Forever With You My Idol

Forever With You My Idol
bab 30


__ADS_3

Ragil kembali setelah menyelesaikan masalah yang ditimbulkan karena ia terlalu memperlihatkan perhatiannya pada Hanum. Ia membersihkan wajah dan tangannya. Sembari menggulung lengan kemejanya sampai ke siku, ia menghampiri Hanum yang terlelap di atas tempat tidur.


Dia tersenyum menyadari Hanum masih mengenakan gaunnya. Dengan hati hati ia merapatkan selimut hingga menutupi leher Hanum yang tidak tertutup apapun. Ragil berjongkok di sisi tempat tidur, ia memandangi wajah tenang Hanum.


Ketika tiba-tiba kedua mata Hanum terbuka, dan langsung melihat ke arah Ragil. Sontak Ragil terkejut hingga membuat ia terjengkang ke belakang. Dan jatuh terduduk.


"kenapa kamu melihat ku seperti itu" tanya Hanum penasaran. Ia menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Lalu ia mendudukkan diri.


"eh, itu semua salahmu. kenapa kamu harus begitu cantik" jawab Ragil gugup. Ia langsung bangkit dan berdiri dengan salah tingkah. Ragil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"bukannya tadi banyak wanita cantik di sana, itulah yang membuat kamu kembali lagi ke sana" ujar Hanum kesal.


"jangan bilang kamu cemburu" Ia mengulum bibirnya senang.


"siapa yang cemburu" Elaknya.


Ragil mendengus, ia lantas menghampiri Hanum. Kemudian duduk di atas tempat tidur. "kenapa kamu tidak menanyakan apa yang sudah kulakukan tadi di sana"


"hmm, apa yang sudah kamu lakukan tidak penting buat ku" sanggah Hanum.


Ragil menyentuh ujung hidung Hanum dengan jarinya. Ia lalu memandangi Hanum dengan lekat.


"mungkin saja setelah ini kamu akan marah padaku"


"katakan saja, jangan membuat ku penasaran"


Ragil meletakkan ponselnya yang menyala, ia kemudian memutar sebuah video di layar ponselnya itu.


Video berdurasi sekitar enam puluh detik, Ragil berdiri atas panggung. Sembari menerima trofi kemenangan atas lagunya sebelum pensiun.


"Terimakasih untuk kalian semua yang sudah mendukungku sampai pada titik ini. Dan untuk seseorang di sana. Hanum Paradewi, maaf untuk kesalahan yang sudah membuatmu terluka..." Hanum mematikan ponsel Ragil, ia lalu meletakkan benda itu di atas tempat tidur. Sementara Ragil tidak mengerti kenapa Hanum tidak melihat video itu sampai selesai.


"aku tidak mau melihatnya" kata Hanum sambil membuang wajahnya.


"tapi kamu belum tahu apa yang sudah kulakukan"


Hanum menutupi kedua telinganya rapat rapat, "haaaa, aku tidak mau dengar"


Ragil menahan lengan Hanum, dan sedikit menggeser tubuh Hanum kembali ke posisi semula. Ia menurunkan kedua tangan Hanum yang menutupi telinganya.


"tolong dengar dulu" Hanum hanya diam, sedangkan jantungnya sudah berdetak kencang.


"setelah ini mungkin kamu tidak bisa pergi ke mana mana dengan nyaman, mungkin kamu akan selalu mendengar cacian atau hinaan. Tapi aku mau hubungan kita tidak sekedar perjanjian. Sedikit aneh, tapi aku selalu ingin melindungimu.


ayo kita mulai semuanya dari awal, dari sebelum kita menikah" Ucap Ragil dengan cepat.


"apa menurutmu itu begitu mudah"


Ragil tidak mengerti kenapa Hanum harus mempersulit dirinya saat ini. Ia menatap wanita itu dengan tak percaya.


"hai, aku Hanum Paradewi" ia tambah bingung saat Hanum justru menyodorkan tangannya.


"kamu ingin kita memulainya dari awalkan, kita bisa memulainya dengan berkenalan. Setelah itu biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya" jelasnya disertai dengan tersenyum.


Mendengar hal itu Ragil ikut tersenyum, ia lalu meraih tangan Hanum. Menjabatnya dengan senang. Terakhir ia sungguh tidak bisa menahan untuk tidak mengecup pipi Hanum. Meski mendapat pukulan kecil di lengannya, Ragil justru tertawa senang.


*


Esok harinya Elma datang lebih awal, ia merapihkan meja kerjanya. Ketika sebuah tangan menyentuh punggungnya. Elma terkejut bukan main. Ia bahkan sampai memegangi bagian dada kirinya.


"astaga"


"jangan berlebihan, aku sudah memanggilmu tadi" Hanum melepaskan topi dan juga masker yang menutupi wajahnya.


"kenapa mengenakan benda itu" tanya Elma penasaran.


"ah, pagi ini banyak debu. mungkin karena sudah memasuki musim panas. Jadi jalanan penuh debu" jawab Hanum asal.


Elma tidak sepenuhnya percaya, ketika ia ingin bertanya lagi. Hanum justru membungkam mulutnya. Kemudian Hanum memberi isyarat untuk masuk ke ruang kerjanya. Setelah mereka berdua masuk, Hanum langsung melipat kedua tangannya di depan dada. "bagaimana kencan kalian berdua, maaf seharusnya aku menanyakan ini semalam tapi yah"


"hmm, seharusnya memang gue nggak nerima tawaran dari lu sih. Tapi ya gue jadi tahu apa yang harus gue ambil"


"syukurlah, aku benar-benar khawatir kalau kamu akan sangat terpukul karena ditolak Hoshi" ucap Hanum lega.


Elma tersenyum masam, masalahnya Hanum tidak tahu apa yang terjadi dengan hatinya saat ini. Ia hanya sedang pura pura bisa menerima kenyataan. " hahaha , lu pikir gue akan sesedih apa gara gara Hoshi" kelakarnya.


"mungkin saja alergimu akan bertambah parah"


Elma bungkam, lalu kembali tertawa bersama Hanum. Sebuah dering ponsel milik Hanum menginterupsi keduanya. "gue keluar ya" Hanum melambaikan tangannya pada Elma. Lalu setelah memastikan Elma keluar, ia buru-buru mengangkat panggilan itu.


"halo" suara di seberang sana tampak tidak sabar.


"kenapa lama sekali" protes Ragil


"maaf aku baru sampai kantor" Hanum mendudukkan dirinya.


"kenapa tidak langsung mengabariku"

__ADS_1


"maaf, aku baru mau mengabarimu" ujarnya penuh sesal.


Setelah selesai menerima panggilan telepon, Hanum lantas memeriksa berita di internet. Seperti dugaannya, ada beberapa foto dirinya yang menjadi sampul sebuah berita online. Ia menghela nafasnya panjang. Lalu kembali mencari berita lainnya tentang dirinya.


Yang paling mendapatkan banyak pembacanya adalah saat Ragil menyampaikan pidato kemenangan atas lagunya. Dan juga pernyataan maaf pria itu, yang membuat Hanum tidak berhenti tersenyum melihatnya.


Setelah puas melihat-lihat, Hanum kembali fokus dengan jejeran pekerjaan yang sudah menunggunya. Ia terlalu sibuk hingga siang hari. Dan mengabaikan ponselnya yang tergeletak di bawah tumpukan map. Ia juga pergi rapat dengan karyawannya sampai sore hari.


Sementara itu Ragil gelisah karena tidak bisa menghubungi Hanum lagi. Ia terus melihat ponselnya. Tapi tidak ada panggilan masuk dari wanita itu. Entah kenapa ia sangat ingin mendengar suara wanita itu barang sebentar.


Saat sore hari, begitu ia selesai dengan pekerjaannya. Ragil langsung menuju perusahaan Hanum. Ia berdiam di dalam mobil hanya untuk memastikan Hanum belum keluar dari gedung tinggi itu.


Tapi sebuah ketukan di kaca mobilnya mengagetkan dirinya. Seorang petugas keamanan yang pernah ia temui berdiri di sana. Ragil menurunkan kaca mobilnya. Lalu tersenyum pada pria paruh baya itu


"maaf sedang menunggu siapa ya tuan, semua karyawan sudah keluar kantor" tanya pria itu sopan.


"saya sedang menunggu Hanum Paradewi pak"


"nona besar masih belum pulang tuan. kenapa tidak menghubungi beliau saja"


"ah, sepertinya dia sedang sibuk. Saya sudah coba menghubungi dia"


"wah nona kami memang pekerja keras, dia selalu pulang malam" katanya bangga.


"saya akan menunggu dia sebentar lagi"


"baiklah kalau begitu, tuan. Saya harus kembali keliling" pamit Pria itu.


Pria itu berjalan menuju parkir mobil di lantai baseman, dan bertemu dengan Hoshi. Ia lantas memberitahukan keberadaan Ragil pada Hoshi. Setelah itu Hoshi kembali masuk ke dalam lift, dan membawanya kembali ke lantai tempat ruangan Hanum berada.


"kenapa kembali" tanya Hanum yang heran melihat Hoshi datang lagi.


"Tuan Ragil sudah menunggu anda sejak tadi"


"apa, Ragil menunggu ku. kenapa dia tidak mengabariku dulu" Hanum mencari cari ponselnya. Dan tidak berhasil menemukan benda itu.


"apa yang anda cari, nona"


"ponselku" jawabnya singkat.


Hoshi melihat benda itu berada di sudut meja, ia mengambil benda itu lalu memberikannya pada Hanum. "terimakasih" begitu ia menerimanya.


"hah, bagaimana aku tidak mendengar panggilan sebanyak ini" katanya heran.


Ia lantas langsung menghubungi Ragil, dan berharap pria itu tidak kesal karena sudah diabaikan oleh nya.


Patuh ia masuk, dan duduk di sana. Ia meringis begitu Ragil melihatnya.


"maaf, hari ini aku sangat sibuk" kata Hanum menyesal.


Tanpa mengatakan apapun Ragil mengendarai mobilnya. Hanum kembali diam, meski ia beberapa kali curi curi pandang ke arah Ragil yang masih tetap diam.


Pada akhirnya mobil mereka berbelok ke sebuah hotel bintang lima. Hanum tidak mengerti kenapa Ragil membawanya ke tempat itu. Padahal mereka sepakat ingin memulai hubungan mereka dengan perlahan.


"kenapa ke sini"


Ragil tidak bergeming, ia tetap fokus memarkirkan mobilnya. Setelah berhenti ia lalu keluar dari mobil dan berjalan ke sisi lain mobil. Membuka pintu dengan sedikit kuat, yang justru membuat Hanum semakin tidak mengerti kenapa Ragil bersikap seperti itu.


Ia mengekor saja saat Ragil memintanya untuk ikut masuk. Karena tidak menyadari Ragil berhenti, ia menabrak punggung pria itu dengan keras.


"aaggr" Hanum mengelus keningnya yang sakit. Mendengar Hanum kesakitan, Ragil lantas berbalik lalu ikut menyentuh kening Hanum.


"kenapa kamu sampai menabrak ku" tanya Ragil dengan lembut.


"aku sedang tidak fokus"


"apa masih sakit" Ia menggeleng, setelahnya Ragil menggandeng tanganya. Dan membawanya ke meja yang ia sudah pesan di rooftop restoran itu.


Angin malam menerbangkan rambut Hanum yang dibiarkan terurai itu. Ia berkali-kali merapihkan rambut yang menutupi wajahnya. Ragil sangat menyukai pemandangan di depannya, tapi melihat Hanum yang selalu merapihkan rambutnya membuat ia ingin sedikit membantu. Tak menemukan apapun, ia melepaskan dasinya dan membawanya.


Hanum terperangah saat sepasang tangan tiba tiba meraup semua rambutnya, lalu mengikatnya dengan asal menggunakan dasi. Tangan itu adalah milik Ragil. Dan dasi itu adalah milik Ragil juga.


"aku tidak menemukan apapun untuk mengikatnya" jelas Ragil saat Hanum memegang dasi yang terurai.


"hm tidak apa, sepertinya aku suka" pujinya saat ia menyadari Ragil merelakan dasi mahalnya untuk mengikat rambutnya.


Saat makanan yang mereka pesan sudah tersaji di atas meja. Ragil mengambil alih piring berisi steak milik Hanum. Memotong daging steak itu menjadi beberapa bagian. Kemudian mengembalikan piring itu ke tempatnya semula. Hanum tersenyum melihat sikap manis yang Ragil tunjukan.


"apa steak itu ada di sini" tunjuk Ragil pada wajahnya.


"terimakasih" ucap Hanum dengan tulus.


Ragil tersenyum mendengar ucapan Hanum, ia kembali melanjutkan memotong daging steak miliknya sendiri. Keduanya sama-sama menikmati makan malam romantis itu. Terkadang mereka bicara serius, terkadang mereka sedikit bertengkar. Tapi keduanya tidak ingin melewatkan kesempatan yang belum pernah mereka rasakan selama beberapa bulan ini.


Usai makan malam, Ragil mengantarkan Hanum sampai depan rumah mereka. Sebelum Hanum membuka pintu mobil, Ragil menahannya dengan memegangi pegangan pintu.


Hanum menoleh, tepat di depan wajah Ragil. "tunggu sebentar" ia menarik kembali tangannya yang sempat memegang pegangan pintu. Begitu juga Ragil setelah mengatakannya, ia kembali ke posisi duduknya semula.

__ADS_1


"ada apa" tanya Hanum penasaran.


"aku berniat membawamu ke rumahku yang baru, tapi ada sesuatu yang harus diselesaikan terlebih dahulu"


Hanum menyentuh punggung tangan Ragil, lalu menggenggamnya dengan erat. "aku mengerti, jangan terlalu banyak menuntut kak Rayya untuk menerimaku kembali"


"bagaimana kamu bisa tahu"


"saat ini dia hanya butuh dukungan kamu, jangan terlalu memaksa dia untuk sesuatu yang dia tidak suka. Jangan khawatir kan tentang hal lainnya. Kamu hanya harus mendukungnya untuk bisa menemukan jati dirinya kembali"


Ragil menatap ke dalam mata indah Hanum. Ia membalas genggaman tangan Hanum. "dia melihat sendiri bagaimana mobil itu terbalik, papa dan mama" suara Ragil tercekat.


Hanum mengeratkan genggamannya, "tidak apa-apa, mereka sudah tenang di sana. Tolong jangan menyiksa dirimu dengan terus menerus mengingat bagaimana mereka pergi. Ingatlah bagaimana mereka menyayangi kamu sampai di akhir hidup mereka. Mereka tentu berharap kamu dan kak Rayya hidup bahagia"


"pulanglah, aku sudah terbiasa hidup sendiri"


Ragil tertawa dengan menyedihkan, ia lalu memeluk Hanum erat. Sebelum ia pergi, Ragil kembali memeluknya dan mengecup kening Hanum lama.


*


Ketika Ragil terbangun, ia bergeser menuju kamar Rayya. Ia tersenyum lega melihat sang kakak sedang terlelap di atas tempat tidur. Perlahan ia mengelus pucuk kepala Rayya. Lalu memperbaiki selimutnya. Ragil melihat sebuah botol minum yang kosong di atas nakas. Ia kemudian meraih benda itu, dan membawanya ke dapur.


"tolong cuci ini, setelah itu bawa ke kamar kakak lagi" perintahnya pada salah seorang pelayan.


Ragil kembali ke kamarnya untuk bersiap ke kantor. Setelah bergelut dengan mandi dan juga mengenakan setelan kerja. Ia mendengar suara Rayya yang sedang marah marah.


Ragil langsung berlari ke kamar Rayya. Sementara itu di dalam kamar sang kakak, Rayya berusaha untuk duduk. Tapi karena keterbatasan dirinya, dan juga ia yang belum benar-benar pulih. Rayya terus menerus marah dan menangis.


Sedangkan perawatnya ikut menangis, daj takut ketika Rayya berkali-kali menolak untuk dibantu. "apa yang terjadi" tanya Ragil dengan nafas terengah-engah.


"nona menolak bantuan saya, ia memaksakan dirinya untuk duduk sendiri" jelas sang perawat dengan tangis yang belum mereda.


Ragil menghambur ke arah Rayya, memeluknya dengan erat. "shhhhtttt, tenang kak. shhhhtttt tenanglah" perlahan Rayya mulai berhenti memukul kakinya. Tangisnya juga mulai mereda.


"kakak ingin kembali seperti dulu kan" Rayya hanya mengangguk.


"kalau begitu ikuti jadwal terapi dan ikuti kata dokter. Kakak pasti bisa kembali seperti dulu"


Rayya kembali mengangguk, setelah itu Ragil menoleh ke arah perawat Rayya yang sedang menyusut air matanya.


"tolong terus temani kakak saat terapi nanti"


"baik tuan"


Ragil mengelus punggung Rayya dengan lembut, setelah sang kakak tenang. Ia dengan perlahan membantu Rayya kembali rebahan. "aku harus segera pergi ke kantor, kalau kakak membutuhkanku. Aku pasti akan datang"


"Ragil" panggilnya.


Mendengar itu Ragil langsung menoleh, "hati hati di jalan" pesan Rayya.


Ia tersenyum mendengar hal itu. Perlahan tapi pasti ia sudah meninggalkan rumah besar itu, dengan mengendarai mobilnya.


Sepeninggal Ragil, Rayya langsung mempersiapkan dirinya untuk pergi ke rumah sakit. Ia mulai menemukan seseorang yang berhasil membuatnya ingin kembali berjalan. Dengan didorong oleh perawatnya, dia memasuki ruang tunggu.


Tak jauh dari sana, Hoshi juga baru saja datang. Entah apa yang membawa pria itu sampai ke rumah sakit di jam kerja seperti itu. Tapi Rayya yang berhasil melihatnya dengan setelan kerjanya sangat senang. Meski ia tidak bisa melihat Hoshi dengan lama, karena sepertinya pria itu sangat buru buru.


Siang harinya Ragil langsung bergegas mendatangi studio tempat syuting iklan kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan F. Melihat Irina di sana, Ragil mengurungkan niatnya yang ingin menyapa para idol. Tapi begitu ia berbalik, pemandangan di sudut ruangan lainnya membuatnya langsung bersemangat lagi.


Ia sudah tidak canggung lagi menunjukkan sikap manis nya di hadapan orang lain. Dengan lembut ia menyentuh pucuk kepala Hanum, lalu membelainya.


"kenapa kamu ke sini" bisik Hanum yang belum terbiasa. Ia juga menyingkirkan tangan Ragil.


"aku ingin menyapamu dan yang lainnya. oh iya bagaimana dengan kakimu" Ragil menunduk untuk melihat kaki Hanum yang masih mengenakan sandal di kaki yang terkilir. Sedangkan kaki lainnya mengenakan sneaker.


"sekarang sudah membaik, sana pergi" usirnya tanpa mengangkat kepalanya dari layar monitor di depannya.


Tak menuruti perintah Hanum, Ragil justru mengambil tempat di belakang wanita itu. Mengawasi Hanum dan juga seorang sutradara yang tampak sangat tidak nyaman karena di perhatikan oleh Ragil.


"kenapa kamu tidak mendengar saya" tegur Hanum pada sutradara itu.


Dengan takut ia menunjuk orang di belakangnya. Mengikuti kemana orang itu melihat, Hanum terkejut karena Ragil malah dengan santainya duduk di sana.


"pergi lah"


"engga mau" tolaknya dengan nada manja. Ia terpaksa mengalah dan membiarkan Ragil terus di sana.


Dari tempatnya berdiri, Irina meremas tangannya kuat. Ia tidak suka dengan perhatian yang diberikan oleh Ragil pada Hanum. Setelah memastikan tidak ada yang kurang dari pakaian yang akan dikenakan oleh para idol. Ia mencari tempat untuk menghubungi seseorang.


"papa, apa papa sudah mengaturnya untukku. Aku tidak mau tahu, papa harus melakukannya" Irina tampak semakin kesal setelah berbicara dengan seseorang di ponselnya.


Beberapa saat kemudian ponsel Ragil bergetar. Ia mengernyitkan keningnya saat membaca nama yang tertera di ponselnya. Ia memilih mengabaikan panggilan itu. Tapi setelah panggilan ke dua moodnya berubah menjadi sangat dingin.


Ia berjalan ke tempat yang jauh dari orang orang, lalu mengangkat panggilan itu. "selamat siang tuan Frank"


Berikutnya dia bisa menebak apa yang orang itu katakan. Ragil memilih menjauhkan ponselnya dari telinganya. Dan kembali mendekatkan setelah pria paruh baya bernama Frank selesai bicara.


"baiklah tuan Frank, tapi boleh kah saya datang dengan satu orang lagi" Ragil menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2