahu betul siapa orang itu. Tapi Hanum berpura-pura tidak mengenalnya, karena beberapa karyawannya masih ada di depan lobby. Ia berjalan melewati Ragil sembari membuang pandangannya ke sembarang arah.
Ragil mendengus kasar melihat Hanum berpura-pura tidak melihatnya, ia berjalan mengikuti Hanum beberapa langkah di belakang wanita itu. Saat sampai di depan pintu lobby, ia melihat Hanum akan bersiap menembus rintik rintik hujan.
Sebelum wanita itu benar-benar pergi, Ragil meraih lengannya. Hingga tubuh Hanum berhenti mendadak. Hanum nampak terkejut, ia melihat ke arahnya untuk beberapa saat. Lalu melihat ke arah beberapa karyawannya yang tampak tidak terlalu peduli dengan kehadiran mereka berdua.
"apa yang kau lakukan" ucap Hanum dengan pelan.
"mau ke mana" tanya Ragil.
"pulang, memang kemana lagi" jawabnya ketus. Hanum mencoba melepaskan tangan Ragil yang masih menahan lengannya. Tapi tidak bisa, karena Ragil justru menariknya semakin dekat.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat mata Ragil yang masih mengenakan make-up. Juga telinganya ditindik. Sepertinya laki-laki itu sehabis dari tempat syuting.
"kau mau basah kuyup karena kehujanan" Ragil memberinya peringatan.
"bukan urusan mu"
"naik mobilku" katanya sembari menarik Hanum dengan kasar.
"tidak, apa yang akan orang orang katakan jika melihatmu dan diriku di dalam mobil yang sama"
Ia menghentakkan tangannya dengan kuat. Dan berhasil.
"Hanum"
Setelah berhasil melepaskan dirinya, Hanum langsung berbalik. Dan berjalan setengah berlari, menembus rintik hujan. Ia terus berjalan, sampai ke halte bus terdekat, meski sesekali ia melihat kebelakang. Untuk memastikan Ragil tidak mengejarnya. Di sana banyak orang yang sedang menunggu bus. Hanum berdiri dibarisan paling depan. Air hujan masih bisa mengenai tubuhnya. Ia memeluk lengannya, untuk mengurangi rasa dingin yang mulai ia rasakan.
"Presdir, silakan duduk" salah seorang membuatnya menoleh ke arah sumber suara.
"ah tidak, terimakasih. kau saja yang duduk"
"apa tangan anda baik baik saja" tanya yang lainnya.
"tentu, hanya retak" katanya dengan ringan. Ia bahkan bisa menunjukkan senyum ramahnya.
"anda sangat mirip dengan mendiang Presdir sebelumnya. Bahkan senyum kalian sekilas terlihat sama" puji salah seorang dari mereka.
"iya benar" susul yang lainnya.
"terimakasih"
Sebuah mobil bus mendekat dan berhenti di depan halte itu. Mereka yang sudah menunggu sejak tadi langsung bergegas naik ke dalam bus. Tapi Hanum yang tidak pernah naik bus dengan rute itu, tetap diam di sana.
"anda tidak naik" tanya seseorang di ambang pintu bus.
"tidak, rute bus ini tidak searah dengan rumah saya"
"kalau begitu, saya duluan presdir"
Setelah bus itu berjalan, Hanum duduk sendirian di tempat itu. Hujan yang awalnya gerimis, jadi semakin deras. Saat itu ada seseorang yang ikut bergabung dengan Hanum. Namun ia tidak menyadari kedatangan orang itu.
Sementara orang itu adalah Ragil. Ia berdiri dan bersandar di tiang. Sesekali memperhatikan Hanum. Melihat Hanum hanya diam, ia memutuskan untuk duduk di samping Hanum.
"apa kau akan terus menunggu hujan reda" katanya sembari ia melihat apa ada orang lain di sana.
"apa yang kau lakukan di sini" ucap Hanum sinis.
"entahlah, aku seharusnya menjemput istriku. Tapi dia malah memilih duduk di halte bus, daripada pulang dengan ku" sindirnya.
"bagaimana kalau ada yang mendengar" dengan panik ia melihat ke sekeliling. Tapi tidak menemukan siapapun di sana.
"cari siapa, orang orang memilih pulang dengan cepat saat hujan turun. Bukannya tetap di pinggir jalan"
"aku sedang menunggu taksi" Hanum kembali membuang wajahnya saat ia tidak sengaja bertemu tatap dengan Ragil.
"dasar keras kepala"
"bukan urusanmu"
Hujan deras disertai petir membuat Hanum sedikit takut. Ia menutup telinganya saat tiba tiba terdengar petir yang sangat keras.
"naik mobilku ya" bujuk Ragil. Kali ini Hanum mengangguk menyetujui karena beberapa kali petir masih terdengar.
Akhirnya mereka berdua menembus hujan untuk menuju ke tempat mobil Ragil. Karena menggunakan payung kecil, dan Ragil tidak membiarkan Hanum kehujanan. Jadilah tubuh Ragil basah karena terkena air hujan. Tapi dia tidak memberitahukan hal itu pada Hanum.
*
Hanum dan Ragil sudah sampai di rumah. Mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Setelah beberapa saat Ragil keluar, ia kemudian berjalan ke dapur. Menuang air ke dalam panci kecil, lalu meletakkan di atas kompor.
Ia mulai merasa kedinginan, karena itu ia ingin membuat teh hangat. Sambil menunggu air mendidih, Ragil duduk di sofa ruang keluarga. Tidak butuh waktu lama, ia tertidur. Dan meninggalkan air yang sudah mulai mendidih.
Hanum datang ke dapur, ia mulai kelaparan sejak tadi. Saat sampai di dapur, ia melihat panci di atas kompor yang menyala.
"ya ampun" ia langsung mematikan kompor itu. Beruntung air di dalam panci masih tersisa sedikit, jadi tidak membuat panci itu terbakar.
Hanum mencari keberadaan Ragil, ia melihat laki-laki itu tertidur dengan posisi terduduk di sofa.
Ia menghampiri Ragil, "Ragil, kenapa kau meninggalkan api menyala tadi" katanya.
"hah kamu bilang apa" ucap Ragil lemah dicampur terkejut karena terbangun tiba tiba.
"ada apa dengan suaramu, apa kau sakit" Hanum meletakkan punggung tangannya di atas kening Ragil.
__ADS_1
Tapi pria itu menepisnya, "aku baik baik saja"
"kau demam" Ragil mencoba memperbaiki posisi duduknya, tapi kepalanya terasa pusing. Ia kembali menyandarkan punggungnya, lalu memijat kepalanya dengan perlahan.
"apa kau sudah makan" Ragil menggeleng.
"berbaringlah, aku akan membuatkan bubur untukmu"
"hmmm" dengan perlahan Ragil merebahkan tubuhnya. Tapi saat ia ingin mengangkat kakinya, ia sedikit kesusahan. Melihat itu, Hanum membantunya.
"tunggu sebentar" Hanum berbalik kemudian dengan cepat pergi ke dapur. Ia memasak bubur dan juga menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri dengan seadanya. Sesekali ia melihat ke arah Ragil.
Beberapa saat kemudian ia sedang membantu Ragil untuk duduk. Menyuapi pria itu dengan bubur. Membantu memegang gelas, saat Ragil minum obat. Lalu membantunya untuk kembali rebahan.
Hanum berlari ke lantai dua, dan masuk ke dalam kamarnya. Ia meraih selimut miliknya yang ada di atas tempat tidur. Kemudian kembali turun, dan menyelimuti tubuh Ragil.
"gips ini benar benar merepotkan" ucapnya sembari mengangkat lengan yang terbalut gips.
Hanum merapihkan sisa makan mereka berdua. Ia juga sesekali mengompres Ragil, dan memeriksa suhu tubuh Ragil. Karena ia sangat kelelahan, Hanum tertidur dengan posisi terduduk di lantai. Tangannya menggenggam tangan Ragil.
Saat tengah malam, Ragil terbangun. Ia melepaskan kain kompresan di keningnya. Lalu mencoba menarik tangannya yang lain, karena ia merasa sesuatu membuat tangannya hangat.
Ketika dia melihat tangan Hanum sedang menggenggam tangannya, ia mengurungkan niatnya untuk menariknya. Ia juga memandang wajah Hanum yang sedang terlelap.
Merasa sudah tidak demam lagi, Ragil mendudukkan dirinya. Ia melihat posisi tidur Hanum yang sangat tidak nyaman, pasti akan membuat tubuh wanita itu sakit nantinya.
Ragil dengan sangat hati-hati membawa tubuh wanita itu, dan meletakkannya di atas sofa. Ia merapikan rambut yang jatuh menutupi wajah Hanum. Dengan sangat hati-hati, ia sangat takut Hanum akan terbangun.
Setelah memastikan Hanum nyaman tidur di atas sofa. Ragil berniat ingin duduk di sofa lainnya, tapi baru saja ia bergerak. Tubuh Hanum sudah bergerak dengan tiba-tiba ke pinggir sofa, hingga membuat wanita itu hampir terjatuh. Dengan sigap ia mencegah tubuh Hanum agar tidak terjatuh. Dan dengan perlahan ia membenarkan posisi tidur Hanum.
Akhirnya ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sisi sofa yang sama dengan Hanum. Ia menjadikan lengannya sebagai bantal untuk kepala Hanum. Juga tubuh Ragil sebagai pelindung, agar Hanum tidak terjatuh.
Ia sangat terkejut, ketika Hanum meletakkan tangannya di atas lengan Ragil. Dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Mungkin Hanum yang sedang tidur menganggapnya sebagai bantal guling.
Ia harus menahan nafasnya karena Hanum beberapa kali menggerakkan kepalanya di depan dada Ragil. Tapi setelah beberapa menit, ia akhirnya tertidur pulas. Dengan tangan yang ikut memeluk Hanum. Jadilah mereka berdua tidur dengan saling memeluk.
*
Keesokan paginya, Hanum terbangun lebih dulu. Ia menghirup wangi tidak biasa di depannya. Dengan perlahan ia membuka matanya. Matanya terbelalak, ketika mendapati dirinya tengah memeluk seseorang. Lalu ia mendongak, dan hampir berteriak saat wajah Ragil begitu dekat dengan wajahnya.
Dengan cepat ia menutup mulutnya, agar tidak berteriak.
Karena ia berusaha melepaskan pelukannya, Ragil pun terbangun. "tolong berhenti" pinta Ragil dengan suara khas bangun tidurnya. Yang terdengar sangat seksi bagi Hanum.
Menyadari Hanum sedang terpesona dengan suaranya. Ia kembali menggoda Hanum.
"selamat pagi, apa tidurmu nyenyak" ucapnya sembari mengecup pucuk kepala Hanum.
"apa yang kau lakukan" Hanum mendongak menatap Ragil dengan tajam.
"kenapa, kamu mau di tempat yang lain" godanya.
"sudah kubilang berhenti bergerak"
"aku tidak bisa bernafas"
Dengan gerakan sangat cepat Ragil berhasil menindih Hanum. Hingga membuat wanita itu membulatkan matanya. Ragil menatapnya dengan lembut. Laki-laki itu bahkan terpukau karena kecantikan yang dimiliki oleh Hanum.
"cantik"
Hanum buru buru menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "jangan melihatku"
"kenapa, kau kan memang cantik"
"iya aku tahu, tapi tidak saat ini. Aku baru bangun tidur" rengek Hanum yang terdengar sangat lucu untuk Ragil.
Dengan menggunakan satu tangannya, Ragil menyingkirkan kedua tangan Hanum. Ia kembali menatap Hanum. Kali ini Hanum masih berusaha menghindari tatapan Ragil.
"tatap mataku"
"tidak mau"
"dasar keras kepala" lalu sesuatu yang lembut dan hangat menempel di bibir Hanum.
Ragil menciumnya dengan sangat lembut. Ia lupa jika mereka berdua tidak boleh melakukan hal itu. Karena perlakuan manis Ragil berhasil membuat dinding pertahanan di hatinya runtuh.
Dengan perlahan Ragil menggigit bibir bawahnya. Seperti mengerti, Hanum membuka mulutnya. Dan mereka berdua melakukan ciuman yang dalam.
Ragil menghentikan ciumannya, ia memandang wajah Hanum yang masih terpejam. Lalu ia mengecup kening wanita itu lama. Setelah itu ia langsung bangkit, dan berlari menuju kamarnya. Meninggalkan Hanum yang terpaku di atas sofa.
Hatinya bertanya tanya apa yang membuat Ragil menghentikan ciuman mesra mereka. Apa karena mereka yang sudah terikat perjanjian. Atau Ragil hanya sedang mempermainkan dirinya.
Hanum terduduk diam, hatinya benar-benar kacau. Tangan menyentuh bibirnya. Ia masih bisa merasakan hawa demam dari laki-laki itu di bibirnya.
Ia tidak tahu, Ragil sedang berusaha mendinginkan kepalanya dengan mengguyur dirinya dengan air dingin.
*
Siang hari Ragil kembali bertemu dengan Maura. Ia bergegas menuju tempat pertemuan yang sudah ditentukan oleh Maura. Kepergian Ragil membuat Hanum yang sedang berada di balkon kamarnya melihatnya.
Mereka berdua tidak saling bicara setelah ciuman mesra mereka pagi tadi. Meski bertemu saat sarapan. Keduanya memilih untuk bungkam. Dan beberapa kali berpapasan, keduanya justru salah tingkah.
"kalau begitu tolong urus pekerjaan di sana dengan baik" Setelah mengatakan itu, ia memutus sambungan teleponnya.
Hanum masuk ke dalam kamarnya, saat melewati kaca besar ia berhenti. Dan melihat pantulan dirinya di cermin. Kaos polos lebar, celana training panjang juga rambut yang diikat asal.
"apa yang kau lihat, di mana letak cantik itu" gumamnya dengan kesal.
Hanum terus memikirkan Ragil dan juga ciuman mereka tadi pagi. Karena itulah ia berusaha menyibukkan dirinya sendiri. Mulai dari membaca majalah. Memeriksa email perusahaan. Membersihkan rumah juga memasak. Tapi bayangan laki laki itu terus menghantuinya.
"apa kau tidak bisa pergi saja" katanya dengan kesal sembari mengibaskan tangannya.
__ADS_1
Karena hari sudah sore, ia memutuskan untuk membersihkan dirinya. Lalu ia memakai setelan terusan selutut dengan kerah model off shoulder. Ia ingin memamerkan leher jenjangnya juga bahu putihnya.
Hanum tersenyum senang melihat baju yang ia kenakan. Ia kemudian berjalan ke meja rias. Melihat jajaran makeup dari merk ternama berada di atas meja rias itu.
Karena ia tidak bisa menggunakan kedua tangannya dengan baik, akhirnya ia memoleskan lip gloss saja. Sangat natural, lalu rambut yang ia ikat cepol membuatnya semakin cantik. Ia tidak tahu kenapa ia sangat ingin melakukan hal-hal itu. Juga mengenakan pakaian yang sedikit mengekspose tubuhnya.
Tepat saat itu, mobil Ragil berhenti di depan rumah. Lalu laki laki itu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya. Ia terlalu lelah setelah bertemu dengan wartawan sialan yang datang ke tempat pertemuan dirinya dan Maura.
Flash back
Sesampainya Ragil di studio latihannya, ia langsung disambut Maura yang sudah menunggu sejak tadi. Wanita itu meminta maaf atas kejadian kemarin.
"maafin aku ya kak"
"tidak masalah"
"aku benar benar nggak enak sama kakak"
"ada yang mau diomongin lagi nggak, aku mau latihan"
"eh sebentar kak, gimana kalau kita makan siang dulu" tawar Maura.
"sorry tapi aku harus latihan"
"cuma sebentar kak, soalnya aku belum makan siang tadi. Aku takut kakak nungguin aku kelamaan"
"tapi buktinya aku yang datang terlambat kan, ya udah kamu saja yang makan sana"
"hm, kakak mau pesan sesuatu nggak. Biar aku pesenin nanti"
"nggak, mending sekarang pergi"
"oh, oke kak" belum sempat Maura keluar dari pintu ruang latihan. Ada dua orang masuk ke dalam ruang latihan secara diam-diam.
Mereka mengambil gambar dirinya dan Maura dengan tanpa izin. Melihat hal itu Ragil langsung menarik Maura keluar dari ruang latihan. Dua orang tadi masih terus mengikuti mereka, pada akhirnya Ragil membawa Maura masuk ke dalam mobilnya. Dia dengan cepat menancap gas, meninggalkan dua orang yang tampak senang mendapatkan berita terbaru tentang dirinya.
"kau tidak apa-apa" tanya yang cemas melihat Maura terdiam.
"aku baik-baik saja, kak"
"aku akan mengantarkan mu pulang, berita tahu alamat mu"
"tapi mobilku masih tertinggal di tempat latihan kakak"
"aku akan menyuruh orang untuk mengambilnya nanti"
Maura memberi tahukan alamatnya pada Ragil. Tapi sepertinya kedua wartawan itu tidak berhenti sampai di situ saja. Terbukti mereka masih mengikuti Ragil hingga ke apartemen Maura.
"kakak tidak apa-apa kan" Maura merasa bersalah atas kejadian yang membuat mereka berdua harus dikejar oleh wartawan itu.
"cepat naik ke apartemenmu, aku akan langsung pulang"
"hmm, hati hati kak" Maura melambai padanya seiring dengan mobilnya yang meninggalkan area parkir apartemen Maura. Saat ia keluar, dua wartawan yang mengikuti mobilnya sudah tidak terlihat lagi.
Ragil memutuskan untuk tidak melanjutkan sesi latihannya kali ini. Dan ia pulang ke rumah karena hari mulai sore. Bagaimana ia bisa menghabiskan siang ini hanya dengan menaiki mobil. Bahkan ia melupakan makan siangnya.
Flash back off
Tapi kali ini dia harus mengisi perutnya dengan makanan. Karena rasa laparnya mulai menyerang. Ia keluar dari kamarnya, dan berhenti sebentar di depan pintu kamar milik Hanum.
Karena tidak ada suara apapun yang terdengar dari dalam. Ia mengira Hanum sedang tidur. Jadi ia melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Ketika kakinya menginjak dapur, ia terperangah melihat seseorang di tempat itu. Hanum yang kesulitan mengikat tali apron di pinggangnya, menjadi sebuah pemandangan yang sangat indah.
Berkali kali wanita itu membenarkan ikatan kain itu. Tapi selalu tidak berhasil. Ragil melangkah dengan perlahan, lalu meraih tali dari tangan Hanum. Mengikat tali itu dengan cepat. Sedetik kemudian ia tidak bisa memindahkan matanya dari bahu mulus dan leher jenjang Hanum.
Begitu juga Hanum, ia tidak berani bergerak karena Ragil berdiri menghimpitnya ke meja dapur.
"bisa tolong minggir" ucap Hanum lirih.
Ragil menurut, ia mundur satu langkah. Hingga memudahkan Hanum untuk bergerak.
"kau lapar" tanya Hanum dengan canggung. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Ragil.
"hmm"
"kalau begitu tunggulah di meja makan"
"hmm" Ragil kembali menurut, ia kali ini bergeser ke meja makan. Dan duduk dengan sopan juga hanya diam. Meski sesekali mencuri pandang pada sosok cantik yang ada di hadapannya itu.
Tak butuh waktu lama, karena Hanum hanya menghangatkan sup siang tadi dan juga menggoreng ayam. Ia dengan hati hati memindahkan kedua menu itu ke atas meja makan.
"kau mau sup" Ragil mengangguk patuh. Ia melihat Hanum yang sedang menyiapkan makanan ke atas piringnya.
"terimakasih"
Mereka makan dalam diam. Setelah selesai makan, Ragil merapihkan piring dan juga milik Hanum.
"biar aku yang mencucinya" ucap Ragil saat melihat Hanum akan menyelanya.
"kau yakin, apa kau bisa"
"haha kau sedang meragukan ku" "iya"
Seolah ingin membuktikan ucapan Hanum salah. Ia langsung membersihkan dan juga membereskan sisa makan mereka berdua. Bahkan laki laki itu jauh lebih terampil dari pada Hanum.
"apa kau melakukan ini semua sebelumnya"
"hmm, semenjak aku memutuskan untuk tinggal sendiri" jelas Ragil.
Keduanya saling pandang di depan wastafel. Mereka juga tidak menyadari, perasaan diantara mereka sudah tumbuh. Dan suatu saat mereka tidak bisa kehilangan satu sama lainnya
__ADS_1