
Hanum berdiri dengan balutan handuk, ia sudah mandi. Saat ini Ragil memintanya untuk memilih pakaian yang ingin ia pakai. Tapi ia bingung, kenapa Ragil membawakan baju sebanyak itu. Ia mengangkat salah satu dari dress cantik yang terlihat sederhana, juga satu set pakaian dalam.
Hari sudah malam, setelah makan malam dengan keluarga suami. Hanum juga Ragil memutuskan untuk pulang. Karena esok hari Hanum dan Ragil memiliki pekerjaan yang padat.
"kau membawa semua baju itu" Hanum menunjuk setumpuk pakaian yang tadi.
"itu milikmu" ujar Ragil tanpa mengalihkan pandangannya. PP oleh
"aku punya banyak pakaian, kau bisa mengembalikan pakaian itu kan. lebih baik menghemat uang, daripada menghamburkan uangmu pada pakaian mahal itu"
"memangnya kenapa? kau adalah pemilik perusahaan besar dan juga istri seorang Ragil Mahendaru. Pakaian itu kubeli dengan uangku, setidaknya ucapkan terima kasih. Itu jauh lebih baik" kata Ragil dengan sinis ia mulai kesal. Ia membelokan mobil itu ke sebuah mini market, kemudian mobil terparkir di sisi kanan mini market. Ragil membiarkan mesin mobil masih menyala, agar ia bisa melihat Hanum ada di dalam mobil.
Hanum tidak ingin bertanya apapun, ia hanya diam saat Ragil keluar dengan menggunakan masker. Setelah Ragil keluar, ia menghela nafas panjang. Lalu memejamkan matanya. Ketika tiba-tiba ada yang membuka pintu dari tempatnya duduk. Hanum terkejut dengan senjata api yang diarahkan ke bagian perutnya.
Ia melihat wajah orang yang sedang menodongkan senjata itu. Meski menggunakan masker dan topi untuk menutupi penyamarannya. Tapi Hanum tahu, orang itu adalah seorang wanita.
Dengan senjata api itu, Hanum diminta untuk pindah ke bagian kemudi. Ia menurut saja, saat ini ia tidak bisa menolak atau nyawanya melayang. Hanum berpindah dengan cepat, kemudian duduk di bangku kemudi.
Saat orang itu lengah, Hanum berusaha membuka pintu dengan hati hati. Tapi ketika ia merasa sentuhan dingin di dekat telinganya. Hanum menarik kembali tangannya dengan gemetaran.
"cepat jalan" Perintah orang itu masih dengan senjata di kepala Hanum.
Tanpa bertanya, ia mulai melepaskan rem tangan lalu menginjak pedal gas. Mobil baru saja bergerak saat Ragil keluar dari dalam mini market.
"kenapa dia tidak bilang dulu sih kalau mau pergi" gerutunya. Tapi kemudian ia menyadari sesuatu yang aneh. Ragil melihat orang lain yang duduk di bangku penumpang. Orang yang mengenakan topi dan masker. Juga ekspresi wajah Hanum yang tegang.
Ia mulai curiga dengan kecepatan mobil yang berjalan pelan. Ragil bergegas berlari, untuk ngejar mobil Hanum yang bergerak lambat itu. Ia lalu memotong laju mobil, dan membuat Hanum hampir menabrak tubuh Ragil. Namun, orang di samping Hanum malah menodongkan senjata api nya ke arah kepalanya lagi sembari mendorong benda itu.
Ragil yang mengetahui hal itu, mengangkat kedua tangannya ke atas. Ia lalu menyingkir dan memberi jalan. Setelah itu mobil melaju dengan cepat. Meninggalkan Ragil yang sedang berusaha mencari kendaraan taksi di dekat sana.
"taksi" teriaknya saat tak jauh dari tempatnya ada sebuah taksi mendekat. "tolong kejar mobil di depan pak" pintanya saat masuk ke dalam taksi.
"baik, tuan"
Kejar kejaran pun terjadi, meski Ragil tidak berani terlalu dekat dengan mobil Hanum. Ia juga tidak ingin kehilangan jejak mobil itu. Tapi ketika mobil Hanum bisa melewati lampu merah, taksi yang ditumpangi Ragil terjebak di lampu merah.
"kenapa nggak lanjut saja, pak. kita jadi kehilangan mobil itu"
"maaf, tuan. saya tidak berani"
Ragil mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi, ia tidak bisa melihat mobil Hanum lagi. Perasaan cemas menyelimuti seluruh hatinya. pada akhirnya Ragil memaksa pria paruh baya itu untuk duduk di kursi penumpang, sedangkan dirinya mengambil alih kemudi.
Ia langsung menambah kecepatan begitu lampu merah berubah hijau. Membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi. Meski hasilnya ia tidak bisa menemukan mobil Hanum.
Ragil menghentikan mobil taksi itu, ia langsung mendapat makian dari sopir taksi itu. Setelah membayar ongkos taksi dengan jumlah tiga kali lipat, ia duduk di pinggir jalan dengan bingung.
Ponselnya yang tiba-tiba bergetar, membuat Ragil buru buru memeriksanya. Ia melihat panggilan dari nomor sang ayah. Dengan cepat ia mengangkat panggilan itu.
"papa" Ragil bingung ingin mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
"kamu sudah sampai rumah" tanya Rama,
"Hanum diculik, pa" Ragil mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi.
"apa, sekarang kamu di mana" Mendengar suara panik Rama, Ragil semakin bersalah.
Ragil menjelaskan tempatnya sekarang, setelah itu dalam waktu setengah jam Rama dan juga Rayya datang. Mereka membawa Ragil pergi dari sana, lalu membicarakan apa yang sudah terjadi.
"Hanum bawa ponsel kan, kita bisa lacak ponsel Hanum" Usul Rayya.
"dia sempat menunjukkan kalau ponselnya sudah mati sebelum pulang tadi" Rayya menghela nafasnya mendengar ucapan Ragil.
"bagaimana dengan polisi, kita bisa minta bantuan mereka" Usul Rayya lagi.
"kita belum tahu motif orang itu menculik Hanum, polisi juga nggak bisa langsung bergerak" sela Rama.
"terus sekarang kita mau kemana"
Mereka bertiga kembali diam, dan sibuk dengan pemikiran mereka sendiri. Rama membawa Ragil dan Rayya ke mini market tempat Hanum diculik. Mereka meminta untuk melihat cctv dari pemilik tempat itu. Beruntung mereka mendapatkan izin untuk melihat rekaman cctv.
"sepertinya orang itu sudah merencanakan ini semua"
Rayya menunjuk bayangan pelaku yang hanya terlihat sedikit. Juga bagaimana orang tersebut turun dari kendaraan lainnya.
"cctv depan gerbang" Rama langsung membuka ponselnya.
Selama Rama dan Rayya berdiskusi, Ragil lebih banyak diam. Dia terus memperhatikan gerak gerik pelaku dari layar kecil di hadapannya. Hari semakin malam, tapi pencarian Hanum tidak membuahkan hasil.
Ragil bahkan tidak tidur, ia memaksakan dirinya untuk mencari Hanum. Tapi Rama mencegah Ragil, pada akhirnya dia tetap tidak tidur. Dan lebih banyak mencari beberapa kemungkinan dari dugaan yang muncul di kepalanya. Ragil menelusuri beberapa nama fansnya yang tergolong paling nekat. Juga melihat gps tempat ia kehilangan jejak mobil Hanum.
*
__ADS_1
Pagi harinya, Hanum terbangun. Ia melihat ke sekeliling tempat dirinya di sekap. Hanya sebuah kamar berukuran kecil. Cahaya yang minim masuk melewati celah fentilasi. Membuat kamar itu sedikit terang. Ia bisa melihat beberapa poster Ragil yang terpasang rapi di dinding kamar.
Hanum mencoba untuk duduk, tapi kepalanya terasa sangat pusing. Ia ingat semalam saat mobil berhenti karena ia dan orang itu berebut kemudi, orang itu justru langsung membiusnya. Dan ia langsung tidak sadarkan diri.
Tangannya sibuk mencari ponselnya di dalam tas miliknya, tapi sayang sepertinya ponsel miliknya diambil orang itu. Hanum kembali berpura-pura tertidur saat ia mendengar suara seseorang mendekat.
"heh, bangun" teriak seorang wanita sembari menendang kaki Hanum. Sementara itu Hanum hanya membuka matanya, ia berusaha untuk tidak terlihat ketakutan. Dan mendudukkan dirinya lalu bersandar, lantas ia menatap ke arah wanita itu dengan tajam.
"kenapa anda membawa saya" ucap Hanum.
Orang itu lalu berjongkok, dia menyentuh dagu Hanum. Kemudian mencengkram dagu Hanum dengan erat. Lalu menyeringai dengan sangat aneh. Setelah itu ia kembali melepaskan dagu Hanum dengan kasar.
"Ragil bilang hanya gue yang ada di hatinya. Hanya gue orang yang selalu dia cinta. Bahkan dia bisa berada di tempatnya sekarang, itu semua karena gue"
Wanita itu mulai terisak, tapi kemudian tertawa dengan aneh. Ia kembali mencengkram erat dagu Hanum. "terus lu tiba-tiba muncul, membuat Ragil melupakan siapa orang yang selama ini selalu ada buat dia" ucap wanita itu dengan keras di depan wajah Hanum.
"memangnya anda siapa" tanya Hanum dengan mata tajamnya.
Wanita itu tertawa terbahak bahak, membuat Hanum keheranan. Setelah itu ia merasakan pipinya panas, karena sebuah tamparan yang sangat keras.
"gimana kalau orang orang tahu siapa lu" wanita itu menunjukkan selembar foto, yang memperlihatkan kedua buku nikah.
Hanum ingat kejadian malam itu, yang membuat lengannya harus digips. "siapa anda sebenarnya"
"hahaha, gue udah bilang kan. Kalau Ragil itu cinta mati sama gue. Sekarang sudah tahu kan siapa gue. Dan seberapa penting gue untuk Ragil"
"anda hanya seorang penggemar fanatik, Ragil hanya obsesi bagi anda" ujar Hanum dengan berani.
"tahu apa lu, lu bahkan nggak tahu apa itu cinta. gue cinta mati sama Ragil. Gue bahkan rela melakukan apapun demi Ragil" teriak wanita itu dengan histeris, ia bahkan sembari melempar apapun ke arah Hanum.
Beruntung Hanum bisa menghindar, meski begitu ia tetap terkena lemparan. Pelipisnya tergores barang yang mengenainya tadi. Tapi Hanum tidak menyadari hal itu.
Setelah puas melempar dan menghancurkan kamar itu, wanita itu kembali keluar dan mengunci pintu. Hanum mengatur nafasnya, ia benar-benar sangat takut dengan sikap orang itu. Bagaimana cinta wanita itu berubah menjadi sangat mengerikan. Hanya karena ia cemburu pada hanum.
Hanum melihat ke barang barang yang sudah hancur juga berantakan di atas lantai itu. Ketika tirai penutup jendela bergerak karena terkena angin. Ia seperti mendapatkan sebuah ide, jika dugaannya memang benar.
Ia membuka tirai penutup jendela, dan menghela nafas lega. Jendela tanpa tralis dan hanya tertutup tirai. Hanum melihat ke luar jendela, dan ternyata ia berada di lantai dua.
Sementara itu, wanita tadi mulai membuka sosial media Ragil. Beberapa kali meninggalkan komentar dukungan dan cinta untuk Ragil. Bahkan dia seperti bahagia melakukan hal itu. Setelah meninggalkan sosial media Ragil, dia juga berkomentar kasar pada wanita lain yang kerap dekat dengan Ragil.
Wanita itu mulai merasa lapar, setelah tidak menemukan apapun di dalam lemari esnya. Dia memutuskan untuk membeli stok makanan. Ia kembali ke dalam kamar, tempat Hanum di sekap. Setelah memastikan Hanum masih di dalam sana. Ia kembali mengunci pintu.
Menggunakan motor bututnya, ia membelah jalanan hutan tempatnya tinggal. Perlu setengah jam sampai ke mini market terdekat. Ia membeli beberapa mie instan juga snack.
*
Hanum yang mendengar suara motor pergi, ia berusaha membuka pintu dengan kawat dari jepitan rambut yang dia temukan di tumpukan barang. Meski percobaan pertama gagal, ia tetap mencobanya. Beruntung ia langsung berhasil. Hanum berjalan mengendap-endap, memastikan tidak ada seorang pun di sana.
Ia melihat sebuah komputer di ruangan lainnya. Hanum memutuskan untuk memeriksa sesuatu. Setelah masuk ke dalam ruangan itu, yang terlihat seperti ruangan para gamer. Hanum terpaku pada foto dirinya di dinding, ada foto wanita lainnya. Ia tidak mengenalinya. Tapi pasti itu adalah wanita yang dekat dengan Ragil. Di sisi ruangan itu, ada lebih dari sepuluh monitor tersusun rapi di atas meja.
Hanum membaca tulisan tangan di dinding yang bewarna merah darah. "cintaku Ragil Mahendaru" Hanum mencoba menghidupkan salah satu komputer, tapi ia tidak bisa. Karena semua komputer menggunakan password.
Tak habis akal, Hanum coba menggunakan 'cintaku Ragil Mahendaru' sebagai password. Dan ternyata berhasil.
Hanum mencoba mengakses internet, lalu membuka email. Mengirimkan pesan pada Hoshi. Lalu keluar email. Dan menghapus riwayat penggunaan. Saat ia ingin mematikan komputer, sekali lagi ia terkejut. Hanum buru buru mematikan komputer, tidak ingin melihat apapun lagi di dalam komputer itu.
Selanjutnya ia berusaha membuka pintu dengan cara seperti tadi. Tapi ia tidak seberuntung tadi. Ia tidak tahu, jika pintu depan menggunakan gembok sebagai kuncinya. Ia akhirnya kembali ke dalam kamar itu. Hanya bersiap dengan kemungkinan yang akan terjadi padanya nanti.
Tapi sampai siang hari ia tidak mendengar suara motor itu kembali. Sedangkan perutnya sudah mulai cemas, ia juga harus menahan haus. Hanum berharap Hoshi cepat membuka email darinya.
Tanpa ia tahu, Hoshi ikut mencari keberadaan Hanum. Bahkan sibuk menghubungi beberapa detektif juga polisi kenalannya. Ia juga mengerahkan seluruh orang orangnya. Menutup jalan untuk memeriksa siapapun yang keluar masuk. Hingga melacak keberadaan mobil Hanum.
Saat mendapat kabar keberadaan mobil Hanum, ia adalah orang pertama yang sampai di tempat itu. Tapi sekali lagi mereka tidak menemukan Hanum.
Ragil datang setelah selesai syuting di salah satu stasiun televisi. Ia sangat cemas mendengar mobil Hanum dalam keadaan ringsek bagian bamper depan.
"kemungkinan nona masih hidup" ujar Hoshi berusaha untuk menenangkan Ragil.
"bagaimana kau tahu" tanya Ragil dengan frustrasi. Kantung matanya sangat terlihat jelas, karena ia memilih tidak tidur semalaman.
"tidak ada jejak darah di dalam mobil, kalau pun ada benturan itu hanya meninggalkan memar" kembali Hoshi berujar. Ia harus lebih tenang dalam menghadapi masalah ini. Banyak orang yang sedang mengincar posisi sang nona. Ia tidak ingin semua berpikir nonanya telah tiada.
"saya harus kembali ke kantor" pamit Hoshi.
"hmm"
"jika ada kabar tentang nona, saya pasti akan memberitahu anda"
Tak jauh dari mereka berdua, seseorang sedang mencuri pandang ke arah mereka. Memastikan mereka tidak menemukan bukti apapun tentang kejadian malam tadi. Ia pergi setelah Ragil pergi dari sana.
*
__ADS_1
Wanita itu meletakkan semangkuk mie instan panas dan sebotol air mineral ke hadapan Hanum. "kau harus tetap hidup, sebelum Ragil menceraikan mu"
Hanum mendongak, ia memang lapar tapi apakah wanita itu tidak berusaha meracuninya. "bagaimana aku tahu, jika mie itu tidak kau beri racun"
"hahaha, kalau mau aku tinggal menembakmu" wanita itu mengeluarkan pistolnya dari dalam pinggangnya.
"kalau aku mati, bukankah kau akan tetap tidak mendapatkan Ragil"
"dia dan juga orang orang ku saat ini sedang mencari ku. Setelah menemukanku, apa yang akan mereka lakukan padamu" Hanum menyeringai saat melihat raut wajah orang itu yang berubah takut.
"diamlah, dan cepat makan" katanya sembari berjalan keluar.
Sepeninggal orang itu, Hanum langsung melahap mie itu hingga tandas. Ia tidak mungkin menolak aroma lezat makanan itu, apalagi ia memang sangat lapar. Hanum mengingat ucapannya pada wanita itu tadi. Ternyata otaknya menjadi sangat jahat saat sedang lapar.
Sepertinya wanita itu juga mulai memikirkan apa yang baru saja Hanum ucapkan. Ia mulai cemas, dan tidak mengerti harus melakukan apa. Ia kembali membuka media sosial Ragil. Melihat foto-foto laki-laki itu, dan menyadari tidak ada foto baru setelah malam itu.
Ada kemungkinan Ragil sedang sibuk mencari istrinya. Ia bergidik ngeri. Matanya tidak sengaja melihat salah satu monitor komputer yang bergeser sedikit.
Wanita itu memeriksa komputer itu, dan dengan canggih ia bisa tahu apa yang baru saja dilakukan seseorang pada komputernya. Setelah mengetahui Hanum mengirimkan pesan pada seseorang. Ia dengan cepat membenahi barang barang miliknya. Lalu menggembok pintu dan mematikan listrik, kemudian ia pergi ke tempat persembunyiannya yang lain.
*
Hari sudah larut malam saat Ragil kembali ke rumahnya. Ia melihat tidak ada Hanum di sana. Dia seperti kehilangan sesuatu. Ragil tidak banyak melakukan apapun untuk Hanum. Ia justru menyesal karena hari ini banyak pekerjaan. Sehingga ia tidak bisa membantu mencari keberadaan Hanum.
Ragil memasuki kamar Hanum. Menghirup aroma khas dari wanita itu. Lalu berdiri di depan foto Hanum yang berukuran besar. Cukup lama ia hanya berdiri diam di sana.
"kamu ada di mana"
"apa kamu baik baik saja"
Ragil memutuskan untuk tidur di sana. Dengan lampu yang menyala terang, seperti Hanum yang tidak bisa tidur dengan keadaan gelap. Ia berusaha untuk menyesuaikan dirinya di sana. Nyatanya dia yang memang sudah lelah, lebih cepat tertidur dari pada biasanya.
Ia hanya sedang mengobati perasaan kehilangannya. Entah sejak kapan ia mulai sangat merindukan pemilik ranjang itu.
Tapi di dalam mimpinya, ia melihat Hanum sedang ketakutan. Karena ia disekap di dalam ruangan yang gelap. Dengan takut wanita itu memilih untuk tidak bersuara. Duduk meringkuk
Hanum memeluk erat dirinya sendiri.
Ragil mendadak terbangun karena suara teriakan Hanum dari dalam mimpinya yang terdengar sangat nyata.
Ia lalu menghubungi seseorang, "bagaimana caranya, Hanum harus ketemu" usai memberikan perintah kepada seorang tangan kanannya. Ragil kembali berbaring. Namun, kali ini ia tidak tertidur. Ia hanya memikirkan di mana Hanum berada saat ini.
Sementara itu di tempat Hanum di sekap, ia sedang meringkuk ketakutan. Karena kamar itu tidak memiliki pencahayaan apapun. Sangat gelap, ia jatuh pingsan setelah beberapa kali merasa tidak kuat.
*
Hoshi terbangun karena seseorang sedang menggoyangkan pundaknya. Ia perlahan membuka matanya, dan menyesuaikan dengan cahaya terang di depannya. Elma sedang berdiri sembari menarik kembali tangannya.
"kakak nggak pulang" tanya Elma yang terkejut melihat Hoshi tertidur di kursi kebesarannya.
"saya tidak punya waktu untuk pulang" ujar Hoshi sembari berdiri.
"belum ada kabar tentang Hanum" Hoshi menggeleng.
"semoga dia baik baik saja" Elma ikut khawatir mendengar kabar terakhir dari sahabatnya itu. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun, selain hanya berdoa untuk keselamatan Hanum.
"hmm, kembalilah bekerja. Hari ini saya harus bertemu beberapa pemilik perusahaan" Hoshi melangkah menuju kamar mandi di dalam ruangan kerjanya.
"iya, baiklah"
"jangan lupa periksa emailmu, orang dari perusahaan M sudah kirim email kemarin" Elma berteriak sebelum Hoshi menghilang di balik pintu.
"baik, saya akan periksa" Elma berbalik dan kembali menuju meja kerjanya.
Setelah mencuci muka, Hoshi kembali ke meja kerjanya. Ia langsung menghidupkan laptopnya. Dan membuka email. Matanya membulat saat membaca salah satu email masuk.
Hoshi langsung menghubungi seseorang, "tolong periksa di mana tempat nona mengirim email padaku. Laporkan padaku secepatnya" usai mengatakan itu ia bersiap pergi.
"loh mau ke mana" tanya Elma tepat di depan pintu.
"tolong urus pekerjaan di kantor hari ini"
"loh, tapi kan" Hoshi tidak mengehentikan langkahnya, ia masuk ke dalam lift. Lalu menghubungi seseorang kembali.
"apa sudah dapat" katanya langsung.
"cepat, atau kau akan tahu akibatnya" gertak Hoshi dengan kesal.
Laki laki itu mencengkram erat ponselnya. Ia benar-benar sangat kesal juga sangat cemas mendengar Hanum belum juga ditemukan. Beberapa menit kemudian Hoshi mendapatkan titik koordinat dan juga alamat tempat Hanum mengirimkan email padanya.
Hoshi kembali menghubungi seseorang, satu kali dua kali tidak kunjung diangkat. Hingga tiga kali, seseorang mengangkat panggilan darinya.
__ADS_1
"saya akan kirim alamat nona berada. Kita bertemu di sana. Saya akan bawa polisi juga"
Sedangkan orang yang dihubungi oleh Hoshi adalah Ragil. Dia baru saja tiba di lokasi acara musik mingguan. Tapi mendapat kabar di mana Hanum berada, membuatnya kembali memutar mobilnya dengan cepat. Chelsea yang melihat Ragil pergi, tidak bisa melakukan apapun. Dia ingin mencegah karena pinalti sudah pasti sedang menunggu Ragil, tapi laki laki itu sudah sangat kacau beberapa hari ini.