
Untuk ketiga kalinya Hanum berada dalam dekapannya. Ia semakin tidak bisa melepaskan wanita itu. Ragil merenungkan kembali ucapan Hanum malam kemarin.
Mereka memang memulainya dengan sebuah perjanjian. Dan saat ini mereka belum juga mengakhirinya. Bahkan hubungan yang awalnya dia kira akan berakhir dalam tiga bulan, justru sudah memasuki bulan ke lima. Ragil membelai pipi Hanum dengan punggung jarinya lembut.
Ada pergerakan dari Hanum, jadi ia menghentikan tangannya. Wanita yang awalnya membencinya, karena perbuatannya yang tidak bisa ia lupakan. Saat ini justru ada di dalam dekapannya.
Ragil menggenggam tangan Hanum, ia melihat cincin dari sang mama yang masih melekat di sana. Bahkan wanita itu masih memakai cincin itu, untuk menghormati mendiang sang mama. Sedangkan ia tidak pernah memberikan cincin pernikahan untuk Hanum.
Ragil meraih ponselnya, lalu melihat lihat salah satu toko perhiasan online. Ia tidak mengerti kenapa hatinya ingin membuat Hanum senang. Padahal awalnya ia tidak menyukai wanita itu.
Tapi kini hatinya sangat nyaman dengan keberadaan Hanum. Ragil mengambil gambar Hanum yang tertidur pulas dengan berbantalkan lengannya. Meski susah dan sedikit sakit, tapi ia berusaha mendapatkan foto Hanum beberapa kali.
Setelah puas melihat-lihat beberapa foto Hanum. Ia mengambil gambarnya dengan Hanum. Ragil mengecup pipi Hanum, lalu mengambil swafoto. Kemudian ia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Dan menarik tubuh Hanum agar mendekat padanya. Siapa yang mengira, justru Hanum langsung bergerak sendiri. Menempatkan wajahnya di dada Ragil. Meski merasa geli, tapi ia menyukainya.
Ia tersenyum lembut, lalu dengan sangat sayang memeluk Hanum. Malam itu mereka berdua sekali lagi tidak melakukan apa yang menjadi ketakutan Hanum selama beberapa hari ini. Bagaimanapun hubungan mereka belum terlalu jelas. Ia takut Ragil hanya menggunakannya, lalu mencampakkannya seperti malam itu.
*
Setelah dua hari bermalam di rumah sakit, akhirnya Ragil bisa pulang ke rumah. Ia sedikit kesal, karena itu berarti ia tidak bisa bersama dengan Hanum. Padahal ia adalah suami Hanum.
"apa yang kamu pikirkan di tempat ini" ia menoleh ke arah sumber suara, yang ia tahu milik Rayya.
"kakak, aku merindukanmu" saat Ragil ingin memeluk Rayya, justru wanita itu memundurkan kursi rodanya. Hingga membuat Ragil memeluk udara.
"kau bahkan bermalam dengan wanita itu, kenapa sekarang merindukanku" sindir Rayya.
Ragil merubah raut wajahnya menjadi serius, "kenapa setelah kecelakaan itu, kakak menolak pernikahan kami" tanyanya serius.
"aku tidak akan menjawabnya" Rayya menggerakkan kursi rodanya, namun Ragil mencegahnya. Ia menatap tepat di kedua mata Rayya.
"aku tidak akan melakukannya, jika kakak tidak memberitahuku alasan yang tepat"
Rayya mencengkram erat pegangan kursi roda, lalu dengan kuat menggerakkan benda itu. Memberitahukan jika dirinya menolak untuk memberikan jawabannya.
Setelah Rayya menghilang di balik pintu, Ragil mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Ia lalu berjalan ke arah kamarnya. Kemudian masuk dan dengan keras membanting pintu.
Sementara itu, Rayya yang bersembunyi di balik pintu memengang erat kursi roda. Tanpa bersuara tapi air matanya mengalir di pipinya.
*
Minggu pagi Hoshi sudah berada di taman komplek perumahan Prambudi. Ia sudah berlari memutari taman sebanyak lima kali. Tapi belum juga menemukan keberadaan seseorang. Ia mulai merasa lelah, jadi ia memilih untuk duduk di salah satu bangku taman. Siapa yang mengira keputusannya untuk istirahat justru membuatnya bertemu dengan Rayya.
Ia berusaha untuk tidak menyapa atau bicara pada wanita itu. Hoshi duduk lalu menenggak minuman yang ia bawa sejak tadi. Menyadari kedatangan seseorang Rayya menoleh. Ia sedikit terkejut karena melihat orang yang beberapa hari ini ia cari. Ia sangat senang.
Untuk beberapa saat Rayya terpesona melihat Hoshi yang sedang menenggak air dari botol minum. Ia menelan salivanya dengan susah payah hanya karena melihat Hoshi yang sedang minum.
Ponsel Hoshi berdering, ia buru-buru melihatnya. Dan nama 'presdir Hanum' tertera di sana. Hoshi bangkit, lalu menerima panggilan itu sembari kembali melanjutkan larinya dengan langkah pelan. Karena terburu-buru mengangkat panggilan, ia sampai melupakan botol minum miliknya.
Rayya menyadari hal itu, ia ingin memanggil Hoshi tapi tidak berani melakukannya. Beberapa saat Rayya tidak menyentuh botol itu sama sekali. Bahkan saat orang-orang mulai lewat di depannya, atau sekedar duduk di kursi taman. Ia hanya menjaga benda itu tidak berpindah ke tempat lainnya. Sampai Hoshi datang mengambilnya.
Setelah tidak melihat Hoshi kembali, Rayya perlahan meraih botol minum itu. Lalu mendekap erat benda itu. Seolah itu adalah pemberian dari seseorang yang sangat berharga.
Sementara itu Hoshi sedang serius mendengarkan Hanum berbicara lewat telepon.
"ingat ya, siang ini di restoran tepi pantai di daerah A. Kalau kamu menolak Elma, tolong jangan langsung menolaknya" perintahnya.
"tapi nona"
"cobalah sekali saja, setelah itu terserah kalian berdua. Sudah ya aku sekarang sedang sibuk"
*
Hanum sedang mempersiapkan diri untuk menghadiri acara penghargaan malam ini. Ia pergi ke salon terkenal bersama Elma, sekalian mempersiapkan penampilan sang sahabat untuk kencan siang nanti bersama Hoshi.
"lu nggak perlu berlebihan juga kali" protes Elma saat mereka baru datang ke salon itu.
"ini demi kencan kamu" Hanum menarik tangan Elma, dan membawanya masuk ke dalam.
Setelah memastikan Elma mendapatkan perawatan kecantikan terbaik. Ia sendiri langsung melakukan perawatan wajah juga tubuhnya. Bagaimana pun ia ingin menunjukkan sisi lain dari dirinya.
Keduanya benar-benar menikmati pelayanan perawatan yang jarang sekali mereka lakukan. Elma bahkan sampai tertidur saat ia sedang luluran.
Setelah selesai perawatan, Hanum membawa sang sahabat ke butik langganannya. Ia membantu Elma memilih baju untuk kencannya nanti. Sementara Hanum menunggu Elma selesai memilih baju.
Tanpa ia sadari, Irina yang melihat kedatangan Hanum langsung menghampirinya. "hai, kita bertemu lagi" Irina tersenyum menyapa Hanum.
__ADS_1
Melihat kedatangan Irina, Hanum langsung menutup majalah yang sedang ia lihat. "senang bertemu dengan anda lagi nona Irina" ucap Hanum datar.
"kau seorang diri" Irina memutar tubuhnya untuk melihat ke sekeliling.
Tepat saat itu Elma keluar dari ruangan ganti, "Hanum gimana dengan yang ini" Tanya Elma sembari menunjukkan baju yang ia kenakan.
Hanum dan Irina sama sama melihat ke arah Elma. Jika Hanum menunjukkan senyuman manisnya untuk memberikan pendapatnya. Irina justru sedikit berkata kasar melihat Elma yang mengenakan baju hasil designnya.
"orang kampungan memang tidak cocok menggunakan gaun mahal" ejek Irina.
Mendengar hal itu, Hanum mengeraskan rahangnya. Sementara Elma langsung minder dengan kenyataan yang ada.
"seharusnya seorang designer terkenal tahu tentang menghargai seorang pembeli"
"aku mendesign baju itu untuk kaum tertentu. Jadi aku tahu apakah baju itu cocok untuk dia atau tidak"
"Hanum, gue ganti yang lain aja" usul Elma yang menyadari ada yang tidak beres.
"tidak, aku akan bayar semua baju yang kamu ambil dan juga kamu pegang tadi"
"tapi Num" ucap Elma mencoba mencegah sang sahabat yang sedang mengeluarkan dompetnya.
"kalian semua dengar, aku melarang butik ini untuk menjual baju-baju pada wanita ini" perintah Irina pada pegawai yang ada di sana.
"bukankah itu berarti anda yang kampungan. Anda orang yang berpendidikan. Seharusnya tahu bagaimana melayani seorang pembeli" sindir Hanum.
"tidak penting tentang hal itu, yang jelas aku melarang butik ini menjual apapun padamu" Ucap Irina tegas.
"kalau begitu silahkan lakukan apa yang anda inginkan" Tantangnya.
Mendengar perintah putri pemilik butik itu, para pegawai di sana sedikit bingung. Pasalnya Hanum adalah pelanggan tetap mereka sejak dulu. Bahkan tanpa Irina tahu, perusahaan Paradewa sudah menjadi investor untuk butik itu sejak lama.
Manager butik itu bahkan tidak mengerti harus menjelaskan tentang hal itu Irina. Karena mereka tahu watak salah satu designer mereka itu.
Hanum menyeringai, meminta Elma mengganti pakaiannya. Kemudian mereka berdua meninggalkan tempat itu. Tanpa mengatakan apapun Elma menuruti kemauan Hanum. Setelah menemukan butik tak jauh dari butik pertama tadi. Elma bahkan takut jika harus memilih baju baju dengan design yang sangat bagus.
"kamu tidak perlu memikirkan apa yang baru saja terjadi"
"tapi wanita tadi benar kok. Gue emang nggak seharusnya ada di tempat kaya gini"
Hanum justru tidak mendengarkan ucapan Elma, ia memilihkan beberapa setelan baju untuk Elma. Usai membayarnya dia mengajak Elma untuk segera pulang.
Setelah mengantar Elma, Hanum pun ikut pulang. Ia ingin istirahat sebentar sebelum bersiap siap ke acara penghargaan malam nanti.
*
Hoshi datang ke restoran yang sudah dipesan oleh Hanum lebih awal. Elma datang beberapa menit setelahnya. Mereka dengan canggung duduk di meja yang paling dekat dengan pantai. Hoshi memanggil pelayan restoran.
Setelah memesan makanan mereka berdua tidak banyak bicara. Padahal biasanya Elma selalu banyak bicara. "maaf ya kak, kelakuan Hanum memang suka begini" ujarnya untuk mencairkan suasana.
"tidak masalah, saya hanya menjalankan perintah" mendengar hal itu mood Elma berubah menjadi sangat jelek.
Selama menunggu dan juga menghabiskan makanan ia tidak banyak bicara. Ketika pulang pun ia menolak tawaran Hoshi yang ingin mengantarnya pulang. Ia memang tidak pernah pacaran, tapi ia juga tidak ingin terlalu mengejar seseorang yang tidak bisa melihat dirinya.
Sepanjang perjalanan pulang, Elma banyak merenung. Keputusannya menerima tawaran ini hanya karena ia ingin membuat Hoshi tahu ia tertarik padanya. Tapi mungkin setelah ini, ia tidak memiliki muka jika bertemu dengan pria itu.
Berbeda dengan Elma, Hoshi tidak langsung pulang. Ia pergi ke rumah sang presdir, untuk menjemput Hanum. Matanya tak berkedip saat melihat Hanum keluar dari rumah yang sudah ditempati wanita itu sejak menikah dengan Ragil. Ia yang sudah melihat Hanum sejak kecil selalu terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki Hanum.
Padahal wanita itu tidak mengenakan make-up sama sekali. Kecantikan yang alami, tapi juga manis dan terlihat sangat anggun secara bersamaan. Hoshi menerima box sedang yang sedang dipegang oleh Hanum. Ia lalu membukakan pintu mobil untuknya.
"bagaimana kencan kalian berdua" tanya Hanum langsung begitu ia mendudukkan dirinya di dalam mobil.
"eh, semuanya lancar nona" jawab Hoshi singkat.
"syukurlah, aku harap hubungan kalian berdua bisa lebih serius" Hoshi tidak mengatakan apapun, ia memilih untuk diam.
*
Malam penghargaan musik tahunan yang diselenggarakan di salah satu hotel bintang lima, mengundang banyak perhatian dari masyarakat. Bukan karena para nominasinya saja, tapi juga deretan pengisi acara yang sudah ditunggu-tunggu. Ini adalah kali pertamanya Hanum datang ke acara itu. Juga untuk pertama kalinya setelah ia menjabat sebagai presdir Paradewa.
Satu persatu para tamu undangan berjalan di atas red karpet. Ada penyanyi terkenal, sampai orang penting di pemerintahan ada di sana. Termasuk Hanum yang berjalan di red karpet dengan anggun sebagai perwakilan Paradewa. Namanya yang banyak muncul di media dan juga televisi, membuat ia dengan cepat terkenal.
Sorot kamera mengarah padanya. Lampu lampu flash dari kamera para wartawan yang memotretnya. Membuat ia teringat kilasan kejadian saat ia mengalami cedera. Lampu yang sangat silau mengenai matanya, membuatnya tidak bisa melihat apapun selain cahaya itu.
Dia sempat sedikit terhuyung beberapa detik, tapi kemudian ia bisa mengatasinya. Hanum berdiri beberapa saat untuk memberikan waktu bagi pada wartawan untuk mengambil gambarnya. Mereka yang penasaran dengan Hanum, langsung mencari tahu tentang Hanum. Bagaimanapun penampilan wanita itu sangat anggun.
__ADS_1
Gaun berwarna baby pink dengan panjang selutut, yang memamerkan bahu mulus dan juga leher jenjangnya. Hanum kali ini mengikat rapi rambutnya yang panjang itu. Ia juga mengenakan high heels yang membuat kaki jenjangnya semakin indah.
Lampu lampu yang membuat Hanum susah melihat, semakin membuatnya pusing. Hanum memang takut gelap. Tapi ia sangat membenci hal seperti ini. Ia *******-***** gaun yang dia kenakan. Ketika seseorang datang lalu meletakkan jas di pundaknya. Hanum tersentak, ia menoleh untuk melihat ke arah orang itu.
Tapi karena silau, ia tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas. Baru ketika orang itu berbisik Hanum menyadari siapa dia.
"aku tidak suka orang orang melihat bahumu" bisik Ragil tanpa melihat ke arah Hanum.
Sebelumnya, ketika Ragil baru sampai. Ia disambut Irina yang ingin menggandengnya. Tapi Ragil menepis tangan Irina dengan sopan. Baru saat ia melihat Hanum yang sedang berjalan di atas red karpet, Ragil ingin sekali mengandengnya. Begitu menyadari orang orang terlalu fokus pada Hanum, ia jadi semakin marah.
Jadi dengan tergesa-gesa ia melepaskan jas yang ia kenakan, lalu ia gunakan untuk menutupi bahu mulus Hanum.
Dengan dorongan kecil dari Ragil, ia berjalan beriringan dengan Ragil. Hanum memandangi Ragil beberapa saat, lalu memalingkannya saat Ragil balik melihatnya dengan manis. Interaksi yang mereka berdua lakukan langsung membuat heboh semua orang. Apalagi mereka pernah diisukan dekat, tapi mereka sendiri menyanggahnya. Saat ini orang orang mulai membicarakan tentang mereka berdua.
Ada yang diam diam tidak suka melihat dan juga mendengar hal itu. Dia adalah Irina, meski sudah berdandan dan juga mengenakan pakaian yang cukup terbuka. Tapi tidak ada satupun orang yang membicarakan tentang dirinya. Apalagi Ragil yang jelas-jelas menolak untuk pergi dengannya. Malah pergi menghampiri Hanum dan memberikannya jas yang Ragil kenakan.
Sepanjang acara berlangsung, ia banyak menerima perhatian dari para tamu undangan. Apalagi adegan yang heboh di red karpet tadi. Banyak wanita dari kalangan penyanyi dan juga aktris yang terang terangan tidak suka dengannya. Karena ia dekat dengan Ragil.
Itulah yang membuatnya tidak banyak berinteraksi dengan orang orang di sana.
Hanum mencari keberadaan Ragil. Lalu menemukan pria itu sedang berbicara dengan beberapa orang di sudut tempat Ragil duduk. Tak disangka, Ragil mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Hanum. Pria itu tersenyum padanya, lalu kembali berbincang dengan rekan seprofesinya dulu.
Tidak di sangka, sikap manis Ragil justru membuat Hanum tersipu malu. Ia mengipasi wajahnya dengan tangannya, sementara bibirnya terus tersenyum.
Setelah acara berlangsung lama Hanum pergi ke toilet untuk menghilang beberapa saat. Dari dalam bilik, ia bisa mendengar beberapa orang membicarakan dirinya.
"kudengar dia mantan atlet"
"sekarang dia adalah presdir Paradewa"
"wah, aku iri sekali padanya"
"tapi dulu Ragil pernah bilang tidak menyukai wanita itu"
"bukan berarti sekarang dia tidak menyukainya kan"
"mungkin hanya urusan bisnis"
Ia ragu ingin keluar, jadi saat tidak ada lagi suara orang di sana Hanum keluar. Sepanjang perjalanan kembali dari toilet, orang orang menyapanya dan juga membicarakannya. Saat ia tiba di ballroom, ruangan itu dalam keadaan redup. Itu karena seorang penyanyi terkenal sedang bernyanyi di atas panggung. Hanum menarik sedikit ke atas gaunnya, agar memudahkan dirinya berjalan.
Tak jauh dari tempatnya, seseorang melihat ke arah Hanum dengan menyeringai. Lalu berjalan dengan cepat ke arah Hanum. Dan menabrak tubuh Hanum dengan keras. Yang membuat Hanum terjatuh dengan posisi duduk. Tepat saat lampu kembali menyala terang. Orang orang mulai heran melihat Hanum yang sedang duduk di lantai.
Ketika ia mencoba untuk bangkit, sayangnya sepertinya kakinya terkilir. Hanum menahan rasa nyeri itu dengan susah payah ia mencoba untuk bangkit. Tapi sayang, ia itu tidak mudah.
Lalu disaat semua orang mulai mencibirnya dan membicarakan dirinya. Seseorang yang ia harapkan kedatangannya, ternyata langsung bergegas menghampiri Hanum. Ragil meraih jas yang terjatuh kemudian memasangkan kembali jasnya itu. Tanpa mengatakan apapun dan dengan sekali angkat ia mengangkat tubuh Hanum.
Matanya menatap tajam ke arah Irina yang baru saja mendorong tubuh Hanum. Ia tahu betul, karena ia melihatnya sebelum Irina mendorong Hanum. Karena jaraknya yang terlalu jauh, membuat Hanum dengan mudah diserang wanita itu.
Sementara itu Irina berusaha mengejar mereka berdua, untuk menjelaskan maksudnya mendorong Hanum. Tapi Miko berdiri menghadang Irina. "minggir" gertak Irina. Tapi Miko sama sekali tidak bergeming.
Setelah menghentikan Irina, Miko dengan cepat menyusul Ragil. Orang yang berada di sana kembali membicarakan tentang mereka berdua. Aksi cepat Ragil benar benar sangat menyentuh, dan juga menunjukkan bahwa ia dan Hanum memang memiliki hubungan.
Ragil menolak menurunkan Hanum, ia terus menggendong wanita itu meski di dalam lift. "lenganmu sedang sakit, aku bisa melukai lengan dan juga perutmu. Jadi turunkan aku" pinta Hanum dengan lembut. Kedua matanya sudah berkaca-kaca, ia tidak pernah secengeng ini sebelumnya.
Tapi Ragil tidak bergeming sama sekali. Ia justru mengeratkan gendongannya, seolah memberitahukan kondisi lengannya baik baik saja. Bukannya mengantarnya pulang, ia justru membawa Hanum ke salah satu kamar hotel di lantai paling atas.
Hanum di dudukan dengan perlahan di atas tempat tidur berukuran king size itu. Kakinya menjuntai ke lantai. Dengan perlahan Ragil melepaskan heels nya terpasang di kaki Hanum. Lalu ia bangkit begitu terdengar suara ketukan pintu. Ragil kembali dengan membawa nampan yang berisi kantong penuh es batu.
Ia kembali berjongkok, kemudian meletakkan kantong es batu itu ke atas kaki yang terkilir dengan perlahan. Sikap manis Ragil membuat Hanum tidak berhenti menatap ke arah Ragil yang sedang sibuk mengompres kakinya.
Ia tersentak ketika Ragil tidak sengaja memijat kakinya. Menyadari hal itu, Ragil mendongak untuk melihat ke arah Hanum.
"apa sangat sakit" tanyanya.
Hanum mengangguk sekali, "sekarang istirahat lah" Ragil menyibakkan selimut, lalu menata bantal untuk Hanum.
"tapi aku" "tolong ikuti kataku, jika kamu memaksa ingin pulang kakimu akan semakin parah. Berhentilah keras kepala dan istirahatlah di sini dulu" selanya.
Tak bisa menolak, Hanum merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas tempat tidur itu. Ragil berjalan ke sisi lain tempat tidur. Kemudian meraih bantal, dan meletakkan di bawah kaki yang terkilir.
"kau mau kemana"
"jangan khawatir tentang tadi. aku akan mengurus semuanya" Ujar Ragil sebelum meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggal Ragil, Hanum justru tidak mengerti kenapa Ragil tiba-tiba melakukannya. Apa karena ucapannya tempo hari. Atau pria itu hanya kasihan, tidak ada yang tahu termasuk dirinya.
__ADS_1