
Sejak di rawat di rumah sakit, Hanum jarang menggunakan ponselnya. Bisa dibilang tidak pernah. Karena setelah meminta perawat menghubungi Elma. Ponsel itu dia titipkan pada perawat itu. Saat sudah ditangan Elma, ponsel sudah dalam kondisi mati. Tadi sahabatnya itu memberikan ponsel miliknya saat pertama kali dia datang, lalu pergi ke kantor.
Dia membuka laman internet. Lalu mengetikkan beberapa kata kunci. kemudian menekan tombol search. Perlu beberapa saat hingga layar menampilkan artikel yang bersangkutan dengan kata kunci. Matanya mengerjap beberapa kali, jarinya menggeser naik turun. Mencari wajahnya di beberapa berita terbaru. Tapi dia tidak menemukan apapun. "apa beritanya tidak diposting, kenapa tidak ada satupun berita tentang malam itu" gumamnya.
tok tok
Hanum melihat seorang wanita cantik yang berdiri di ambang pintu. Wanita itu melambai. Dia seperti mengenal wajah itu. "hai, apa tante boleh masuk" wanita itu menyapanya sembari meminta izin. ah, wanita di apartemen Hanum mengangguk tanda mengizinkan.
Mata Hanum membulat saat menangkap sosok lelaki di belakang wanita itu. Seolah tahu apa yang ada dipikiran Hanum. "eh, angap saja dia tidak ada" Sinta menujuk tepat di wajah anaknya. Lalu kembali berjalan mendekat ke arahnya.
"gimana kondisi kamu sekarang" Sinta bertanya dengan sangat lembut. "ba baik tante" jawab Hanum sedikit canggung. Dia menyentuh hidungnya untuk mengurus rasa canggungnya.
"maaf soal makan malam waktu itu ya. Karena Ragil kebanyakan gen papanya, jadi ya sifat jeleknya persis papanya" ucap Sinta menyesal. Sedangkan anaknya sendiri memutar matanya jengah. "tidak masalah, tante" Sinta tersenyum mendengar jawaban dari Hanum.
"sudah makan? kalo belum, kebetulan tante bawa makanan kesukaan kamu" Hanum melihat ke arah jam dinding. Sudah lewat jam makan siang ternyata. Tapi tidak ada satupun perawat yang mengantarkan makanan untuknya.
"ada apa, apa kamu sedang menunggu seseorang" Tanya Sinta sembari tangannya membuka termos makanan. "ah tidak apa-apa" Hanum menggeleng. Sebenarnya Sinta mengetahui kegelisahan yang sedang dirasakan olehnya. Tapi wanita itu tetap menyembunyikannya. Makanan yang seharusnya untuk Hanum sudah dilahapnya sampai habis tadi sebelum masuk. Ragil tertawa dalam hati melihat kelakuan ajaib Sinta.
"mama" panggil Ragil sambil menyentuh lengan Sinta. "hmm" "ma, Ragil pergi ya" bisiknya membuat Hanum menoleh ke arahnya. Kemudian membuang mukanya saat matanya bertemu dengan mata elang milik Ragil.
"tetap di sini" gertak Sinta dengan pelan. Seketika nyali Ragil menciut. Dia memajukan bibirnya. Berdiri dengan kaku di samping mamanya. "silahkan sayang" Sinta menyerahkan piring berisi nasi dan lauk pauk ke tangan Hanum. "terimakasih, tante. Tapi Tante tidak makan" ucap Hanum.
Sinta tersenyum lalu membelai kepala Hanum, "tante sudah makan tadi, makanlah" ujar Sinta. Hanum menuruti semua perkataan Sinta. Dia makan dengan perlahan, namun tidak berani mengangkat wajahnya.
"kalo kamu merasa nggak nyaman. Sebaiknya tante sama Ragil nunggu di luar ya. Kamu habiskan dulu makanan itu" Buru buru tangan Hanum bergerak, "tidak perlu keluar tante. Kalian bisa tetap di sini" Katanya dengan mulut yang penuh makanan. Wajahnya sangat menggemaskan saat sedang berbicara. Dan membuat Ragil membuang muka, untuk menutupi senyum tipis di bibirnya.
"menggemaskan" gumam Ragil. "baiklah, sekarang lanjutkan makanmu. Tante dan Ragil akan duduk di sofa" Sinta menyentuh pucuk kepalanya, lalu bergerak ke arah sofa bersama dengan Ragil. Meninggalkan Hanum yang tampak merona karena sudah lama tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Dia kembali melanjutkan makannya, sesekali melihat ke arah sepasang ibu dan anaknya yang tampak sedang asik berbicara. andai ibu masih ada, aku jadi iri pada lelaki sombong itu batinnya.
*
Sinta yang pergi karena urusan penting meninggalkan dua orang dalam keadaan canggung. Mereka berdua diam di tempatnya masing-masing. Terlalu sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Entah apa yang sedang dipikirkan. Hanum yang sejak pagi belum buang air, tiba tiba merasakan ingin buang air besar. Seolah tidak ingin merepotkan siapa pun, dia turun dari tempat tidur. Lalu menggeser tiang infus secara perlahan menuju pintu kamar mandi. Semua gerakannya terpantau oleh mata Ragil yang sedang pura pura melihat layar ponsel.
Karena tidak melihat nakas di sebelah pintu kamar mandi. Lututnya terbentur cukup keras. "aduh" dia mengaduh sembari mengelus bagian lututnya. Sesuatu yang dia lupa karena gerakannya yang terlalu terburu-buru membuat tiang infus jatuh kearahnya. Hanum terkejut saat tangan panjang seseorang melindunginya dari kejatuhan tiang infus. Dia melihat tangan itu lalu berpindah ke bagian wajah. Wajah tampan yang sedang menatapnya juga. Perlu beberapa detik sampai dua orang itu sadar kemudian sama sama salah tingkah.
"dasar ceroboh" kata Ragil. "maaf" Hanum menggeser tiang infus dengan cepat melewati Ragil. Dia membuka pintu lalu menutupnya dengan cepat. Tangan kanannya meraba jantungnya. Tiba-tiba detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Hanya karena tidak sengaja bertemu tatap dengan Ragil.
Sedangkan Ragil pun sama, dia sedang menepuk dadanya untuk mengurangi debaran jantungnya. Dia tidak ingin perasaan yang sepertinya tidak boleh dia miliki dengan wanita itu.
Sudah setengah jam Hanum di dalam kamar mandi, dia takut keluar dan melihat Ragil. Sementara Ragil merasa khawatir Hanum yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Tapi dia tidak berani mendekat dan bertanya. Hingga sebuah pesan membuatnya berlari keluar dari ruangan itu. Ragil buru buru pergi ke parkiran, lalu mengendarai mobilnya menuju ke kantor managementnya.
Setelah meyakinkan diri, Hanum memutuskan untuk keluar kamar mandi. Hatinya sedikit kecewa saat mendapati orang yang dia kira sedang menunggunya sudah tidak ada. "apa yang kamu harapkan Hanum" tanyanya pada dirinya sendiri. Dia merebahkan tubuhnya lalu berusaha untuk tidur.
*
Sementara itu, Ragil yang mendapat kabar tentang semua kontrak yang sempat tertunta sudah bisa dilanjutkan sangat senang. Dia langsung menuju ke kantor bosnya. "jika lain kali lu buat masalah, maaf gue nggak bisa bantu" ancam bosnya saat dia akan keluar ruangan. "oke bos" katanya sembari tertawa.
__ADS_1
Chelsea berdiri di belakangnya dengan senang. Akhirnya berita skandal itu sudah selesai. Setidaknya dia merasa tempatnya masih aman. "selamat atas kembalinya idol kita" katanya menyemangati Ragil. "terimakasih" ujar Ragil sembari tersenyum lebar.
Setelah itu Ragil mulai sibuk dengan semua jadwalnya. Sesekali tampil di acara musik. Hari hari yang sangat sibuk sudah dimulai. Dia seolah sudah melupakan perjanjian antara dirinya dengan tiga orang paruh baya waktu itu.
Malam harinya, Ragil tidak kunjung terlelap. Dia sedang memikirkan seseorang. "dia baik baik saja kan. gimana kalo ternyata dia jatuh di kamar mandi. terus pingsan" Entah apa yang membuatnya berpikiran seperti itu.
Ragil mencari satu nama di kontak ponselnya. Sempat ragu, tapi kemudian dia mengetikan beberapa kata di layar ponselnya.
Hai, apa kamu baik baik saja, kemudian dia menghapus semuanya.
Kamu sudah keluar dari kamar mandi? pesan yang sangat aneh. Akan tetapi Ragil tetap mengirimkannya.
Tak lama dia mendapatkan sebuah pesan.
Sdh , hanya satu kata yang disingkat. Ragil menggaruk tengkuknya. Benar benar tidak normal. "apa dia memang seperti ini, kaku" gumamnya.
ting!!!
siapa? pesan kedua sedikit lebih manusiawi. Kali ini Ragil tidak membalasnya. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas. Kemudian merebahkan tubuhnya. Dia menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya. Tapi kemudian tangan kanannya menyambar ponselnya. mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
Ragil
Sementara di rumah sakit, Hanum yang membaca pesan terakhir dari Ragil terheran-heran. Dia membalasnya dengan "oh". Bagaimana lelaki itu bisa mendapatkan nomer ponselnya. Dia berusaha tidak peduli. Lalu meletakkan benda pipih itu ke samping batal. Kemudian memejamkan kedua matanya. Dia baru saja minum obat, yang membuatnya semakin mengantuk.
*
Hanum sudah kembali bekerja sejak seminggu lalu. Pekerjaan yang sebelumnya dia tinggalkan diambil alih oleh direktur keuangan lainnya. Sejak dua hari yang lalu juga dia pindah kantor dan juga jabatan. Dia menjabat sebagai direktur pelaksana. Pekerjaan yang sama sibuknya.
"setengah jam lagi ada rapat dengan Presdir" Elma mengingatkan padanya yang sedang berkutat dengan beberapa dokumen. "hm, siapkan dokumen yang kuminta tadi pagi. Sepuluh menit lagi kita ke ruang rapat" pintanya yang langsung di balas anggukan kepala dari Elma. Setelah itu Elma kembali ke meja kerjanya. Sedangkan Hanum menyelesaikan pekerjaan yang tersisa.
Di dalam ruangan rapat terdapat meja panjang besar dengan kursi kursi yang mengelilingi meja. Air minum sudah tersusun rapih di atas meja. Ruangan itu masih sepi, baru ada beberapa orang. Termasuk Hanum dan Elma yang langsung duduk menempati tempat duduknya.
"bukankah Presdir meminta seorang Idol yang menjadi pemeran utamanya" terdengar obrolan dua wanita di sudut ruangan. "iya, kudengar juga hari ini orang itu akan menandatangani kontraknya" sahut wanita lain. "aah, benarkah"
"apa aku melewatkan banyak hal" bisiknya di samping Elma. "kayaknya gue juga" ujar Elma. Hanum berusaha untuk tidak peduli. Dia kembali duduk dalam diam. Hingga waktu mendekati rapat dimulai. Hampir seluruh peserta rapat hadir. Mereka hanya sedang menunggu presdir mereka.
"maaf membuat kalian lama menunggu" Dewa melangkah masuk lalu berdiri di depan kursinya. Hanum juga peserta rapat lainnya tiba tiba teralihkan dengan kehadiran seseorang yang datang setelah Dewa masuk. Beberapa wanita bahkan terlihat tidak bisa menutupi kekagumannya. "cast utama yang sudah hadir akan ikut rapat kali ini. setelah itu dia akan menandatangani kontrak dengan kita" jelas Dewa untuk menjawab rasa penasaran orang orang di dalam ruang rapat.
Sementara orang yang sedang menjadi pusat perhatian itu terkejut saat matanya bertemu dengan mata seseorang. Entah apa yang membuatnya susah mengalihkan perhatiannya. Hingga tepukan pelan di pundaknya menyadarkannya.
"duduk" Chelsea berbisik kemudian mendahuluinya duduk di kursi miliknya. Ragil ikut duduk di kursi miliknya juga. Rapat berlangsung sangat cepat. Mereka hanya membahas masalah film yang akan mereka garap. Kini hanya tersisa 6 orang di dalam ruang rapat itu. Hanum yang sedang menjelaskan detail kontrak pada dua orang didepannya tampak sangat memukau bagi Ragil. Matanya tidak bisa berhenti melihat wajah cantik Hanum.
"ada pertanyaan" tanya Hanum. Dia merasa tidak nyaman dengan mata tajam itu yang sejak tadi menatapnya. Awalnya dia berusaha untuk tidak memperdulikannya. Tapi lama lama kerja jantungnya tidak bersahabat dengan baik.
"sepertinya semua sudah jelas, kami sudah membaca kontraknya sebelum ke sini tadi. Dan kami tidak menemukan keraguan" jelas Chelsea yang di setujui oleh Ragil.
__ADS_1
"kalau begitu silahkan tanda tangani di sini" Hanum meletakkan bolpoin persis di tempat untuk tanda tangan. Dia memperhatikan Ragil yang langsung menandatangani beberapa lembar kontrak kerjasama itu. Disusul Dewa juga ikut menandatangani kontrak itu kemudian menyalami Ragil. Hanum ikut mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Chelsea menyambut uluran tangannya, kemudian Ragil dan bergiliran dengan yang lainnya.
*
Syuting film ditentukan setelah menemukan pemeran utama wanita juga pemain yang lainnya. Pemeran utama wanitanya adalah seorang aktris cantik yang bernama Karina Jasmin. Mereka semua berkumpul untuk melakukan pembacaan naskah. Setelah itu hari hari yang sibuk dimulai. Semua cast dan para crew sudah mulai melakukan syuting di daerah puncak. Perusahaan menyewa 1 villa besar untuk tempat mereka tinggal sementara. Karena lokasi syutingnya yang tidak memungkinkan untuk pulang pergi.
Sementara Hanum sedang disibukkan dengan beberapa sponsor untuk film tersebut. Terkadang dia harus ke tempat syuting film untuk meninjau jalanan proses syuting. Seperti kali ini, dia datang dengan maksud untuk mengundang seluruh crew dan pemain untuk makan malam atas permintaan sponsor.
Setelah bertemu sutradara dan juga para pemain untuk mengundang mereka secara simbolis. Hanum pergi ke hotel tempat akan dilangsungkan makan malam nantinya. "istirahatlah, lu keliatan capek banget" Elma memberikan sebotol air mineral padanya. "tidak bisa, sebaiknya kamu yang istirahat dulu. bahkan dari kemarin kamu terus bekerja bersama dengan ku" selanya. "nggak deh. nanti aja istirahatnya" Bagaimana Elma bisa melihat bosnya bekerja sedang dia tidak.
*
Makan malam berlangsung sangat meriah. Usai menyantap suguhan makanan bintang lima. Mereka semua berpesta. Botol botol minuman keras berjajar di setiap meja. "silahkan direktur, suatu kehormatan untuk saya bisa bekerjasama dengan anda" Ucap sutradara itu sembari menyodorkan segelas minuman beralkohol.
"maaf saya tidak terbiasa minum" Hanum mengangkat jus jeruk di tangannya. Sutradara itu tampak canggung, tapi kemudian Hanum menerima gelas itu. "saya akan mencobanya demi film ini" Katanya lalu meneguk minuman itu dengan cepat. Hanum hanya merasakan rasa yang asing untuknya.
"wah kalau saja anda tidak memberitahu jika tidak biasa minum. Mungkin saya akan menganggap anda adalah ahlinya" puji sang sutradara.
"tolong anda jangan memuji saya terlalu berlebihan. Saya masih banyak kekurangan" ujar Hanum sopan. Sutradara bernama Alex itu tersenyum dengan aneh, tanpa disadari oleh Hanum.
Sementara tak jauh dari tempat mereka berdua seseorang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan yang tajam. Ragil bahkan meremas botol air mineral dengan satu tangan. Dia teringat pesan singkat dari papanya tentang sutradara bernama Alex itu. Adalah seorang pria hidung belang dan mesum.
"Ragil, ayo bersulang" seseorang memecah perhatiannya. Ragil mengenal orang tersebut. Dia adalah kameraman. Tanpa curiga Ragil mengangkat minuman yang belum dia sentuh sejak tadi. Kemudian mengayunkan pelan sampai menyentuh gelas milik kameraman itu. Ragil meminumnya dengan cepat sampai tandas.
Pesta sudah selesai sejak tadi. Di ruangan itu hanya menyisakan Hanum yang masih berbincang dengan sutradara. Kemudian Ragil yang tetap duduk diam menunggu mereka selesai berbicara. Sementara Chelsea sudah pamit kembali ke villa sebelum acara selesai.
Tiba-tiba Hanum merasakan kepalanya pusing. Pandangannya juga sedikit kabur. "maaf, saya harus kembali" Hanum sudah berdiri. Meski tubuhnya sedikit terhuyung, tetapi dia tetap memaksakan untuk berdiri.
"anda tidak apa-apa. mau saya antar" sutradara itu menawarkan diri. "tidak perlu. kebetulan saya menginap di hotel ini" ujar Hanum kemudian dia berjalan dengan sangat pelan. Tubuhnya sudah beberapa kali terhuyung. Tapi beruntung dia tidak sampai terjatuh. Satu hal yang dia tidak sadari adalah kehadiran seseorang yang terus mengikutinya.
Saat masuk ke kamarnya, tiba-tiba tubuhnya didorong dengan kuat ke atas ranjang. Hanum terkejut, "pak, apa yang anda lakukan" tanyanya sembari menahan tubuh Alex yang berusaha menindihnya.
"tidak, tolong" suara Hanum semakin melemah. Gerakan tangannya pun juga mengendur. Tapi dia berusaha untuk tetap tersadar. "nggak ada yang bisa melawan obat itu. lu tinggal diam, supaya kita sama sama enak" kata Alex diiringi suara tawanya yang sangat menyeramkan menurut Hanum saat itu. Tangan Alex sangat aktif. Dia sudah membuka kemeja Hanum secara paksa. Meski hanya dua kancing yang terbuka.
"tolong, tolong" Hanum menggunakan kekuatan terakhirnya untuk menahan wajah Alek yang berusaha menciumnya. Tiba-tiba dia mendengar suara Alex yang mengaduh. Kemudian kesadarannya hilang.
Sementara tubuh Alex ditarik dengan kuat, lalu terjatuh di lantai. Alex tertawa melihat orang yang menariknya. "wah ada pahlawan kesiangan rupanya. pergi sana. Kalo lu tetap mau main di film ini" ancaman Alek tidak membuat Ragil gentar. Justru lelaki itu mengayunkan tinjunya beberapa kali ke wajah Alek. Dia seolah tak memberi ampun. Setelah Alek terkapar di lantai, untuk beberapa saat sutradara mesum itu tidak bisa melawan.
"pergi, atau satpam yang bakal narik lu dari sini" kali ini giliran Ragil yang mengancamnya. "cuh, gue pastikan lu nggak akan bisa main di film ini lagi" Alek berdiri lalu keluar dari kamar itu. Meninggalkan Ragil yang tampak tidak perduli dengan ancaman Alek. Dia berbalik untuk melihat Hanum.
Tapi tubuhnya tiba-tiba merasa panas. Padahal ruangan itu sudah berAC. Ragil menyadari tubuhnya yang mulai semakin panas. Ini adalah sensasi yang muncul karena seseorang telah meminum obat perangsang. Ragil tidak tahu siapa yang berusaha menjebaknya. Tapi sekarang yang paling penting dia harus menghentikan efek obat itu.
Dia berlari ke kamar mandi. Menyalakan keran air. Tapi sial air tidak menyala. Dia berusaha bertahan tapi tetap tidak bisa. Ragil keluar kamar mandi. Mendapati tubuh Hanum yang terbaring di ranjang. Dia berjalan menuju lemari pendingin di samping nakas. Tapi hanya menemukan sebotol kecil air mineral. Ragil langsung menuangkan air itu ke arah kepalanya. Namun air itu tidak berhasil mendingin gairahnya saat ini.
Dia berusaha untuk tetap bertahan. Tapi semakin dia berusaha untuk bertahan. Rasanya semakin menderita. Dia kembali mendekati Hanum. Rok span yang tersingkap, sedikit memperlihatkan paha mulus itu. Apalagi kemeja Hanum yang sempat di tarik paksa oleh Alek, membuat dua kancing bagian atasnya lepas. Dan sedikit memperlihatkan benda kenyal dibalik kain penutup berwarna hitam. Ragil menelan salivanya dengan susah payah. Rasanya semakin sakit, Ragil mengumamkan kata 'maaf' berulang kali. Karena akhirnya sesuatu yang tidak bisa lagi dia tahan akan membuatnya menyesal.
__ADS_1