Forever With You My Idol

Forever With You My Idol
bab 11


__ADS_3

Tania berjalan mondar-mandir di apartemennya sejak pulang dari tempat latihannya tadi. Dia yang tidak menyangka beritanya akan sangat menyeramkan seperti ini. Bahkan kekuasaan ibunya tidak bisa menutup berita tentangnya yang selama ini menjadi rahasia.


Ia menyalakan televisi, menemukan kembali siaran infotainment yang memberitakan dirinya. Bahkan video dirinya dulu saat sedang membuli teman atletnya juga kembali viral. Tania duduk berpangku tangan. Matanya bergerak ke sana kemari, ia benar benar takut dan bingung.


bruukkk


Tania berdiri dengan terkejut, saat pintu kamarnya terbuka dengan paksa. Ibunya datang dengan menatap nyalang ke arahnya. "mama" ucapnya lirih ketika wanita itu telah berjalan ke arahnya.


plaakkk


Suara nyaring itu berasal dari pipi mulus Tania yang ditampar dengan kuat oleh ibunya. Saking kuatnya Tania sampai terjatuh ke samping. "Greta cukup" seru pria paruh baya yang datang bersama ibu Tania. Ia langsung berdiri di depan tubuh sang anak. Menghalangi istrinya yang bersiap menampar putrinya lagi.


"setidaknya bersikap baiklah, kalau kau ingin tetap menjadi atlet" ancam Greta. Nampak Tania sangat ketakutan, ia bersembunyi di belakang tubuh ayahnya. Menghindari amukan Greta yang siap meledak kembali. Beruntung tidak lama ibunya itu pergi.


"sudah, kamu istirahat. Jangan terlalu dipikirkan" ucap sang ayah menenangkan.


*


Hanum menggeser jarinya, membaca artikel yang menampilkan tentang Tania. Dia cukup puas dengan isi artikel yang memojokkan mantan rivalnya itu. Hari sudah gelap, dia yang baru saja selesai mandi mengenakan piyama tidur model daster selutut. Handuk masih melilit di rambutnya.


Ia duduk sendiri di balkon apartemennya. Menikmati angin malam yang dingin. Ditemani segelas coklat hangat yang sejak tadi sudah mulai mendingin.


"apa kau tidak bisa bekerja dengan baik" Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari balkon sebelahnya. Suara yang cukup familiar. Hanum hendak masuk ke dalam, tidak ingin melihat Ragil. Tapi terlambat, mata mereka berdua sudah bertemu untuk beberapa saat.


"tetap di sana" Ragil hanya menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Sedangkan tangannya menunjuk ke arah Hanum.


Menurut, ia kembali duduk di kursi. Sementara Ragil menyelesaikan pembicaraannya dengan seseorang.


"ganti dia atau aku keluar dari management, memangnya perusahaan nggak bisa bayar orang lebih apa. jangan hubungi aku kalau kalian belum ganti managerku" Ragil menekan tombol mati di layar ponselnya. Lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku celana nya. Kemudian dia berjalan ke sisi balkonnya yang berdekatan dengan balkon apartemen Hanum.


"besok pagi mama papa ngundang kita ke rumah" ucapnya dengan enggan.


"oke" Hanum yang tidak berminat untuk berbicara terlalu lama dengan Ragil, ia bersiap untuk berdiri lagi.


"mereka memastikan kamu bisa datang" seru Ragil kembali.


"iya, katakan pada kedua orang tua mu. Aku pasti datang" Ucap ia sembari melangkah menuju pintu masuk. "heeeiii" Hanum berhenti dan berbalik.


"apa kau tidak bisa meluangkan waktumu untuk ku" teriak Ragil kesal.


"memangnya kau siapa" Hanum menatapnya dengan datar.


"aku aku, ah sudahlah" akhirnya Ragil masuk ke dalam apartemennya dengan kesal. Meninggalkan Hanum yang tampak tidak peduli. Dia juga masuk ke dalam apartemennya, karena hari semakin malam.


*


Ragil menggaruk kepalanya dengan frustrasi, dia tidak ingin mengalihkan perhatiannya dari wanita yang duduk dalam diam di samping nya. Wanita yang setiap hari selalu terlihat kaku juga dingin. Kali ini terlihat jauh lebih baik. Cantik dan manis, Ragil mengerjapkan matanya berkali-kali. Untuk membuang pikiran tentang wanita itu. Tapi nyatanya dia harus gigit jari.


"apa kau tidak pernah melihat wanita cantik" sindir Hanum yang mulai terganggu oleh kegelisahan Ragil.


"hei, sadarlah. Mana ada wanita cantik tanpa riasan tebal" ujarnya yang menyatakan bahwa Hanum memanglah cantik.


"kau baru mengakuinya" Hanum melihat ke luar jendela. Mengulum senyum tipisnya. Ia yang berusaha tampil sangat sederhana di hadapan keluarga Ragil. Malah mendapat respon mengejutkan dari suami di atas kertas nya.


"wah, kau terlalu percaya diri sekali. Bahkan artis yang pernah kutemui jauh lebih cantik dari mu" elak Ragil.


Hanum hanya diam, dia tidak lagi menyahut. Ragil pun ikut diam. Laki laki itu baru menyadari jika ia telah mengakui dirinya sudah memuji kecantikan Hanum tadi. Tapi dengan bodohnya ia malah secara langsung mengatakannya.


Tak lama mobil miliknya berhenti di halaman rumah besar milik kedua orang tuanya. Bahkan kedua pasangan paruh baya itu sedang berdiri menyambut kedatangan mereka berdua. Hanum keluar dari mobil tanpa menunggu Ragil membukakan pintu mobil untuknya.


Sinta langsung membawa Hanum ke dalam pelukannya untuk beberapa saat. Lalu mengajak menantunya itu untuk masuk bersama dengannya. Meninggalkan dua pria yang berbeda usia itu, sedang melihat interaksi keduanya dengan senang.


"sarapan dulu ya, kamu pasti belum sarapan" tebakan mertuanya itu tepat sasaran.

__ADS_1


Hanum mengangguk sembari tersenyum, ia memang sangat lapar. Bagaimana tidak, Ragil sudah mengetuk pintu apartemennya pagi pagi sekali. Membuatnya tidak bisa menyiapkan dirinya dengan maksimal. Memaksanya menjadi dirinya yang dulu. Tampil apa adanya, dan yang paling penting ia melupakan sarapan.


"Ragil bilang sarapan di rumah mama, jadi aku nggak sarapan" ujarnya ketika ia melihat Sinta yang bersiap meledakan putranya itu.


"ah, begitu. kalau begitu kamu mau sandwich atau nasi goreng" Sinta menawarkan dua piring berisi makanan tadi ke hadapannya.


Ia meraih piring berisi 2 potong sandwich berukuran sedang. "ini saja, terimakasih" ucapnya.


Sinta tersenyum melihat Hanum memiliki kesamaan dengan putranya. Lalu ia meletakkan piring berisi nasi goreng tadi. Menunggu dua laki-laki yang masih saja berbincang dengan santai sembari berjalan ke arah meja makan.


"kalian bisa lebih cepat kan, aku dan menantuku sudah kelaparan gara gara kalian berdua" sindir Sinta.


"iya ma" sahut sepasang ayah dan anaknya itu. Mereka ikut bergabung di meja makan. Menikmati sarapan pagi dengan penuh tawa. Sesekali Sinta akan memarahi putranya, atau terkadang sang suami. Sementara Hanum hanya ikut mendengarkan, dia melihat keluarga yang sangat harmonis. Ia sedang merindukan kedua orang tuanya yang telah tiada.


Ragil menyadari ada sesuatu yang membuat Hanum murung. Padahal sejak tadi dia terkadang ikut tersenyum, atau tertawa dengan pelan. Tapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan sesuatu hal. Ia yang duduk di sebelah Hanum, mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan kiri Hanum yang berada di atas paha wanita itu.


Hanum sempat meliriknya dengan tajam, tapi kemudian dia mengerti kenapa Ragil menggenggam tangannya. Dia tersenyum tipis ke arah Ragil. Meyakinkan laki laki itu jika ia baik baik saja.


Usai sarapan pagi yang sudah lewat dari jam seharusnya itu. Mereka berempat duduk santai di ruang keluarga. Seperti ayah dan putra pada umumnya. Mereka berdua asik bermain ps. Hal yang dulu sering mereka lakukan saat Ragil menginap di rumah. Yang kini sudah sangat jarang ia lakukan.


Sedangkan Hanum sedang melihat album foto milik Sinta. Berisi semua kenangan masa kecil Ragil dengan saudarinya. "Ragil sama Rayya bedanya cuma 2 tahun" jelas Sinta saat menunjuk foto Rayya kecil sedang mencium bayi laki-laki yang berada dalam pelukan Rama.


"Kak Rayya sekarang ada di mana" tanya Hanum antusias.


"dia sedang melanjutkan kuliah kedokterannya, tahun ini dia selesai. Kalau dia ketemu kamu pasti dia akan sangat senang" Hanum menatap Sinta tidak mengerti.


"dia dulu fansmu, shhhhttt ini rahasia" ucap Sinta lirih. Seolah tak ingin didengar oleh kedua pria yang sedang asik itu.


Hanum hanya tersenyum menanggapi ibu mertuanya itu. Dia sudah tidak tahan lagi ingin buang air kecil yang sejak tadi berusaha ia tahan. "maaf, boleh numpang ke kamar mandinya" tanya Hanum dengan sopan.


"kenapa harus meminta izin, ini kan juga rumah Ragil yang berarti rumah mu juga. mama antar kamu ke kamar Ragil ya" Sinta bangkit lalu meletakkan album foto itu ke atas meja. Kemudian menarik satu tangan Hanum untuk mengikutinya.


Ruang keluarga yang terletak di lantai dua itu, masih harus menaiki satu lantai lagi untuk sampai ke kamar Ragil. Hanum terdiam sejenak ketika ibu mertuanya membuka pintu kamar Ragil.


Kamar yang memiliki luas sama seperti miliknya di apartemen. Tapi minim perabotan. Hanya ranjang berukuran king size, nakas di sisi ranjang juga sofa panjang plus meja kecil. Sinta menyibakkan tirai berwarna hitam itu. Satu dinding yang ternyata sepenuhnya berupa kaca yang tinggi.


Di atas kepala tempat tidur, ada poster pemilik kamar yang ukurannya sangat besar. Juga deretan foto masa kecil Ragil yang terpajang rapi di dinding lainnya. Nyatanya Ragil adalah pria yang narsis.


"itu kamar mandinya, mama tunggu kamu di bawah ya" Sinta menepuk pundaknya menyadarkannya dari kekagumannya pada kamar itu. Tanpa menunggu jawaban dari Hanum, Sinta sudah menghilang di balik pintu.


Ia perlahan mendekati pintu kamar mandi. Membukanya lalu buru buru masuk ke dalam. Menutupnya tidak lupa juga mengunci pintunya. Ia kembali melihat ke sekeliling kamar mandi yang memiliki luas setengah kali ukuran kamar tadi. Benar benar sangat mewah. ia tidak terlalu heran, di rumah orangtuanya juga seperti itu.


Meski jarang ditempati, tapi semua peralatan mandi di sini sangat bersih. Sepertinya mereka sengaja membersihkan tempat ini setiap hari. Hanum melanjutkan niatnya untuk buang air. Setelah selesai ia berdiri di depan cermin beberapa saat. Menatap bayangan dirinya yang tampak tidak seperti biasanya.


Dingin juga kaku tidak terlihat pada dirinya saat ini. Apa karena kehangatan keluarga ini membuatnya lupa rasa sakit. Hingga hatinya seolah mencair. Atau dia memang membutuhkan keluarga.


tok tok


Hanum menoleh ke arah pintu. Ia berjalan ke arah pintu lalu memutar kunci. "kau buang air atau tidur" tubuh tinggi Ragil berdiri tepat di depannya. Tingginya yang hanya setelinga Ragil. Membuat wajahnya hampir membentur wajah Ragil. Ia menggeser tubuhnya, memberi jalan Ragil. Tapi nyatanya laki laki itu hanya berdiri memandangi dirinya yang sedang salah tingkah.


"kau tidak ingin masuk" ucapnya tergagap.


Ragil mendengus, "kenapa, kamu ingin menemani ku" tanya Ragil dengan seringai yang menggoda. Hanum mendorong tubuh tinggi itu. "jangan harap" katanya sembari berlari menuju pintu kamar yang tertutup. Tapi sial pintu tidak bisa dibuka bahkan sudah beberapa kali dicoba.


Hanum berbalik, dan mendapati Ragil sedang menggoyangkan kunci di tangannya. "tunggu di sana sampai aku selesai, atau kamu mau ke ruang kerjaku" tunjuk Ragil pada pintu di sudut kamar. Hanum mengikuti ke mana jari itu menunjuk. Pintu yang memiliki warna yang sama dengan dinding, hampir tidak terlihat.


Ia memilih untuk menunggu Ragil di sofa. Tidak lama laki laki itu sudah keluar dengan pakaian baru juga aroma wangi sabun. Sepertinya dia baru saja mandi. Aroma yang menyegarkan itu menggelitik hidung Hanum. yang membuat ia tidak bisa melepaskan matanya dari sosok yang sedang berjalan ke arahnya.


"tadi pagi aku belum mandi" pernyataan yang sangat menjelaskan kenapa Ragil mandi di siang hari yang tidak terlalu terik. Hanum yang tidak mencurigai apapun, mengangguk seakan mengerti. Tapi itu semua hanya alasan, Ragil ingin mendinginkan kepalanya yang mulai panas di siang hari itu. Setelah wajahnya tidak sengaja menyentuh wajah Hanum.


"setelah makan siang, aku akan mengajakmu ke suatu tempat" ucapnya sembari membuka kunci pintu tanpa melihat ke arah Hanum. Usai membukanya ia duduk di sisi sofa yang lainnya. kemudian melempar handuk kecil yang sejak tadi ia pegang tepat ke wajah Hanum.


Ragil menunjuk rambutnya yang masih basah, "tolong ya" "aku lihat ada hairdryer di kamar mandi tadi, kenapa tidak pakai itu" tanya Hanum yang tidak suka di perintah untuk mengeringkan rambut orang lain.

__ADS_1


"sudah kucoba, tapi ternyata mati" Ragil nyengir lebar. "bukankah kita tidak sedekat itu, kau keringkan saja sendiri" Hanum bangkit melempar handuk itu ke atas pangkuan Ragil. Lalu bergegas keluar dari kamar itu. Tiba-tiba dia merasa pipinya panas, yang entah datang dari mana.


"Hanum, kebetulan mama mau panggil kamu tadi" Sinta menghampirinya yang sedang sibuk menutupi kedua pipinya. "ada apa" Hanum buru buru menggeleng.


"syukurlah mama pikir Ragil yang buat pipi kamu merah gitu, kalau gitu ayo ikut mama" Hanum mengiringi mertuanya itu berjalan menyusuri koridor lantai tiga, lalu turun menuju lantai dua. Ia dibawa ke sebuah ruangan yang cukup besar. Yang terlihat seperti kamar presidential suite di hotel bintang lima.


Ia sadar itu adalah kamar utama rumah besar itu. Tapi apa yang membuatnya dibawa ke kamar mertuanya itu. "duduk dulu" Sinta buru buru mengambil sesuatu di atas ranjang berukuran besar itu. Sebuah kotak berukuran sedang berbahan beludru. Itu adalah sebuah kotak perhiasan.


Lalu Sinta meletakkan kotak itu ke atas pangkuan Hanum. "hadiah pernikahan dari mama" ucapnya sembari tersenyum ke arah Hanum.


Hanum menatap Sinta, "mama hanya bisa berterimakasih kepada mu, mama hanya berharap kalian berdua hidup bahagia selamanya. Apapun akan mama lakukan" Sinta mulai berkaca-kaca, dia tidak bisa menahan air matanya jika sudah menyangkut kebahagiaan anaknya.


"Hanum janji, harapan mama akan tercapai suatu saat nanti" ucap Hanum dengan tulus sembari menggenggam kedua tangan mertuanya itu.


Sinta mengangguk senang, dia membawa tubuh Hanum ke dalam dekapannya. Mereka berdua berpelukan dengan erat.


*


"pokoknya kamu harus sering-sering bawa Hanum ke rumah" Sinta berkali-kali mengingatkan Ragil yang sudah tampak bosan itu. Mereka kini sedang berada di depan teras rumah, mengantar kepergian pengantin baru itu.


"iya, tapi Ragil nggak bisa janji ya ma" Ucap Ragil sembari mengecup pipi sang ibu, untuk menghentikan Sinta yang akan kembali bicara. Sementara Hanum hanya tersenyum melihat kebersamaan keluarga itu.


"dia akan bersikap seperti itu jika sudah bersama dengan mamanya" Suara Rama membuat Hanum dan yang lainnya menoleh ke arah pria paruh baya itu.


"namanya juga anak-anak" ucap Sinta menimpali. "jangan salah, gini gini udah bisa bikin anak tahu" ujar Ragil membanggakan dirinya.


"uhuk uhuk" Hanum terbatuk-batuk mendengar ucapan Ragil barusan. Pipinya memerah seperti tomat. Sementara yang lainnya malah tertawa senang melihat perubahan di wajahnya.


plak, tangan Sinta mendarat di lengan Ragil dengan keras. "aduh" Ragil berpura-pura kesakitan. "jangan bercanda terus, tuh liat istri kamu jadi malu gara gara kamu" Tunjuk Sinta pada Hanum yang masih sibuk menutupi wajahnya.


"kalau Ragil menyakiti hatimu, jangan sungkan untuk menghubungi papa" pesan Rama sebelum Hanum dan Ragil masuk ke dalam mobil.


Ia hanya tersenyum menanggapi pesan ayah mertuanya, lalu melambai sebentar pada kedua orang tua barunya itu.


Kepergian Ragil dan Hanum membuat dua orang yang masih berdiri di sana saling tatap. "kamu tidak perlu khawatir, mereka pasti akan saling jatuh cinta" Rama melingkarkan tangannya ke atas bahu sang istri. Lalu menarik Sinta yang berdiri di sampingnya hingga menempel padanya.


*


Di dalam mobil itu keduanya tidak saling bicara. Ragil fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan Hanum sedang memeriksa pesan di ponselnya. Hingga beberapa saat mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah yang memiliki halaman cukup luas. Dengan banyak pohon tumbuh di halaman rumah itu.


Hanum meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas miliknya. Dia menoleh ke arah Ragil yang sedang membuka pintu mobil. "turun, jangan takut aku tidak tertarik padamu. jadi jangan berpikir yang tidak-tidak" perintah Ragil saat sudah berdiri di luar mobilnya.


Ia mengikuti Ragil berjalan ke depan rumah berlantai dua itu. "rumah siapa" tanyanya singkat.


"hadiah dari papa untuk kita" Jawab Ragil sembari membuka pintu rumah. "oh"


"rumah ini akan menjadi milikmu setelah perceraian kita nanti" kata Ragil saat keduanya sudah berada di dalam ruang tamu itu.


Hanum hanya diam ia tidak menyangka Ragil akan menyinggung tentang perceraian di saat itu.


"kamu bisa memilih tetap tinggal di apartemen mu atau di sini" sambungnya lagi.


"bukan kah sudah jelas kita tidak tinggal dalam satu rumah" ucap Hanum memperjelas perjanjian antara mereka berdua.


"bagaimana kalau suatu hari mama atau papa tahu, kita tidak tinggal satu rumah" kilah Ragil.


"itu akan jadi masalah untuk mu, bukan untuk ku" kata Hanum sembari mengalihkan pandangannya ke sekeliling.


"hanya tinggal satu rumah, bukan berarti tinggal di kamar yang sama" ucap Ragil meyakinkan.


Hanum kembali menatap Ragil, kali ini dengan wajah curiga. "kenapa kamu begitu ingin aku tinggal di sini bersama dengan mu, apa kamu tertarik padaku"


"jangan bermimpi, bahkan berdekatan dengan mu saja sudah membuat kulitku gatal gatal" ucap Ragil kasar.

__ADS_1


"kita buktikan omongan siapa yang paling benar" tantang Hanum


__ADS_2