Forever With You My Idol

Forever With You My Idol
bab 22


__ADS_3

"Ibu"


"Ibu"


Hanum terus memanggil ibunya dengan lirih saat matanya masih terpejam. Wanita itu saat ini sedang di tangani oleh dokter. Setelah Ragil menemukan Hanum tidak sadarkan diri.


Sementara Ragil terus menggenggam tangan Hanum. Dia berdiri di sana, sembari terus melihat dokter dan perawat bekerja memasang infus juga memeriksa wanita itu.


Ia semakin mengeratkan genggamannya ketika tubuh lemah itu mulai terlelap. Mungkin suntikan obat itu yang membuat Hanum lebih tenang.


Ragil benar benar sangat khawatir, setelah menemukan Hanum ia berjanji akan terus menjaga Hanum.


Flashback on


Pagi itu jalanan sangat padat. Ragil harus mencari jalan lain untuk bisa keluar dari kemacetan itu. Perlu lebih dari setengah jam, agar mobilnya bisa keluar dari kemacetan yang disebabkan oleh kecelakaan di persimpangan jalan.


Ia tidak peduli dengan jalanan gelap hutan di sekelilingnya. Ragil hanya berharap bisa segera menemukan Hanum.


Setelah sampai di depan sebuah rumah berlantai dua, yang tampak tidak terurus. Ragil sempat ragu. Karena tidak terlihat ada orang di sana. Atau tanda tanda kehidupan di sana. Pagar yang digembok, juga pintu yang digembok. Membuatnya sedikit ragu untuk masuk ke dalam.


Tapi Ragil berusaha untuk tetap masuk ke dalam dan memeriksa tempat itu. Ia hanya berharap Hanum benar ada di tempat, atau dia akan terus mencari di seluruh hutan ini.


Ragil kembali ke mobilnya untuk mengambil sebuah kunci Inggris. Lalu mengayunkan benda itu ke arah gembok dengan kuat. Krakk, bunyi benturan kedua benda itu menandakan gembok berhasil dirusak dan terbuka.


Ia kembali melakukan hal yang sama pada gembok di pintu. Setelah berhasil masuk, Ragil dengan setengah berlari memeriksa setiap ruangan di lantai satu. Ia beralih ke lantai dua, dan terheran-heran saat mendapati beberapa layar monitor. Juga poster bergambar dirinya yang terpasang rapi di setiap dinding.


Ragil semakin yakin Hanum disekap di tempat itu, setelah melihat salah satu foto di sana adalah foto Hanum. Dia kembali mencari di salah satu ruangan yang tertutup.


Sial, sekali lagi pintu terkunci. "Hanum, Hanum. apa kamu di dalam" Ia berusaha memanggil Hanum dengan terus memutar kenop pintu itu.


Bruuukkk


Pintu terlempar setelah ia menendang pintu itu dengan kuat. Ragil langsung bergegas masuk ke dalam.


"Hanum" Ragil berlari ke arah tubuh Hanum yang tergeletak di lantai. Wajah Hanum sangat pucat, ada luka dengan darah yang mengering di pelipis dan juga ujung bibirnya.


"Hanum bangun sayang. Aku di sini" ucapnya dengan lembut sembari membelai wajah pucat Hanum. Ia tidak sadar dengan ucapannya sendiri. Ragil hanya fokus pada Hanum.


Usahanya membangunkan Hanum tidak membuahkan hasil, ia dengan cemas langsung membawa tubuh ramping Hanum ke dalam gendongannya. Lalu dengan sangat berhati hati menuruni anak tangga. Tepat saat itu, Hoshi dan juga rombongan polisi datang. Tapi ia tidak mengehentikan langkahnya membawa Hanum ke dalam mobilnya.


Setelah ia meletakkan tubuh Hanum dengan sangat pelan, Ragil dihentikan oleh Hoshi saat akan masuk ke dalam mobilnya.


"tolong jaga nona. Saya akan urus semuanya di sini" kata Hoshi sebelum Ragil masuk ke dalam mobilnya.


"jangan biarkan orang itu lolos, atau kupakai caraku sendiri" Hoshi mengangguk, sepeninggal Ragil dan Hanum ia mulai ikut memeriksa tempat itu.


flashback off


Sinta dan Rayya berjalan dengan cepat menyusuri lorong rumah sakit. Setelah mendapat kabar dari Ragil, Rayya langsung mengajak Sinta ke sana.


Mereka langsung masuk ke dalam ruangan Hanum. Dan menyapa Ragil sebentar, lalu melihat kondisi Hanum. Begitu juga Sinta, wanita paruh baya itu langsung membelai surai sang menantu yang sedang terlelap itu.


"jadi siapa orang yang menculik Hanum" Ragil menoleh ke arah sang mama.


"salah satu penggemar ku, ma. Itu juga baru dugaanku aja" jawab Ragil sembari menghela nafasnya.


"bagaimana bisa" tanya Sinta tak percaya.


"Ada banyak posterku, orang orang yang pernah dekat denganku bahkan foto Hanum juga ada. Dia mengaku sebagai penggemarku, tapi tidak ingin aku dekat dengan wanita lainnya. Apalagi dia pasti tahu hubungan ku dan Hanum lebih dari sekedar kenal" jelas Ragil.


"mama benar benar heran sama orang itu. Kalau dia penggemar mu, kenapa dia tidak mau lihat kamu bahagia dengan wanita pilihan mu"


"ma, Ndaru pernah bilang. Kalau dia itu sayang banget sama penggemarnya. Dia nggak bisa hidup tanpa mereka. Mungkin aja salah satu dari mereka punya pemikiran yang salah mengartikan ucapan Ndaru. Jadi mereka punya pemikiran kalau Ndaru itu punya mereka. Nggak ada yang boleh miliki Ndaru, selain mereka" Rayya mencoba menenangkan sang ibu.


"itu berarti Hanum nggak akan aman selama orang orang yang punya pemikiran seperti itu masih ada. Mama nggak ngerti lagi deh, mereka berani menculik itu berarti berani melawan hukum" ucap Sinta dengan takut.


"mama nggak perlu khawatir, kejadian kaya kemarin nggak akan terulang lagi. Ragil janji"


Sinta tersenyum mendengar ucapan Ragil. Ia lantas kembali melihat ke arah Hanum yang masih terlelap di atas tempat tidur.


"kamu bukannya harus syuting ya"


"hmm, sebentar lagi"


"pergi aja, ada mama sama aku yang jagain Hanum. Kamu fokus sama kerjaan kamu aja"


"oke, paling lama tiga jam. Aku nitip Hanum ya"


"iya, hati hati"


Setelah Ragil pergi, Rayya menghampiri sang ibu. Lalu ikut duduk di sofa dengan Sinta. Mereka tidak banyak bicara, hanya sesekali bersuara.


*


Setelah dua hari dirawat, Hanum kembali ke rumah dengan kondisi yang jauh lebih baik. Ia juga langsung inginkan berangkat ke kantor dihari berikutnya. Hal itulah yang membuat Ragil dan Hanum bertengkar.


"tunggu" Ragil menutup pintu mobil Hanum yang baru dibuka sedikit oleh Hanum.


"ada apa"


"kamu baru keluar dari rumah sakit, setidaknya istirahatlah dulu untuk beberapa hari ini" jelas Ragil.


"aku baik baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan" ucap Hanum, setelah itu ia kembali membuka pintu mobilnya.


"enggak, aku ngelarang kamu pergi" tegas Ragil. Sekali lagi ia menutup pintu mobil dengan keras.


"urus saja urusanmu sendiri, jangan terlalu ikut campur. Setelah pernikahan ini berakhir, aku harap tidak lagi berurusan dengan mu" ucap Hanum dengan keras.


Dia sangat kesal dengan sikap Ragil, yang tiba tiba mengaturnya. Dengan cepat Hanum kembali membuka pintu mobil, kali ini Ragil tidak menutupnya lagi. Dan membiarkan mobil bergerak meninggalkan halaman rumah mereka.


"dasar keras kepala" gerutunya.


Ia tersadar akan satu hal, pernikahan mereka terjadi bukan karena cinta. Mereka akan berpisah setelah tiga bulan berlalu. Menyadari hal itu Ragil merasa seperti tidak rela, juga tidak ingin semuanya terlalu cepat berakhir untuk mereka.


Ragil memutuskan kembali masuk ke dalam rumah, bersiap untuk ke salah satu stasiun televisi. Setelah bersiap ia dengan cepat langsung meluncur dengan mobilnya. Moodnya kali ini sangat buruk, ia hanya diam saat bertemu orang orang di tempat syuting.

__ADS_1


Setelah melakukan bagiannya, Ragil kembali pergi ke tempat lainnya. Kali ini dia harus menjadi bintang tamu di salah satu acara televisi. Tidak lama, sehabis menyanyi ia kembali masuk mobil. Saat ia berniat ingin tidur, ponselnya berdering.


"ma, Ragil mau tidur" rengeknya.


"mama minta tolonglah, kamu di mana" Terdengar suara Rayya dan juga sang ayah sedang berbicara.


"di studio I, baru selesai ngisi acara"


"pas kalau gitu, kita mau ke bandara. Tapi mama mau kasih makanan buat Hanum. Kalau gitu kamu tunggu di jalan ya, kita ketemu di sana. Pak, pak ke studio I" Sinta langsung mematikan sambungan teleponnya.


Ragil kembali menyimpan ponselnya. Lalu meletakkan kepalanya di atas kemudi. Untuk beberapa saat ia terlelap. Setelah kembali terdengar dering ponselnya, Ragil mendapati sang mama menghubunginya lebih dari tiga kali.


"iya, aku ke sana" Ragil menjalankan mobilnya keluar dari baseman.


Di seberang jalan, ia melihat mamanya menenteng paper bag sembari berbincang dengan Rayya. Melihat mobil Ragil mendekat, Sinta langsung menghampiri mobil Ragil.


"mama minta tolong ya, antar ini buat Hanum" pinta Sinta.


"kan mama bisa ke sana sendiri" "mama nggak bisa, kakak kamu dikabari tentang wisudanya. Jadi mama sama papa langsung ikut Rayya"


"kenapa mendadak"


"Rayya lupa cek email dari awal sampai ke sini, terus temannya ngingetinnya baru tadi pagi. Jadi mendadak deh"


"kita berangkat ya, bye"


Lalu kaca mobil terbuka, "Ndaru, jaga Hanum baik baik" pesan sang papa sebelum mobil bergerak.


Ia hanya mengangguk angguk, dan melambai mengiringi kepergian mereka bertiga. Ragil menatap paper bag di tangannya dengan menghela nafas. Dia memeriksa ponselnya, sudah hampir pukul setengah dua belas. Kantor itu akan ramai karena orang orang berlalu lalang untuk keluar mencari makan.


Ragil memperhatikan penampilannya, setelan jas dan juga sepatu pantofel. Orang orang akan menaruh perhatian padanya karena ia mengenakan pakaian ini saat acara live tadi. Ragil membuka pintu bagasi, dan di sana tergantung pakaian juga jaket dengan rapih. Ia punya ide dengan jaket kulit itu.


*


Hanum dengan ekspresi wajah datar dan juga dingin, memang sudah menjadi rahasia umum dikalangan karyawan Paradewa.


Tapi mereka yang merasa sikap Hanum semakin dingin dari biasanya. Mungkin karena ia kembali mengenakan setelan jas, yang membuatnya tampak lebih angkuh. Jika sebelumnya gips di lengannya, membuat penampilan presdir mereka jauh lebih santai.


Ia merasa seperti kehilangan dirinya yang dulu. Diperhatikan oleh Ragil beberapa hari ini membuatnya sedikit luluh. Tapi menyadari bahwa keduanya tidak mungkin bersama, membuatnya harus mengakhiri hubungan yang baru membaik itu.


Hanum melihat bayangannya di pantulan dinding kaca di hadapannya. Cantik, kaya raya dengan itu semua ia bisa mendapatkan pria dengan standar yang lebih tinggi. Tapi ia sudah tidak percaya lagi dengan pria manapun. Terlebih ia pernah merasa dibuang.


Ditengah lamunannya, seseorang mengetuk pintu.


tok tok


Hanum menoleh ke arah pintu yang masih tertutup. "masuk" Segera pintu ruangan Hanum dibuka. Hoshi berdiri di sana, lalu melangkah dengan cepat ke tempat Hanum.


Melihat kedatangan Hoshi, ia lantas melipat kedua tangannya di atas dada. Lalu menyandarkan punggungnya di dinding kaca, sedang salah satu kakinya menyilang di depan kaki lainnya.


"Kami sudah berhasil menangkap orang yang menculik anda" Hoshi menyerahkan beberapa lembar foto juga data diri pelaku pada Hanum.


Hanum meraih lembaran itu, kemudian melihat ke arah Hoshi. "menangkap satu orang, seharusnya tidak butuh waktu lama untuk mu" sindir Hanum sembari berjalan ke meja kerjanya.


Hoshi ikut berpindah ke depan meja kerja Hanum "maaf, nona" Hoshi menunduk.


Ia memberi hormat, "baik, nona" lalu berbalik untuk undur diri. Sebelum dia membuka pintu, Hanum mencegahnya.


"tunggu, aku harus minta pendapat seseorang terlebih dulu. Pastikan saja dia tidak terluka" pintanya dengan cepat.


Hoshi mengangguk, kemudian kembali membuka pintu dan keluar.


*


Ragil berdiri di depan lobby kantor perusahaan Paradewa dengan menenteng paper bag berisi kotak makan dari sang mama. Dia mengenakan masker dan topi yang menutupi wajahnya. Jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans dengan warna senada. Ragil sudah sangat yakin saat ini penampilannya terlihat seperti kurir.


Jam menunjukkan pukul dua belas empat lima, seharusnya tidak ada lagi orang yang keluar untuk makan siang. Tapi dugaannya salah, tepat saat itu rombongan Hanum, Hoshi, Elma dan juga beberapa orang lainnya berjalan di belakang mereka masuk ke lobby juga. Melihat kedatangan wanita itu, Ragil bergegas menghampiri Hanum. Gerakannya yang mencurigakan membuat Hoshi dengan sigap menghadang Ragil.


"minggirlah" ucap Ragil di sisi Hoshi.


Hoshi yang mengenali suara Ragil langsung bergeser. Ia juga mengajak rombongan di belakang Hanum untuk kembali berjalan. Termasuk Elma yang sangat penasaran dengan orang itu.


Hoshi berdiri di hadapan Elma untuk menghalangi pandangan wanita itu. Merasa kesal karena Hoshi terus menghalangi pandangannya, Elma langsung menginjak sepatu pantofel Hoshi dengan kuat. Tapi sepertinya Hoshi tidak merasakan apapun.


Sementara itu, Ragil tanpa banyak bicara langsung menyerahkan paper bag di tangannya. "makan siang untuk mu" katanya dengan kaku.


"kau datang seorang diri" tanya Hanum.


"ya" jawabnya singkat "ikut ke kantor ku, ada yang ingin kukatakan padamu"


"katakan saja sekarang, aku sibuk"


"ini tentang penggemarmu"


Ragil langsung menyusul Hanum yang sudah berdiri di depan lift khusus menunggunya. Setelah Ragil sampai, Hanum langsung masuk ke dalam lift. Begitu juga Ragil yang ikut masuk.


Lift yang langsung membawa mereka ke lantai tempat kantor Hanum berada. Untuk pertama kalinya Ragil masuk ke dalam ruangan milik presdir Paradewa itu. Ia terus memperhatikan sebuah foto berukuran besar yang terpasang di dinding. Wajah cantik wanita di dalam foto itu seperti pernah ia lihat.


"ah, bukankah Rayya menyukainya juga" katanya lirih.


"kau mau terus berdiri di sana" tegur Hanum yang mulai risih karena Ragil terus melihat fotonya.


Ya itu adalah foto Hanum saat menjadi atlet ice skating. Dengan kostum yang melekat indah di tubuhnya. Juga pose sempurna Hanum saat berhasil diabadikan kamera.


"kau dan kak Rayya suka orang yang sama"


Hanum terbatuk-batuk mendengar ucapan Ragil. Ia sedikit terkejut, ternyata ia tidak tahu wanita di foto itu adalah dirinya.


"duduklah"


"jadi, kau sudah mendapatkan orang itu" tanya Ragil langsung sembari mendudukkan dirinya.


Hanum mengangguk, "ini" ia menyodorkan berkas tentang penggemar Ragil yang telah menculiknya. "aku berencana melaporkan dia ke polisi"


"terus, kenapa memintaku untuk membahas ini"

__ADS_1


"dia benar-benar terobsesi dengan mu, apa kau tahu. Mungkin hanya aku yang diculik. Tapi dia juga melakukan banyak komentar jahat pada lawan mainmu disetiap film. Kalau aku melaporkan dia, kau juga akan dimintai keterangan" terang Hanum dengan serius.


Sementara Ragil tidak bisa berkedip, melihat wajah cantik Hanum saat sedang menjelaskan itu. Setiap suara yang keluar dari mulut Hanum, terdengar sangat merdu baginya. Ragil benar benar berhasil terhipnotis oleh pesona wanita di hadapannya itu.


Kesal, itu yang dirasakan oleh Hanum, karena Ragil malah melihat ke arahnya terus menerus. Hanum menjulurkan tangannya, kemudian menepuk pundak Ragil dengan kuat.


Tapi refleks Ragil bekerja dengan cepat. Ia langsung menangkap tangan Hanum. Dan membuat wanita itu terkejut, lalu menatapnya tak percaya. Sedetik kemudian Hanum tersadar. Ia buru-buru melepaskan tangan Ragil.


"maaf" katanya sembari meraba lengan yang disentuh oleh Ragil tadi.


"ehem, tidak masalah"


"jadi bagaimana" tanya Hanum dengan canggung.


"laporkan, aku setuju" "oke"


drrrrtt drrrrtt


Hanum meraih ponselnya, pesan singkat masuk ke ponselnya dari nomor sang ibu mertua.


......*Hanum, sudah terima makanan dari mama......


......Jangan lupa makan siang*, ......


^^^...Love mama...^^^


"kau sudah makan siang" Hanum membuka kotak makan dari dalam paper bag. "sebenarnya belum, mama memintaku mengantarkan makan siang untuk seseorang. Jadi aku menunda makan siang ku"


Hanum membagi dua makanan dalam kotak makan itu. Lalu menyodorkan setengah dari makanan di kotak lainnya untuk Ragil.


"makanlah" ujar Hanum sembari menyerahkan sendok yang ia ambil dari tempat sendok miliknya.


"kenapa kau baik padaku, padahal tadi pagi kau marah besar padaku" tanya Ragil dengan curiga.


"entahlah, mungkin karena sekarang aku sedang kasihan padamu" jawabnya.


"aneh" Ragil menatap ke arah Hanum dengan curiga "makanlah, atau kau pergi saja sana" gertaknya.


"iya baiklah nyonya"


Akhirnya Ragil memakan makanan yang ia bawa tadi. Meski sesekali keduanya bertengkar untuk masalah kecil. Atau terkadang mereka terlihat sangat akur.


Selesai makan siang, Ragil meminta izin untuk tinggal sejenak. Perut kenyang dan hawa dingin dari pendingin ruangan membuatnya sedikit mengantuk. Ditambah ia tidak tidur semalaman karena urusan pekerjaan. Karena Hanum akan ada rapat, jadi ia mengizinkan Ragil untuk tinggal sebentar.


Jika Hanum sibuk dengan orang orang yang datang dengannya tadi. Membahas sebuah proyek film. Sementara itu, Ragil tertidur di sofa dengan posisi yang sangat tidak nyaman.


Ketika Hanum melihat office boy yang sedang bekerja dari balik dinding kaca. Ia ingat ruangannya pasti akan dibersihkan jika ia sedang rapat atau keluar kantor.


Hanum berbisik pada Hoshi, "jangan biarkan petugas kebersihan masuk, Ragil sedang tidur"


Hoshi langsung menghubungi Elma yang sedang duduk di balik meja kerjanya. Mengerti dengan perintah yang diberikan. Elma langsung menghentikan seorang petugas kebersihan yang sedang berjalan ke arahnya.


"tunggu, presdir berpesan untuk tidak masuk ke dalam ruangannya" cegah Elma.


"baik, nona" Elma bernafas lega, karena ia hampir saja habis dimarahi oleh Hanum. Jika saja ia tidak buru buru menghentikan petugas kebersihan itu.


Rapat yang memakan waktu hampir dua jam itu, membawa kabar baik. Proses produksi film drama musikal berjalan dengan lancar. Juga antusias orang orang yang tidak sabar ingin segera menyaksikan film itu sangatlah banyak.


Hal itulah yang membuat mood Hanum kembali. Usai melepas pergi orang orang produksi dan juga staf lainnya dari film itu, Hanum buru buru kembali ke kantornya. Ia tidak bisa menyembunyikan senyumannya saat melihat sosok yang masih terlelap dalam tidurnya di atas sofa. Meski kaki panjangnya menjuntai ke lantai, tapi tidak membuat Ragil terganggu.


Hanum dengan perlahan mendekati Ragil yang tertidur. Ia memandangi wajah laki laki itu untuk beberapa saat. Hanum mengumpulkan bantal sofa, lalu menyusunnya di bawah kaki Ragil dengan hati hati agar tidak membangunkannya. Lalu ia kembali ke meja kerjanya. Dan tenggelam dengan kesibukannya sebagai presdir.


Sesekali ia melihat ke arah Ragil. Memastikan apakah bantal sofa itu nyaman untuk kakinya atau tidak. Elma dan Hoshi yang datang sampai heran melihat Ragil yang masih juga tidur di sana. Padahal ini sudah mendekati jam pulang kerja. Elma sampai berinisiatif untuk membangunkan Ragil.


"apa dia masih tidur, atau sudah tidak ada" celetuk Elma.


"kau lihat saja dadanya, bergerak atau tidak" usul Hanum sembari membubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang tadi dibawa oleh Elma.


"mau kubangunkan" tawar Elma.


Hanum menggeleng, "tidak, kau pulanglah lebih awal" lalu ia tersenyum.


"oke, duluan ya" Elma melambai, kemudian Hanum membalas lambaian tangannya.


Selang beberapa menit, Hanum menghampiri Ragil kembali. Ia berniat mengangkat kakinya untuk diletakkan di atas meja yang sudah ia geser. Tapi sentuhan tangannya malah membuat Ragil terbangun.


"apa kamu tidak tidur semalaman" tanya Hanum sembari bergerak menjauh.


Ragil meregangkan tubuhnya, ia merasakan kakinya kram. "aku semalam ngerjain lagu baru, baru juga tidur satu jam" jawab Ragil.


"kamu tidur lebih dari lima jam" "hah, tidak mungkin" katanya tidak percaya sembari melihat ponselnya.


"kenapa tidak membangunkan ku, ya tuhan" keluhnya.


"kenapa, apa kau punya jadwal nyanyi" tanya Hanum dengan khawatir.


"kau tahu, aku melewatkan satu" Ucap Ragil dengan wajah polos.


"benarkah? berapa biaya pinaltinya" wajah Hanum langsung berubah pias.


"sangat banyak, aku bisa rugi" ia pura pura bersedih sembari berdiri dan merapihkan pakaiannya.


"berapa? 1 milyar" tanyanya kembali sembari berjalan menyusul.


Ragil menggeleng, ia lantas mengenakan masker dan topinya. Sedangkan Hanum mulai mengikutinya dengan pertanyaan seputar biaya pinalti yang akan dikeluarkan oleh Ragil.


Saat mereka keluar, sudah tidak ada orang lainnya di sana. Elma benar benar sudah pulang.


Jadi hanya mereka berdua di lantai itu. "jadi berapa, tolong beritahu aku" Hanum yang berjalan dengan cepat dan menggunakan high heelsnya sedikit kesulitan. Ia tersandung kakinya sendiri, dan kehilangan keseimbangan


Ragil yang berada satu langkah di depannya, berputar lalu menangkap tubuh Hanum dengan satu tangan. Posisinya yang tidak tepat, justru membuatnya ikut terdorong ke belakang.


Hanum jatuh tepat di atas dada Ragil. Kepalanya membentur hidung mancung Ragil, hingga membuat laki-laki itu meringis kesakitan.


"maaf, maaf" Hanum berusaha kembali berdiri. Tapi karena gerakannya yang terburu buru, malah membuat Hanum kembali terjatuh.

__ADS_1


kali ini ia dan Ragil tidak sengaja berciuman, meski ada masker yang menghalangi kedua bibir mereka bertemu.


__ADS_2